14 February 2016

Gurihnya Laba Kuliner Tradisional

MAKANAN TRADISIONAL - Pelanggan tengah mencicipi makanan tradisional bebek goreng di Pondok Bebek Hotel Arbor Biz. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak kekayaan kuliner, khususnya makanan tradisional. BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Maraknya berbagai varian menu modern, ternyata tidak menyurutkan popularitas makanan tradisional. Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup masyarakat, saat ini banyak pelaku bisnis makanan yang sengaja mengangkat kembali menu tradisional ke kelas yang lebih tinggi.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak kekayaan kuliner, khususnya makanan tradisional. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah punya kekayaan kuliner masing-masing. Kondisi ini sangat menguntungkan pelaku bisnis, mengingat potensi tersebut bisa dijadikan sebagai ladang untuk mendapatkan untung besar.
Meskipun jenis makanan ini bukan berasal dari luar negeri, tetapi penggemarnya sangat banyak. Sehingga target pasar yang dibidik sangat luas, mencakup semua strata ekonomi masyarakat. Karena makanan tersebut cukup bersahabat, dengan konsumen menengah ke atas, maupun konsumen menengah ke bawah.
Seperti pada salah satu rumah makan yang ada di Kawasan Bisnis Tanjung Bunga, Rumah Makan Kahyangan Art Resto. Saat masuk, pengunjung akan disambut alunan musik tradisional khas Jawa. Bangunannya terlihat antik dan menarik. Ada ruang makan outdoor maupun indoor. Tidak salah jika salah satu majalah nasional memasukkannya ke dalam jajaran resto dengan desain terbaik.
Menurut pemiliknya, Yudi Prasetya Buana, nama rumah makan ini terinspirasi dari bahasa Sansekerta, Kahyangan yang berarti surga. Rumah makan ini dibuka dengan konsep franchise. Saat ini sudah punya dua outlet di Indonesa, Surabaya dan Makassar.
“Peluang bisnis kuliner di Makassar sangat besar. Setiap ada sajian baru, pasti selalu ramai dikunjungi,” alasannya, mengemukakan perihal membuka rumah makan.
Menu-menu masakan yang disajikan di sini adalah menu tradisional khas Nusantara. Nama-namanya cukup unik, sehingga membuat orang penasaran. Seperti menu makanan Nasi Mahabarata, yang diambil dari kisah pewayangan. Menu lain yang jadi jagoan adalah Bandeng Sukma Nirwana, ikan bandeng bakar tanpa duri disajikan dengan bumbu kecap.
Untuk menikmati kuliner, ruangan dibagi menjadi dua, outdoor dan indoor. Atapnya yang tinggi disangga tiang-tiang kayu, yang menggambarkan nilai seni tinggi. Tamu bukan dapat merasakan nikmatnya hidangan yang disajikan, tetapi juga menikmati nuansa masa silam yang dibalut karya arsitektur khas Jawa. Lokasinya pun strategis, berada di Kawasan Tanjung Bunga.  
“Karena masih baru, kami belum berani memasang target besar. Sambil berjalan, pasar Makassar tetap dipelajari.

Manfaatkan Booming Menu Bebek

Setahun terakhir ini di Makassar banyak bermunculan penjaja bebek. Bisa dikatakan menu hasil olahan hewan berjenis unggas sedang booming. Sudah ada puluhan warung dan rumah makan yang menjadi bebek sebagai menu utama. Bahkan, beberapa brand ternama pun sudah masuk di Makassar.
Salah satunya adalah Rumah Makan Pak Ndut yang sangat populer di Solo. Menurut pemiliknya, Budianto Pammusureng, usaha ini dikelola dengan sistem franchise. Nilai franchise-nya Rp 75 juta, masa berlaku hingga lima tahun. Fasilitas yang didapatkan, bumbu masakan, papan reklame, dan berhak menggunakan merek Pak Ndut. 
Rumah makan ini menawarkan berbagai hidangan daging bebek dan ayam goreng. Menu andalannya Bebek Sangan. Bebek Sangan diolah dengan cara tidak dibakar, melainkan dengan kuali yang terbuat dari tanah liat, sehingga membuat masakan bercita rasa khas dan lebih nikmat. Kelezatannya bertambah bila disantap bersama sambal korek yang super pedas.
Yang menjadi ciri khas Rumah Makan Pak Ndut, dan tidak dimiliki tempat sejenis adalah sambelnya. Apapun makanannya, sambelnya ada tiga jenis, sambel hijau, sambel original, dan sambel sangan. Momen menyantap hidangan di tempat ini semakin terasa nikmat bila mencicipinya di lantai dua. Pasalnya, embusan angin sepoi-sepoi plus pemandangan suasana sekitar, membuat siapa pun merasakan sensasi makan bebek yang berbeda dan unik.
Sejak dibuka 19 Mei 2011, RM Pak Ndut cabang Makassar ini terus mengalami peningkatan konsumen. “Perkembangan cukup bagus. Setiap bulannya cenderung naik. Rata-rata, pengunjung setiap hari 50 orang. Kami sudah memiliki konsumen loyal,” beber Budianto.
Di tengah persaingan rumah makan bebek yang semakin kompetitif, pria hobi traveling ini telah menjalankan strategi baru agar tetap survive. Salah satunya menyediakan menu tambahan kopi. Alasannya, pecinta kopi di Makassar sangat banyak.
Selain itu, pihaknya juga menyediakan ruangan rapat dengan kapasitas 30 orang. Hampir setiap Minggu, member Karimun Club Makassar melaksanakan kopi darat (Kopdar) di rumah makan ini.
Melihat potensi di Makassar yang cukup besar di Makassar, waralaba Bebek Jumbo juga membuka outletnya di Makassar. Menurut pemilik waralaba, Arie Prayanto, kata Jumbo yang disematkan pada nama brandnya, merupakan produk bebek yang disajikan benar-benar berukuran besar hasil dari inovasi bioteknologi yang mengawinsilangkan bebek lokal dengan bebek peking. Bahan baku bebek tersebut diolah dengan resep warisan leluhur. Sehingga cita rasanya luar biasa, dalam porsi yang juga luar biasa.
Waralaba Bebek Jumbo sendiri menawarkan tiga paket kemitraan bagi calon mitra yang ingin menggeluti bisnis olahan bebek, di antaranya tipe foodcourt minimal investasi R p180 juta, tipe mini resto Rp 250 juta, dan tipe resto and cafe Rp 375 juta.
“Peluang kerja sama yang kami tawarkan adalah pola bermitra selama lima tahun dengen franchise fee 50 persen dari paket. Kami juga manawarkan dua pola kerja sama, management by franchisor atau management by franchisee. Jika kami yang handle management, maka pola pembagian hasil adalah 70-30, yaitu 70 persen profit untuk mitra, sementara jika management mandiri maka 100 persen profit untuk mitra,” imbuh Arie.

Rebranding The Garden Cafe and Resto

Arbor Biz Hotel Makassar melakukan perubahan pada The Garden Cafe and Resto. Bukan hanya interior, tetapi juga konsep dan merek berganti menjadi Rumah Makan Pondok Bebek. Meskipun sama-sama menggunakan racikan masakan tradisional, tetapi kali ini makanannya hanya fokus pada jenis bebek dan ayam.
General Manager Arbor Biz, Oka Mahardika, perubahan dilakukan sebagai upaya memberikan pelayanan maksimal kepada customer. “Kami berharap, semakin banyak pecinta menu bebek yang sedang booming datang ke tempat kami,” bebernya.
Ditambahkan, selain menjual kamar, Arbor Biz juga menjagokan rumah makannya. Lebih istimewa, meskipun dijual di hotel dengan suasana lebih nyaman, harga yang ditawarkan sangat terjangkau.
Untuk bebek dan ayam, kami banderol mulai Rp 18 ribu. Sementara, tempe dan tahu hanya Rp 2 ribu. Bagi pecinta kopi, Pondok Bebek juga tempat yang tepat. Menggunakan jenis kopi robusta, harganya dibanderol sangat murah, mulai Rp 8 ribu per gelas.
Khusus pembukaan, Pondok Bebek memberikan promosi penawaran spesial, beli satu gratis satu, khusus yang berbelanja pada 11-23 Februari.