01 February 2016

Januari 2016, Nilai Tukar Petani di Sulsel 106,24 Persen

NILAI TUKAR PETANI - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Senin (1/2), melansir, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan pada Januari 2016, nilai tukar petani (NTP) di Sulsel secara umum mengalami penurunan sebesar -0,15 persen dibandingkan Desember 2015, yaitu dari 106,39 persen menjadi 106,24 persen. BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Nilai tukar petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nusam Salam saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) terkait tingkat inflasi dan NTP di Gedung BPS, Jalan Haji Bau, Makassar, Senin (1/2).
“Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan pada Januari 2016, NTP di Sulsel secara umum mengalami penurunan sebesar -0,15 persen dibandingkan Desember 2015, yaitu dari 106,39 menjadi 106,24,” terangnya.
Menurutnya, hal itu disebabkan indeks harga hasil produksi pertanian mengalami penurunan yang lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.
“Bila dibandingkan NTP Desember 2015, tiga dari lima subsektor mengalami penurunan, yaitu subsektor hortikultura sebesar -0,09 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar -1,56 persen, dan subsektor perikanan sebesar -0,31 persen,” papar Nursam.
Adapun indeks harga yang diterima petani menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. “Pada Januari 2016, indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,50 persen, subsektor hortikultura mengalami kenaikan 0,65 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun -0,69  persen, dan subsektor peternakan naik 0,46 persen, sementara subsektor perikanan mengalami penurunan -0,14 persen,” urainya.
Melalui indeks harga yang dibayar petani, sebut Nursam, dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat pedesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
“Pada Januari 2016, indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan 0,70 persen bila dibandingkan Desember 2015, yaitu dari 122,34 menjadi 123,19. Ini berarti,  indeks harga yang dibayar petani untuk subsektor tanaman pangan naik 0,79 persen. Sementara, subsektor hortikultura naik 0,75 persen, tanaman perkebunan rakyat naik 0,89 persen, subsektor peternakan naik 0,44 persen, dan subsektor perikanan naik 0,17 persen,” tutupnya.