01 March 2016

ARLI Tolak Pembatasan Ekspor Rumput Laut

Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), menolak wacana pembatasan ekspor rumput laut dalam bentuk raw material (rumput laut kering). britaloka.com/Ist
britaloka.com, MAKASSAR - Pengusaha rumput laut yang tergabung dalam Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI), menolak tegas wacana pembatasan ekspor rumput laut dalam bentuk raw material atau rumput laut kering.
Ketua ARLI, Safari Azis, mengungkapkan, serapan industri dalam negeri terhadap rumput laut dinilai masih sangat rendah, hanya mencapai 87.429 ton (kering), atau sekitar 10 persen dari serapan. Sementara, data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat produksi rumput laut Indonesia pada 2015 mencapai 10.335.000 ton (basah) atau jika dikonversi menjadi 1.033.500 ton (kering). Sehingga, rumput laut yang dihasilkan petani masih membutuhkan penyaluran pasar luar negeri.
Menurutnya, saat ini pengusaha rumput laut baru memanfaatkan sekitar 30 persen lahan budidaya, jadi sangat tidak beralasan membatasi ekspor. “Apalagi, menutup pasar ekspor. Artinya, wacana pembatasan atau pelarangan ekspor rumput laut sangat bertentangan terhadap kondisi faktual saat ini. Pelarangan tersebut dapat memiskinkan petani,” beber Azis belum lama ini, saat menggelar jumpa pers terkait pelarangan ekspor rumput laut di Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar.
Ditambahkan, produksi rumput laut dalam negeri meningkat setiap tahunnya. Persediaan juga masih banyak sementara serapan masih minim. “Kalau ini tidak diekspor, mau diapakan persediaan itu. Sementara, permintaan pasar luar negeri cukup bagus,” urainya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal ARLI, Mursalim, menjelaskan, perlindungan terhadap sektor hulu perlu diperhatikan dengan baik. Pembatasan ekspor rumput laut memiliki dampak sosial ekonomi yang cukup serius, terutama bagi kesejahteraan petani. Pasalnya, rumput laut merupakan salah satu alat jaring pengaman sosial bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
Selain itu, ARLI mendukung penuh upaya pemerintah dalam kegiatan hilirisasi rumput laut, serta pengembangan industri berdaya saing. Namun, di saat yang sama, pihaknya juga mendukung pemanfaatan peluang pasar luar negeri, dengan melakukan pemenuhan bahan baku yang berkualitas sesuai kebutuhan industri global.
“Kami berharap, pemerintah bisa mengambil langkah-langkah strategis agar pengembangan komoditas rumput laut bisa optimal, baik dari sisi industri pengolahan hingga ke perdagangannya,” imbau Mursalim.
Disebutkan, hal itu mendesak dilakukan agar pemerintah dapat berpihak kepada petani dan pemangku kepentingan lainnya dari hulu hingga hilir. Sehingga, pemerintah juga tidak lagi dibebani jutaan rakyat miskin di pesisir, termasuk di daerah perbatasan.
“Jika warga pesisir telah tersejahterahkan dari bisnis rumput laut, tentu ini sudah mewujudkan nawacita pemerintah dalam membangun daerah pinggiran,” imbuhnya.