01 April 2018

Noodle Tower Waroenk Podjok, paduan mie kering dan ifu mie yang unik


Noodle Tower Waroenk Resto and Cafe. Dalam jajaran Noodle and Vegetable Corner di Waroenk Podjok, mie tidak ketinggalan menghiasi daftar menu yang ada. / Effendy Wongso 
britaloka.com, KUPANG - Salah satu makanan yang paling banyak dikonsumsi setelah varian nasi adalah mi. Mi yang lebih sering disebut “mie” sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kuliner Indonesia, bahkan penikmat kuliner dunia.
Dalam jajaran Noodle and Vegetable Corner di Waroenk Podjok, mie tidak ketinggalan menghiasi daftar menu yang ada.
Varian mi tersebut di antaranya Tower Noodle yang dibanderol Rp 35 ribu, Iga Hotplate Noodle Rp 65 ribu, Charsiew Hotplate Noodle Rp 35 ribu, Katsu Ramen Rp 25 ribu, Chicken Popcorn Ramen Rp 27.500, Dragon Hot Chicken Ramen Rp 25 ribu, Katsu Hotplate Noodle Rp 32.500, Bakmi Goreng Jawa Rp 27.500, dan Spicy Chicken Hotplate Noodle Rp 30 ribu
“Di antara makanan berbahan mie yang semuanya disukai pelanggan, Noodle Tower terbilang unik karena selain bentuknya yang lain dibandingkan mie biasa (berbentuk menara), juga karena merupakan kombinasi antara mie kering dan ifu mie,” papar Marketing Communication and Public Relation Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Sabtu (31/3/2018).
Menurutnya, makanan dengan isi selain mie berbentuk tower pihaknya, juga diimbuhi bahan makan lain yang gurih seperti kuah telur, sayuran, dan telur puyuh.
“Masakan berbahan mie boleh dibilang sudah umum di Kota Kupang, tetapi Noodle Tower yang kami tawarkan ini boleh dikatakan pionir sebab sebelumnya belum ada yang meluncurkannya. Selain itu, kombinasi mie kering yang sebelumnya populer di Makassar kami padukan dengan ifu mie Tiongkok yang sudah populer di dunia,” klaim Noncy.
Wanita muda kelahiran 1994 ini menambahkan, kombinasi versi mie kering Makassar dan ifu mie itulah yang berkontribusi menambah kelezatan Noodle Tower Waroenk Podjok.
“Jadi, tidak bisa kami pungkiri jika versi mie kering yang sangat populer di Makassar kami padukan ifu mie Tiongkok inilah yang menghadirkan sensasi cita rasa yang berbeda dibandingkan mie-mie goreng berkuah pada umumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, animo pelanggan terhadap Noodle Tower selama ini cukup apresiatif. Hal tersebut terlihat dalam daftar permintaan pelanggan yang menempati posisi teratas untuk kategori Noodle and Vegetable Corner.
“Bahkan, pelanggan banyak yang selfie (swafoto) bersama makanan ini sebelum disantap. Ini tidak terlepas dari keunikan bentuk Noodle Tower,” imbuh Noncy.
Sekadar diketahui, ifu mie adalah sejenis makanan Tionghoa. Makanan ini berbentuk bakmie yang telah direbus lalu digoreng hingga garing berbentuk “sarang burung”. Selanjutnya, di atasnya disiram dengan tumisan sayuran serupa cap cay.
Sementara, mie kering atau lebih dikenal sebagai mie kering Makassar adalah masakan Tiongkok yang sudah beradaptasi dengan Tionghoa Indonesia. Jenis mie kering ini disajikan dengan saus kental dan irisan ayam atau daging sapi. Beberapa pelaku kuliner mengombinasikannya dengan bahan daging lain seperti udang, jamur, hati ayam, dan cumi.
Makanan ini sangat mirip ifu mie Tiongkok, namun bedanya hanya terletak pada mienya lebih tipis.
Mie kering Makassar juga kerap disebut “Mie Titi”. Pasalnya, resep mie kering Makassar dibuat keluarga Tjao yang secara temurun menurunkan resep itu ke anak-anaknya.
Tjao yang sering dipanggil Angko (kakak laki-laki dalam bahasa Mandarin) Tjao, awalnya membuka toko mie di kawasan pecinan Makassar untuk menjual mie keringnya. Mie kering yang dijual Tjao sangat digemari penikmat kuliner Makassar, dan sangat populer di awal 1970-an.
Tjao mewariskan pengetahuan terkait resep makanan ini kepada tiga anaknya, Hengky, Awa, dan Titi. Setelah Tjao meninggal, bisnis warung mie kering dilanjutkan ketiga anaknya yang mandiri membuka warung masing-masing.
Anak Tjao, Titi paling populer di Makassar sehingga di sinilah asal nama Mie Titi menjadi identik dengan mie kering Makassar.
Mie Kering adalah salah satu hidangan Makassar yang paling terkenal selain Coto Makassar dan Sop Konro.