21 February 2016

Serunya Mengelilingi Bangunan Tua di Semarang

KOTA LAMA - Kota Lama di Semarang adalah sebuah kawasan yang dipenuhi beberapa bangunan yang dulu pernah ramai dan menjadi pusat ekonomi. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah dan juga merupakan kota terbesar kelima Indonesia. Walaupun popularitasnya tidak seperti kota wisata lain, Semarang juga memiliki banyak tempat wisata menarik.
Meskipun belum sepopuler kota wisata lain Indonesia, seperti Bali, Yogyakarta, dan Bandung, tetapi tempat wisata di Semarang banyak dan beragam. Bukan hanya wisatawan lokal, pengunjungnya juga banyak yang berasal dari luar negeri.
Menyimpan sejuta pesona, itu yang membuat Marketing Communication Hotel Aston Hotel Makassar, Trihastuti Chaisari tertarik datang ke daerah yang dijuluki Kota Jamu ini.
Untuk ke Semarang, dari Makassar harus melalui jalur udara dan transit dulu di Surabaya. Waktu tempuh Makassar-Surabaya sekitar satu jam 45 menit. Kemudian, perjalanan dilanjutkan sekitar 30 menit dari Surabaya ke Semarang.
“Mengenai biaya, tergantung waktu dan pesawat yang digunakan. Saat low season bisa sampai di bawah Rp 1 juta, dan high season lebih Rp 1 juta,” beber Trihastuti.
Dijelaskan, sebagai negara yang pernah dijajah bangsa asing, ada banyak peninggalan sejarah yang tersisa di Indonesia. “Kepingan-kepingan peninggalan sejarah tersebut, salah satunya ada di Semarang, tepatnya di kawasan Kota Lama,” ulas wanita yang akrab disapa Utti ini.
Kota Lama Semarang adalah sebuah kawasan yang dipenuhi beberapa bangunan yang dulu pernah ramai dan menjadi pusat ekonomi. Bangunan-bangunan vintage tersebut, kini menjadi objek wisata yang cukup digemari masyarakat setempat dan sekitarnya. Beberapa tempat di Kota Lama juga menjadi spot kesukaan penggemar fotografi lantaran lokasinya memang sangat “eksotis”.
“Pada zaman penjajahan Belanda, Kota Lama merupakan pusat kegiatan ekomoni masyarakat Jawa Tengah. Tak heran kalau bangunan-bangunan tua yang kini masih berdiri memiliki gaya arsitektur ala Eropa tempo dulu. Masuk ke Kola Lama Semarang, sama sekali tidak dipungut biaya,” urai Trihastuti.
Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaanya masih bisa disaksikan hingga sekarang, meski pun tidak terawat. Hal inilah yang menyebabkan Kota Lama mendapat julukan sebagai Little Netherland. Lokasinya terpisah dengan lanskap, mirip kota di Eropa, serta kanal yang mengelilingi, menjadikan Kota Lama seperti miniatur Belanda di Semarang.
“Salah satu bangunan yang paling populer dan wajib dikunjungi saat mengunjungi Kota Lama Semarang adalah Gereja Blenduk. Bangunan ini sudah berusia lebih dari dua setengah abad. Gereja yang memiliki nama asli Nederlandsch Indische Kerk ini masih digunakan sebagai tempat ibadah, hingga kini menjadi Landmark Kota Semarang,” urai Trihastuti.
Sementara, bangunan tua lain yang dikunjunginya adalah Lawang Sewu. Gedung ini, dulu merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), dibangun 1904 dan selesai 1907, berlokasi di bundaran Tugu Muda.
“Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu, karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya jumlahnya tidak mencapai seribu,” imbuhnya.
Menurut Trihastuti, bangunan ini menjadi saksi bisu kelamnya masa penjajahan masyarakat Indonesia. Lawang Sewu menjadi tempat yang penuh misteri, karena kabarnya dulu ribuan pejuang Indonesia yang disiksa di lokasi itu.
“Menurut informasi dari warga sekitar, ribuan makhluk gaib bermukim di gedung tersebut. Lokasi yang menyimpan cerita horo rmulai dari bagian sumur tua, pintu utama, lorong-lorong, lokasi penjara berdiri, penjara jongkok, ruang utama, serta di bagian ruang penyiksaan,” cetusnya.
Bukan rahasia lagi jika cerita misteri hantu seperti kuntilanak, genderuwo, hantu berwujud para tentara Belanda, serdadu Jepang, dan hantu wanita Belanda sangat kental terdengar di sejumlah lokasi 1.000 pintu tersebut. Namun, yang paling horor itu di lokasi pembantaian.
“Penjara bawah tanah dan ruang penyiksaan masih kerap menjadi misteri pengunjung. Ada sebuah penjara berdiri yang terletak di bawah tanah. Konon, di penjara bawah tanah itu adalah tempat para tahanan yang dimasukkan dan berdesak-desakan hingga meninggal dunia,” tambah Trihastuti.  

Pemandangan Alam Bandungan

Bukan hanya bangunan tua, Semarang juga memiliki destinasi wisata alam yang tidak kalah indahnya, namanya Bandungan. Tempat ini memang berada jauh dari perkotaan, sehingga tepat bagi mereka yang ingin menikmati suasana lebih tenang dan jauh dari kebisingan kota. Bandungan sendiri terletak di sebelah selatan Ibu Kota Semarang.
Menurut Trihastuti, ia butuh waktu satu perjalanan dari Semarang untuk menjangkau Bandungan. “Lokasinya sangat asri dan sejuk, karena berada di lereng Gunung Unggaran. Kata Bandungan sendiri berasal dari sebuah legenda rakyat yang dikisahkan ada seorang pasutri yang belum mempunyai keturunan. Ia memperoleh wangsit untuk mencari sebuah sumur di kaki Gunung Unggaran. Airnya mengalir seperti sebuah sungai, agar bisa mendapatkan anak banyak,” tuturnya.
Setelah melaksanakan wangsit tersebut, sebut wanita modis ini, ternyata berhasil mempunyai anak banyak dan kembali mendapatkan wangsit untuk menutup sumur tersebut agar tidak menimbulkan malapetaka bagi kampung di bawahnya.
“Dulunya, Bandungan hanyalah tempat jual beli sayur dan buah-buahan. Banyak wisatawan yang membeli sayur dan buah-buahan dengan harga sangat murah untuk oleh-oleh,” ujar Trihastuti.
Adapun tempat favoritnya saat ke Bandungan adalah “Spa at Sky”. Sesuai namanya, ia bisa merasakan sensasi spa dari ketinggian dengan pemandangan alam yang sangat indah. “Harganya mulai Rp 300 ribu-Rp 1,2 juta. Di sini ada kolam renang juga dengan suasana pemandangan alam. 

Menyantap Bakmi Jawa

Apabila seseorang mengunjungi suatu tempat, maka yang paling dicari adalah kuliner khasnya. Begitu juga Trihastuti yang mengaku, setiap ke Semarang selalu “kangen” makan Bakmi Jowo, mie kuah tetapi pakai santan gurih dan pedas.    
“Bakmi Jowo banyak dijajakan di warung tenda kaki lima, juga ditawarkan pedagang keliling. Dari ratusan pedagang Bakmi Jowo yang tersebar di kawasan kota, juga dijual di warung pinggiran,” terangnya.
Penjaja Bakmi Jowo tersebut, di antaranya Bakmi Jawa Pak Waris depan Makam Bergota, Bakmi Ayu Jalan Lamper, Bakmi Jowo (tanpa nama) depan Indomaret Jalan Sambiroto, Bakmi Jowo Pak Hasto Jalan Tentara Pelajar, Bakmi Jowo Pak Ateng, dan Bakmi Jowo Pak Rebi Jalan Menteri Supeno.
“Cukup menyodorkan Rp 20 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati sepiring Bakmi Jowo, teh panas, kerupuk, dan sate ayam bakar,” tutup Trihastuti.