25 February 2016

Direct Call, Implementasi Tol Laut di KTI

DIRECT CALL - Melalui pelaksanaan direct call, Pelindo IV melansir dapat menghemat waktu sekitar 50 persen. Penghematan juga dapat menekan biaya sekitar 40 persen ke negara tujuan ekspor. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
BLOGKATAHATIKU - Harga barang di Makassar lebih mahal dibandingkan daerah-daerah di Jawa. Itulah kalimat yang sering didengar ketika menanyakan pendapat seseorang mengenai perbandingan harga barang yang dijual di wilayah timur Indonesia dengan daerah-daerah yang ada di Jawa atau wilayah barat Indonesia.
Bukan tanpa alasan memang, disparitas harga itu terjadi lantaran biaya yang harus dikeluarkan para pengusaha untuk mendatangkan barang dagangannya memang cukup tinggi. Waktu yang cukup lama untuk mendatangkan barang ditambah biaya beberapa kali bongkar di pelabuhan yang harus mereka keluarkan, menjadi persoalan kompleks yang membuat perbedaan harga barang yang ada di timur dan barat Indonesia cukup mencolok.
Pemerintah daerah (Pemda) sudah melakukan berbagai upaya untuk membuat disparitas harga barang antara di wilayah timur dan barat Indonesia tidak terlalu berbeda jauh. Salah satunya mengundang investor untuk membangun industri di wilayah ini, khususnya di Kota Makassar yang menjadi ibu kota provinsi Sulsel.
Dengan ketersediaan fasilitas berupa lokasi atau lahan yang cukup luas di kawasan timur Indonesia (KTI), upaya Pemda tersebut rasanya tidak sulit diwujudkan. Apalagi, Sulsel telah memiliki kawasan industri Makassar (KIMA) dengan cukup banyak gudang yang bisa digunakan untuk pabrik.
Selain itu, yang terpenting adalah Sulsel memiliki cukup banyak komoditas atau bahan baku yang bisa diolah menjadi barang jadi. Bahkan, beberapa daerah di wilayah ini merupakan salah satu pemasok terbesar beberapa bahan baku yang juga sering diekspor ke luar negeri.
Dengan begitu, tentunya keinginan pemerintah untuk membangun industri di wilayah ini bisa diwujudkan, seandanya mendapatkan dukungan berupa infrastruktur yang cukup memadai. Akan tetapi, lagi-lagi dukungan yang sangat diinginkan itulah yang sering menjadi kendala terbesar bagi para investor untuk merogoh kocek mereka guna membangun industri di wilayah ini.
Seakan paham terhadap “kendala” warga Kota Makassar dan masyarakat Sulsel pada umumnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV (Persero) bersama perusahaan pelayaran internasional yang berpusat di Hongkong, SITC Countainer Lines Co Ltd, berhasil mewujudkan pembukaan jalur pelayaran langsung internasional (direct call) Makassar-Hongkong dan Makassar-Dili melalui Terminal Petikemas Makassar (TPM) pada 5 Desember 2015.
Adapun direct call yang kini rutin dilakukan sekali dalam seminggu itu melalui rute Pelabuhan Makassar-Jakarta-Bututu-Manila-Batangas, Hongkong-Shekou-Manila-Manila, serta Cebu.
Direktur Utama Pelindo IV Doso Agung, mengatakan, direct call melalui TPM merupakan salah satu terobosoan yang dilakukan pihaknya, sekaligus membangun interkonektivitas di KTI untuk menjamin ketersediaan muatan.
Diakui, dari sisi pendapatan perusahaan, dengan adanya terobosan tersebut, maka Pelindo IV optimistis bisa mendongkrak pendapatan perusahaan antara 10 persen hingga 15 persen tahun ini.
“Direct call juga merupakan salah satu upaya Pelindo IV untuk mengembalikan kejayaan Kota Makassar yang dulunya dikenal sebagai Kota Bandar Pelabuhan. Dengan begitu, masyarakat di kota ini maupun Sulsel pada umumnya, bisa menikmati barang dengan harga murah, sekaligus meningkaktkan pendapatan daerah,” papar Doso Agung di hadapan sejumlah pejabat dan awak media saat meresmikan direct call Makassar-Hongkong dan Makassar-Dili.

Direct Call Dapat Hemat Waktu 50 Persen

Melalui pelaksanaan direct call, Doso Agung mengungkapkan, pihaknya dapat menghemat waktu sekitar 50 persen. Penghematan juga dapat menekan biaya sekitar 40 persen ke negara tujuan ekspor.
Dicontohkan, untuk cargo impor dari Hongkong dan Shekou ke Makassar, hanya berkisar delapan hingga sembilah hari. “Ini berarti dapat menghemat tujuh hari dari pola pengangkutan kontainer sebelumnya. Sementara, untuk kontainer ekspor ke tujuan yang sama, hanya berkisar 10 hari, dapat menghemat tujuh hari ke negara-negara tujuan,” urainya.
Dari sisi biaya, penghematan berkisar 50 dolar AS hingga 100 dolar AS, karena sebelumnya harus beberapa kali transit dan mengalami double handling di beberapa pelabuhan. “Penghematan logistic cost ini tentu memberikan manfaat yang besar kepada pengusaha dan persaingan komoditas KTI di luar negeri,” ujar Dosa Agung.
Sebelumnya, General Manager Terminal Petikemas Makassar Pelindo IV, Muhammad Basir, merinci pengelolaan kontainer untuk ekspor ke luar negeri per bulan bisa mencapai 2.000-2.500 TEU’s. Sementara, bongkar muat barang domestik bisa mencapai 1.200 TEU’s dengan jumlah call per bulan mencapai 600-800 call.
 “Jika ditotal, seluruh bongkar muat ekspor maupun impor di TPM sekitar 45 ribu-50 ribu TEU’s per bulan. Sementara, kunjungan kapal di TPM bisa mencapai 100-120 call. Dengan jumlah ini, TMP bisa menargetkan pengelolaan anggaran sebesar Rp 380 miliar,” imbuhnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, pihaknya telah menyiapkan peralatan pendukung di TPM berupa dua alat transtainer baru. Dari sisi kapasitas bongkar muat, TPM memiliki panjang dermaga 1.360 meter yang dilengkapi tujuh unit container crane (CC), serta 18 unit rubber tyred gantry (RTG).
Lebih lanjut, Doso Agung mengatakan, direct call merupakan salah satu program lanjutan untuk implementasi Tol Laut di KTI, yang kemudian diikuti Multiport Tarif yang sudah diuji coba per satu Januari 2016. Setelah keduanya berhasil diimplementasikan, Pelindo IV juga kini tengah menyusun jaringan interkonektivitas antar pelabuhan di KTI.
“Jaringan tersebut, nantinya akan terhubung pengapalan direct call yang telah rutin dan terjadwal setiap empat kali dalam sebulan. Hal ini mampu mengubah peta logistik di KTI ke arah yang lebih efektif dan berbiaya murah,” jelasnya.
Oleh karena itu, sebut mantan General Manager (GM) Pelabuhan Panjang Lampung dan GM TPK Koja ini, visi maritim Tol Laut hanya dapat diwujudkan dengan empat hal, cost logistik yang murah, kinerja pelabuhan yang tinggi, interkonektivitas pelabuhan, serta ketersediaan angkutan laut (kapal) yang rutin dan terjadwal,” ungkapnya,
Sementara itu, dalam sebuah kegiatan yang digagas Pemprov Sulsel beberapa waktu lalu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, hanya melalui interkonektivitas angkutan laut, kegiatan distribusi, konsolidasi dan bangkitan kargo di KTI dapat terealisasi.
“Sehingga nantinya dalam era MEA 2016 ini, KTI dapat benar-benar menjadi pelaku ekonomi yang diperhitungkan, dari sebelumnya hanya penonton yang terpinggirkan,” tuturnya.
Syahrul juga berharap, agar semua pihak terus mendukung program-program lanjutan yang digagas PT Pelindo IV.
Ketua Kadin Sulsel Zulkarnain Arief mengungkapkan, direct call sangat membantu pengusaha di KTI. Apalagi di tengah pelambatan ekonomi yang terjadi di Tanah Air dewasa ini, terobosan PT Pelindo IV ibarat berita menyegarkan dan disambut gembira oleh pengusaha di KTI. Mengenai dampak waktu dan biaya yang lebih singkat, Zulkarnain menyampaikan inilah yang ditunggu oleh pengusaha di KTI sejak puluhan tahun lalu. “Waktu pengapalan kontainer yang lebih cepat dan lebih murah, membuat produk KTI  mampu bersaing dan bagi masyarakat dapat menikmati harga barang lebih murah,” ujarnya.
Meski begitu, diakui beberapa pihak bahwa untuk merealisasikan interkonektivitas pelabuhan di KTI tidaklah mudah. Karena memerlukan dukungan seluruh pihak, terutama pemerintah dan seluruh stakeholder terkait.