10 March 2016

Cinta Telah Berdebu

BLOGKATAHATIKU/IST
Cinta Telah Berdebu
Oleh Kurnia Effendi dan Ryana Mustamin

Ujungpandang, 1987

Untuk pertama kali aku menyusuri pantai dengan hati belah. Jajaran perahu nelayan kehilangan pesona. Panorama senja dan anak-anak pesisir pun menyingkir dari perhatian. Betapa pun mereka pernah kau himpun dalam rencana idealmu, meski kau tahu: alangkah susah mengubah nasib yang telah menjadi garis hidup mereka di perkampungan tepi laut ini.
Kira-kira di sini, lima tahun silam, mataku memandang punggungmu tanpa sengaja. Aku mengawasi tanganmu menari di depan kanvas, hanyut oleh ekspresi goresanmu. Sampai kau menoleh dan terkejut.
“Kau sungguh berbakat melukis,” ujarku tulus.
Alismu terangkat, tak percaya. “Aku... aku hanya belajar,” kudengar suaramu gugup. “Aku hanya memindahkan apa yang kulihat.”
“Tapi gambarmu hidup,” pujiku sungguh-sungguh.
“Dengan warna-warna mentah begini?”
“Tentu karena belum jadi. Nampaknya kau berlatih sendiri, ya?”
“Ya. Kusadari betul, dalam darahku tak mengalir bakat seni....”
“Kau berbakat!” sanggahku. “Kau paham tentang lukisan, sayang kalau tak dikembangkan. Ingin aku memperkenalkanmu kepada Kak Yudhis.”
“Kak Yudhis? Siapa dia?” Alismu nyaris bertaut.
“Dia pelatihku di Teater Merah Putih. Juga seorang pelukis yang memiliki sanggar. Kau bisa belajar melukis di sana.”
“Sanggar?” Matamu membulat seketika. “Tidak!” gelengmu tegas, membuatku tercengang.
“Melukis dalam sanggar akan menjadikanku mati rasa. Aku tak bisa menyaksikan matahari tenggelam, ombak yang pecah, dan burung-burung laut. Aku tak bisa bermain dengan anak-anak di sini, tidak bertemu belibis. Tidak! Jangan pisahkan aku dengan semua itu!”
Aku melihat biasan kaca di matamu. Dalam beberapa detik aku terpana. “Kau... kau begitu mencintai tempat ini rupanya,” kataku berhati-hati.
Kepalamu mengangguk.
“Mengapa?”
“Tempat ini menenteramkan.”
“Hanya tempat ini?” Tiba-tiba rasa ingin tahuku membuncah.
“Setidaknya bila dibandingkan dengan rumahku,” suaramu tak acuh.
“Agaknya kau tidak bahagia di rumah.” Aku sungguh tak pandai memelihara kesabaran.
Kau menoleh terkejut. Tapi pijar matamu kelam. Lantas kau buang pandangmu ke kaki langit yang jauh, dan bergumam tak jelas.
“Aku ingin mendengar ceritamu,” aku penasaran. “Kalau boleh.”
“Tentang mengapa tempat ini menenteramkan bagiku?” tanyamu.
Kuanggukkan kepala.
“Karena laut selalu membuatku tenang. Menerbangkan angan-angan.”
“Kau pasti suka melamun.”
“Ya,” sahutmu tak mengelak. “Kalau punya masalah, aku membaginya kepada ombak dan burung-burung, pada kanvas ini...” Ada kegetiran yang mengalir lewat pengakuanmu.
“Meskipun masalah itu akan menyongsongku kembali begitu tiba di rumah.”
“Kau....” Aku menatapmu lurus-lurus. “Kau menyimpan persoalan?”
“Banyak.”
“Aku terkejut sekaligus gembira. Tidak setiap orang bisa secepat itu mempercayai orang lain. Apalagi, belum saling menyebutkan nama. Tapi kau percaya kepadaku!”
“Apakah persoalan itu menyangkut keluargamu?” tanyaku lebih jauh.
Kau menoleh, tersenyum pahit, lantas menggeleng tak yakin. Kuhela napasku hati-hati.
Merasa sedang menghadapi sebuah 'puisi'.
“Kau lihat tembok rumah yang tinggi di sana?” Jarimu menunjuk ke dinding yang menjulang di belakang perkampungan nelayan.
Aku mengangguk penuh perhatian.
“Itu rumahku! Rumah yang megah!” Suaramu sinis. “Aku tidak suka tinggal di situ. Alangkah kontras pemandangan yang dihadirkannya. Beberapa langkah saja dari sana, kita menemukan gubuk-gubuk kumuh di sini.”
Aku mengangguk lagi, membenarkan.
“Pernahkah penghuni rumah-rumah megah itu tahu apa yang terjadi tiap hari di sepanjang pantai di belakang istana mereka ini?” tanyamu dengan suara emosional.
Aku hanya diam, termangu oleh satu sinis yang tak ketus.
“Papa atau Mama tidak ingin tahu. Mereka hanya mementingkan diri sendiri. Mereka cuma tahu kehidupan di tepi pantai lain. Di Akai, Barata, Makassar Golden Hotel, Safari Park, dan sekitarnya. Mereka menutup mata bahwa di belakang rumah mereka ada kampung nelayan yang miskin....”
Kuperhatikan matamu sungguh-sungguh. “Kau memusuhi orang tuamu?”
Kau tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Sesaat matamu melamun, sebelum akhirnya berkata dengan suara serak. “Aku tak bisa membayangkan daerah ini di masa depan.”
“Agaknya kau mengkhawatirkan sesuatu.” Aku menatapmu lunak.
“Tanah tempat mereka mendirikan perkampungan itu, dulunya adalah laut. Mereka bersusah payah-payah menimbunnya dengan mengeruk pasir laut. Tahukah kau, ketika mereka melakukan pekarjaan berat itu seluruh tenaga dikerahkan, termasuk anak-anak kecil. Tapi, hasilnya bukan tidak mungkin sia-sia. Tanah yang seharusnya milik mereka tidak dilindungi Undang-undang, akan direnggut oleh orang-orang di rumah megah itu. Dan bila kelak tergusur, kita hanya akan menyaksikan lagi drama kemanusiaan yang mengharu-biru.”
Saat itu, entah berapa banyak kalimat yang hendak kutuangkan tapi tertelan kembali. Aku hanya mampu memandang wajah ayumu dalam remang petang dengan perasaan ganjil. Aku ingin memperpanjang perbincanganku denganmu di waktu-waktu berikutnya.
Aku tahu kamu memandang kecewa menghadapi kenyataan. Mungkin kau 'sakit'. Kau memandang duniamu hanya hitam dan putih, tentu oleh suatu sebab yang tidak sederhana.
Di senja yang lain, kutemui kamu sedang melukis di tempat yang sama. Lukisanmu senada, dan membuatku bertanya-tanya. “Kau begitu menyukai langit senja,” usikku.
Tanpa merasa terganggu, kau menoleh kepadaku. Dalam kanvasmu kulihat ada sapuan nuansa hitam di bagian langit. Seolah-olah kau tidak jujur merekam objek.
“Lukisan senjamu....” Kembali aku tak berhasil mengendalikan kesabaran. “Alangkah kelam.”
Kau agak terperanjat, namun kemudian tersenyum. “Ini bukan lukisan senja. Ini lukisan kehidupan!”
Ada dua kalimat yang ingin kulontarkan. Pertama: kamu sudah mampu melukis di sanggar, jauh dari objek. Tapi aku memilih yang kedua: “Kamu memiliki masa lalu yang muram?”
“Aku....” Matamu sedikit panik. “Aku tidak berkata begitu!” Tertangkap nada penyesalan. “Aku hanya mengibaratkan kanvas sebagai sebuah kehidupan. Kenyataan yang mengikuti kemana aku melangkah.”
“Itu yang membawamu ke pantai ini, bukan?” Aku memojokkanmu.
“Kau....” Suara dan matamu basah. Kau berbalik begitu cepat dengan bahu yang terguncang.
“Tunggu!” Aku melompat menggapai lenganmu. “Maafkan kelancanganku.”
Bibirmu bergerak-gerak, namun tak sepatah kata pun terucap. Aku menyaksikannya dengan lara, turut merasa tersiksa. Sejenak kau menyapu wajahku dengan tatapan yang sulit kupahami. “Terima kasih. Kau telah sudi mendengar cerita tentang kampung nelayan ini.”
Kau membereskan kanvas dan cat-cat minyakmu. Memasukkannya ke dalam kotak, lantas pergi meninggalkanku. Aku tergugu, justru karena telah mendengar sedikit perihal dirimu.
Tersisa sesal di dada lantaran pada hari-hari kemudian tak lagi kudapatkan kamu melukis di pesisir ini. Terus terang aku menemukan inti teater dari pertemuan kita.
Bukan di sanggar Kak Yudhis. Rasanya aku kepergok sebuah puisi yang sukar, dan apresiasiku jadi buntu. Selanjutnya, aku bahkan kehilangan puisi kesayangan itu. Dirimu!
Menantimu di tempat ini, dalam musik laut tak henti-henti, hatiku bagai digasak badai. Nyeri sekali. Makin hari rasa kehilanganku bertambah. Harapanku menjumpai seorang gadis duduk menggambar langit senja, tak kunjung nyata. Barangkali kau sakit. Atau marah? Sementara, aku tak berani mencarimu ke deretan rumah megah itu.
Hari-hari menunggu itu akhirnya mencapai batas sabarku. Kenangan pertemuan denganmu mulai kulupakan. Hingga suatu hari, ketika kusampaikan surat ke rumah Tante Mei, tiga tahun sejak kukenal wajahmu.
“Kau...?” Bulat matamu bagai hendak terlompat. Tapi aku lupa kepadamu. Kudengar suaramu kecewa. “Kau tidak ingat kepadaku?”
Bagaimana aku bisa mengingatmu jika hanya dua kali bertemu, juga tidak pernah kutahu namamu? Tapi kau mengingatku dengan baik!
“Rasanya aku pernah melihatmu. Tapi di mana?” tanyaku jujur.
Kau tersenyum. Begitu anggun, dan mau mengerti. “Pernah melihat lukisan kehidupan?”
Ya, Tuhan! Tak sengaja aku terpekik oleh ingatan yang lengkap. Garis-garis wajah serta jemari yang dulu selalu kulihat menggenggam batang kuas, membangkitkan kenangan dengan utuh. Ah, dulu kamu lebih temperamental.
“Kenapa tidak melukis lagi?” tanyaku kecewa.
“Sebab aku merasa tidak berbakat. Tiga tahun yang lalu kita masih sama-sama kanak-kanak. Penilaianmu hanya untuk menghiburku.”
Aku hendak membantah, tapi matamu yang tajam menahanku.
“Aku punya bukti!” katamu seraya beranjak ke dalam.
Kau bawa setumpuk lukisan dari kamarmu dan kau pamerkan kepadaku. Senja Satu sampai Senja Delapan. Katamu, itu lukisan kehidupan!
“Aku tak bisa menggambar objek lain.”
“Kau tidak mencobanya.”
“Sudah.”
“Mana hasilnya?”
“Kalau berhasil, tentu aku tak menolak kau sebut berbakat.”
“Apa yang kau gambar?”
“Manusia.”
“O,” aku mengangguk. “Bocah-bocah nelayan maksudmu?”
Kamu menggeleng dan berpaling. “Kamu!”
“Aku?!” Seluruh isi dadaku rasanya ikut terhampar keluar.
Kau tersenyum, tenang luar biasa. Sementara aku kalang kabut tapi tak bisa mengatakan apa-apa. Tiga tahun tak melihatmu, membuatku kehilangan banyak. Kau jadi lebih dewasa dan pintar menyimpan gejolak. Tidak gegabah, tidak meledak-ledak. Kau semakin matang, terutama dalam mengungkapkan cinta. Siapa yang telah mengajarmu?
“Barangkali pengalaman, Raga.” Tante Mei, adik ibumu, mengatakan kepadaku ketika aku gagal mengorek cerita dari mulutmu. Kamu terlampau tegar untuk membagi masa lalumu kepada orang lain. Bahkan, tidak kepadaku: kekasihmu!
“Sasha adalah anak hempasan badai,” ujar Tante Mei. “Pada usia dua belas tahun, orang tuanya bercerai. Enam tahun setelah itu pacarnya meninggal karena kecelakaan.”
Dia pindah kemari ketika sudah benar-benar benci terhadap suasana rumahnya. Dia anak tunggal yang malang....”
Daun-daun kering luruh dari ranting di depan jendela. Aku mengawasinya diam-diam. Kalau saja tidak memiliki kekuatan hati, nasibmu mirip daun yang gugur. Melayang tak tentu arah.
“Sasha berusaha melupakan peristiwa pahit itu dengan menyibukkan diri di kampus. Menjenguk kampung nelayan, bermain dengan anak-anak gelandangan. Mengunjungi panti wredha atau melukis di kamarnya. Tapi Raga, tak semua orang pintar menghapua jejak traumatiknya, bukan?”
Pendapat sahabat ibuku itu benar. Kewajibanku, tentu saja, menyediakan sekeranjang pengertian. Dan merebutmu dari hari-hari bersama kawan-kawan kecilmu. Karena aku mencintaimu.
Aku ingin berbuat apa saja demi kau. Tapi cinta bukan hanya dirasakan, melainkan juga dimanifestasikan. Aku ingin kita bisa saling mengerti. Aku ingin kamu membutuhkanku, seperti aku membutuhkanmu. Tapi, bagaimana mungkin bila kau mampu mengatasi segalanya? Kau hindari bantuan orang lain hanya untuk mendapat pengakuan bahwa prahara tak membuatmu terbanting.
Berada di dekatmu, aku tak ubahnya anak kecil. Kau terlalu kukuh dan karib dengan kesendirian. Sehingga seorang Raga tak lebih dari boneka, hanya teman bercakap sewaktu kau lepas dari kepungan bocah-bocah pesisir. Dua tahun percintaan kita berlangsung dengan aneh.
Salahkah jika aku mengungsikan kecewaku kepada makhluk mungil yang tidak menganggapku patung? Di depan gadis manja yang mudah merengek, aku menjadi laki-laki sejati. Ternyata aku membutuhkan seekor burung yang lincah, genit, dan cengeng....
“Maaf, Sasha, semalam aku absen. Aku menemani Aline mencari perlengkapan busana untuk pementasan kami minggu depan.” Aku meneleponmu Minggu pagi. “Kamu marah?”
Tawamu yang lunak terdengar di seberang. “Raga, sebaiknya jangan ganggu konsentrasimu dengan berpikir macam-macam. Pementasanmu sudah dekat....”
Untuk kesekian kalinya aku tidak berakhir pekan di beranda rumahmu. Dan aku tetap gagal membuatmu marah, cemburu, atau merajuk. Hatimu terbuat dari pualam!
Kesabaran habis. Semula aku ragu akan kesungguhanmu ingin menata langkah yang sama bersamaku. Lambat laun aku merasa pasti: tak ada rongga hatimu yang patut kuhuni.
Apalagi tatkala tangan yang menyalamiku pertama kali seusai pagelaran: bukan tanganmu!
“Selamat, Raga! Gelar The Best Actor Festival Teater tahun ini ada di tanganmu!”
Aline menatapku dengan sepasang mata berbinar.
O, burung prenjak ini sangat memperhatikan aku. Dia laksana oase manakala sedang kulintasi gurun. Kuraih kepalanya, kucium keningnya di balik panggung. Dan aku mendengar suaramu.
“Raga.”
Aku dan Aline menoleh bersamaan dengan sejumlah kaget. Ternyata hanya persoalan waktu.
Kau mencari ke belakang layar tentu hendak memberiku selamat. Dengan ketenangan menakjubkan kau tersenyum, mengulurkan tangan. “Proficiat!”
Suaramu tidak menyiratkan kemarahan, sementara aku hampir gila mendengarnya. Kau memandang Aline dengan hangat. “Ini gadismu, Raga?”
“Aline,” Aline menyambut jabatan tanganmu.
“Aku Sasha, sahabat Raga.” Kamu tersenyum manis sekali. Aku merasa pita suaraku tiba-tiba tak berfungsi. “Raga sering cerita tentang kamu.” Kau sentuh pipi Aline seperti seorang kakak terhadap adiknya. “Jaga Raga baik-baik. Dia nakal, tapi hatinya baik.” Kau tertawa lembut. “Nah, aku pergi dulu.”
Bah! Sandiwara macam apa ini?
“Sasha!” Aku memekik memanggilmu tanpa peduli perasaan Aline. Aku melompat, mengejarmu dengan hati luluh-lantak. Sungguh mati, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Sasha. “Sasha!”
Di pintu gerbang pertunjukan, hanya dingin yang menyambutku. Kulihat sisa penonton yang menunggu kendaraan pulang, dan sebuah taksi yang tiba-tiba menjauh dari halaman parkir.
Kakiku sulit dibawa melangkah, meskipun tahu persis bayangmu ada di balik kaca sedan yang sedang pergi.
Pada akhirnya aku mengambil sikap yang amat buruk: meninggalkan dunia teater justru ketika kuraih gelar terhormat sebagai pemain terpuji. Aku berpisah dengan Kak Yudhis, yang tentu sangat kehilangan. Aku hanya merasa gagal memelihara sebuah hati. Hatimu, Sasha! Yang kini menjadi 'Sri Panggung' dalam dimensi yang tak mengenalku lagi.
Engkau memainkan teater yang sesungguhnya. Pelupuk matamu menyipit, kadang membara, atau bahkan menatap kosong tanpa makna. Mulutmu meracau, sesekali tertawa sedih. Ucapan-ucapanmu semakin jauh, dan tak lagi tergapai oleh akal sehatku. Tungkai kakiku gemetar.
Hatiku remuk dan membanjirkan darah. Aku ternyata bukan aktor yang baik. Perasaanku tak dapat dimanipulasi. Laki-laki akan tertawa dan menangis untuk satu kejadian saja. Sebab rasa yang dimiliki laki-laki: bugil bagai bayi. Maka aku menangis untukmu, Sasha. Betul-betul mengeluarkan airmata, yang berjatuhan membasahi catatan harianmu selama mencintaiku.
Kalau kelak aku mampu jatuh cinta lagi, barangkali tak sedalam ini perasaanku.
“Kepundan itu meletus, Raga.” Suara Tante Mei terdengar kering waktu itu. “Dia sudah tak sanggup lagi memendam lahar!”
Kupandangi wajah berduka itu dengan putus asa. Aku tidak membutuhkan kalimat penjelasan serupa itu. Aku justru memerlukan pernyataan dari orang-orang di sekeliling. Aku butuh keyakinan bahwa kamu, gadisku, bukanlah orang gila!
Astaga, aku mulai menggigil oleh angin laut yang basah. Matahari sudah lama menghilang. Suara ombak terus terdengar, seriuh lima tahun lalu. Tapi kini cinta telah berdebu dan segalanya kurasakan jauh berbeda.
Tak kumiliki apa-apa lagi di pantai ini, kecuali sebuah kenangan yang menambah jumlah bersalahku dari tahun ke tahun. Tanpa kau, Sasha, pengembaraan ini jadi semakin sunyi. Seperti debu yang sendiri.