24 March 2018

Nikmatnya menu Melayu-Peranakan Nasi Goreng Belacan di Waroenk Podjok

Bagi penikmat kuliner di Kota Kupang yang ingin mencicipi menu Melayu-Peranakan, khususnya Nasi Goreng Belacan, tidak usah jauh-jauh ke Geylang Singapura sebab manajemen Waroenk Podjok menyediakannya juga. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Singapura dikenal sebagai salah satu negara destinasi wisata terpopuler dunia. Tidak heran bila negara berjuluk Negeri Patung Merlion ini selalu unggul dalam hal mendulang devisa.
Singapore Tourism Board (STB) mencatat, sepanjang 2015 lalu jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Singapura mencapai 15,2 juta orang.
Sehingga, tidak mengherankan apabila berbagai sendi terkait pariwisata hidup di sana, termasuk kuliner. Sebagai surga kuliner, Singapura dipenuhi berbagai masakan dunia. Pendatang dari berbagai negara yang masif berdomisili, bahkan menjadi warga negara di sana membuka usaha-usaha terkait kuliner yang memperkaya khazanah kuliner negara di bawah pimpinan Perdana Menteri Lee Hsien Loong itu.
Jika menelusuri salah satu sentra kuliner, Geylang maka akan dapat dijumpai ratusan tempat makan baik berupa resto dan kafe maupun kedai-kedai makan dan minum sederhana (warkop).
Uniknya, Geylang yang dikenal sebagai “red district”-nya Singapura, dihuni tiga etnik besar di antaranya Melayu, Tionghoa, dan India. Dari sekian banyak bauran jenis kuliner, pelaku kuliner khususnya dari etnik Melayu-Tionghoa menawarkan banyak item makanan yang juga dikenal di Indonesia.
Tidak mengherankan, pasalnya kedua etnik ini memang sudah dikenal di Asia Tenggara sebagai temurun Melayu-Peranakan. Sehingga, budaya maupun kulinernya sudah berkolaborasi menjadi paduan harmonis.
Salah satu paduan kuliner Melayu-Peranakan adalah Nasi Goreng Belacan, Nasi Lemak, dan berbagai menu lainnya yang mengusung kuliner halal. Sebagaimana diketahui, tipikal makanan Melayu-Peranakan adalah halal. Sehingga, inilah yang berkontribusi mengangkat kunjungan wisman Muslim, terutama dari Indonesia untuk bersantap ke Geylang.
“Bagi penikmat kuliner di Kota Kupang yang ingin mencicipi menu Melayu-Peranakan, khususnya Nasi Goreng Belacan, tidak usah jauh-jauh ke Geylang sebab manajemen Waroenk Podjok menyediakannya juga,” kata Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Jumat (23/3/2018) malam.
Wanita kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menuturkan, Nasi Goreng Belacan disukai pelanggan Waroenk Podjok karena dibaluri berbagai bumbu dan rempah khas “Melayu”.
“Seperti diketahui, salah satu penyebab begitu populernya menu dari Asia Tenggara tidak lepas kelezatan imbuhan bumbu dan rempahnya. Masakan ala Melayu-Peranakan yang sebagian besar ditawarkan di Malaysia, Indonesia, dan Singapura kaya akan bumbu khasnya, termasuk belacan atau bumbu masak terasi,” papar Noncy.
Menurutnya, sebagai salah satu destinasi kuliner favorit warga Kupang, Waroenk Podjok senantiasa berinovasi dengan meluncurkan menu-menu lezat dan unik, termasuk Nasi Goreng Belacan yang sudah menjadi salah satu menu ikonik di Asia Tenggara.
“Secara umum, Nasi Goreng Belacan adalah nasi goreng dengan cita rasa terasi pedas, berisi irisan ayam, sate udang serai, dan telur,” urai Noncy.
Ditambahkan, menu ala Melayu-Peranakan pihaknya tersebut dibanderol cukup terjangkau Rp 37.500. “Di Waroenk Podjok, Nasi Goreng Belacan adalah produk best seller kami. Menu ini bersaing dengan menu Waroenk Podjok lainnya seperti Soto Betawi Bang Doel dan Ayam Kung Pao,” beber Noncy.
Sekadar diketahui, belacan atau terasi adalah bumbu masak yang terbuat dari ikan atau udang rebon yang difermentasikan, berbentuk seperti adonan atau pasta dan berwarna hitam kecokelatan, kadang ditambah bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan.
Belacan merupakan bumbu penting di kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok Selatan. Bumbu ini memiliki bau yang tajam dan biasanya digunakan untuk membuat sambal terasi, tetapi juga ditemukan dalam berbagai resep tradisional Indonesia.
Di Malaysia, kadang-kadang belacan dibakar agar lebih enak, tetapi cenderung menimbulkan bau yang tajam. Di Thailand yang dihuni etnik Indo-China, belacan kerap disebut “kapi”.
Di daerah Bangka, ada beberapa daerah yang khusus menjadi penghasil belacan yang terkenal seperti Toboali, Bangka Selatan. Pembuatannya, udang rebon diambil nelayan dari laut kemudian langsung direbus di pinggir pantai.
Setelah matang, ditumbuk dan dicampur garam menggunakan lesung kayu. Belacan ini dijemur kembali agar kadar airnya rendah, selanjutnya ditumbuk kembali sampai bisa dibentuk. Sehingga, akhirnya menjadi ciri khas bentuk belacan (dadu terasi) yang lazim dikenal seperti saat ini.