26 March 2017

Bikin Baper, Ini Kisah Hidup si Kick Andy


Sebuah buku biografi Andi F Noya berjudul “Kisah Hidupku” yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas 2015 adalah buku yang menceritakan kisah hidup pemandu program talk show di Metro TV, Kick Andy./Ist
britaloka.com - Sebuah buku biografi Andi F Noya berjudul “Kisah Hidupku” yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas 2015 adalah buku yang menceritakan kisah hidup pemandu program talk show di Metro TV, Kick Andy.
Dalam bukunya, pria bernama lengkap Andy Flores Noya mengungkapan masa kecilnya hingga saat ini. Ada banyak cerita yang membuat siapa saja yang membacanya benar-benar larut dalam setiap alurnya kisah hidupnya dalam buku setebal 436 halaman tersebut.
Jika Anda pecinta program Kick Andy, sosok Andy sebagai host populer tentu tidak asing lagi. Ia menceritakan dengan jelas kisahnya dari kecil, bahkan saat ia dilahirkan. Kisah hidupnya sangat berliku, banyak pengalaman yang pahit dialaminya.
Dimulai dari masa kecilnya yang hidup di tengah kehidupan masyarakat Jawa. Sementara, Andy terlahir sebagai sosok yang berbeda, memiliki darah Belanda dan bertumbuh di saat masa-masa berat pada 1960-an. Perbedaan wajah, kulit, dan fisiknya sempat membuat ia menyesal terlahir sebagai keturunan Belanda.
Pasalnya, dengan lahir sebagai keturunan Belanda, pada masa itu menjadi siksaan tersendiri. Banyak yang menyakitinya, serta hidup di antara ketakutan yang luar biasa.
Di buku ini, ia juga menceritakan bagaimana kondisi keluarganya yang miskin. Andi terlahir dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, malah cenderung kekurangan.
“Saya tinggal di tempat parkir, sekamar bertiga, sampai-sampai tidak memiliki pakaian baru. Ayah meninggalkan kami dari kecil, sementara ibu hanya bekerja sebagai penjahit. Kehidupan saya benar-benar sengsara ketika saya tidak sengaja memecahkan kaca spion mobil orang. Lantaran kelakuan saya saat itu, ibu menanggung beban yang luar biasa beratnya. Dari sini, saya mulai membenci orang-orang kaya.
Tumbuh berpindah-pindah tempat (nomaden), serta tidak pernah mendapatkan perhatian khusus (kasih sayang) dari orang tua membuat Andi brutal. Ia menjadi arogan serta tidak memiliki cita-cita yang jelas, serta berkelakuan nakal. Terlebih ketika ia mulai dekat dengan tiga bersaudara yang kerjaannya hanya bikin masalah.
Kenakalan-kenakalan kecil seperti menyuri kebun pisang, mengutil makanan di Kebun Binatang Surabaya, sampai tindakan yang lebih parah lagi seperti menjurus ke kriminal pun dilakukan kala itu. Bahkan, ada yang meramal kalau nantinya dia akan menjadi seorang penjahat.
Beranjak remaja, Andi mengisahkan hidup keluarganya berpindah-pindah menuju Papua. Di sana, ia bertemu ayahnya. Sosok yang hampir ia lupakan wajahnya, Andi merasa saat itu bukan hanya sebagai seorang anak, namun juga menjadikan ayah sebagai sosok teman yang baik.
Di Jayapura, juga ada banyak kisah yang Andi alami. Mulai dari keberaniannya mengungkapkan cinta kepada gurunya, tenggelam di lautan, sampai pertengkaran dengan ayahnya. Di saat pertengkaran itu juga, ayahnya mengembuskan napas yang terakhir, tepat di pangkuannya.
Tidak lupa juga, buku juga mengungkapkan sejarah Andi meniti karier sebagai jurnalis. Banyak aral yang dihadapinya, namun berkat kegigihan dan usahanya, semua bisa ia gapai dan menjadi wartawan di media massa besar, hingga menjadi direktur di salah satu media ternama.
Di sini, Andy juga mencertikan bagaimana ia berjuang bersama Surya Paloh untuk menjadikan Media Indonesia menjadi lebih berkembang. Diceritakan juga mengenai terbentuknya Metro TV. Banyak cerita di sini yang berkaitan dengan saluran televisi Indonesia, serta tantangan-tantangan sebagai wartawan saat meliput ataupun menampilkan berita waktu itu.
“Banyak ancaman yang saya terima, bahkan salah satu media massa tempat saya bekerja pun dibredel pemerintah. Dilarang terbit dengan alasan menyalahi aturan,” bebernya.
Kisah-kisah perjuangan seorang wartawan banyak diceritakan di buku ini, mulai dari hal manis hingga getir hidup di masa pemerintahan Soeharto.
Beberapa kutipan yang ada dalam buku Andy, “Kisah Hidupku: Tidak perlu menunggu untuk bisa menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingmu. Lakukan kebaikan, sekecil apapun, sekarang juga”, demikian tulis Andy F Noya dalam halaman pembuka bukunya.
Perasaan lonely (kesepian) kerap ia rasakan ketika kecil. “Tidak ada orang tua sebagai tempat berlindung dan mengadu. Dalam kesendirian seperti itu, saya sering merindukan sosok ayah. Tetapi pada saat itu, ayah entah di mana. Saya hanya bisa menangis diam-diam,” demikian ditulis Andy pada halaman kelima.
Selanjutnya, Andy juga menulis dalam halaman 53 bukunya. “Dalam usiaku yang masih belia waktu itu, hidup telah mengajariku tentang betapa timpangnya tataran sosial ekonomi di masyarakat kita. Ada jurang dalam antara yang miskin dan kaya,” urainya di halaman 53.
Di halaman 171, ia menulis hidup ini terlalu indah untuk dibuat susah. Nikmati hari-harimu sebaik mungkin. Di halaman selanjutnya, 249 ia menulis kegelisahan-kegelisahannya. “Aku mulai gelisah. Di Matra, kemampuan menulisku memang singkat. Tetapi, sebagai wartawan ketajaman intuisiku mulai menumpul,” demikian tulisnya.
Adapun pada halaman 314, ia menulis: “Mereka tidak berani menabrak program sinetron yang bernilai ratusan juta rupiah”.
Andy juga mengungkapkan tidak setuju terhadap suatu peraturan, dengan menuliskan, “Seharusnya kamu berjuang untuk mengubah peraturan itu, bukan melanggar peraturan tersebut”. Ini ditulisnya pada halaman 371.
Masih banyak cerita mengenai Andi di buku ini. Kisahnya sewaktu remaja yang penuh kenakalan, juga kehidupannya selama tinggal beberapa tahun di Malang. Ada kisah mengenai Bu Ana, sosok guru yang sangat disayanginya.
Juga ada kisah Andy yang malu terhadap profesi ayahnya saat sekolah di STM. Ia juga membeberkan saat pernikahannya dengan wanita yang lebih tua darinya. Tentunya, cerita dalam buku mencakup saat ia mulai mengenal dunia jurnalistik, mengenal Surya Paloh, mengundurkan diri dari Metro TV, dan lainnya.
Buku ini “wajib” dimiliki bagi orang yang ingin mengenal bagaimana perjuangan seorang wartawan di masa rezim Soeharto. Buku tidak hanya terkait kehidupan seorang Andy F Noya, tetap juga menceritakan persaingan masif antara saluran televisi serta sosok-sosok wartawan senior yang memimpin surat kabar ternama saat ini.
Sebuah buku yang menginspirasi pembaca untuk tetap bekerja, taat peraturan, dan tidak kenal kompromi dengan kesalahan.