21 February 2016

Mayoritas Pedagang Belum Tahu Larangan Jual Minyak Curah

MINYAK CURAH - Tahun ini dipastikan tidak ada lagi pedagang yang menjual minyak goreng curah. Kepastian itu menyusul terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 80 tahun 2014 tentang minyak goreng wajib kemasan. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Tahun ini dipastikan tidak ada lagi pedagang yang menjual minyak goreng curah. Kepastian itu menyusul terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 80 tahun 2014 tentang minyak goreng wajib kemasan.
Walaupun sudah beredar sejak beberapa waktu lalu, sejumlah pedagang khususnya di pasar tradisional belum mengetahui informasi tersebut. Suplai minyak curah dari distributor masih tetap berlangsung. Atas kondisi ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan melakukan sosialisasi ke sejumlah pedagang di Pasar Kidul, Bangli, Kamis (4/2).
Berdasarkan pantauan, minyak curah yang ditampung dalam drum maupun plastik masih banyak menyesaki sejumlah warung. Bahkan, pembelinya masih cukup ramai. Saat ditanya terkait aturan larangan penjualan, sejumlah pedagang mengaku belum tahu. “Kami belum tahu aturan itu,” ujar seorang pedagang, Ni Wayan Sariasih.
Ia menyampaikan, harga minyak curah lebih murah ketimbang yang kemasan, selisihnya sekitar Rp 2 ribu per kilogram. Minat konsumen untuk membeli pun sangat tinggi. Jika larangan penjualan itu diberlakukan, pedagang dan konsumen dinilai akan dirugikan. “Kalau itu diberlakukan, kami akan dirugikan. Ini sangat diminati konsumen,” bebernya.
Pedagang yang berjualan di sisi selatan ini juga menuturkan, dalam seminggu empat drum minyak curah habis terjual. Sementara, saat disinggung asal barang tersebut, dikatakan dari daerah Gianyar. “Karena harganya lebih murah, seminggu itu bisa habis empat drum. Apalagi dekat hari raya, lumayan laris,” tuturnya.
Larangan ini juga disikapi dingin pedagang lain, I Wayan Srinu. Ia beranggapan minyak ini sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat, dan telah berlangsung secara turun temurun. Disebutkan, sampai saat ini ia belum mengetahui adanya aturan pelarangan penjualan minyak goreng curah. “Ini sudah menjadi incaran konsumen. Saya belum tahu ada aturan seperti itu,” ujarnya.
Menyikapi persoalan tersebut, Kadisperindag I Nengah Sudibia, menjelaskan, pelarangan penjualan minyak curah tersebut tidak lepas dari kualitasnya yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Selain itu, kandungan vitamin A pada minyak tersebut nyaris tidak ada.
“Terbitnya peraturan tersebut sudah didasari kajian. Minyak goreng yang dijual harus dalam kemasan dan mengandung vitamin A. Kalau minyak curah beda, kemasan dan warnanya tidak bagus,” ungkapnya.
Pejabat asal Penglipuran ini juga menegaskan, jika larangan penjualan minyak curah mulai intensif berlaku, pedagang dipastikan tidak akan rugi. Pasalnya, konsumen otomatis akan beralih ke minyak kemasan. “Pedagang jangan takut larangan ini. Konsumen nanti akan bisa beralih ke minyak kemasan,” terangnya.
Ditambahkan, untuk menghentikan peredarannya, koordinasi dengan distributor juga akan dilakukan. “Aturan ini intensif berlaku 27 Maret. Untuk itu, sosialisasi akan terus kami gencarkan,” tutupnya.