21 February 2016

Panen, Harga Salak di Karangasem Bali Jeblok

HARGA JEBLOK - Harga salak Karangasem, belakangan ini jeblok lagi. Di pasar tradisional harga salak Karangasem terjual Rp 2 ribu-Rp 6 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan ukurannya. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Harga salak Karangasem, belakangan ini jeblok lagi. Di pasar tradisional harga salak Karangasem terjual Rp 2 ribu-Rp 6 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan ukurannya.
Sementara, di tingkat petani seperti di Desa Macang, Desa Sibetan dan desa penghasil salak lainnya, ada petani yang laku menjual hanya Rp 1.000. “Salak saat ini murah, di desa kami pada petani dapat beli salak Rp 1.000 bahkan bisa kurang,” ujar Ni Wayan Rira, seorang pedagang salak dari Macang, saat ditemui di Pasar Karangsokong Subagan.
Rira mengatakan, ia menjual salak satu kampil beras, hanya laku Rp 15 ribu. Sebelumnya, dari pantauan di Karangasem, saat musim panen salak, Januari hingga April, harga salak lokal kerap jeblok. Penyebabnya, selain produksi naik, salak segar itu juga kerap cepat busuk kalau tidak ditangani dengan baik. Salak Karangasem, selain dipasarkan ke pasar-pasar tradisional, juga ada yang dikirim pengepul atau saudagar ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kenyataan soal masih jebloknya harga salak petani saat musim panen, diakui anggota DPRD Karangasem asal Pengawan, Sibetan, Wayan Sudira. Pria yang juga Ketua Komisi IV itu, mengatakan, sampai saat ini masalah jebloknya harga salak saat musim panen raya belum tertangani Pemkab Karangasem.
Padahal, berbagai upaya telah dilakukan seperti membentuk kelompok usaha bersama (Kube). Dalam Kube, kelompok tani diminta membuat olahan pasca panen salak, seperti wine salak, keripik, dodol, atau salak dalam kaleng. Namun, sampai kini saat musim panen, juga belum mampu menstabilkan harga salak di pasaran. Untuk itu, ia berharap agar jelang hari raya harga salak Karangasem bisa naik, sehingga petani dapat memperoleh keuntungan.
Sudira mengimbau, nantinya ada kebijakan dari pemimpin Karangasem, khususnya pemerintah, untuk mengadakan kerja sama dengan pihak perhotelan dan restoran di Bali. “Apakah lewat Perda, hotel dan restoran bisa menyajikan salak atau mengutamakan menyajikan buah lokal, seperti salak kepada wisatawan. Dengan kebijakan ini, diharapkan pada musim panen buah dengan produksi meningkat, harga salak tetap stabil,” pesannya.
Menurutnya, jika berharap harga salak stabil pada musimnya dengan mengolah pasca panennya, tetapi ternyata harganya juga masih jeblok, maka hal itu tidak terlepas dari terbatasanya kemampuan Kube.
“Soalnya, biaya mengolah pasca panen salak itu juga cukup besar, sehingga  kelompok tani tidak mendapatkan keuntungan yang memadai dibandingkan kerja kerasnya,” tutup Sudira.