05 February 2016

Jelang Galungan, Pedagang Tiing Penjor Menjamur di Kota Klungkung

BAMBU PENJOR - Pedagang bambu penjor musiman mulai banyak bermunculan di Kota Klungkung jelang hari raya Galungan, Jumat (5/2). BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Permintaan bambu menjelang hari raya Galungan di wilayah Klungkung, belakangan ini mulai meningkat. Hal ini terlihat di sepanjang Jalan Gajah Mada, Kelurahan Semarapura Tengah, Klungkung. Pedagang bamboo penjor musiman mulai banyak bermunculan di pinggir jalan. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan bambu penjor di Klungkung, sejumlah pedagang justru “mengimpor” bambu dari wilayah kabupatan lain seperti desa Selat Duda, Karangasem dan Bangli.
Hal ini diakui salah seorang pedagang bambu penjor musiman, Nyoman Sariani, Jumat (5/2). Pedagang bambu asal Desa Lebu, Sidemen, Karangasem ini mengatakan mendapatkan bambu penjor dari Desa Selat Duda, Kecamatan Selat, Karangasem. Semua bambu penjor ini mulai ia jual sejak Kamis (4/2).
Bahkan, ia tidak menampik permintaan bambu penjor menjelang Galungan sangat tinggi di Klungkung. Apalagi sampai penampahan Galungan, Sariani mengaku bisa menjual bambu penjor 100 batang. “Lumayan larisnya. Kalau lagi ramai dalam sehari saya bisa jual 30 batang,” ujarnya.
Lalu soal harga bambu? Sariani mengatakan harganya cukup bervariatif. Untuk bambu ukuran kecil dijual sekitar Rp 20 ribu per batang. Sementara, ukuran yang lebih besar kisaran Rp 30 ribu per batang. Namun, keuntungan dari menjual bambu ini hanya diarasakan Sariani menjelang hari raya Galungan. Karena sehari-hari, ia hanya bekerja membuat ambengan (alang-alang). “Jual bambu ini sampingan. Saya setiap hari jual ambengan,” tuturnya.
Hal senada juga dikatakan penjual bambu lainnya, Gusti Puja. Ia mengaku mengambil keuntungan sedikit dari menjual bambu, dan hanya mendapatkan untung Rp 3 ribu untuk satu bambu. Tetapi, untung yang diperoleh tersebut belum dihitung jumlah bambu yang tidak laku.
Selama menjadi penjual bambu, banyak bambunya tidak laku dijual. Tetapi dengan menjual bambu, Gusti Wija mengaku lebih mendapat untung ketimbang menjual janur dan ambu yang juga dipakai sarana upacara membuat penjor. Karena janur yang dijual dinilai tidak akan bertahan lama jika tidak laku dijual. Sementara, bambu yang tidak laku akibat kondisi rusak bisa dimanfaatkan sebagai lontek atau lainnya.
“Bambu yang tidak laku bisa saja dijual lagi untuk lontek atau yang lain. Apalagi, belakangan banyak warga memanfaatkan bambu untuk dipakai upacara,” terangnya.
Sementara itu, seorang pembeli, Ketut Sugiana, mengatakan, memang sengaja membeli bambu penjor sejak awal. Pasalnya, bercermin dari pengalaman sebelumnya, ia mengaku sangat kesulitan mencari bamboo penjor. Terutama bambu yang berukuran kecil.
“Kalau bahan-bahan lainnya, seperti busung, daun enau, dan sebagainya masih bisa dicari nanti. Dulu, saya sampai keliling mencari bambu dengan ukuran kecil seperti ini,” ujarnya.