25 March 2018

Pertama di NTT, Waroenk Podjok hadirkan Soto Betawi


Seperti yang menjadi prediksi manajemen Waroenk Podjok yang hadir pada 2 Maret 2018 lalu di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Soto Betawi Bang Doel yang digadang-gadang bakal menjadi menu favorit pelanggan, ternyata menjadi kenyataan. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Seperti yang menjadi prediksi manajemen Waroenk Podjok yang hadir pada 2 Maret 2018 lalu di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Soto Betawi Bang Doel yang digadang-gadang bakal menjadi menu favorit pelanggan, ternyata menjadi kenyataan.
Ini dapat dilihat dari daftar permintaan pelanggan terhadap Soto Betawi Bang Doel yang selalu menempati posisi mumpuni bahkan teratas sejak pembukaan hingga saat ini.
“Makanan khas asal Jakarta tersebut memang sudah menjadi makanan Nusantara favorit konsumen Waroenk Podjok,” tutur Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok Noncy Ndeo dalam keterangan resminya, Minggu (25/3/2018).
Ia mengklaim bila menu ini pertama di Kupag, bahkan Nusa Tenggara Timur (NTT). “Sesuai visi perusahaan yang senantiasa melahirkan menu lezat dan unik, begitu pula dalam hal peluncurannya, kami selalu pionir,” papar Noncy.
Wanita muda kelahiran Rote ini mengatakan pihaknya tidak mengada-ada dalam mengklaim sesuatu. Sebut saja jika menu yang dihadirkan adalah pertama atau pionir di NTT.
“Beberapa pelanggan memang mengatakannya langsung. Ada konsumen kami yang kebetulan pengusaha dan penikmat kuliner, sudah menjelajahi berbagai daerah di NTT, mengatakan jika menu Soto Betawi pertama yang ia temui hanya terdapat di Waroenk Podjok. Ini menandakan, kami memang selalu tampil pionir dalam hal kuliner,” imbuh Noncy.
Dijelaskan, Soto Betawi secara umum sudah sangat akrab di lidah orang Indonesia. Itulah sebabnya pihaknya mengangkat menu tersebut.
“Kami sangat optimistis jika Soto Betawi Bang Doel akan selalu menjadi favorit pelanggan. Pasalnya, selain sudah menjadi salah satu menu ikonik nasional, makanan ini juga memiliki cita rasa yang menggiurkan,” ujar Noncy.
Menurutnya, Soto Betawi Bang Doel yang ditawarkan tidak meninggalkan tipikal orisinal Soto Betawi dengan bahan daging berkuah susu,” paparnya.
Terkait harga per porsinya, Noncy mengatakan dibanderol cukup terjangkau Rp 32.500.
Dijelaskan, dalam proses penyajiannya, Soto Betawi biasanya disajikan ke dalam mangkuk dengan beberapa bahan tambahan seperti bawang goreng, irisan tomat, irisan daun bawang, dan daun seledri.
“Soto Betawi biasanya dihidangkan bersama nasi, sambal, acar, minyak samin, dan jeruk nipis,” ujarnya.
Selain Soto Betawi, dalam jajaran menu Indonesian Corner, Noncy mengatakan pihaknya juga menyajikan Asam Iga Seruni, Rawon Daging, Sop Buntut Bakar/Goreng, Iga Panggang Citrus, Iga Goreng Sambal Bengis, Nasi Ayam Betutu, Nasi Babat Gongso Semarang, Bebek Rempah Goreng Wangi, dan lain-lain.
Tidak hanya menu Nusantara, manajemen juga menyajikan beberapa menu Asia seperti dari Jepang, Tiongkok, dan lain-lain.
“Ada Ayam Kung Pao, Ayam Goreng Cantonese (Tiongkok), Katsu Fried Rice, Curry Katsu Rice, Chicken Teriyaki Rice (Jepang), dan masih banyak menu lainnya,” urainya.
Sekadar diketahui, Soto Betawi merupakan soto yang populer di daerah Jakarta. Seperti halnya Soto Madura dan Soto Sulung, Soto Betawi juga menggunakan jeroan.
Selain jeroan, organ-organ lain juga sering disertakan seperti mata dan hati sapi. Kuah Soto Betawi merupakan campuran santan dan susu. Kedua campuran inilah yang membuat rasa Soto Betawi begitu khas.
Istilah Soto Betawi hadir dalam kuliner masakan Indonesia sekitar 1977-1978, namun bukan berarti tidak ada soto sebelum tahun itu. Adapun yang mempopulerkan dan yang pertama memakai kata Soto Betawi adalah penjual soto bernama Lie Boen Po di THR Lokasari (Prinsen Park), tentunya dengan ciri khas cita rasa sendiri.
Banyak penjual soto pada masa tahun-tahun tersebut, biasanya menyebut dengan soto kaki Pak "X" atau sebutan lainnya. Istilah soto Betawi mulai menyebar menjadi istilah umum ketika penjual soto tersebut tutup sekitar 1991.