09 February 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 11

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 11
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Selamat Jalan Merpatiku

Mata sayu itu membasah seperti dua air sungai yang mengalir deras. Syanda menangis tanpa suara sewaktu Aditya menceritakan segalanya di ruang pastori, di belakang mimbar gereja. Dan semuanya lantak bagai keping beling ketika disadarinya Aditya kini telah sedemikian jauh tidak mampu lagi tergapai tangan.
“Waktu itu, Romo Dirgo, pastor di panti rehabilitasi melihat aku tidak seperti penghuni lain. Pada saat itu aku stres berat. Aku bimbang. Aku juga meragukan kesetiaanmu. Apalagi, selama sekian lama aku tidak pernah menerima kabar darimu lagi,” papar Aditya. “Dan semua itu membuatku semakin dekat dengan Romo Dirgo dan juga kepada-Nya.”
“Aku tahu kamu rajin ke gereja, Dit. Aku tahu… ta-tapi, apakah semua ini tidak bisa…? Ah, apakah kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi? Seperti setahun yang lalu?!”
Aditya menggeleng-geleng. “Aku sudah merasa damai dengan pilihanku, Syan. Tanyakanlah kepada dirimu sendiri, Syan! Apakah kamu juga bisa kembali menjadi Syanda yang dulu?! Yang hanya punya satu kekasih dalam hidupnya?”
Syanda mengernyitkan alisnya. “Ka-kamu tahu soal Ivan juga?!” tanyanya tidak percaya.
Adiya menggeleng. “Tidak. Tidak satu pun kabar luar tentangmu yang kudengar. Tapi aku yakin dan percaya, ketidakhadiranmu menjengukku merupakan pertanda bahwa aku bukan lagi satu-satunya yang ada di hatimu.”
Syanda tertunduk. “Ta-tapi….”
“Karena itu, Syan, kutempuh jalan ini.” Aditya bangkit dari kursinya, melangkah ke jendela. “Karena aku tidak bisa memberi hatiku kepada gadis lain seperti kamu membagi hatimu kepada pemuda lain. Akhirnya, kuputuskan untuk memberikan segala cinta yang ada pada yang paling berhak. Dia yang ada di atas sana!”
“Ja-jadi, ka-kamu menganggap semua salahku?!” Mata Syanda memerah. Digigitnya bibirnya keras-keras. Kerongkongannya terasa perih.
“Siapa bilang begitu?” kilah Aditya dengan suara sabar.
“Tapi….”
“Semua ini bukan salah siapa-siapa.”
“Ta-tapi….”
“Mungkin semua ini sudah menjadi kehendak-Nya.”
Syanda memintas dengan rupa nelangsa. Ditatapnya nanar sepasang mata teduh di hadapannya.
“Dit, aku mengasingkan diri selama kurang lebih setahun. Hanya untuk memastikan bahwa di hatiku cuma ada kamu! Tapi, apa yang kuperoleh kini?! Di mana keadilan Tuhan yang kamu agung-agungkan itu?!” tuntutnya, menelan ludahnya dengan susah payah. “Adilkah apa yang kudapatkan?! Penantian, kesetiaan, pembuktian yang kuberikan kepadamu. Oh, Tuhan!” Ditutupnya wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya.
“Syanda….”
“Aku telah kehilangan segalanya! Segalanya!” jerit Syanda dengan suara serak. “Di saat aku merasa mantap untuk memperoleh segalanya. Segalanya!”
Aditya tersenyum bijak. Dipandanginya lekat-lekat wajah kuyu gadisnya dulu itu. Ditatapnya sepasang mata beningnya. Seolah berusaha bicara dari hati ke hati, menenangkannya yang bermuram dalam ketidakrelaannya melepas sosokya yang kini tak terjamah.
“Syan, dengarlah,” pintanya lembut. Disentuhya bahu Syanda dari arah belakang. “Kamu tidak kehilangan apapun. Cinta kita masih ada. Berada di tempat yang paling abadi. Cinta kita telah kukirim kepada Tuhan. Biarlah Dia saja yang menyimpannya. Cintaku kepadamu kutukar dengan cintaku untuk semua umat. Untuk sesama. Karena kini aku tidak hanya milikmu, tapi milik umat gerejaku. Kamu mau mengerti, kan?”
“Ak-aku….” Syanda tergagap. “Ta-tapi….”
“Tuhan pasti memberkati cinta kita, Syanda.”
“Ja-jadi… cinta kita masih ada?” Mata Syanda mengerjap, menatap penuh harap ke arah Aditya. Dan sekali anggukan kecil Aditya membuatnya yakin.
“Cinta kita abadi, Syan. Yakinlah itu. Sebab, aku yakin cinta kita tidak berlandaskan pamrih.”
“Cin-cinta kita masih ada?! Di tempat yang lebih kekal di atas sana?!” tanya Syanda seolah bergumam. Tubuhnya mengejang.
“Ya,” angguk Aditya bijak.
“Ak-aku mencintaimu, Dit! Lebih dari yang kamu bayangkan. Bahkan, lebih dari yang pernah terpikir olehku sendiri. Tahukah kamu?!”
“Aku tahu, aku tahu.” Aditya menepuk-nepuk bahu gadis yang pernah diakrabi dan dikasihinya itu.
Syanda sesenggukan. Hatinya pedih. Sesaat dia merasa nasib seolah mempermainkannya. Sewaktu dia memiliki segalanya, dia bimbang dan ragu atas apa yang dimilikinya. Tapi setelah dia berhasil meyakinkan diri bahwa dia memang pantas memiliki Aditya dan cintanya, justru kenyataan membawanya pada babak baru dalam kisah kehidupannya. Aditya semakin menjauh, direntang jalan suci yang ditempuhnya. Hidup berselibat  dalam pengabdian kepada Tuhan dan sesama. Dan dia harus menerima kenyataan itu.
“Aku mencintaimu, Dit! Sampai kapan pun juga… selamanya!” desis Syanda dengan mata sembap. Diraihnya tangan Aditya. Digenggamnya erat-erat.
Aditya kembali mengangguk dengan sinar bijak. “Terima kasih untuk ketulusan cintamu, Syan.”
“Selamat tinggal, Frater!”
Syanda melepaskan genggaman tangannya. Dengan masih berlinang airmata ditinggalkannya ruang pastori dengan hati pedih.
Memang, ada saatnya cinta itu tidak mesti bersatu. Mungkin inilah cinta yang sesungguhnya. Untuk saat ini rasanya dia belum sanggup menerima dengan hati tabah. Mungkin suatu saat dia dapat memafhumi. 
Entah kapan.

***

Dua Tahun Kemudian

Kekecewaan yang pernah dirasakannya perlahan memudar dari hari-harinya. Pengalaman pahit membentuknya menjadi gadis yang tegar dan tabah. Syanda telah menemukan kembali dunianya yang hilang. Dunia yang penuh dengan warna. Meski dia belum dapat sepenuhnya melupakan cinta pertamanya, namun dia tidak lagi terkungkung dalam romantisme masa lalunya yang menyakitkan.
Sekarang dia menyibukkan dirinya dalam kegiatannya yang seabrek. Menjadi penulis freelance di majalah-majalah remaja, copy-writer, dan penyiar radio. Kuliahnya pun sudah hampir rampung. Mungkin setahun lagi dia sudah dapat menyandang predikat psikiater. Suatu kebanggaan yang tidak dapat dilukiskannya dengan kata-kata.
“Selamat siang, Syanda?”
“Eh, selamat siang, Frater.”
Frater Aditya tiba-tiba sudah berdiri di bawah bingkai pintu ruang sekretariat pemuda gereja. Suaranya yang khas melantun lembut. Menggugah keterdiaman Syanda yang entah sudah berapa lama mematung dalam lamunannya. Syanda kikuk. Dia berusaha menyembunyikan tingkahnya akibat melamun terlampau jauh ke belahan silam. Mudah-mudahan Frater Aditya tidak menyadarinya, batinnya jengah. Dia kemudian berdiri dari duduknya di belakang meja kerjanya.
“Bagaimana dengan buletin edisi depan kita?”
“Hm, sudah siap naik cetak, Frater. Mungkin minggu depan beredar,” jawab Syanda santun, lalu kembali duduk di kursinya.
Sebagai seorang penulis remaja, Syanda dipercayakan mengasuh sebuah terbitan rohani. Dan pekerjaan mulianya itu telah mempertemukannya kembali dengan Aditya, cinta pertamanya. Namun, kini Syanda sadar inilah sesungguhnya cinta sejati. Cinta yang universal, cinta yang tak dibatasi waktu dan jarak.
Cinta untuk sesama.
“Selamat siang, Frater!” sebait suara melantun dari arah bingkai pintu.
“Siang, siang,” jawab Frater Aditya.  “Masuk. Mari masuk. Ada yang bisa saya bantu?”
Seorang pemuda tampan membungkukkan badannya menghormat.
“Maaf, mengganggu. Saya ingin bertemu dengan Syandarini Aprilia Joshepine Munaf.”
Syanda mengangkat wajahnya dari monitor komputer ke arah suara lembut tersebut. Dan dia terpana seperti patung.
“I-Ivan!” serunya dengan mata terbelalak. “Ivan Prasetyo?!”
Pemuda bernama Ivan itu tersenyum manis. “Hai, apa kabar Syanda?”
“Kalian sudah saling kenal, ya?” ujar Frater Aditya sembari melangkah keluar dari ruang sekretariat. “Kalau begitu, saya pamit keluar dulu, ya?”
Syanda berdiri, berlari dan memeluk tubuh lampai Ivan. Dipereratnya pelukannya dengan pipi membasah. Dia menangis bahagia.
“Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi, Syan!” bisik Ivan lembut. “Aku rindu kamu….”
Syanda tidak dapat bicara apa-apa lagi. Tangisnya menderas.
“Maafkan aku, Syan. Aku tidak dapat membohongi perasaanku lagi. Apapun yang terjadi, aku harus mencarimu. Aku…”
“Aku mencintaimu, Van!”
Di luar ruang sekretariat, Sonya dan Santi tersenyum penuh arti. Mereka semua bahagia dapat mempertemukan Syanda dengan cinta sejatinya!


TAMAT