14 February 2016

Bisnis Kuliner, Potensi di Balik Keperluan Pokok

Salah satu usaha yang terus berkembang dan banyak dilirik adalah usaha di bidang kuliner. Pasalnya, makanan dan minuman merupakan “keperluan pokok” setiap individu yang dibutuhkan setiap hari. britaloka.com/Ist
britaloka.com, MAKASSAR - Salah satu usaha yang terus berkembang dan banyak dilirik adalah usaha di bidang kuliner. Pasalnya, makanan dan minuman merupakan “keperluan pokok” setiap individu yang dibutuhkan setiap hari.
Berangkat dari hal itulah, restoran maupun kafe masif berdiri di berbagai sudut kota. Sehingga, juga tidak mengherankan apabila pelaku usaha di bidang kuliner berlomba membuka cabang, baik secara independen maupun sistem waralaba, yang bakal melayani konsumen yang terkesan ingin serba praktis dan instan.
Target pasar yang menggiurkan dari bisnis kuliner ini adalah keluarga, pekerja, maupun wisatawan. Salah satu potensi besar untuk mendulang profit adalah lokasi harus berada di tempat strategis. Biasanya, tempat tersebut adalah pusat bisnis yang dipenuhi pekerja kantoran ataupun masyarakat yang bertransaksi bisnis. Selain itu, berada di dekat objek wisata juga merupakan satu potensi yang tidak dapat dinafikan.
Bagimana dengan modalnya? Modal awal untuk memulai usaha kuliner, khususnya membangun restoran, warung, dan kafe, biasanya memerlukan modal besar. Kendati demikian, hal itu dapat disiasati dengan membuat tempat hangout yang sederhana, dan akan ditambah perlahan seiring membeludaknya konsumen.
Dari sisi konsep makanan, tentu ini tidak terlalu menjadi kendala lantaran kepiawaian meracik masakan sudah masuk level “skill”. Ini juga tergantung kuliner apa yang hendak disajikan kepada pelanggan. Jika segmentif, tentu tidak terlalu berat karena pemilik restoran atau kafe hanya perlu fokus terhadap satu atau beberapa makanan.
Jika serius ingin menggarap usaha kuliner, ada baiknya memulainya dengan modal kecil dulu. Jika ingin menjalankan usaha dalam jaringan waralaba, juga sebaiknya memilih perusahaan yang tidak menuntut penggelontoran dana besar. Biasanya, master franchise brand lokal masih tergolong memiliki “royalty fee” yang ringan.
Karena terjun dalam bidang usaha yang membutuhkan keterampilan khusus atau membutuhkan modal besar, justru bisa membuat pelaku usaha mudah putus asa jika menemui kegagalan.