21 February 2016

Menanti Tren Bullish Era Transaksi Digital

T-CASH TAP - Telkomsel melalui produk andalannya, siap memasuki dunia baru cara pembayaran praktis tanpa uang tunai, termasuk T-Cash Tap yang sudah diluncurkan beberapa waktu lalu. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Sejak resmi dicanangkan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 2014 lalu, Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) menjadi viral dan mulai diikuti pelaku keuangan nasional. Meskipun belum menjadi instrumen permanen yang diaplikasikan seluruh masyarakat di Tanah Air, namun gerakan cukup efektif untuk menanamkan pentingnya transaksi non tunai sejak dini, khususnya kepada pelajar dan mahasiswa.
BI melansir, secara prinsipil ada tiga keuntungan gerakan yang mengarah pada less cash society (LCS) tersebut. Pertama, transaksi non tunai lebih efisien karena setiap orang tidak perlu repot membawa uang tunai ke mana-mana untuk melakukan transaksi bisnis. Kedua, transaksi non tunai relatif tidak berbiaya mahal. Ketiga, transaksi non tunai lebih mudah dilacak apabila terjadi tindak pidana.
Pencanangan ini ditandai penandatanganan nota kesepahaman antara BI dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah, serta Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) sebagai komitmen untuk mendukung GNNT.
Pencanangan juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis, dan juga lembaga-lembaga pemerintah untuk menggunakan sarana pembayaran non tunai dalam melakukan transaksi keuangan, yang tentunya mudah, aman, dan efisien.
Saat mensosialisasikan GNNT di Sulsel, Kepala Perwakilan BI Sulsel, M Dadi Aryadi, menjelaskan, untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai, diperlukan upaya yang berkesinambungan dari semua pihak.
Menurutnya, transaksi keuangan masyarakat Indonesia dalam pembayaran berbasis elektronik masih relatif rendah dibandingkan negara Asean lainnya. Padahal, Indonesia memiliki potensi dalam perluasan akses sistem pembayaran. Ini lantaran didukung kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar.
“Untuk itu, BI bersama perbankan sebagai pemain utama dalam penyediaan layanan sistem pembayaran kepada masyarakat, perlu memiliki visi yang sama dan komitmen yang kuat untuk mendorong penggunaan transaksi non tunai dalam masyarakat,” cetusnya.
Sejauh ini, BI senantiasa menggenjot sosialisasi GNNT. Seperti yang dikemukakan Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Eni V Panggabean dalam peluncuran sebuah produk pembayaran digital.
“Sosialisasi kami terhadap pengembangan GNNT, perlahan telah menunjukkan tren positif (bullish). Tidak hanya sosialisasi, tetapi kami selalu mengimbau kepada para industri perbankan selaku penyedia layanan, agar mampu menciptakan sistem keamanan yang mumpuni dan lebih efisien,” ujarnya.
Sebagai regulator, pihaknya selalu fokus terhadap budaya penggunaan uang elektronik di masyarakat. Ini termasuk perluasan penggunaan, pengembangan infrastruktur sistem pembayaran, dan harmonisasi ketentuan yang lebih bijak.
Eni menambahkan, sejak pencanangan GNNT pada 14 Agustus 2014, perkembangan penggunaan uang elektronik tercatat mengalami pertumbuhan yang signifikan. “Hingga September 2015, pertumbuhan penggunaan electronic money (e-money) mencapai 71,7 persen dengan volume transaksi yang juga tumbuh mencapai 217 persen,” ulasnya.

T-Cash Tap yang Revolusioner

Implementasi GNNT yang diimbau pemerintah lewat BI, turut menggerakkan pelaku usaha, tidak terkecuali yang bergerak dalam bidang IT. Meskipun belum signifikan dan masih terkesan “opsional”, namun Telkomsel melalui produk-produk andalannya siap memasuki dunia baru cara pembayaran praktis tanpa uang tunai.
Belum lama ini, perusahaan telekomunikasi milik pemerintah, Telkomsel memperkenalkan cara pembayaran baru, Telkomsel Cash (T-Cash) Tap. Produk ini memungkinkan pelanggan menggunakan smartphone mereka untuk bertransaksi di merchant atau toko-toko terpilih, dengan bantuan teknologi Near Field Communication (NFC)
Syarat bagi pelanggan Telkomsel yang ingin menggunakan T-Cash Tap adalah memiliki dompet elektronik atau e-wallet T-Cash yang saldonya sudah terisi. Pengisian saldo bisa dilakukan di Grapari, ATM Bersama, dan merchant terpilih lainnya. Selanjutnya, pelanggan akan mendapatkan stiker NFC yang bisa diaktifkan di Grapari terdekat. Setelah itu, pelanggan bisa langsung bertransaksi di toko-toko yang sudah bekerja sama dengan Telkomsel, cukup dengan menyentuhkan smartphone pada mesin NFC yang tersedia di kasir.
Saat ini, aneka merchant yang telah menerima pembayaran dengan T-Cash Tap meliputi beberapa korporasi besar, seperti McDonald’s, Wendy’s, The Coffee Bean and Tea Leaf, Baskin Robbins, 7-Eleven, Cinema XXI, Alfamart, dan Indomaret. Sementara untuk gerai-gerai lainnya, termasuk dalam basis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga sudah digenjot untuk dapat menggunakan T-Cash Tap.
Sejauh ini, Telkomsel menggelar berbagai promo berupa diskon dan penawaran spesial dalam upaya menyosialisasikan penggunaan T-Cash Tap. Contohnya, diskon 20 persen di merchant terpilih di McDonald’s, diskon 50 persen di Baskin Robbins, The Coffee Bean and Tea Leaf, Wendy’s, dan beberapa outlet kuliner ternama lainnya.
Untuk menerapkan solusi T-Cash Tap ini, Telkomsel bekerja sama Verifone Mobile Money dan Finnet Indonesia. Perangkat lunak Verifone Mobile Money memungkinkan telepon seluler dan terminal merchant untuk terhubung secara mulus dengan dompet T-Cash, sehingga memungkinkan aksi “tap dan bayar” dengan menggunakan telepon seluler untuk pembelanjaan sehari-hari.
“Peluncuran T-Cash Tap memungkinkan pembayaran mobile tanpa sentuhan di Indonesia bergerak menuju mainstream dengan lebih banyak konsumen yang merasakan nilai penggunaan perangkat mobile mereka untuk melakukan pembelian kebutuhan sehari-hari,” terang Chief Executive Verifone Mobile Money, Chris Jones saat peluncuran aplikasi mutakhir pihaknya belum lama ini.
Adapun konektivitas Finnet, memberikan akses ke bank-bank di seluruh Indonesia bagi para pengguna telepon seluler. Finnet memfasilitasi konektivitas antarbank serta mendukung berbagai jenis pembayaran dan pilihan pendukungnya.
Sementara itu, Chief Executive Finnet Indonesia, Niam Dzikri, menjelaskan,  permintaan untuk layanan e-money mengalami peningkatan di Indonesia. “Ini didorong peluncuran program GNNT. Dengan pengalaman Finnet dalam bidang pembayaran elektronik, kami akan membantu Indonesia meraih impiannya untuk mewujudkan perekonomian yang bebas dari transaksi tunai,” optimistisnya.

“Mewabah” di Bantaran Kampus

Bank Negara Indonesia (BNI) terus berupaya menggenjot transaksi non tunai lewat uang elektronik. Hal tersebut gencar dilakukan lantaran bank umum milik negara (BUMN) tersebut melihat posisi perbankan saat ini masih cukup berat mengimplementasikan transaksi berbasis digital. Apalagi, GNNT yang digalakkan BI belum menyentuh semua kalangan.
BNI Makassar melansir, masyarakat sampai saat ini belum tertarik memanfaatkan uang elektronik karena merasa fungsinya sama saja dengan kartu debit. Pasalnya, transaksi uang elektronik, kebanyakan masih berlaku di jalan tol dan minimarket tertentu.
Untuk itu, jika bank lain menggarap jalan tol, BNI lebih menyasar sekolah dan kampus. Produk uang elektronik BNI, Tap Cash, dikenalkan kepada para siswa dan mahasiswa, agar paling tidak bisa membangun “awareness” guna mendukung pembayaran non tunai.
Sebelumnya, BI juga “getol” mensosialisasikan GNNT di bantaran kampus dan sekolah. ‎Kepala Perwakilan BI Sulsel, M Dadi Aryadi, mengatakan, pihaknya fokus ‎menjalin kerja sama terintegrasi dengan seluruh perguruan tinggi (PT) di Sulsel.
Dijelaskan, merunut data November 2014, sebanyak 12 Kampus di Indonesia telah menciptakan kawasan non tunai. “Kampus merupakan salah satu tempat pelaksanaan GNNT, karena mahasiswa sebagai generasi muda diharapkan mampu menjadi motor penggerak penggunaan instrumen non tunai,” imbuhnya.