08 February 2016

Pesona Pantai Pinang Kepulauan Selayar

TAKABONERATE - Objek wisata yang paling terkenal di daerah berjuluk Bumi Tanadoang, Kepulauan Selayar adalah Taman Nasional Takabonerate. Taman Nasional Takabonerate yang menjadi salah satu cagar biosfer dunia, merupakan Taman Laut yang memiliki karang atol terbesar ketiga di dunia. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - SelainTakabonerate yang sudah sangat terkenal, ternyata juga ada wisata alam yang tidak kalah indahnya. Destinasi wisata tersebut bernama Pantai Pinang.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, yakni sepanjang 99.093 kilometer. Negara ini memiliki sekitar 17 ribu pulau, baik yang berpenghuni maupun yang belum ditinggali manusia. Kekayaan alam yang membuat Indonesia memiliki potensi bahari dan pariwisata yang menjanjikan.
Tak ada yang menyangkal jika Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang bahkan telah menjadi ikon pariwisata dunia, seperti Bali, Raja Ampat, dan Lombok. Di luar itu, sebenarnya masih banyak tujuan wisata yang belum terekspos,  namun memiliki pesona yang tidak kalah menarik, dibandingkan tempat-tempat yang telah banyak dikunjungi wisatawan.
Awal tahun ini, pemiliki Prisma Komunika Indonesia, Riyadi Achmad, berkesempatan berkunjung ke Kepulauan Selayar, yang merupakan satu-satunya kabupaten di Sulsel yang terletak di luar Pulau Sulawesi. Dari Makassar ke Kepulauan Selayar, dapat ditempuh dengan penerbangan selama kurang lebih 30 menit atau sembilan jam jika memilih perjalanan darat dari Makassar. Kepulauan Selayar adalah gugusan pulau dengan jumlah 130 pulau.
Objek wisata yang paling terkenal di daerah berjuluk Bumi Tanadoang (pulau menyerupai udang) adalah Taman Nasional Takabonerate. Taman Nasional Takabonerate yang menjadi salah satu cagar biosfer dunia, merupakan Taman Laut yang memiliki karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Maldives.
Selain di Takabonerate, di Pulau Selayar terdapat pula beberapa potensi wisata bahari yang tidak kalah menariknya. Destinasi yang sempat dikunjungi pria yang akrab disapa Adi ini adalah Pantai Pinang. Pantai tersebut memiliki karakter dan daya tarik yang sama, pasir putih, air laut yang jernih, dan panorama alam bawah laut yang mempesona.
Pantai Pinang letaknya di pesisir timur Pulau Selayar. Untuk sampai ke pantai berpasir putih itu membutuhkan waktu yang relatif lebih lama. Dari Kota Benteng, wisatawan akan melakukan perjalanan darat sekitar satu jam ke Pelabuhan Pattumbukang, dan melanjutkan perjalanan dengan perahu kecil sekitar 40 menit.
Dalam perjalanan di atas perahu, pelancong bisa menikmati panorama laut, memandangi daratan kepulauan Selayar, sembari menikmati gemericik air laut di dinding perahu. Di Pantai Pinang, telah tersedia juga fasilitas penginapan dan penyewaan alat diving yang dikelola warga asing.
Oleh warga negara asing yang mengelola tempat tersebut, Pantai Pinang disebut Selayar Eco Resort. Selayar Eco Resort adalah tempat ideal untuk traveler yang suka berlibur ke tempat yang sedikit privat.
Selayar Eco Resort menawarkan enam bungalo, di mana untuk setiap bungalo bisa ditempati maksimal dua orang. Sangat cocok untuk mereka yang ingin berbulan madu. Di Pantai Pinang terdapat pula sebuah restoran dengan menu seafood, yang bisa dipesan pada pengelola. Terdapat pula menu internasional dari berbagai negara.
Semua bungalo dilengkapi teras besar dan kamar mandi yang bersih, mengikuti standar internasonal. Di tempat itu, seluruh fasilitas kamar dan fasilitas pendukung lainnya menggunakan pembangkit listrik.

Jangkar Raksasa di Kampung Padang

Selain menawarkan wisata alam, Pulau Selayar juga menawarkan wisata budaya. Di Pulau Selayar terdapat beberapa benda bersejarah yang unik. Misalnya, jangkar raksasa yang terdapat di Pantai Padang.
Jarak dari Kota Benteng menuju ke sana sekitar tujuh kilometer. Benteng Jangkar ini diyakini terbesar dan terpanjang di masanya. Jangkar yang dilengkapi dengan meriam itu diperkirakan merupakan peninggalan pedagang Tiongkok pada abad ke-17 atau ke-18.
Konon katanya, Jangkar Raksasa ini milik seorang saudagar Tiongkok bernama Cowa Liong Hui yang mengadakan pelayaran menggunakan kapal besar dan singgah di Padang pada akhir abad XVII. Sampai suatu saat kapal dagang milik Cowa Liong Hui ini rusak hingga tidak dapat lagi digunakan untuk berlayar, kemudian jangkar kapal diamankan penduduk setempat yang di kemudian hari menjadi bukti sejarah.

Gong Nekara asal Tiongkok

Sebuah gong Nekara diyakini merupakan gong terbesar dan tertua di dunia, peninggalan Tiongkok, ada di Kepulauan Selayar, tepatnya di Matalalang, sekitar dua kilometer dari Kota Benteng. Menurut masyarakat setempat, kehadiran peninggalan kebudayaan zaman perunggu berawal dari seorang warga Tiongkok yang sedang berlayar di sekitar perairan Kepulauan Selayar. Entah mengapa kapal yang berasaldari Dong Son itu lalu terdampar.
Gong ini kabarnya memiliki tiga fungsi pada masa Kerajaan Putabangun, yakni fungsi keagamaan, sosial budaya, dan politik. Ditemukan pertama kali seorang penggarap kebun bernama Pao pada 1969.
Barang itu ditemukan di dalam tanah dengan kedalaman dua hingga tiga meter di Papam Laheo, Lingkungan Bontosaile. Ketika itu, Pao hendak menanam kelapa. Namun, setelah galiannya mencapai dua meter, linggis yang digunakan Pao mengenai sebagian badan gong hingga berbunyi.
Para ahlisejarah menafsirkan, gong Nekara itu merupakan peninggalan zaman perunggu. Kesimpulan itu diambil setelah para sejarawan melakukan penelitian dan menemukan gong tersebut terbuat dari perunggu yang bentuknya menyerupai dandang terbalik, dengan luas lingkaran permukaan sebesar 396 sentimeter persegi, luas lingkaran pinggang 340 sentimeter persegi, dan tinggi 95 sentimeter persegi.
Keunikan yang dimiliki gong yang dikenal sakral itu adalah adanya motif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah, dan ikan 18 ekor.
Sementara itu, di permukaan gong bagian atas terdapat empat arca berbentuk kodok dengan panjang 20 sentimeter, dan di samping terdapat empat daun telinga yang berfungsi sebagi pegangan.