27 March 2018

Cap Cay Goreng, menu sayuran yang paling digemari di Waroenk Kupang

Selain selalu hadir dengan meluncurkan menu unik, secara reguler Waroenk Resto and Cafe tidak menafikan menu-menu “sejuta umat” lainnya seperti Cap Cay. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Selain selalu hadir dengan meluncurkan menu unik, secara reguler Waroenk Resto and Cafe tidak menafikan menu-menu “sejuta umat” lainnya seperti Cap Cay.
Pasalnya, manajemen perusahaan kuliner dengan logo “koki berkumis” itu sebelumnya mengatakan, pihaknya berusaha mengakomodir apa yang digemari penikmat kuliner, khususnya di Kota Kupang.
“Untuk itulah, menu Cap Cay juga kami tawarkan karena tidak dapat dipisahkan dari lidah penikmat kuliner di Indonesia,” terang Public Relation and Representative Admin, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Selasa (27/3/2018).
Menurutnya, meskipun Cap Cay masuk dalam menu reguler yang dapat dijumpai secara mudah di tempat lain, tetapi makanan berbahan utama sayur-mayur berbeda bumbu dibandingkan racikan Cap Cay pada umumnya.
“Mungkin secara umum, Cap Cay semua sama, termasuk bahan utama serta bahan pendukungnya seperti lauk (ayam maupun daging) dan sebagainya. Tetapi, cita rasa tetap menjadi diferensiasi dan ini terletak dari bumbu khas yang kami gunakan,” imbuh Merlin.
Ia menambahkan, Cap Cay yang dibanderol pihaknya Rp 26 ribu adalah dengan cara digoreng.
“Tetapi, Cap Cay dapat di-request berkuah sesuai permintaan pelanggan. Untuk menu ini, tidak perlu diragukan lagi kelezatannya karena dalam daftar permintaan di Waroenk, Cap Cay Goreng setiap hari dapat terjual puluhan porsi. Ini belum termasuk bila ada permintaan order prasmanan instansi pemerintahan maupun swasta,” ujar Merlin.
Sekadar diketahui, Cap Cay, baik goreng maupun kuah dalam dialek Hokkian (salah satu suku Tionghoa di Indonesia), memilik makna “aneka sayuran”. Secara umum, Cap Cay adalah nama hidangan khas Tionghoa yang populer, terdiri dari beragam sayuran yang diracik dalam satu wadah atau wajan.
Tidak seperti namanya yang berarti “sepuluh” (Cap) dalam bahasa Hokkian, jumlah sayuran ternyata tidak tentu. Selama ini, banyak yang salah kaprah menyangka Cap Cay harus mengandung sepuluh macam sayuran karena secara harfiah Cap Cay berarti "sepuluh sayur".
Beberapa jenis sayuran yang biasanya dijadikan Cap Cay adalah sawi putih, sawi hijau, wortel, jagung muda, jamur merang, jamur kuping, kol, kapri, buncis, bunga kol, brokoli, daun bawang, tomat, dan bawang bombai.
Kendati demikian, unsur hewani juga biasa ditambahkan ke dalam makanan ini, misalnya daging sapi, ayam, telur, hati dan ampela ayam, udang, bakso, serta cumi-cumi. Cap Cay dapat dimasak dengan dua cara, direbus (kuah) atau digoreng.
Secara tertulis, sejarah Cap Cay memang tidak pernah diketemukan. Meskipun makanan ini sudah sangat umum dan lazim ditemui dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Tidak hanya pada restoran yang menjual Chinese Food, di penjual mie dan nasi goreng yang dijajakan gerobak di pinggir jalan pun, menu ini masif bisa dijumpai.
Cerita tentang asal usul Cap Cay memang banyak versi. Sehingga, sulit menentukan muasal Cap Cay yang sesungguhnya.
Dalam beberapa versi Cap Cay diklaim pertama kali dikenal di daratan Tiongkok pada era Dinasti Qing (1644-1911). Cap Cay yang dikenal saat itu berupa potongan sayur-sayuran yang dicampur jeroan hewan.
Sementara, versi lainnya mengatakan Cap Cay adalah masakan kaum imigran Tiongkok yang berkelana ke berbagai penjuru dunia. Makanan yang dimasak hari itu adalah apa yang ditemui mereka pada hari itu juga. Semua yang ditemukan hari itu dipotong-potong, kemudian dimasak menjadi satu. Kalau sayur yang ditemukan lebih banyak, maka Cap Cay hari itu menjadi semakin mewah.
Akan tetapi, di Tiongkok sendiri, masakan ini tidak dikenal. Hanya di wilayah Taisan, yang mayoritas penduduknya pengelana dan kaum imigran, istilah masakan Cap Cay ini dikenal dan ada.
Adapun versi yang populer di Amerika Serikat (AS) menceritakan jika kunjungan duta besar Tiongkok, Li Hung Chang ke New York pada 29 Agustus 1896 menjadi latar belakang munculnya masakan Cap Cay di Negeri Paman Sam itu.
Dalam sebuah jamuan makan malam, Li Hung Chang menolak semua hidangan mewah. Ia pun menugaskan juru masak pribadinya untuk menyiapkan menu. Kokinya akhirnya menciptakan masakan yang bisa diterima lidah AS dan Eropa sehingga jadilah masakan Cap Cay itu.\
Beberapa versi juga menyebutkan Cap Cay bukan berasal dari Tiongkok, melainkan masakan yang diciptakan orang Tionghoa yang tinggal di Indonesia.

26 March 2018

Es Podeng Waroenk, minuman Nusantara yang sudah ada sejak zaman kolonial


Es Podeng merupakan nama lain dari es putar atau kerap disebut dalam ejaan Jawa, “es puter”. Nama podeng sendiri berasal dari bahasa Madura yang mempunyai arti sama, yaitu putar. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Sebagai salah satu destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk Resto and Cafe, kepopuleran menu-menu yang ditawarkan manajemen bukan tanpa alasan.
Tempat makan dan nongkrong berlogo “koki berkumis” tersebut, seperti yang selalu digadang-gadang kompartemen urusan publik di sana, selalu menghadirkan menu lezat dan unik sesuai visi awal pembentukannya.
“Lezat dan unik saja tidak cukup, tetapi juga harus dilandasi inovasi dan kreativitas, sehingga selalu tampil pionir dan beda, paling tidak dalam skala lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini yang konsisten kami jalankan,” terang Public Relation and Representative Admin Waroenk, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Senin (26/3/2018) siang.
Selain berbagai makanan yang bisa dibilang “ikonik” seperti Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, Nasi Goreng Kebuli, dan lain-lain, dalam jajaran minuman juga tidak kalah pamor.
Salah satunya adalah Es Podeng. “Saat ini siapa yang tidak mengenal Es Podeng Waroenk. Selain menu pionir yang diluncurkan pertama kali oleh manajemen Waroenk, minuman yang kaya buah ini juga sangat menyegarkan,” imbuh Merlin.
Menurutnya, minuman yang dibanderol terjangkau Rp 28.500 itu saat diluncurkan awal September 2018, mendapat animo yang bagus dari penikmat kuliner.
“Es Podang bahkan menjadi minuman best seller setelah Chocolate Cokies dan Es Pisang Ijo di Waroenk,” beber Merlin.
 Dijelaskan, Es Podeng merupakan nama lain dari es putar atau kerap disebut dalam ejaan Jawa, “es puter”. Nama podeng sendiri berasal dari bahasa Madura yang mempunyai arti sama, yaitu putar.
Merlin menambahkan, Es Podeng menjadi kuliner khas Jakarta meski banyak yang mengatakan kalau es krim ala Indonesia ini dibawa pedagang asal Garut ke Jakarta.
“Dulu, banyaknya penjual es podeng di Jakarta membuat minuman ini semakin populer. Tidak  mengherankan jika dalam berbagai kesempatan, masyarakat Jakarta kerap menjadikan Es Podeng sebagai salah satu sajian pencuci mulut. Bagi warga Kupang, tentu tidak ingin ketinggalan menikmati minuman segar yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda di Indonesia,” tutur Merlin.
Sekadar diketahui, sejarah kemunculan Es Podeng tidak lepas dari daya kreatif masyarakat Indonesia di zaman kolonial. Ketika sajian es krim hanya bisa dinikmati kalangan tertentu, masyarakat Indonesia membuat modifikasi es krim dengan mengganti bahan utama susu dengan santan kelapa, yang kemudian menghasilkan es krim ala Indonesia yang disebut “es podeng”.
Meski sudah tercipta sejak zaman kolonial, hingga kini banyak pedagang es podeng yang masih menggunakan cara tradisional untuk memproduksinya. Adapun alat yang digunakan untuk memproduksi es podeng adalah mesin yang diputar secara manual.
Untuk menghasilkan es podeng dengan cita rasa spesial, para pembuat biasanya juga memasukkan bahan perasa lain, seperti durian, avokad, dan potongan nangka. Selain itu, untuk mendapatkan tampilan menarik, penjual Es Podeng juga memasukkan campuran lain berupa agar-agar, roti, buah atep, kacang tanah yang disangrai, dan sentuhan susu kental manis di atasnya.
Di tengah gempuran banyaknya produksi es krim luar negeri, Es podeng masih mempunyai penggemar setianya sendiri. Bahkan, rasa es podeng dijadikan salah satu varian rasa perusahaan es krim asing.
Hal tersebut membuktikan es podeng atau es putar merupakan jajanan lokal dengan cita rasa yang mengglobal.

25 March 2018

Pertama di NTT, Waroenk Podjok hadirkan Soto Betawi


Seperti yang menjadi prediksi manajemen Waroenk Podjok yang hadir pada 2 Maret 2018 lalu di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Soto Betawi Bang Doel yang digadang-gadang bakal menjadi menu favorit pelanggan, ternyata menjadi kenyataan. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Seperti yang menjadi prediksi manajemen Waroenk Podjok yang hadir pada 2 Maret 2018 lalu di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Soto Betawi Bang Doel yang digadang-gadang bakal menjadi menu favorit pelanggan, ternyata menjadi kenyataan.
Ini dapat dilihat dari daftar permintaan pelanggan terhadap Soto Betawi Bang Doel yang selalu menempati posisi mumpuni bahkan teratas sejak pembukaan hingga saat ini.
“Makanan khas asal Jakarta tersebut memang sudah menjadi makanan Nusantara favorit konsumen Waroenk Podjok,” tutur Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok Noncy Ndeo dalam keterangan resminya, Minggu (25/3/2018).
Ia mengklaim bila menu ini pertama di Kupag, bahkan Nusa Tenggara Timur (NTT). “Sesuai visi perusahaan yang senantiasa melahirkan menu lezat dan unik, begitu pula dalam hal peluncurannya, kami selalu pionir,” papar Noncy.
Wanita muda kelahiran Rote ini mengatakan pihaknya tidak mengada-ada dalam mengklaim sesuatu. Sebut saja jika menu yang dihadirkan adalah pertama atau pionir di NTT.
“Beberapa pelanggan memang mengatakannya langsung. Ada konsumen kami yang kebetulan pengusaha dan penikmat kuliner, sudah menjelajahi berbagai daerah di NTT, mengatakan jika menu Soto Betawi pertama yang ia temui hanya terdapat di Waroenk Podjok. Ini menandakan, kami memang selalu tampil pionir dalam hal kuliner,” imbuh Noncy.
Dijelaskan, Soto Betawi secara umum sudah sangat akrab di lidah orang Indonesia. Itulah sebabnya pihaknya mengangkat menu tersebut.
“Kami sangat optimistis jika Soto Betawi Bang Doel akan selalu menjadi favorit pelanggan. Pasalnya, selain sudah menjadi salah satu menu ikonik nasional, makanan ini juga memiliki cita rasa yang menggiurkan,” ujar Noncy.
Menurutnya, Soto Betawi Bang Doel yang ditawarkan tidak meninggalkan tipikal orisinal Soto Betawi dengan bahan daging berkuah susu,” paparnya.
Terkait harga per porsinya, Noncy mengatakan dibanderol cukup terjangkau Rp 32.500.
Dijelaskan, dalam proses penyajiannya, Soto Betawi biasanya disajikan ke dalam mangkuk dengan beberapa bahan tambahan seperti bawang goreng, irisan tomat, irisan daun bawang, dan daun seledri.
“Soto Betawi biasanya dihidangkan bersama nasi, sambal, acar, minyak samin, dan jeruk nipis,” ujarnya.
Selain Soto Betawi, dalam jajaran menu Indonesian Corner, Noncy mengatakan pihaknya juga menyajikan Asam Iga Seruni, Rawon Daging, Sop Buntut Bakar/Goreng, Iga Panggang Citrus, Iga Goreng Sambal Bengis, Nasi Ayam Betutu, Nasi Babat Gongso Semarang, Bebek Rempah Goreng Wangi, dan lain-lain.
Tidak hanya menu Nusantara, manajemen juga menyajikan beberapa menu Asia seperti dari Jepang, Tiongkok, dan lain-lain.
“Ada Ayam Kung Pao, Ayam Goreng Cantonese (Tiongkok), Katsu Fried Rice, Curry Katsu Rice, Chicken Teriyaki Rice (Jepang), dan masih banyak menu lainnya,” urainya.
Sekadar diketahui, Soto Betawi merupakan soto yang populer di daerah Jakarta. Seperti halnya Soto Madura dan Soto Sulung, Soto Betawi juga menggunakan jeroan.
Selain jeroan, organ-organ lain juga sering disertakan seperti mata dan hati sapi. Kuah Soto Betawi merupakan campuran santan dan susu. Kedua campuran inilah yang membuat rasa Soto Betawi begitu khas.
Istilah Soto Betawi hadir dalam kuliner masakan Indonesia sekitar 1977-1978, namun bukan berarti tidak ada soto sebelum tahun itu. Adapun yang mempopulerkan dan yang pertama memakai kata Soto Betawi adalah penjual soto bernama Lie Boen Po di THR Lokasari (Prinsen Park), tentunya dengan ciri khas cita rasa sendiri.
Banyak penjual soto pada masa tahun-tahun tersebut, biasanya menyebut dengan soto kaki Pak "X" atau sebutan lainnya. Istilah soto Betawi mulai menyebar menjadi istilah umum ketika penjual soto tersebut tutup sekitar 1991.

24 March 2018

Makanan sejuta umat ini sangat digemari di Waroenk Kupang

Kelezatan Nasi Goreng Ikan Asin tidak terlepas dari penggunaan bahan-bahan makanan yang fresh dan berkualitas. Apalagi, nasi goreng ini diimbuhi bumbu istimewa berpadu ikan asin, kekian atau cacahan daging dadu, dan taburan telur dadar spesial. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Di setiap sudut kota, jika Anda menyaksikan kegiatan sarapan pagi maka masif ditemukan orang-orang tengah menyantap nasi goreng. Memang tidak dapat dipungkiri bila nasi goreng sudah menjadi makanan sejuta umat yang digemari, khususnya di negara-negara Asia.
Lantaran kepopuleran makanan ini, beberapa negara Barat mengadaptasi masakan asli dari Asia ini menjadi berbagai menu kreatif western di sana. Bila terdengar jenis makanan berkonotasi “fried rice” yang di antaranya diembel-embeli “beef”, “chicken” dan sejenisnya di awal kata, maka pada dasarnya itu adalah nasi goreng.
Inovasi terhadap menu berbahan utama nasi ini sudah tidak terbilang. Berbagai penamaan nasi goreng hanya dibedakan dari bahan isi, baik daging sapi, ayam, maupun ikan.
Kepopuleran menu yang aslinya berasal dari Tiongkok ini, meskipun ada yang mengklaim dari Indonesia, bukan mengada-ada.
Pasalnya, salah satu channel TV populer asal Amerika Serikat (AS), CNN pada 2016 lalu melansir jika nasi goreng adalah kuliner paling populis disantap untuk sarapan pagi sekaligus makanan terenak kedua di dunia setelah rendang. Voting terkait makanan terenak di dunia tersebut dilakukan kepada 35 ribu penikmat kuliner pengguna Facebook.
“Nasi goreng masuk dalam daftar kedua terpopuler dari 50 daftar makanan terenak di dunia versi CNN. Ini membuktikan bila nasi goreng memiliki pamor yang bagus karena memang enak dan lezat,” terang Public Relation and Representative Admin Waroenk Resto and Cafe, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Sabtu (24/3/2018).
Terkait nasi goreng berbahan lauk khususnya ikan, salah satu item yang paling populer tentu saja Nasi Goreng Ikan Asin. Jika merujuk pada visi manajemen Waroenk yang rutin meluncurkan menu lezat dan unik, sebut Merlin, maka tentu pihaknya tidak ketinggalan menghadirkan menu Nasi Goreng Ikan Asin.
“Sebelumnya, kami sudah menghadirkan berbagai varian nasi goreng, di antaranya Nasi Goreng Kebuli Rp 35 ribu, Nasi Goreng Bejad (Level 1-5) Rp 32 ribu, Nasi Goreng Juned Rp 29.500, Nasi Goreng Waroenk Rp 32 ribu, Nasi Goreng Yang Chow Rp 42 ribu, dan Nasi Goreng Ikan Asin Rp 42 ribu,” bebernya.
Menurut Merlin, varian nasi goreng yang paling digemari di Waroenk setelah Nasi Goreng Kebuli dan Nasi Goreng Bejad (Level 1-5) adalah Nasi Goreng Ikan Asin.
“Kelezatan Nasi Goreng Ikan Asin tidak terlepas dari penggunaan bahan-bahan makanan yang fresh dan berkualitas. Apalagi, nasi goreng ini diimbuhi bumbu istimewa berpadu ikan asin, kekian atau cacahan daging dadu, dan taburan telur dadar spesial,” ulasnya.
Merlin mengatakan, tidak hanya sampai sebatas varian nasi goreng yang sudah ada, tetapi pihaknya akan terus meluncurkan varian nasi goreng yang lebih inovatif yang lahir dari chef andal Waroenk.
“Jadi bagi penikmat kuliner, khususnya yang menyukai menu nasi goreng, tunggu saja tanggal mainnya sebab kami bakal meluncurkan varian baru yang lebih sedap,” tutupnya.
Sekadar diketahui, menurut catatan sejarah nasi goreng merupakan komponen penting masyarakat Tionghoa di Tiongkok. Makanan ini sudah dikenal sejak 4.000 tahun sebelum masehi.
Di Tiongkok, nasi goreng disebut “chao fan”, lahir dari kearifan lokal dan kebudayaan Tionghoa yang tidak menyukai makanan yang sudah dingin. Apalagi, masyarakat Tionghoa pada waktu itu tidak suka membuang-buang sisa makanan yang tidak habis beberapa hari sebelumnya.
Untuk itu, ada inisiatif dengan menggoreng nasi yang tidak habis supaya bisa dihidangkan kembali dalam keadaan hangat. Sehingga, dalam perkembangannya, nasi goreng akhirnya tersebar ke Asia tenggara, dibawa para perantau Tionghoa yang menetap di sana.
Mereka lantas menciptakan nasi goreng khas lokal dengan racikan bumbu-bumbu dan cara menggoreng yang berbeda-beda, disesuaikan daerah atau tempat yang ditinggali.

Nikmatnya menu Melayu-Peranakan Nasi Goreng Belacan di Waroenk Podjok

Bagi penikmat kuliner di Kota Kupang yang ingin mencicipi menu Melayu-Peranakan, khususnya Nasi Goreng Belacan, tidak usah jauh-jauh ke Geylang Singapura sebab manajemen Waroenk Podjok menyediakannya juga. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Singapura dikenal sebagai salah satu negara destinasi wisata terpopuler dunia. Tidak heran bila negara berjuluk Negeri Patung Merlion ini selalu unggul dalam hal mendulang devisa.
Singapore Tourism Board (STB) mencatat, sepanjang 2015 lalu jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Singapura mencapai 15,2 juta orang.
Sehingga, tidak mengherankan apabila berbagai sendi terkait pariwisata hidup di sana, termasuk kuliner. Sebagai surga kuliner, Singapura dipenuhi berbagai masakan dunia. Pendatang dari berbagai negara yang masif berdomisili, bahkan menjadi warga negara di sana membuka usaha-usaha terkait kuliner yang memperkaya khazanah kuliner negara di bawah pimpinan Perdana Menteri Lee Hsien Loong itu.
Jika menelusuri salah satu sentra kuliner, Geylang maka akan dapat dijumpai ratusan tempat makan baik berupa resto dan kafe maupun kedai-kedai makan dan minum sederhana (warkop).
Uniknya, Geylang yang dikenal sebagai “red district”-nya Singapura, dihuni tiga etnik besar di antaranya Melayu, Tionghoa, dan India. Dari sekian banyak bauran jenis kuliner, pelaku kuliner khususnya dari etnik Melayu-Tionghoa menawarkan banyak item makanan yang juga dikenal di Indonesia.
Tidak mengherankan, pasalnya kedua etnik ini memang sudah dikenal di Asia Tenggara sebagai temurun Melayu-Peranakan. Sehingga, budaya maupun kulinernya sudah berkolaborasi menjadi paduan harmonis.
Salah satu paduan kuliner Melayu-Peranakan adalah Nasi Goreng Belacan, Nasi Lemak, dan berbagai menu lainnya yang mengusung kuliner halal. Sebagaimana diketahui, tipikal makanan Melayu-Peranakan adalah halal. Sehingga, inilah yang berkontribusi mengangkat kunjungan wisman Muslim, terutama dari Indonesia untuk bersantap ke Geylang.
“Bagi penikmat kuliner di Kota Kupang yang ingin mencicipi menu Melayu-Peranakan, khususnya Nasi Goreng Belacan, tidak usah jauh-jauh ke Geylang sebab manajemen Waroenk Podjok menyediakannya juga,” kata Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Jumat (23/3/2018) malam.
Wanita kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menuturkan, Nasi Goreng Belacan disukai pelanggan Waroenk Podjok karena dibaluri berbagai bumbu dan rempah khas “Melayu”.
“Seperti diketahui, salah satu penyebab begitu populernya menu dari Asia Tenggara tidak lepas kelezatan imbuhan bumbu dan rempahnya. Masakan ala Melayu-Peranakan yang sebagian besar ditawarkan di Malaysia, Indonesia, dan Singapura kaya akan bumbu khasnya, termasuk belacan atau bumbu masak terasi,” papar Noncy.
Menurutnya, sebagai salah satu destinasi kuliner favorit warga Kupang, Waroenk Podjok senantiasa berinovasi dengan meluncurkan menu-menu lezat dan unik, termasuk Nasi Goreng Belacan yang sudah menjadi salah satu menu ikonik di Asia Tenggara.
“Secara umum, Nasi Goreng Belacan adalah nasi goreng dengan cita rasa terasi pedas, berisi irisan ayam, sate udang serai, dan telur,” urai Noncy.
Ditambahkan, menu ala Melayu-Peranakan pihaknya tersebut dibanderol cukup terjangkau Rp 37.500. “Di Waroenk Podjok, Nasi Goreng Belacan adalah produk best seller kami. Menu ini bersaing dengan menu Waroenk Podjok lainnya seperti Soto Betawi Bang Doel dan Ayam Kung Pao,” beber Noncy.
Sekadar diketahui, belacan atau terasi adalah bumbu masak yang terbuat dari ikan atau udang rebon yang difermentasikan, berbentuk seperti adonan atau pasta dan berwarna hitam kecokelatan, kadang ditambah bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan.
Belacan merupakan bumbu penting di kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok Selatan. Bumbu ini memiliki bau yang tajam dan biasanya digunakan untuk membuat sambal terasi, tetapi juga ditemukan dalam berbagai resep tradisional Indonesia.
Di Malaysia, kadang-kadang belacan dibakar agar lebih enak, tetapi cenderung menimbulkan bau yang tajam. Di Thailand yang dihuni etnik Indo-China, belacan kerap disebut “kapi”.
Di daerah Bangka, ada beberapa daerah yang khusus menjadi penghasil belacan yang terkenal seperti Toboali, Bangka Selatan. Pembuatannya, udang rebon diambil nelayan dari laut kemudian langsung direbus di pinggir pantai.
Setelah matang, ditumbuk dan dicampur garam menggunakan lesung kayu. Belacan ini dijemur kembali agar kadar airnya rendah, selanjutnya ditumbuk kembali sampai bisa dibentuk. Sehingga, akhirnya menjadi ciri khas bentuk belacan (dadu terasi) yang lazim dikenal seperti saat ini.

23 March 2018

Katsu Rice Sambal Matah Waroenk, eksotisme perpaduan menu Jepang-Bali

Sejak peluncuran Katsu Rice Sambal Matah di Waroenk pada 8 Juli 2017, pelanggan yang mengonsumsinya cukup apresiatif, terlihat dari repeat order atau permintaan yang berulang-ulang, baik makan di tempat maupun dibawa pulang (take away). / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG – Kolaborasi atau perpaduan dua item yang berbeda, termasuk dalam dunia kuliner biasanya akan menghasilkan suatu hal yang luar biasa. Pasalnya, kolaborasi dua menu yang berbeda juga akan menciptakan cita rasa yang lezat.
Selain saling menyempurnakan, kolaborasi dua menu membuahkan keunikan tersendiri, apalagi masing-masing menu tersebut adalah andalan dari negara yang berbeda.
Hal itu dapat dilihat dari salah satu menu yang ditawarkan Waroenk. Resto dan kafe yang berlokasi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang ini memang rutin meluncurkan menu-menu unik, sebut saja Katsu Rice Sambal Matah yang merupakan paduan menu Jepang dan Indonesia, atau lebih spesifiknya dari daerah Bali.
“Seperti diketahui, menu berbahan ayam merupakan salah satu jenis bahan makanan yang paling banyak digunakan di dunia. Namun, akan terasa membosankan jika hanya disajikan secara reguler seperti digoreng atau dibakar, atau yang lagi marak adalah dengan cara digeprek atau digepuk,” terang Public Relation and Representative Admin, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jumat (23/3/2018) siang.
Mempertimbangkan hal itu, lanjutnya, manajemen mencoba meracik menu berbahan ayam dengan cara berbeda. Makanya, lahirlah Katsu Rice Sambal Matah yang boleh dibilang dipopulerkan pertama kali di Kota Kupang oleh Waroenk.
Merlin menambahkan, sebelumnya jenis makanan “katsu” bukanlah makanan baru. Menu ini sudah sangat populer di Negeri Matahari Terbit selain sushi dan teriyaki.
Sementara, sambal untuk Katsu Sambal Matah itu sendiri juga sudah sangat populer dan menjadi menu ikonik di Pulau Dewata.
“Jadi, kedua jenis makanan ini tidak perlu diragukan kelezatannya. Kalau katsu sudah sangat mendunia, maka sambal matah sudah menjadi menu ikonik Nusantara. Pastinya, perpaduan dari kedua menu Jepang-Bali ini bakal bikin ketagihan penikmat kuliner,” ujar Merlin.
Dijelaskan, Katsu Rice Sambal Matah disajikan secara rice bowl sesuai penyajian orang-orang Jepang atau Korea pada umumnya. “Katsu Rice Sambal Matah kami banderol cukup terjangkau Rp 32 ribu,” katanya.
Sejak peluncuran menu tersebut pada 8 Juli 2017, imbuh Merlin, pelanggan yang mengonsumsinya cukup apresiatif, terlihat dari repeat order atau permintaan yang berulang-ulang, baik makan di tempat maupun dibawa pulang (take away).
“Katsu Rice Sambal Matah termasuk top menu dalam daftar permintaan pelanggan kami. Popularitas menu ini di Waroenk, tentu tidak terlepas dari kreativitas chef kami yang inovatif,” pujinya.
Sekadar diketahui, katsu atau lebih sering disebut Chicken Katsu oleh penikmat kuliner dari negara-negara Eropa, memiliki nama asli tori katsu yang merupakan hidangan asli asal Jepang.
Menu ini terdiri dari irisan daging ayam dengan balutan tepung roti. Cara meracik selanjutnya, daging ayam dibumbui garam dan lada lalu dibalur telur dan tepung roti sebelum akhirnya digoreng dengan teknik “deep-frying”.
Katsu biasanya diolah dari fillet dada ayam. Salah satu bahan utama untuk membuat hidangan ini adalah “panko” atau variasi tepung roti khas Jepang. Panko memiliki tekstur lebih besar, kasar, dan renyah dibandingkan tepung roti pada umumnya. Secara parsial, hidangan ini umumnya disajikan bersama nasi putih, irisan kubis, serta saus pedas, saus teriyaki, atau kari. Sekadar info, teriyaki adalah cara memasak khas Jepang. Di sini, daging dipanggang dan diberi saus yang terbuat dari kecap dan gula.
Sementara itu, sambal matah adalah salah satu kuliner dari Bali yang sangat terkenal dan sudah populer sehingga menjadi menu ikonik nasional. Adapun yang unik dari sambal matah ini adalah cara penyajiannya.
Pasalnya, sambal matah disajikan setengah mentah dan tidak digerus seperti salad yang lezat dan pedas. Bagi penikmat kuliner yang menyukai cita rasa pedas, biasanya akan menyukai sambl matah ini.

Menu bangsawan istana Tiongkok ini ada di Waroenk Podjok

Jika sebelumnya di Waroenk Resto and Cafe yang berlokasi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, memiliki menu bangsawan istana Korea, yaitu Korean Shrimp Rice dan Shrimp Mayo, maka Waroenk Podjok memiliki menu bangsawan Tiongkok yaitu Ayam Kung Pao. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Jika sebelumnya di Waroenk Resto and Cafe yang berlokasi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, memiliki menu bangsawan istana Korea, yaitu Korean Shrimp Rice dan Shrimp Mayo, maka Waroenk Podjok memiliki menu bangsawan Tiongkok yaitu Ayam Kung Pao.
Pengelola resto dan kafe berlogo “koki berkumis” yang berada di bawah manajemen Waroenk tersebut, sebelum pembukaan outlet di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, kerap mengatakan Waroenk Podjok bakal meluncurkan menu istimewa yang tidak kalah pamor dibandingkan Waroenk.
Terbukti, dari sekitar 90 menu yang hadir di sana semuanya berbeda dengan menu yang ada di Waroenk. Manajemen Waroenk mengatakan, kehadiran Waroenk Podjok merupakan diferensiasi kuliner lezat dan unik yang sudah menjadi visi perusahaan. Makanya, tak ada satu pun menu yang sama bila pelanggan membuka buku menu di Waroenk Podjok.
“Semua menu berbeda, tetapi tidak meninggalkan ciri khas Waroenk yang mengusung menu lezat dan unik. Termasuk, kehadiran menu spesial Ayam Kung Pao yang merupakan menu yang lahir pada zaman kekaisaran di Tiongkok,” papar Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keteragan resminya, Jumat (23/3/2018) pagi.
Ia menambahkan, sebelumnya Ayam Kung Pao sudah populer di Indonesia, bahkan mancanegara. Jika merujuk pada kuliner Tiongkok, maka rasanya tidak ada resto maupun kafe berbasis Chinese Food yang mengabaikan kehadiran menu ini.
Pasalnya, selain merupakan menu para bangsawan yang dulunya berasal dari istana Tiongkok, Ayam Kung Pao juga merupakan salah satu sajian lezat khas Szechuan.
 “Ayam Kung Pao atau bagi penikmat kuliner di Barat menyebutnya Kung Pao Chicken, memadukan kerenyahan ayam dengan tambahan bumbu manis pedas. Apalagi, ada tambahan irisan cabai merah kering dan kacang mete. Tentunya, nikmat sebagai pelengkap nasi hangat,” urai Noncy.
Sejak diluncurkan bertepatan pembukaan Waroenk Podjok pada 2 Maret 2018, sebut Noncy, animo pelanggan terhadap Ayam Kung Pao cukup apresiatif.
“Ayam Kung Pao yang kami banderol sangat terjangkau Rp 25 ribu ini sangat diminati pelanggan, khususnya penikmat kuliner Chinese Food. Memang, dalam jajaran menu Asian and Japanese Corner Waroenk Podjok, Ayam Kung Pao ini masuk dalam top menu,” imbuh Noncy.
Sekadar diketahui, Ayam Kung Pao adalah masakan khas Szechuan, Tiongkok. Nama makanan ini berasal dari nama gelar pejabat Dinasti Qing, Ding Baozhen (1820-1886).
Ding merupakan kepala provinsi Shandong, kemudian menjadi gubernur provinsi Szechuan. Gelarnya sebagai Gong Boo atau penjaga istana adalah muasal nama “Kung Pao”.
Dari runut literatur Tiongkok, kaisar terakhir Tiongkok, Pu Yi (1906-1967) juga menggemari Ayam Kung Pao. Setiap kegiatan akbar kerajaan, menu ini selalu hadir menemani para bangsawan di istana-istana Tiongkok.

22 March 2018

Ini menu yang dipesan kontestan Indonesia Idol Marion Jola di Waroenk Kupang

Lava Chicken masuk dalam top menu di Waroenk setelah Nasi Iga Goreng Sambal Bawang dan Nasi Goreng Kebuli. Kepopuleran makanan berbahan ayam ini tidak lepas dari racikannya yang terbilang unik, yaitu penggunaan saus barbeque (BBQ) pedas dan saus keju yang ditaburkan di atas ayam fillet renyah. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Menu ikonik, atau apapun sebutannya adalah makanan yang disukai pelanggan hingga menjadi favorit. Repeat order atau pembelian yang berulang-ulang menjadikan makanan tersebut naik pamor.
Tentu ada alasan sehingga sebuah makanan menjadi populer, paling tidak dalam konteks sempitnya populis di resto maupun kafe yang meluncurkannya. Alasan utama, tidak terlepas dari cita rasa dan keunikan makanan itu sendiri.
“Salah satu menu ikonik kami adalah Lava Chicken (Level 0-4). Makanan jenis ricebowl ini disukai karena lezat dan unik. Apalagi, bahan ayam fillet yang dibalur tepung berkualitas ini diberi tingkat kepedasan yang dapat dipilih pelanggan. Level nol berarti tidak pedas sama sekali, dan level selanjutnya satu hingga empat berarti tingkat kepedasannya semakin strong,” jelas Public Relation and Representative Admin Waroenk Resto and Cafe, dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Kamis (22/3/2018).
Ia menambahkan, selain menjadi menu ikonik, Lava Chicken juga memiliki rating yang cukup tingga dalam daftar permintaan pelanggan.
“Lava Chicken masuk dalam top menu di Waroenk setelah Nasi Iga Goreng Sambal Bawang dan Nasi Goreng Kebuli. Kepopuleran makanan berbahan ayam ini tidak lepas dari racikannya yang terbilang unik, yaitu penggunaan saus barbeque (BBQ) pedas dan saus keju yang ditaburkan di atas ayam fillet renyah,” beber Merlin.
Lava Chicken, lanjutnya, dibanderol sangat terjangkau Rp 32 ribu dan flat untuk semua level.
Bukti kepopuleran menu tersebut, imbuh Merlin, dapat dilihat dari masifnya permintaan pelanggan, salah satunya dari kontestan Indonesia Idol musim kesembilan Marion Jola yang makan bersama keluarganya di Waroenk pada Rabu (21/3/2018) malam.
“Sebelum Marion mengikuti audisi Indonesia Idol, ia dan teman-temannya sudah sering makan di Waroenk. Salah satu menu favorit mereka Lava Chicken,” paparnya.
Sekadar diketahui, penamaan makanan berbahan ayam Lava Chicken merupakan plesetan dari “lava” yang merupakan cairan larutan magma pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi melalui kawah gunung berapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi batuan yang bentuknya bermacam-macam.
Karena dibaluri saus keju dan mayonais menyerupai lava, maka dinamakan Lava Chicken. Dari asal-usulnya, belum diketahui secara detail terkait asal menu ini namun dari segi penyajian ala ricebowl maka bisa dikatakan menu ini berasal dari Korea Selatan.
Beberapa literatur menyebut menu ini dibawa orang-orang Asia (Tiongkok, Jepang, atau Korea Selatan) ke Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat (AS) sehingga menu ini populer dan berkembang di sana.

21 March 2018

Makan bersama keluarga di Waroenk Kupang, Marion “Lala” Jola pesan Lava Chicken

Karyawan Waroenk Resto and Cafe tengah foto bersama finalis Indonesian Idol musim kesembilan, Maion 'Lala' Jola, Rabu (21/3/2018). Marion saat itu tengah bersantap malam bersama keluarganya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG – Bukan tanpa alasan jika Waroenk Resto and Cafe saat ini dianggap sebagai salah satu destinasi kuliner di Kota Kupang. Sajian berbagai menu lezat dan unik berkontribusi mengangkat tempat makan dan nongkrong berlogo “koki berkumis” ini naik pamor.
Beberapa item menu yang ditawarkan manajemen Waroenk, bahkan sudah menjadi makanan ikonik, sebut saja Nasi Iga Goreng Sambal Bawang, Nasi Goreng Kebuli, dan Lava Chicken (Level 1-5).
Hal tersebut diungkapkan Public Relation and Representative Admin Waroenk, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Rabu (21/3/2018) malam.
“Menu ikonik kami memang sangat digemari, termasuk Lava Chicken yang disukai finalis Indonesian Idol 2018, Marion ‘Lala’ Jola, yang bersantap malam bersama keluarganya di Waroenk malam ini,” paparnya.
Merlin menjelaskan, bersama ayah dan ibunya, Marion terlihat memesan beberapa menu, di antaranya Ayam Gepuk (Level 1), Lava Chicken (Level 4), Strawberry Blizz, Nasi Goreng Kebuli, Nasi Goreng Yang Chow, dan Spicy Beef Se’i.
“Marion sendiri terlihat menyantap Lava Chicken dan minum Fancy Gummy. Kedua item makanan dan minuman itu memang sudah menjadi menu ikonik Waroenk. Pasalnya, sejak buka pada 8 Juli 2017 lalu, menu ini selalu jadi top menu dalam daftar permintaan pelanggan,” bebernya.
Merlin menambahkan, sebelum ikut Indonesian Idol, sosok muda yang sebelumya dikenal sebagai model tersebut memang sering makan di Waroenk.
“Marion rutin makan di Waroenk bersama teman-teman sekolahnya di SMA Kristen Mercusuar, Kupang,” imbuhnya.
Pelantun “That's What I Like” milik Bruno Mars saat audisi di Indonesian Idol musim kesembilan itu, sebut Merlin, memang menyukai menu-menu yang ditawarkan Waroenk, khususnya Lava Chicken.
Sekadar diketahui, Merion yang bernama lengkap Marion Rambu Jola Pedi lahir di Kupang, 12 Juni 2000. Ia merupakan finalis Indonesian Idol musim kesembilan yang lolos hingga ke babak spektakuler 6 besar sebelum tereliminasi belum lama ini.
Saat ini, kepulangan sulung dari tiga bersaudara ke Kupang karena tengah disibukan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di SMA Kristen Mercusuar.
Putri pasangan Wida SAP Umbu Dauta (ayah) dan Sherly N Dauta Elim (ibu) merupakan salah satu kontestan yang bisa dibilang paling digemari sejak pencarian bakat Indonesian Idol digelar.
Bahkan, hengkangnya wanita yang akrab disapa Lala dari panggung Indonesian Idol membuat para juri terkejut dan kecewa. Pasalnya, ia selalu tampil santai namun berhasil memukau para juri, termasuk Ari Lasso.

Nasi Goreng Bejad Waroenk Resto and Cafe, pedasnya bikin ketagihan

Terkait makanan pedas, salah satu resto dan kafe representatif yang sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk memiliki beragam menu pedas terkait, di antaranya Nasi Goreng Bejad (Level 1-5).

britaloka.com, KUPANG – Salah satu kelebihan kuliner Nusantara dibandingkan kuliner dari mancanegara tidak terlepas dari penggunaan rempah-rempah, termasuk cabai.
Lantaran kontribusi “pedas” cabai inilah maka beberapa makanan nasional dianggap ikonik, seperti masakan rica-rica dari Manado atau balado dari Padang.
Cabai atau lebih kerap disebut cabe sejatinya adalah jenis rempah yang menambah nafsu makan, sehingga penggunaannya masif digunakan untuk meracik menu Nusantara yang lebih “menggigit”. Apalagi, orang Indonesia memang dikenal gemar makan masakan pedas.
Terkait makanan pedas, salah satu resto dan kafe representatif yang sudah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk memiliki beragam menu pedas terkait, di antaranya Nasi Goreng Bejad (Level 1-5).
Nasi goreng ekstra pedas dengan bahan cabai, irisan kekian (daging cacah dibalut tepung), ayam, dan telur mata sapi tersebut merupakan varian nasi goreng yang paling digemari selain Nasi Goreng Kebuli (Rp 35 ribu) yang sudah menjadi foodmark-nya Waroenk.
Hal itu diungkapkan Public Relation and Representative Admin Waroenk, Merlin Sinlae dalam keterangan resminya di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Rebu (21/3/2018).
Ia menambahkan, secara umum animo terhadap masakan pedas pihaknya cukup apresiatif. “Ini termasuk dalam varian nasi goreng, yaitu Nasi Goreng Bejad. Apalagi, tingkat pedas nasi goreng ini ditap hingga tingkat level lima. Jadi, cukup pedas karena takaran cabai untuk level satu saja sudah menggigit,” paparnya.
Ketika ditanyakan soal pelanggan yang tidak menyukai pedas, misalnya nasi goreng yang dikonsumsi anak-anak, Merlin mengatakan mereka dapat memilih nasi goreng yang tidak pedas, Nasi Goreng Waroenk yang dibanderol Rp 32 ribu.
“Nasi Goreng Waroenk agak mirip Nasi Goreng Bejad, hanya bedanya terletak pada rasanya yang sama sekali tidak pedas. Memang Nasi Goreng Waroenk ditujukan bagi yang tidak menginginkan pedas, seperti anak-anak,” imbuh Merlin.
Selain Nasi Goreng Bejad, Nasi Goereng Kebuli, dan Nasi Goreng Waroenk, manajemen Waroenk juga menawarkan varian nasi goreng lain, di antaranya Nasi Goreng Yang Chow Rp 42 ribu dan Nasi Goreng Ikan Asin Rp 42 ribu.
“Jadi bagi pelanggan yang menyukai menu nasi goreng, tidak perlu repot mencarinya ke tempat lain. Pasalnya, di Waroenk mereka sudah bisa mendapatkan semuanya, baik yang pedas maupun yang tidak pedas,” tutup Merlin.

19 March 2018

Menu appetizer ini paling digemari pelanggan Waroenk Podjok Kupang

Terkait menu pembuka, salah satu resto dan kafe representatif yang telah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk Podjok memiliki menu pembuka yang sudah menjadi favorit pelanggannya. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG - Menu dengan cita rasa lezat, sejatinya pasti akan tetap dicari pelanggan yang pernah mencicipinya, apapun jenisnya baik menu pembuka (appetizer) maupun menu tengah dan menu penutup.
Terkait menu pembuka, salah satu resto dan kafe representatif yang telah menjadi destinasi kuliner di Kota Kupang, Waroenk Podjok memiliki menu pembuka yang sudah menjadi favorit pelanggannya.
Menu pembuka yang digemari tersebut adalah Lumpia Udang. Hal tersebut diungkapkan Marketing Communication and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, Senin (19/3/2018).
Menurut Noncy, selama pembukaan pada 2 Maret 2018 lalu, menu itu terus diburu pelanggan. Bahkan, banyak pelanggan yang bersantap di Waroenk Podjok yang biasa disingkat Warpok tersebut repeat order atau membeli kembali untuk dibawa pulang (take away).
“Menu ini memang istimewa, karena isian Lumpia Udang selain terdiri dari udang, juga diisi ayam. Bedanya dengan lumpia lain karena biasanya isian terdiri dari ayam atau daging sapi saja, tetapi kami mengisinya dengan udang pilihan,” paparnya.
Noncy menambahkan, sebelumnya lumpia termasuk menu Nusantara yang juga digemari di daerah-daerah lain seperti di Semarang, Medan, Makassar, dan Surabaya.
“Dengan kehadiran Lumpia Udang ini, kami harap dapat mengakomodir kebutuhan menu pembuka, khususnya lumpia bagi warga Kupang maupun warga dari daerah lain yang berdomisili atau bertugas di Kota Kupang,” imbuhnya.
Salah seorang warga Makassar yang berdomisili di Kota Kupang, David yang pernah mencicipi Lumpia Udang ini, beber Noncy, mengatakan lumpia Waroenk Podjok yang berada di bawah manajemen Waroenk, tidak kalah lezatnya dengan yang lumpia yang biasa ia santap di daerah pecinan Makassar.
“Jadi, orisinalitas lumpia kami tidak kalah lezatnya, bahkan unik karena diimbuhi udang, sehingga cita rasanya lebih lezat,” ujarnya.
Sekadar diketahui, lumpia atau kadang-kadang disebut "lun pia" dalam bahasa Mandarin dan "long pia" dalam bahasa Inggris, merupakan sejenis jajanan tradisional Tionghoa.
Lumpia yang saat ini menjadi ejaan orang Indonesia merupakan lafal dari bahasa Hokkian.
Sejatinya, lumpia terbuat dari lembaran tipis tepung gandum yang dijadikan pembungkus isian yang umumnya diisi rebung, telur, sayuran segar, daging, atau makanan laut.
Di Indonesia, awalnya lumpia dikenal sebagai jajanan khas Semarang dengan tata cara pembuatan dan bahan-bahan yang telah disesuaikan tradisi setempat.

13 March 2018

Diskon 20 persen bagi pengguna Telkomsel, Waroenk Oebufu jadi destinasi makan hemat

Tidak bisa dipungkiri jika daya tarik sebuah resto dan kafe di luar cita rasa adalah terjangkaunya produk kuliner yang dijual. Hal itulah yang mendorong manajemen Waroenk yang berlokasi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang untuk melakukan terobosan program makan hemat untuk pelanggannya, khususnya pengguna Telkomsel. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG – Tidak bisa dipungkiri jika daya tarik sebuah resto dan kafe di luar cita rasa adalah terjangkaunya produk kuliner yang dijual. Hal itulah yang mendorong manajemen Waroenk yang berlokasi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang untuk melakukan terobosan program makan hemat untuk pelanggannya, khususnya pengguna Telkomsel.
“Program makan hemat diskon 20 persen ini bekerja sama dengan Telkomsel. Caranya, pelanggan yang bertransaksi minimal Rp 100 ribu cukup menukarkan 50 poin Telkomsel Poin-nya, maka mereka bisa mendapatkan potongan harga sebesar 20 persen. Penukaran poin berlaku pada Senin hingga Kamis,” terang Public Relation and Representative Admin Waroenk, Merlin Sinlae saat dihubungi di Waroenk, Selasa (13/3/2018) pagi.
Ia menjelaskan, program makan hemat sudah dilakukan pihaknya sekitar tujuh bulan lalu, dan animo pelanggan sangat apresiatif karena selain bisa makan lezat pelanggan juga bisa membayar hemat.
“Selama program ini kami jalankan, pelanggan terlihat membeludak pada Senin hingga Kamis. Selain keluarga, pegawai kantoran juga mendominasi kunjungan ke Waroenk,” imbuh Merlin.
Tidak hanya potongan harga yang tergolong “besar”, ia juga menjelaskan pelanggan bisa bermain aneka permainan yang disediakan manajemen Waroenk.
“Permainan ini sengaja kami hadirkan agar pelanggan bisa fun dan bermain sembari menunggu pesanan makanan ataupun minuman mereka. Adapun permainan yang kami sediakan di antaranya Sticko Uno, Ular Tangga, Halma, dan masih banyak lagi lainnya yang dapat di-request pelanggan,” papar Merlin.
Dijelaskan, apa yang ditawarkan pihaknya semuanya guna memanjakan pelanggan. Bahkan, menurutnya, ia berharap kehadiran Waroenk dapat menjadi destinasi kuliner bagi setiap wisatawan yang hadir di Kota Kupang.
Makanya, pihaknya juga rutin meluncurkan menu unik dan lezat. Selain itu, standardisasi pelayanan pun sangat diutamakan, sehingga tamu dapat merasakan profesionalisme pelayanan dari manajemen maupun karyawan Waroenk.
Merlin menambahkan, selain menu makanan yang banyak dipuji tamu yang telah berkunjung, salah satu item dari berbagai varian minuman yang ditawarkan pihaknya yang juga tidak kalah geregetnya adalah kopi.
“Kopi adalah salah satu menu kuliner kami yang digemari tamu yang berkunjung. Di sini, kami menyediakan berbagai jenis kopi yang terbuat dari biji kopi pilihan, panas maupun dingin yang dihasilkan dari mesin espresso Italia,” paparnya.
Adapun jenis minuman kopinya, sebut Merlin, di antaranya hot coffee and milk dan cold coffee yang terdiri dari Espresso, Americano, Coffee Latte, Caramel Latte, Cappucino, Mochacino, Red Velvet Latte, dan Hot Chocolate Milk.
“Semuanya kami banderol dengan harga terjangkau. Kopi Americano misalnya, hanya Rp 15 ribu. Sementara, untuk cold coffee kami menyediakan Iced Black Coffee Rp 20 ribu, Iced Coffe Float Rp 25 ribu, dan masih banyak jenis kopi es lainnya,” tutupnya.

12 March 2018

Wow, makan di Waroenk Podjok Kupang bisa dapat smartphone

Pelanggan Waroenk Podjok yang berlokasi di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, kembali dimanjakan manajemen Waroenk dengan memberikan kesempatan untuk meraih hadiah satu unit smartphone Samsung. / Effendy Wongso

britaloka.com, KUPANG – Pelanggan Waroenk Podjok yang berlokasi di Lantai Dasar Transmart, Jalan WJ Lalamentik, Fatululi, Kupang, kembali dimanjakan manajemen Waroenk dengan memberikan kesempatan untuk meraih hadiah satu unit smartphone Samsung.
Tidak hanya itu, setiap pelanggan yang bertransaksi makan dan minum senilai Rp 100 ribu, berhak mencabut hadiah langsung berupa suvenir menarik dari Telkomsel seperti tas, dompet, botol minuman, dan gantungan kunci boneka setelah potong 10 poin Telkomsel poinnya.
Hal tersebut diungkapkan Marketing Communication (Marcom) and Representative Admin Waroenk Podjok, Noncy Ndeo dalam keterangan resminya di Waroenk Podjok, Senin (12/3/2018).
“Program bagi-bagi hadiah ini merupakan kerja sama dengan Telkomsel. Program berlaku selama tiga bulan, mulai Senin (12/3/2018) hingga Sabtu (12/5/2018).
Noncy menjelaskan, mekanisme program terbaru di Waroenk Podjok sangat mudah. Pasalnya, setiap struk senilai Rp 100 ribu milik pelanggan otomatis diikutkan dalam undian yang akan diundi di akhir periode.
“Setelah mencabut hadiah langsung, pelanggan cukup menuliskan nama dan nomor ponselnya dalam struk, yang bakal dihubungi jika memenangkan undian. Pelanggan yang mengikuti program undian, juga bisa hadir dalam acara pengundian yang dilakukan di akhir periode pada Sabtu, 12 Mei 2018, pukul 16.00 Wita di Waroenk Podjok,” imbuhnya.
Adapun hadiah pertama, sebut Noncy, adalah smartphone Samsung, hadiah kedua headseat, dan ketiga boneka gede.
Selain itu, guna memudahkan pelanggan melakukan pembayaran, manajemen Waroenk Podjok juga menyediakan pembayaran “zaman now” secara digital melalui T-Cash.
“Seperti diketahui, T-Cash adalah pembayaran elektronik dari Telkomsel yang memudahkan pelanggan berbelanja secara mudah dan aman. Sebab, cukup menggunakan aplikasi T-Cash di smartphone mereka, sudah bisa bertransaksi tanpa harus membawa uang tunai. Itulah sebabnya kami bekerja sama dengan Telkomsel dalam hal pembayaran. Apalagi, Telkomsel juga memanjakan pelanggannya dengan memberikan potongan 10 persen jika bertransaksi di Waroenk Podjok pada Sabtu dan Minggu,” tutup Noncy.