13 April 2018

Curry Katsu Rice Waroenk Podjok, kari Jepang yang populer di dunia

Salah satu menu ikonik Jepang yang diangkat manajemen Waroenk Podjok adalah Curry Katsu Rice. Makanan ini kerap disebut "kari Jepang", berisi ayam goreng crispy bersaus teriyaki yang disajikan bersama nasi dan salad. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Restorasi Meiji yang diimplementasikan kaisar muda Meiji di era Meiji pada 1866-1869, membawa perubahan yang demikian besar dalam tatanan pemerintahan Jepang, baik teknologi maupun ekonomi.
Dalam ekonomi, kuliner sebagai salah satu gestur penting juga merambah berbagai belahan dunia. Makanan Jepang menadi ikon dunia, dengan berbagai cita rasa yang diadaptasi dalam budaya lokal setiap negara.
Sebagai resto dan kafe representatif yang diklaim sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk Podjok yang berada di bawah manajemen Waroenk, tidak ketinggalan mengangkat menu populer dunia yang berasal dari Jepang.
“Salah satu menu ikonik Jepang yang kami angkat adalah Curry Katsu Rice. Makanan ini kerap disebut ‘kari Jepang’, berisi ayam goreng crispy bersaus teriyaki yang disajikan bersama nasi dan salad,” jelas Marketing Communication and Public Relation Waroenk Podjok, Yunita Kitu dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Oebobo, Kupang, Jumat (13/4/2018).
Menurutnya, seperti menu dalam jajaran Asian and Japanese Corner pihaknya, khususnya makanan berbahan kari, Curry Katsu Rice juga disukai lantaran memiliki cita rasa yang eksotik sebagaimana kari-kari dari Asia Selatan yang khas dan beraroma kuat.
Dibanderol Rp 45 ribu, sebut Yunita, kari Jepang berbahan utama ayam goreng crispy (chicken katsu) tersebut, selama diluncurkan pada 2 Maret 2018 lalu, mendapat apresiasi yang cukup bagus dari penikmat kuliner di daerah berjuluk Kota Sasando.
“Di Waroenk Oebufu dan Waroenk Podjok, berbagai makanan Jepang sangat digemari. Di Waroenk Oebufu, Katsu Rice Sambal Matah yang merupakan paduan makanan Jepang-Bali bahkan sudah menjadi menu ikonik yang identik Waroenk Oebufu sendiri. Kalau di Waroenk Podjok, selain Hambuga Pepper Rice, Curry Katsu Rice juga termasuk salah satu menu ala Jepang kami yang paling diburu dan menempati rating penjualan tertinggi,” bebernya.
Yunita menjelaskan, menu Jepang saat ini sudah bukan menu asing lagi. Hidangan dari Negeri Sakura bahkan sudah banyak diracik serta dikolaborasikan dengan makanan Nusantara.
“Ini dapat dilihat dari Katsu Rice Sambal Matah-nya Waroenk Oebufu yang dikombinasikan dengan Sambal Matah khas Bali. Karena masih terlahir dalam kawasan Asia, banyak rempah atau bumbu hidangan untuk makanan Jepang tidak sulit dicari dan dipadu-padankan dengan menu nasional. Jadi, cita rasanya tetap otentik, begitu pula Curry Katsu Rice ini,” imbuhnya.
Yunita menambahkan, di Jepang terdapat banyak menu kari seperti Saba Kare (kari makerel), Ringo Kari (kari apel), Natto Kare, Nagoya Kochin Chikin Kare (kari ayam Nagoya), Matsusaka Gyu Kare (kari sapi Matsusaka), Kaki Kare (kari tiram), dan masih banyak varian kari lainnya.
Sekadar diketahui, berbagai jenis dan variasi kari Jepang terus berkembang, masing-masing menggunakan bahan pangan khas kawasan tersebut. Hal itu tidak terlepas dari kemudahan informasi online, dan secara tidak langsung telah membantu perkembangan kuliner berbahan kari ini.
Sejatinya, hidangan kari biasanya disajikan dalam tiga bahan pokok utama, di antaranya nasi kari (Kare Raisu), Kare Udon (semacam mie tebal), dan Kare-pan. Nasi kari Jepang biasanya secara sederhana disebut “kare” saja.
Berbagai jenis sayuran dan daging digunakan untuk membuat kari Jepang. Sayuran dasar adalah bawang bombai, wortel, dan kentang. Untuk daging, daging sapi dan ayam adalah yang paling populer. Katsu-kare adalah daging sapi goreng tepung disajikan dengan saus kari.
Dari berbagai literatur kuliner dunia, disebutkan kari sejatinya berasal dari India dan daerah lainnya di kawasan Asia Selatan. Akan tetapi, dalam perkembangannya kari orisinal India telah dikombinasikan dengan mencampurkan bubuk kari dengan tepung terigu sehingga menjadi roux.
Roux adalah campuran antara tepung dan lemak yang dimasak bersama. Pelaku kuliner bisa menggunakan tetesan lemak seperti dari daging, mentega, margarin, atau jenis lemak lainnya untuk membuatnya.
Roux bisa digunakan sebagai bahan dasar dan pengental untuk Gumbo (sejenis hidangan yang berasal dari Louisiana yang diracik orang-orang Kreol Louisiana pada abad ke-18) serta sup lainnya yang kental dan kaya rasa.
Roux sendiri dikembangkan orang Inggris yang kemudian memperkenalkannya ke Jepang pada era Meiji. Kebanyakan rumah tangga di Jepang membuat kari dari berbagai roux kari siap masak yang tersedia di pasar-pasar swalayan di Jepang.
Ada berbagai rasa roux siap masak, dari yang pedas sampai yang manis. Ada juga roux dengan cita rasa India serta cita rasa ala Thailand yang dicampur santan.
Juga ada banyak variasi setempat yang mencerminkan berbagai bahan khas daerah-daerah di Jepang. Di Hiroshima, ada kari dengan tiram, sementara apel tampil menyolok pada kari di daerah produsen apel, Aomori.
Kari tidak hanya disajikan dengan nasi, orang Jepang memunculkan berbagai kombinasi menarik. Misalnya, kari dituangkan pada semangkuk mie soba atau udon. Kari juga biasa menjadi bahan isi untuk roti goreng dan kroket.
Kari mulai diperkenalkan ke Jepang pada masa era Meiji (1868-1912) oleh orang-orang Inggris, yang kala itu menjajah India. Hingga saat ini, hidangan kari menjadi demikian populer dan dapat dibeli di pasar-pasar swalayan. Hidangan tersebut telah beradaptasi dengan selera Jepang, dan dikonsumsi begitu meluas sehingga ada yang menyebutnya masakan nasional Jepang.
Lantaran masakan ini diperkenalkan ke Jepang melalui perantara Inggris, pada awalnya hidangan itu dianggap masakan Barat. Kari gaya Barat ini kini hadir bersamaan dengan kari asli India, dan meluas sejak populernya kari India di awal dasawarsa 1990-an.
Kari Jepang dapat disajikan dalam wadah piring datar hingga mangkuk sup. Kuah kari kental disiramkan di atas nasi putih dengan berbagai cara dan sebanyak sesuai selera.
Beras Jepang yang agak lengket dan berbulir pendek lebih disukai ketimbang beras biasa yang digunakan dalam masakan India dan Tiongkok. Biasanya, hidangan ini dimakan menggunakan sendok, bukan sumpit layaknya kebudayaan makan orang-orang di Asia Timur Jauh.
Penyebabnya, tidak lepas dari sifat cair kuah kari yang biasanya disajikan bersama berbagai tsukemono (acar Jepang) seperti fukujinzuke atau daun bawang.