20 February 2016

ITS Gandeng SKK Migas Bantu Terangi Papua

SKK MIGAS - Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, menargetkan, pada 2020 Papua telah diterangi listrik. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya digaet untuk mewujudkan program tersebut dengan bekerja sama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) dengan ITS di Surabaya, Kamis (4/2). BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, menargetkan, pada 2020 Papua telah diterangi listrik. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya digaet untuk mewujudkan program tersebut dengan bekerja sama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) dengan ITS di Surabaya, Kamis (4/2).
MOU melibatkan ITS dalam perencanaan distribusi Liquefied Natural Gas (LNG) untuk tenaga listrik di Papua Barat hingga 2020. Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, mengungkapkan, proses pemerataan listrik ke Papua masih terjegal masalah distribusi LNG.
Seperti yang diketahui, LNG merupakan sumber pembangkit listrik yang akan menerangi Pulau Cenderawasih ini. “Kami sudah miliki LNG-nya, tetapi masih kesulitan mendistribusikannya ke Papua,” ungkap Amin.
Saat ini, SKK Migas sedang mengejar waktu untuk segera menuntaskan masalah distribusi LNG. Untuk itulah, SKK Migas menggaet ITS guna mengkaji metode yang paling efektif untuk pengiriman LNG. Konsep distribusi yang harus dipikirkan ITS meliputi sarana infrastruktur dan transportasi.
“Bukan hanya kesiapan kapal yang mengangkut LNG, kami juga harus mempersiapkan infrastruktur terminal LNG,” ujar Rektor ITS, Joni Hermana, usai penandatanganan MOU.
Bidang studi yang dilibatkan dalam penyusunan konsep ini, juga melibatkan berbagai jurusan di ITS, seperti Teknik Industri untuk masalah pengiriman logistik, Teknik Kimia, Teknik Fisika, dan keilmuan di bawah Fakultas Teknologi Kelautan.
“Namun karena sekarang kasusnya adalah konsep distribusi, yang paling berperan mungkin Teknik Industri,” beber Joni.
Sementara itu, Wakil Rektor IV ITS, Ketut Buda Artana, mengatakan, ITS akan membuka kesempatan kepada perguruan tinggi di wilayah timur Indonesia, khususnya Papua yang ingin menggali ilmu lebih dalam guna merancang metode untuk membantu mendistribusikan LNG ke wilayah mereka nantinya.
“Kami persilakan para dosen atau tenaga ahli dari universitas di Papua untuk belajar ke ITS, dan bila perlu kami akan memberikan pendampingan juga nantinya,” ujar guru besar dari Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS ini.
Bupati Fakfak, Oktovianus Mayor, mengungkapkan, sangat bersyukur atas kerja sama antara SKK Migas dengan ITS. Pria yang akrab disapa Mayor ini, mengungkapkan, semua pembangunan di Fakfak dan daerah lain di Papua selalu terhambat masalah listrik. Padahal, Papua memiliki potensi alam dan pariwisata yang begitu melimpah. “Untuk itulah, pengaliran listrik di Papua harus segera dilakukan,” ujarnya.
Mayor menilai, sudah saatnya “orang pintar” di ITS dan perguruan tinggi ternama lainnya turun tangan membantu pembangunan di Papua. Makanya, ia sangat berterima kasih atas terlibatnya ITS dalam program pengaliran listrik di ranah Mutiara Hitam ini.
Pria asli Papua itu juga mengungkapkan jika Pemerintah Daerah (Pemda) Fakfak akan mengerahkan segala usaha untuk membantu proses kelancaran program ini. “Pemda Fakfak akan menyediakan segala infrastruktur maupun sumber daya manusia yang dibutuhkan. Yang penting Papua segera terang,” harapnya.