25 January 2018

Eksotisme menu Nusantara di Waroenk Resto and Cafe

Aroma rempah-rempah sangat terasa dalam salah satu menu andalan Waroenk Resto and Cafe, Sup Iga Tujuh Rempah. Begitu pula dalam menu lain seperti Rawon Tulang (50 ribu), Soto Ayam Surabaya (20 ribu), dan menu Nusantara Waroenk lainnya. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Saat ini, tidak ada yang dapat menyangkal jika menu Nusantara merupakan salah satu varian makanan terbaik di dunia. Terbaik, dalam artian menu produk Indonesia dikenal sangat lezat, terutama berkat bumbu-bumbu dan rempah-rempah khasnya.
Lantaran rempah-rempahlah maka beberapa bangsa Eropa “menginvasi” Nusantara. Pasalnya, rempah-rempah merupakan barang dagangan paling berharga pada zaman prakolonial. Banyak rempah dulunya digunakan dalam pengobatan, sekaligus bahan untuk kuliner.
Rempah-rempah juga merupakan salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku. Rempah-rempah ini pula yang menyebabkan Belanda kemudian menyusul ke Maluku.
Sementara itu, bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magellan telah lebih dulu mencari jalan ke Timur melalui jalan lain, yaitu melewati samudera Pasifik dan akhirnya mendarat di pulau Luzon Filipina.
Terkait rempah-rempah, dapat dipastikan semua restoran maupun kafe yang menyajikan menu Nusantara, menggunakan bahan beraroma kuat ini. Sebabnya, tipikal menu Nusantara memang tidak dapat dilepaskan dari rempah-rempah.
Hal itu juga dapat dilihat dari penyajian hampir semua menu Nusantara yang disediakan Waroenk Resto and Cafe, Jalan WJ Lalamentik, Kupang.
“Aroma rempah-rempah sangat terasa dalam salah satu menu andalan kami, Sup Iga Tujuh Rempah. Begitu pula dalam menu lain seperti Rawon Tulang (Rp 50 ribu), Soto Ayam Surabaya (Rp 20 ribu), dan menu Nusantara kami lainnya,” papar Public Relation and Representative Admin, Merlin Sinlae saat dihubungi di Waroenk, Kamis (25/1/2018).
Ia menambahkan, selain menu yang disebutnya tadi, terdapat menu Nusantara favorit pelanggan. “Gado-gado (Rp 22 ribu), Ayam Goreng Surabaya (Rp 35 ribu), Ayam Goreng Jomblo (Rp 40 ribu), Ayam Gepuk (Rp 25 ribu), dan Ayam Gepuk Mozza (Rp 25 ribu) dengan level atau tingkat kepedasan yang diinginkan pelanggan,” imbuh Merlin.
Menurutnya, semua makanan Nusantara pihaknya memakai rempah-rempah sebagai penunjang cita rasa lezat.
Merlin membeberkan, meskipun hampir semua resto dan kafe yang menawarkan menu Nusantara menggunakan rempah-rempah, namun tidak semua makanan yang dihasilkan bercita rasa baik.
“Artinya, cara meracik juga menentukan lezat tidaknya suatu masakan Nusantara. Di Waroenk, kami benar-benar selektif dan menakar penggunaan rempah-rempah yang berkualitas, sehingga cita rasa yang dihadirkan ideal dan ‘pas’ di lidah,” jelasnya.
Untuk diketahui, dunia kuliner Indonesia mencatat betapa besarnya peran rempah-rempah dalam hidangan setempat (daerah) yang mendapat pengaruh asing seperti dari Timur Tengah, India, Tiongkok, dan Eropa.
Beberapa karakter berbagai hidangan berempah khas Tanah Air seperti di Sumatra mendapat pengaruh dari India, Arab, dan Persia. Sehingga, sangat terasa dalam hidangan bersantap yang dibubuhi rempah lengkap.
Ini dapat dirasakan dalam roti cane, martabak, nasi briyani, dan aneka gulai. Di Aceh, adamie kepiting sementara di Sumatra Utara masyarakat Batak menggunakan lada rimba yang sangat pedas.
Adapun Sumatra Barat terkenal khas dengan rendangnya, gulai ayam, dan kalio yang mempresentasikan aneka rempah. Sementara, di Sumatra Selatan dan Riau, lada dibubuhkan pada tekwan asal Palembang dan bihun goreng seafood dari Selatpanjang.
Di Sulawesi Utara, masakan Minahasa memliki cita rasa pedas dari cabai dan rempah-rempah. Sementara, sup kacang merah atau sup bruine bonen dijerang bersama bumbu pala dan cengkeh. Selanjutnya, kuliner Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan seperti coto mangkasara (Coto Makassar), sup konro, dan sup saudara memiliki cita rasa rempah yang juga kuat.