10 April 2018

Sate Lilit Waroenk Podjok, makanan khas Bali yang menggiurkan

Sate Lilit sendiri yang sudah masyhur sebagai menu ikonik Nusantara, saat ini juga hadir di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Salah satu keunggulan Indonesia selain berlimpahnya sumber daya alam, juga tidak lepas dari beragam budaya dan khazanah kulinernya.
Terkait kuliner, di setiap daerah Nusantara pasti terdapat makanan khas dengan cita rasa lezat tersendiri. Sebut saja Rendang di Sumatera Barat, Sop Konro di Sulawesi Selatan, Bubur Manado di Sulawesi Utara, Soto Betawi di DKI Jakarta, Sate Lilit di Bali, dan masih banyak menu nasional lainnya.
Sate Lilit sendiri yang sudah masyhur sebagai menu ikonik Nusantara, saat ini juga hadir di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang.
“Alasan kami mengangkat Sate Lilit di Waroenk Podjok tidak lepas kepopuleran menu ini, tidak hanya di Bali secara domestik, tetapi secara global sudah menjadi menu nasional,” terang Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya, Selasa (10/4/2018).
Menurutnya, seperti makanan khas daerah lainnya yang sudah masuk dalam daftar menu di Waroenk Podjok, Sate Lilit yang diluncurkan pihaknya bersamaan pembukaan Waroenk Podjok di Transmart pada 2 Maret 2018 lalu, memiliki cita rasa dan keunikan tersendiri.
“Aroma ‘panggang’ daging ayam yang melingkar pada kayu tusuk Sate Lilit inilah yang disukai penikmat kuliner. Jadi, bagi penyuka menu berbahan daging ayam, Sate Lilit berisi delapan tusuk dalam satu porsi ini adalah makanan yang menggiurkan. Apalagi, menu ini juga diimbuhi plecing kangkung dan sambal mata yang juga sambal khas Bali,” papar Noncy.
Ia menambahkan, animo pelanggan terhadap menu asal Pulau Dewata tersebut cukup bagus. Terbukti, makanan yang masuk dalam jenis ala carte di Waroenk Podjok ini menempati rating tinggi dalam list permintaan, baik makan di tempat maupun take away.
“Apalagi, harga yang kami banderol untuk Sate Lilit ini cukup terjangkau hanya Rp 35 ribu,” kata Noncy.
Sekadar diketahui, sejatinya Sate Lilit adalah varian sate asal Bali. Sate ini terbuat dari ayam, ikan, dan daging sapi yang dicincang  kemudian dicampur parutan kelapa, santan, jeruk nipis, bawang merah, dan merica.
Daging cincang yang telah berbumbu dilekatkan pada sebuah bambu kemudian dipanggang di atas arang.
Tidak seperti sate lainnya yang dibuat dengan tusuk sate yang pipih dan tajam, tusuk sate lilit berbentuk datar dan lebar. Permukaan yang lebih luas memungkinkan daging cincang untuk melekat. Istilah lilit dalam bahasa Bali dan Indonesia berarti “membungkus”, yang sesuai cara pembuatan sate ini.
Sebagai pulau dengan mayoritas pemeluk agama Hindu, daging sapi atau ikan lebih menjadi pilihan lantaran daging sapi sebenarnya pantang dikonsumsi di Bali.
Namun, untuk memenuhi konsumen Muslim, Sate Lilit menggunakan daging sapi sapi atau daging ayam. Di pusat-pusat perikanan Bali, seperti Desa Kusamba yang menghadap ke Selat Nusa Penida, Sate Lilit yang terbuat dari ikan sangat disukai.
Dua sate favorit asal Bali adalah Sate Lilit dan sate ikan. Sate Lilit dan sate ikan yang asli, kaya campuran rempah-rempah.
Di Bali, hampir setiap hidangan dibumbui bumbu “megenep” atau campuran rempah-rempah seperti daun jeruk, santan, bawang putih, bawang merah, lengkuas, ketumbar, kunyit, dan cabai