28 March 2017

Gisting, Kota Eropa di Indonesia

Wisata sudah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. Apresiasinya, Indonesia kaya akan objek wisata. Salah satunya terletak di Gisting, Tanggamus, Lampung. Destinasi ini sudah dikenal wistawan domestik maupun mancanegara./Ist
britaloka.com - Wisata sudah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. Apresiasinya, Indonesia kaya akan objek wisata. Salah satunya terletak di Gisting, Tanggamus, Lampung. Destinasi ini sudah dikenal wistawan domestik maupun mancanegara.
Gisting adalah kota kecil yang terletak 47 kilometer dari barat Kota Pringsewu dan masuk wilayah administrasi Tanggamus. Wilayah ini berpenduduk terpadat di Tanggamus. Luas wilayah Gisting 32,53 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 38.862 jiwa.
Gisting memiliki sembilan kelurahan, meliputi Gisting Atas, Gisting Bawah, Purwodadi, Kuta Dalom, Banjarmanis, Campang, Sidokaton, Landbaw, serta Gisting Permai dengan jumlah penduduk terpadat berada di Gisting Atas. Gisting berada di ketinggian berkisar 700 Mdpl, dengan suhu harian berkisar 18-28 derajat celsius.
Gisting adalah sentra utama sayur-sayuran, baik didistribusikan dalam kabupaten, antarkabupaten, juga di pasok ke Pasar Induk Kramatjati Jakarta. Hasil produksi sayuran meliputi, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, kentang, kubis, sawi, petsai, wortel, bawang daun, caisim, kol, jagung, ubi jalar, dan masih banyak lainnya. Pasar sayuran Gisting merupakan pasar sayur terbesar di wilayah provinsi. Komoditas sayuran tersebut merupakan komoditas andalan dan menjadi salah satu ikon kota tersebut.
Masyarakat Gisting didominasi suku Jawa, Lampung, serta Padang. Gisting pertama kali dibuka pada 1932 oleh sekelompok sipil Belanda yang tergabung dalan “Indo Eerropeesche Vereniging” atau “Perkumpulan Orang-orang Indonesia/Keturunan Eropa”. Mereka mendapat izin/konsesi tanah dari pemerintahan Hindia Belanda dan mungkin juga kredit bank untuk membuka perkebunan kopi di Gisting ini.
Nama Gisting konon diambil dari nama sebuah kota kecil/desa di perbatasan Belanda dan Jerman. Sebagian nama tuan pemilik kebun masih melekat sebagai nama tempat di Gisting saat ini seperti blok Grim, Dusun Bruikmeyer, dan Desa Landsbouw (kantor konsultan perkebunan), Khloer, Pak De Youngg, dan lain-lain.
Penduduk pertama Gisting masa itu adalah orang Belanda para tuan perkebunan beserta keluarganya dan pekerja mereka yang sebagian terbesar berasal dari pulau Jawa. Pada 1942, pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut menyerah tanpa syarat kepada balatentara Jepang di bawah pimpinan Jenderal Imamura. Semua tuan kebun kopi yang ada di Gisting ditanggkap dan ditawan, serta tidak pernah kembali ke Gisting sesudah Jepang menyerah kepada sekutu, kecuali satu keluarga keturunan Jerman yang tidak ditangkap Jepang karena Jerman merupakan sekutu Jepang.
Jepang menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945 dan berdirilah negara Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 1945. Menteri Sosial RI yang pertama membentuk badan bernama Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang tugasnya mengurusi orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang dan Romusha, yaitu orang Indonesia terutama orang Jawa yang kena wajib kerja paksa, tanpa upah, tanpa jaminan makan dan kesehatan semestinya.
Alam yang hijau segar, pemandangan Gunung Tanggamus di waktu pagi yang menawan. Hotel-hotel “Gisting Hotel, VIP Hotel, Hotel 21, Hotel Hosana” yang cukup representatif dengan kolam renang standar bagi perenang. Lapangan futsal di mana-mana. Tempat santap sederhana yang nyaman di sepanjang jalan yang siap melayani wisatawan dari jam 07.00-24.00 Wita.
Setiap malam Minggu akhir bulan, wisatawan bisa menyanyi dan menikmati lagu-lagu keroncong bersama Komunitas Keroncong Gisting. Bagi yang ingin menyaksikan Reog Ponorogo dan Kuda Kepang, bisa memesan pertunjukan ini sebelumnya.
Sementara, bagi yang hobi memancing, tersedia kolam-kolam pemancingan di sekitar hotel. Bagi anak-anak, tersedia tempat rekreasi dan hiburan air, kolam bola, perahu karet, cycling boat, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, sekitar 300 meter dari hotel di Gisting, terndapat danau buatan Water Van De Berg Dam yang dibuat kolonial Belanda. Di sini, ada kolam renang “Butterfly” yang akan memanjakan pengunjung dengan sejuknya air langsung dari pegunungan.