28 September 2017

Ini alasan menu Finding Dory diburu pelanggan Waroenk Resto and Cafe

Ikan dory yang memiliki nama lengkap John Dory terkenal akan dagingnya yang berserat halus dan lembut. Ikan ini berasal dari perairan laut dingin di kawasan Australia. / Istimewa
britaloka.com, KUPANG - Sebagai negara maritim, Indonesia dianugerahi berbagai hasil laut, salah satunya tentu ikan yang masif dikonsumsi masyarakat bahkan menjadi komoditas ekspor ke mancanegara.
Secara umum, ikan sudah tidak dapat dipisahkan dari masyarakat di Nusantara. Ikan bahkan menempati posisi penting sebagai bahan konsumsi yang bergizi.
Sebagai salah satu resto dan kafe pelopor menu unik dan lezat, Waroenk tidak ketinggalan mengangkat menu berbahan ikan sebagai salah satu makanan andalan. Tentu, dengan kreativitas racikan yang sedap.
Hal tersebut diungkapkan owner Waroenk Resto and Cafe, Steven Marloanto saat disambangi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Kamis (28/9/2017).
“Seperti yang kita ketahui, ikan menjadi bahan makanan yang paling banyak dikonsumsi selain ayam. Untuk itu, kami menyajikan ikan menjadi menu lezat yang dapat dikatakan sangat berbeda dibandingkan penyajian di resto maupun warung lainnya,” paparnya.
Terkait bahan ikan untuk jenis menunya, Steven menyebut ada beberapa jenis ikan seperti tuna dan dory.
“Menu berbahan ikan kami semuanya disukai pelanggan, tetapi yang paling banyak diburu pelanggan adalah dory. Menu dory kami namakan Finding Dory,” imbuhnya.
Steven menambahkan, Finding Dory disukai penikmat kuliner di Kota Kupang karena selain lezat dan bergizi, penyajian ikan ini terbilang unik. Unik yang dimaksudnya lantaran dory disajikan secara fillet lalu digoreng dengan tepung dan bumbu-bumbu khusus sehingga terasa gurih.
“Apalagi, dory kami taruh dalam Korean Rice Bowl, sehingga boleh dibilang menjadi tren penyajian terkini di Kota Kupang,” bebernya.
Terkait penamaan Finding Dory yang mengingatkan terhadap judul film animasi populer Hollywood, ia mengatakan hal itu sudah menjadi tipikal Waroenk. Artinya, keunikan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pihaknya, tidak terkecuali soal penamaan sebuah makanan.
“Beberapa nama makanan kami juga terbilang unik, seperti Nasi Ayam Goreng Jomblo,” imbuh Steven.
Soal harga Finding Dory, ia mengatakan cukup terjangkau sebab hanya dibanderol Rp 35 ribu.
Sekadar diketahui, ikan dory yang memiliki nama lengkap John Dory ini terkenal akan dagingnya yang berserat halus dan lembut. Ikan ini berasal dari perairan laut dingin di kawasan Australia.
Dory bentuknya pipih, kulitnya cokelat dengan mata lebar dan titik hitam di sisi badannya sehingga sekilas mirip ikan kuwe. Kepopuleran dory lantaran dagingnya yang putih, bersih, sangat halus, dan gurih dimakan.
Daging dory tergolong mahal, sehingga lebih sering dijual dalam bentuk fillet. Ikan ini juga enak digoreng, dikukus, atau diberi bumbu yang sedikit kuat. Biasanya, mudah diperoleh di pasar swalayan besar.

27 September 2017

Ini kelezatan menu lokal Se’i yang dikemas dalam Korean Rice Bowl

Selain Spicy Beef Se’i yang dibanderol Rp 35 ribu, Waroenk juga menyediakan beberapa menu lokal yang dikemas dalam Korean Rice Bowl, di antaranya menu Katsu Rice Sambal Matah dan Katsu DonBuri (Japanese Food), Finding Dory, dan masih banyak menu Korean Rice Bowl lainnya./Istimewa
britaloka.com, KUPANG - Memang tidak ada yang dapat menyangkal kelezatan makanan Nusantara. Hal tersebut bahkan sudah diakui penikmat kuliner mancanegara.
Sebagai negara yang memiliki beragam budaya, berbagai kearifan lokal baik adat istiadat maupun budaya, tidak terkecuali kuliner menjadi khazanah tersendiri yang jarang dimiliki negara lain.
Terkait kuliner, berbagai daerah di Indonesia memiliki makanan khas. Sebut saja Coto Makassar di Sulawesi Selatan, Rendang di Sumatera Barat, Gulai Ikan Patin di Jambi, Pempek di Sumatera Selatan, Sate Bandeng di Banten, Kerak Telor di Jakarta, Nasi Gudeg di Yogyakarta, dan Se’i di Nusa Tenggara Timur.
Menyoal Se’i, hampir semua warga di Kota Kupang tidak ada yang tak mengenal makanan berbahan daging asap ini. Sehingga, Se’i di daerah berjuluk “Kota Sasando” ini bukan sekadar makanan, tetapi sudah menjadi “idiom”.
Sebagai salah satu resto dan kafe representatif yang menjadi pelopor menu unik dan lezat, Waroenk tentu saja tidak ketinggalan menawarkan menu Se’i.
“Kenapa kami angkat Se’i sapi sebagai salah satu menu andalan di Waroenk, tidak lain karena kami ingin mengakomodir penikmat kuliner lokal. Seperti yang kita ketahui, bicara kuliner di Kupang, tentu tidak dapat dipisahkan dari Se’i. Sehingga, kami mencoba meracik Se’i sapi menjadi menu inovatif yang kami namakan Spicy Beef Se’i,” terang owner Waroenk Resto and Cafe, Steven Marloanto saat ditemui di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Rabu (27/9/2017).
Adapun inovasi dalam menu pihaknya yang dimaksud pria kelahiran Makassar ini adalah kreativitas meracik Se’i dalam kemasan Korean Rice Bowl.
“Selama ini penikmat kuliner hanya menikmati Se’i secara konservatif. Artinya, Se’i hanya dimakan sebagai lauk pauk. Tetapi, di Waroenk menu ini kami racik dalam satu bowl (mangkuk) dengan paduan rempah-rempah pilihan, termasuk cabai sehingga rasa pedas (spicy) menjadi cita rasa tersendiri bagi pelanggan yang menikmatinya,” papar Steven.
Selain Spicy Beef Se’i yang dibanderol Rp 35 ribu, ia mengatakan Waroenk juga menyediakan beberapa menu lokal yang dikemas dalam Korean Rice Bowl, di antaranya menu Katsu Rice Sambal Matah dan Katsu DonBuri (Japanese Food), Finding Dory, dan masih banyak menu Korean Rice Bowl lainnya.
Sekadar diketahui, daging Se'i adalah daging asap yang khas berasal dari Nusa Tenggara Timur. Sejatinya, daging sapi dimasak menggunakan kayu bakar dengan jarak cukup jauh, sehingga bukan lidah api yang mematangkan daging, melainkan asap panas.
Di Nusa Tenggara Timur, saat ini juga terdapat Se'i dari daging daging ikan. Apabila baru diasap, daging ini bisa langsung dimakan dengan mengirisnya tipis. Akan tetapi, apabila daging ini telah disimpan beberapa hari, maka harus digoreng kembali, atau dimasak dalam tumisan bunga pepaya dan sayur-sayuran lainnya.

23 September 2017

Yuk, berburu spageti Italia di Waroenk Resto and Cafe

Spaghetti Tuna Aglio Olio
britaloka.com, KUPANG – Sebagai salah satu negara di Asia, dengan populasi penduduk terbanyak setelah Tiongkok dan India, Indonesia lazimnya negara-negara Asia lainnya memiliki masyarakat gemar makan nasi sebagai makanan pokok.
Akan tetapi, selain nasi masyarakat Asia lainnya juga gemar makan makanan berbahan mi atau kerap disebut mie. Mie bahkan menempati posisi kedua tertinggi dikonsumsi warga Asia, tidak terkecuali di Indonesia.
Namun, bagaimana dengan negara di Eropa misalnya? Jangan salah, meskipun kebanyakan warganya tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok, mie di beberapa negara Eropa juga digemari.
Di Italia, mie yang dikenal sebagai spageti atau spaghetti sangat digemari dan tidak kalah dengan penganan piza yang sudah populer di seluruh dunia.
Sebagai resto dan kafe pelopor menu unik dan lezat di Kota Kupang, Waroenk yang beralamat di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, juga tidak mau ketinggalan menyajikan menu berbahan mie. Sebut saja varian Cwie Mie Ayam dan Bakmi Goreng Waroenk, serta tentu saja spaghetti.
“Menu spaghetti di Waroenk dapat dikatakan unik dan berbeda dibandingkan yang disajikan di kebanyakan tempat lain. Beda, karena kami memang meraciknya secara orisinal sehingga otentik spaghetti Italia,” jelas owner Waroenk, Steven Marloanto saat ditemui Sabtu (23/9/2017).
Ia menambahkan, otentikasi yang dimaksudnya tidak lain lantaran penggunaan bumbu-bumbu khas “Italiano” yang menambah kelezatan Italian Food pihaknya.
Adapun menu-menu spaghetti yang ditawarkan Waroenk, sebut Steven, di antaranya Spaghetti Bolognese yang dibanderol sangat terjangkau Rp 35 ribu, Tuna Aglio Olio Rp 30 ribu, Beef Alfredo 40 ribu, dan Pepe Nero Rp 35 ribu.
“Semua menu spaghetti kami disukai pelanggan, tetapi rating Tuna Aglio Olio boleh dibilang lebih baik sesuai daftar permintaan tamu yang mencicipinya,” kata Steven.
Sekadar diketahui, spaghetti adalah mie Italia yang berbentuk panjang seperti lidi, umumnya dimasak sekitar sembilan hingga 12 menit dalam air mendidih.
Makanan ini juga disebut “al dente” yang artinya tidak lengket di gigi, tidak terlalu mentah ataupun terlalu matang. Cara memakannya bervariasi tetapi yang sangat terkenal adalah spaghetti alla Bolognese, yaitu disajikan bersama saus daging cincang lalu ditaburi keju parmesan parut.
Hampir setiap orang mengira spaghetti adalah bakmi yang dibawa pulang Marco Polo dalam perjalanannya dari Tiongkok. Tetapi, setelah diselidiki banyak pihak, sejak zaman dulu bangsa Romawi yang menang dari medan perang selalu menyantap spaghetti. Sementara, Marco Polo kembali dari Tiongkok pada tahun 1292.
Spaghetti merupakan salah satu jenis pasta yang telah dikenal bangsa Italia sejak zaman manusia bercocok tanam sekitar 10 ribu tahun lalu. Makanan tersebut berasal dari tepung yang dihasilkan lalu diolah sedikit air dan telur, sehingga menjadi sebuah adonan yang disebut pasta.
Pasta ini lalu digiling tipis menjadi lembar per lembar, merupakan induk pasta yang dikenal sebagai Lasagna. Selanjutnya, baru berkembang jenis-jenis pasta lainnya seperti Fusili, Penne, Tagliatelle, dan lain-lain.

22 September 2017

Popularitas Sticky Wings di Waroenk Resto terangkat berkat tren film Korea

Sticky Wings menjadi menu Korea yang paling disukai pelanggan. Rating makanan ini sangat bagus, bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini menempati peringkat teratas dalam seluruh penjualan menu di Waroenk, / Istimewa
britaloka.com, KUPANG - Korea Selatan (Korsel) atau lebih dikenal sebagai “Korea” saja tidak hanya maju dalam industri teknologi. Banyak hal yang menonjol dari negara berjuluk Negeri Gingseng ini menjadi tren dan digemari warga dunia.
Salah satunya dalam industri hiburan, tepatnya film dan musik. Kegemaran terhadap kompartemen ini memicu budaya pop baru, sebut saja fashion dan kuliner Korea.
Terkait kuliner, Korea sangat populer dengan Kimchi-nya. Selain itu, berbagai menu lain turut merajai popularitas menu dunia, di antaranya dan Sticky Wings dan Korean Chicken Pop.
Saat ditemui di Waroenk Resto and Cafe, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Kamis (21/9/2017), Steven Marloanto yang menakhodai pelopor tempat makan dan minum representatif di Kota Sasando ini membenarkan jika menu ala Korea yang dijual pihaknya sangat digemari pelanggan.
“Sticky Wings menjadi menu Korea yang paling disukai pelanggan. Rating makanan ini sangat bagus, bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini menempati peringkat teratas dalam seluruh penjualan menu di Waroenk,” bebernya.
Adapun menu Korea lainnya, sebut Steven, adalah Korean Chicken Pop. “Menu-menu tadi, selain unik dan lezat juga populer karena didongkrak tren Korea. Seperti yang kita ketahui, hal-hal berbau Korea sangat digemari di Indonesia,” imbuhnya.
Hal-hal berbau Korea yang dimaksud Steven, tidak terlepas dari kegemaran masyarakat khususnya kawula muda terhadap tren Korea, terutama film dan musik.
“Tetapi, tentu saja bukan sekadar tren, sebab memang makanan Korea tadi enak dan lezat. Beberapa bumbu memang impor (dari Korea), sehingga boleh dibilang di Kota Kupang, kamilah yang pertama menyajikan menu-menu itu,” ujar pria kelahiran Makassar ini.
Steven menambahkan, harga yang dibanderol untuk Sticky Wings sangat terjangkau Rp 27.500. Sementara untuk kategori rice bowl seperti Korean Chicken Pop Rp 30, dan Beef Bulgogi Rp 35 ribu.
Sekadar diketahui, Hallyu atau Korean Wave yang dapat diartikan sebagai "demam Korea"  adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia sejak 1990-an.
Secara umum, Hallyu memicu banyak orang di negara tersebut untuk mempelajari bahasa Korea dan kebudayaan Korea.
Salah satu pelecut demam Korea tidak lain masifnya tayangan drama Korea. Media-media asing, terutama di Korea melansir drama Korea merupakan penyebab mulai merebaknya Hallyu di berbagai negara.
Warga Korea yang suka menonton drama dan film, serta mendengar musik berkontribusi terhdap maraknya perusahaan TV Korea mengeluarkan biaya besar untuk memproduksi drama.
Tidak sedikit di antaranya yang mencetak sukses, diekspor ke luar negeri dengan royalti atau hak siar berbiaya besar. Adapun drama televisi yang memicu Hallyu antara lain Winter Sonata, Dae Jang Geum, Stairway to Heaven, Beautiful Days, dan Hotelier.

20 September 2017

Yuk, cicipi Rawon Tulang Waroenk Resto and Cafe yang menggiurkan

Rawon Tulang di Waroenk Resto and Cafe termasuk salah satu makanan yang paling disukai pelanggan karena memiliki cita rasa yang khas. Bukan sekadar rawon biasa, tetapi aroma wangi Rawon Tulang sangat menonjol sehingga menjadi salah satu favorit pelanggan./Istimewa
britaloka.com, KUPANG - Kreasi yang inovatif tidak hanya bersumber dari kompartemen teknologi. Pasalnya, kreasi bisa berasal dari mana saja, termasuk dalam dunia kuliner. Terkait kuliner, setiap saat bisa saja lahir menu-menu baru yang lezat dari resep-resep mutakhir.
Indonesia termasuk salah satu negara yang populer lantaran khazanah kulinernya. Berbagai daerah di Nusantara memiliki menu khas yang tidak hanya disukai masyarakat lokal, tetapi juga penikmat kuliner mancanegara.
Salah satu pelopor menu-menu unik dan lezat di Kota Kupang, Waroenk Resto and Cafe sejak berdiri pada 8 Juli 2017 lalu, sudah rutin meluncurkan masakan yang menggiurkan.
Sebut saja Rawon Tulang yang saat ini menempati rating terbaik makanan yang paling disukai pelanggan setelah Nasi Iga Goreng Sambal Bawang.
“Rawon Tulang termasuk salah satu makanan yang paling disukai pelanggan karena memiliki cita rasa yang khas. Bukan sekadar rawon biasa, tetapi aroma wangi Rawon Tulang sangat menonjol sehingga menjadi salah satu favorit pelanggan,” jelas owner Waroenk, Steven Marloanto saat ditemui Selasa (20/9/2017).
Aroma wangi yang dimaksud pria kelahiran Makassar ini tidak lepas dari penggunaan rempah-rempah racikan koki Waroenk. Selain itu, daging iga untuk bahan isi juga sangat empuk sebab dipilih dari daging pilihan.
“Rawon Tulang yang kami tawarkan porsinya cukup besar, apalagi sudah sepaket nasi, telur asin, dan kerupuk. Menu berkuah sedap ini memang pas dinikmati panas-panas,” imbuh Steven.
Untuk harga, Rawon Tulang dibanderol cukup terjangkau Rp 45 ribu per porsi.
Sekadar diketahui, sejatinya rawon adalah masakan Indonesia berupa sup daging berkuah hitam sebagai campuran bumbu khas yang mengandung kluwek. Meskipun dikenal sebagai masakan khas Jawa Timur, rawon dikenal pula masyarakat Jawa Tengah sebelah timur atau tepatnya di daerah Surakarta.
Daging untuk rawon umumnya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil. Bumbu supnya sangat khas Indonesia, yaitu campuran bawang merah, bawang putih, lengkuas, ketumbar, serai, kunir, lombok, kluwek, garam, serta minyak nabati.
Semua bahan ini dihaluskan, lalu ditumis sampai harum. Campuran bumbu ini kemudian dimasukkan dalam kaldu rebusan daging bersama daging. Warna gelap khas rawon berasal dari kluwek. Di luar negeri, rawon disebut sebagai black soup.

18 September 2017

Lezatnya Cwie Mie Ayam Waroenk, ini rahasianya

Cwie Mie Ayam di Waroenk Resto and Cafe dibanderol Rp 22 ribu, Cwie Mie Ayam Bakso Rp 22 ribu, Cwie Mie Ayam Jamur Rp 22 ribu, dan Cwie Mie Ayam Waroenk Rp 25 ribu./Istimewa
britaloka.com, KUPANG – Sebagai makanan pokok selain nasi, mie atau mi dalam bahasa Indonesia baku sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memiliki arti penting dalam dunia kuliner Nusantara.
Mie sendiri sudah tidak dapat dipisahkan dari konsumsi masyarakat Indonesia. Sehingga, makanan berbahan pokok mie hampir dapat ditemui di mana saja. Bahkan, produksi mie sudah menjadi industri yang masif diekspor ke luar negeri. Sebut  saja mi instan dalam kemasan yang sudah mendunia.
Sebagai salah satu pelopor makanan unik dan lezat di Kota Kupang, Waroenk Resto and Cafe juga tidak ketinggalan menyajikan menu berbahan mie. Menu mie di Waroenk yang resmi dibuka pada 8 Juli 2017 lalu ini, bahkan menempati rating-rating teratas dalam penjualan dan permintaan pelanggan.
“Menu mie di Waroenk disajikan secara istimewa. Istimewa, karena memang sajian menu mie kami rasanya berbeda dibandingkan mie-mie lainnya,” jelas owner Waroenk, Steven Marloanto saat ditemui di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Senin (18/9/2017).
Beda yang dimaksud pria kelahiran Makassar ini lantaran bahan dasar untuk mienya merupakan buatan sendiri, bukan membeli dari pabrikan seperti kebanyakan resto maupun kafe lainnya.
“Semua bahan mie untuk menu mie kami dibuat sendiri dari chef Waroenk. Tentu, hasilnya berbeda jika membeli dari pabrikan. Sebab, kami dapat menjaga standar dan higienisnya. Selain itu, tentu lebih bergizi karena menggunakan bahan pendukung yang berkualitas,” imbuh Steven.
Terkait kelezatan menu mie pihaknya yang diklaim berbeda ketimbang menu mie lainnya, ia mengatakan tidak lain lantaran penggunaan beberapa bumbu signature yang khas.
“Salah satunya adalah minyak wijen. Seperti yang kita ketahui, wijen adalah bumbu khas Indonesia yang berfungsi sebagai penyedap alami,” beber Steven.
Adapun menu mie pihaknya di antaranya Cwie Mie Ayam yang dibanderol Rp 22 ribu, Cwie Mie Ayam Bakso Rp 22 ribu, Cwie Mie Ayam Jamur Rp 22 ribu, dan Cwie Mie Ayam Waroenk Rp 25 ribu,” urai Steven.
Sekadar diketahui, mie adalah adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Istilah ini juga merujuk terhadap mie kering yang harus dimasak kembali dengan dicelupkan dalam air.
Orang Italia, Tionghoa, dan Arab telah mengklaim bangsa mereka sebagai pencipta mie, meskipun tulisan tertua mengenai mie berasal dari Dinasti Han Timur di Tiongkok, antara tahun 25 dan 220 Masehi. Pada Oktober 2005, artefak mie tertua yang diperkirakan berusia 4.000 tahun ditemukan di Qinghai, Tiongkok.
Orang Eropa menyebut mie sebagai “pasta” yang berasal dari bahasa Italia. Sementara, secara generik mereka menyebut pasta yang berbentuk memanjang dengan kata “noodle” yang berasal dari bahasa Inggris.
Kendati demikian, di Eropa bahan baku mie biasanya dari jenis-jenis gandum, sementara di Asia bahan baku mie lebih bervariasi.
Di Asia sendiri, pasta yang dibuat selalu berbentuk memanjang. Berbagai bentuk mie dapat ditemukan di berbagai tempat. Perbedaan tekstur dan corak mie terjadi karena campuran bahan, asal usul tepung sebagai bahan baku, serta teknik pengolahan.
Beberapa koki atau chef di Tiongkok dapat membuat mie hanya dengan kemampuan tangan tanpa bantuan mesin pembuat mie yang lazim digunakan di pabrik-pabrik mie.

16 September 2017

Rasakan sensasi pedas Ayam Gepuk ala Waroenk Resto and Cafe

Menu pedas Ayam Gepuk Level 1-5 yang diluncurkan Waroenk Resto and Cafe dibanderol dengah harga terjangkau Rp 25 ribu./Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Mayoritas penduduk di negara-negara Asia menyukai makanan pedas. Ini beralasan lantaran di kebanyakan negara Asia, khususnya Asia Tenggara, tanaman rempah-rempah seperti cabai tumbuh subur dan mudah diperoleh.
Sebagai negara tropis, Indonesia pun termasuk penghasil cabai besar dunia. Tumbuhan bertekstur pedas dan beraroma khas ini sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia.
Beberapa menu Nusantara tidak dapat dipisahkan dari tumbuhan yang lazim berwarna merah atau hijau ini. Dengan bermodalkan “sensasi” pedasnya, cabai dapat menjadi menu-menu kreatif olahan berbagai koki pada menu utama.
Salah satu resto dan kafe representatif di Kota Kupang, Waroenk, juga tidak ketinggalan mengeluarkan menu-menu yang mengandung cabai sebagai pelecut kelezatan suatu makanan.
“Kami sadar jika cabai sudah tidak dapat dipisahkan dari menu, apapun varian makanannya. Makanya, hampir semua menu yang kami luncurkan mengandung cabai sebagai pelengkap cita rasa. Belum lama ini, kami juga mengeluarkan menu baru, Ayam Gepuk dengan tingkat kepedasan dalam bentuk level,” jelas owner Waroenk Resto and Cafe, Steven Marloanto saat ditemui di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Sabtu (16/9/2017).
Level yang dimaksudnya mulai dari tingkat satu hingga lima. Artinya, semakin tinggi levelnya, maka pedasnya juga semakin “menggigit”.
“Kami mengeluarkan level pedas dari satu hingga lima, dimaksudkan untuk mengakomodir penikmat kuliner pedas sesuai kemampuan makan cabai mereka. Beberapa pelanggan memang menyukai pedas super, beberapa lagi menyukai pedas yang low,” imbuh Steven.
Secara umum, pihaknya juga terus meluncurkan menu-menu baru. Tidak hanya baru, tetapi juga memiliki cita rasa berbeda dibandingkan menu-menu sebelumnya.
Beberapa makanan, bahkan dapat dikatakan pionir atau pertama di Kupang. Sebut saja Nasi Goreng Kebuli yang mungkin hanya dapat ditemui di Waroenk,” bebernya.
Terkait menu baru yang baru diluncurkan pihaknya, Steven menjelaskan ada tujuh makanan baru dengan sensasi kelezatan baru.
“Di Awal September 2017 ini, kami meluncurkan tujuh menu di antaranya Ayam Gepuk Level 1-5 Rp 25 ribu, Ayam Goreng Lado Ijo Rp 42.500, Ayam Goreng Telur Asin Rp 47.500, Iga Asap Pedas Level 1-5 Rp 47.500, Iga Lada Hitam Rp 47.500,  Ayam Gepuk Mozza Level 1-5, dan Kangkung Crispy Rp 10 ribu,” urainya.
Sekadar diketahui, cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae), merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi.
Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah atau bumbu dapur.
Cabai dapat ditanam dengan mudah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar atau swalayan.

12 September 2017

Menu Korea Beef Bulgogi Waroenk paling digemari pelanggan

Dalam bidang kuliner, Negeri Gingseng ini juga “menggigit”. Berbagai varian makanan Korea sudah menjandi menu internasinal yang digemari warga dunia. Sebut saja Bulgogi dan Kimchi.
britaloka.com, KUPANG - Siapa yang tidak mengenal Korea Selatan (Korsel). Salah satu daerah di Semenanjung Korea ini adalah negara yang sebelumnya dikenal sebagai penghasil telepon seluler ternama, Samsung. Tidak hanya itu, dalam bidang otomotif pun mereka menghasilkan produk mobil yang juga cukup ternama, Hyundai.
Tidak kalah dengan produk komersial dalam bidang teknologi, Korsel yang kerap disebut “Korea” saja juga tak kalah pamor dalam bidang fashion, juga entertainment seperti film dan musik. Film dan musik bahkan sudah menjadi industri di sana.
Dalam bidang kuliner, Negeri Gingseng ini juga “menggigit”. Berbagai varian makanan Korea sudah menjandi menu internasional yang digemari warga dunia. Sebut saja Bulgogi dan Kimchi.
Di Kota Kupang, salah satu resto dan kafe representatif, Waroenk juga sudah mengeluarkan menu Korea, Bulgogi.
“Selain Bulgogi, kami juga menyediakan menu Korea lainnya seperti Korean Chicken Pop dan Sticky Wings,” papar owner Waroenk saat ditemui di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Kupang, Nusa Tenggara Barat (NTT), Senin (12/9/2017).
Ditambahkan, pihaknya memang sudah menyediakan beberapa menu Korea tadi sejak peluncuran Waroenk  pada 8 Juli 2017 lalu.
“Dari serangkaian menu Korea, Bulgogi menjadi menu terfavorit pelanggan. Menu ini kami namakan Beef Bulgogi, dengan bahan daging sapi pilihan yang empuk dan gurih,” beber Steven.
Sementara, menu Korea lainnya seperti Korean Chicken Pop dan Sticky Wings juga tidak kalah digemari. Pasalnya, bahan-bahan yang digunakan juga pilihan sayap ayam yang renyah.
Hal itu diakui salah seorang pelanggan Waroenk asal Korea yang tengah berkunjung ke Kupang, Kim (55). Pria yang fasih berbahasa Indonesia ini mengatakan, Beef Bulgogi yang dinikmatinya tidak jauh berbeda dengan apa yang disantapnya di Waroenk.
Sekadar diketahui, Bulgogi adalah olahan daging asal Korea. Daging yang digunakan antara lain daging sirloin atau bagian daging sapi pilihan.
Sementara, bumbu bulgogi adalah campuran kecap asin dan gula ditambah rempah lain bergantung pada resep dan daerah di Korea. Sebelum dimakan, daun selada digunakan untuk membungkus bulgogi bersama kimchi, bawang putih, atau bumbu penyedap lain.
Di Jepang, makanan yang sejenis disebut Yakiniku. Dibandingkan Yakiniku, bumbu daging untuk bulgogi dibuat lebih manis. Air bumbu cukup banyak sehingga daging tidak dipanggang di atas plat besi (teppan), melainkan di atas panci datar.

09 September 2017

Ini keunikan Nasi Ayam Goreng Jomblo Waroenk

Nasi Ayam Goreng Jomblo menggunakan daging ayam kampung. Jadi, berbeda dibandingkan kebanyakan menu lain yang masih konservatif menggunakan ayam potong. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Pada Agustus 2017 lalu, salah satu tempat makan dan minum terfavorit di Kota Kupang, Waroenk Resto and Cafe meluncurkan menu baru, Nasi Ayam Goreng Jomblo.
Menu Nusantara ini diklaim lezat dan memiliki cita rasa berbeda dibandingkan menu-menu nasional yang sudah ada sebelumnya.
“Beda, karena apa yang kami hadirkan merupakan menu ‘baru’. Baru, dalam artian, semua bumbu dan racikan merupakan kreasi ala chef Waroenk. Jadi, sebenarnya ini menu klasik yang diolah secara kreatif chef kami,” beber owner Waroenk and Resto, Steven Marloanto saat ditemui di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, belum lama ini.
Lebih lanjut Steven menjelaskan, pihaknya memang rutin mengeluarkan menu-menu baru guna memuaskan selera lidah pelanggannya.
Terkait penamaan menu yang terbilang unik, seperti Nasi Ayam Goreng Jomblo, ia mengungkapkan hal tersebut memang merupakan ciri khas Waroenk yang identik kreatif, tidak terkecuali untuk menu.
“Salah satu jenis bahan makanan yang paling digemari di Indonesia adalah ayam. Oleh karena itu, bahan daging unggas ini kembali kami olah menjadi salah satu menu menarik dengan cita rasa lezat,” imbuh pria kelahiran Makassar ini.
Uniknya lagi, Nasi Ayam Goreng Jomblo menggunakan daging ayam kampung. Jadi, berbeda dibandingkan kebanyakan menu lain yang masih konservatif menggunakan ayam potong.
Steven menambahkan, manajemen Waroenk saat ini juga mengeluarkan paket hemat ulang tahun.
“Bagi yang merayakan ulang tahun di Waroenk, minimal transaksi makan/minum Rp 500 ribu akan mendapatkan tart cake ukuran 12 sentimeter, sementara untuk transaksi Rp 1 juta akan mendapatkan tart cake ukuran 18 sentimeter,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga menerima pesanan nasi kotak untuk acara arisan, seminar, dan acara lainnya.

05 September 2017

Luncurkan Tujuh Menu Baru, Waroenk Resto and Cafe Kupang Diserbu Penikmat Kuliner

Keunikan menu Ayam Gepuk lantaran memiliki tingkat kepedasan hingga level lima. Begitu pula untuk Ayam Gepuk Mozza yang merupakan sajian nasi dengan fillet ayam renyah dan sambal yang disiram keju mozzarella. / Effendy Wongso
britaloka.com, KUPANG - Inovasi dan kreativitas, apapun bentuknya dan dalam kompartemen apapun, selalu membuahkan hasil yang tidak terkira.
Hal tersebut tidak terkecuali dalam bisnis kuliner. Sebut saja yang dilakukan manajemen Waroenk Resto and Cafe yang dinakhodai Steven Marloanto.
Saat ditemui di Waroenk, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Senin (4/9/2017), ia menyebutkan inovasi dan kreativitas pihaknya tidak lain adalah komitmen meluncurkan menu-menu baru.
“Secara berkala, kami terus meluncurkan menu-menu baru. Tidak hanya baru, tetapi juga memiliki cita rasa berbeda dibandingkan menu-menu sebelumnya. Beberapa makanan, bahkan dapat dikatakan pionir atau pertama di Kupang. Sebut saja Nasi Goreng Kebuli yang mungkin hanya dapat ditemui di Waroenk,” bebernya.
Terkait menu baru yang baru diluncurkan pihaknya, Steven menjelaskan ada tujuh makanan baru dengan sensai kelezatan baru.
“Di Awal September 2017 ini, kami meluncurkan tujuh menu di antaranya Ayam Gepuk Level 1-5 Rp 25 ribu, Ayam Goreng Lado Ijo Rp 42.500, Ayam Goreng Telur Asin Rp 47.500, Iga Asap Pedas Level 1-5 Rp 47.500, Iga Lada Hitam Rp 47.500,  Ayam Gepuk Mozza Level 1-5, dan Kangkung Crispy Rp 10 ribu,” urainya.
Steven menambahkan, keunikan menu pihaknya seperti Ayam Gepuk misalnya lantaran memiliki tingkat kepedasan hingga level lima. Begitu pula untuk Ayam Gepuk Mozza yang merupakan sajian nasi dengan fillet ayam renyah dan sambal yang disiram keju mozzarella.
Adapun Kangkung Crispy adalah sajian kangkung renyah ditaburi mayonaise, saus tomat, dan sambal, sehingga menu ini menjadi alternatif santap siang atau malam penikmat kuliner yang berkunjung ke Waroenk.

01 September 2017

Ini rahasia kelezatan Sup Iga Tujuh Rempah Waroenk Resto and Cafe Kupang

Di Waroenk Resto and Cafe terdapat berbagai menu yang menggunakan rempah-rempah khas sehingga menu-menunya sangat disukai masyarakat, khususnya warga Kota Kupang./Istimewa
britaloka.com, KUPANG - Tidak dapat diragukan lagi kelezatan menu Nusantara di Indonesia, bahkan diakui banyak penikmat kuliner mancanegara. Apa penyebab masakan Tanah Air begitu digemari, tentu tidak terlepas dari pendukung makanan seperti penyedap yang berasal dari rempah-rempah.
Terkait rempah-rempah, di Waroenk Resto and Cafe terdapat berbagai menu yang menggunakan rempah-rempah khas sehingga menu-menunya sangat disukai masyarakat, khususnya warga Kota Kupang.
“Kami memiliki banyak menu yang menggunakan rempah-rempah, tetapi yang paling menonjol adalah Sup Iga Tujuh Rempah,” papar owner Waroenk Resto and Cafe, Steven Marloanto, saat ditemui di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kamis (31/8/2017).
Menurutnya, Sup Iga Tujuh Rempah merupakan salah satu menu favorit pihaknya.
“Menu berkuah sedap ini merupakan paduan dari tujuh rempah beraroma khas, di antaranya kayu manis, pala, cengkeh, dan lain-lain,” imbuh Steven.
Ia menambahkan, rating menu ini di Waroenk cukup bagus dan menempati posisi teratas dalam daftar pesanan pelanggan setelah Nasi Iga Goreng Sambal Bawang dan Nasi Goreng Kebuli.
Steven mengatakan, penikmat kuliner tidak perlu khawatir soal harga. Pasalnya, Sup Iga Tujuh Rempah dibanderol terjangkau Rp 45 ribu per porsi, dengan komposisi daging iga sapi yang cukup banyak.
Sekadar diketahui, rempah-rempah adalah bagian tumbuhan yang beraroma atau berasa kuat, lazimnya digunakan dalam jumlah kecil pada makanan sebagai pengawet atau perasa suatu jenis masakan.
Rempah-rempah biasanya dibedakan dengan tanaman lain yang digunakan untuk tujuan mirip, seperti tanaman obat, sayuran beraroma, dan buah kering.
Rempah-rempah merupakan barang dagangan paling berharga pada zaman prakolonial. Berbagai varian rempah-rempah dulunya digunakan dalam pengobatan, namun sekarang sudah berkurang, lebih banyak dimanfaatkan hanya untuk makanan.
Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku. Rempah-rempah ini pula yang menyebabkan Belanda kemudian menyusul ke Maluku.
Sementara itu, bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magellan telah lebih dulu mencari jalan ke Timur melalui jalan lain, yakni melewati samudera Pasifik dan akhirnya mendarat di pulau Luzon Filipina.