05 February 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 10

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 10
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Atas Nama Cinta Pertama

“Kamu tidak keberatan walau Mamamu tidak menyukaiku?” tanya Aditya.
“Tidak.”
“Juga walau aku tidak dapat mengajakmu dinner ke resto-resto mewah seperti yang lain?”
“Tidak.”
“Juga walau aku hanya mempunyai sepeda motor trail butut dan bukan sedan seperti….”
“Sstt… sudahlah. Aku menyukaimu karena kamulah satu-satunya….”
“Tapi, sungguh. Aku tidak punya apa-apa….”
“Ah, gombal!”
“Kamu cinta kepadaku, Syan?”
“Ah, kenapa harus gunakan kata-kata usang itu?”
“Kenapa? Eh, kenapa ya?”

Syanda mengerjapkan matanya. Pluit panjang berbunyi mengakhiri lamunannya. Membuyarkan masa-masa indahnya semasih bersama Aditya di setiap malam Minggu. Masa-masa dia masih bimbang mengungkapkan kata-kata cinta untuk Aditya.
Namun kini dia tahu, sebenarnya yang membuatnya enggan mengatakan cinta bukan karena ragu tapi lantaran dia sudah terlampau yakin. Kata itu tidak lagi diperlukan. Semua sikap Aditya dan sikapnya telah mencerminkan cinta itu sendiri. Tanpa suara, tanpa kata-kata!
Deru kereta makin menggema saat memasuki stasiun. Syanda bersiap, matanya mencari-cari lewat jendela. Apakah Sonya betul menjemputnya atau malah lupa?
“Syanda!”
Syanda tersentak. Menoleh ke arah kanan, nyaris terpeleset dari tangga kereta. Dilihatnya Santi berlari ke arahnya. Saat itu juga kopernya terlepas dari pegangannya. Disambutnya Santi. Disambutnya udara kota kelahirannya. Disambutnya segalanya.
“Syanda…!”
“Santi… apa kabar?”
“Baik. Kamu sendiri?”
“Seperti yang kamu lihat.” Syanda mengerjapkan matanya menahan tangis haru. “Aku baik-baik saja. Dan kurasa apa yang akan kutemui di sini akan membuatku merasa semakin baik.”
Santi menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Dalam dirinya terbersit keinginan untuk menjadi wanita setegar kakaknya. Yang begitu mengagungkan kesetiaannya terhadap cinta pertamanya, hingga rela melakukan apa saja. Sekadar membuktikan dia memang hidup atas dasar dan untuk cinta suci.
“Kamu agak kurusan, Syan.”
“Ya. Dan kamu pun nampak seperti gadis… hm, maksudku seperti bidadari yang turun lewat titian pelangi, dan baru selesai mandi di sungai. Kamu tambah dewasa dan cantik, Santi.”
“Dan aku sendiri bidadari yang membawa kabar gembira ini kepada Santi dan pada Mamamu!” Tiba-tiba saja Sonya sudah berada di tengah mereka.
“Sonya…!” Syanda memeluk sahabatnya.
“Selamat datang kembali, Syanda Manis-ku!” balas Sonya.
“Terima kasih.”
“Mari kubantu.” Sonya membantu mengangkat beberapa travelling bag Syanda. Beriringan mereka berjalan meninggalkan stasiun yang mulai ramai lagi oleh suara pluit. Kereta datang silih berganti, sama halnya dengan kehidupan manusia, suka dan duka silih berganti. Berputar bagai roda pedati.
“Satu tahun rasanya seperti berabad-abad,” kenang Syanda sumringah.
“Apa saja yang kamu lakukan di sana?” tanya Santi.
“Aku? Apa, ya? Merenung, menulis puisi, bekerja sebagai pramuniaga untuk membayar pondokan dan makan. Itu saja.”
“Kamu hebat,” puji Santi lugas.
“Ah, tidak,” Syanda tertegun. “Tapi, kalau kamu katakan aku berjuang, rasanya memang iya. Dan sekarang perjuanganku telah berhasil.”
“Jangan membuat puisi di jalanan, Syan,” kelakar Sonya.
Mereka tertawa bareng.
“Oya, Mama tidak ikut?”
“Jaga rumah. Katanya, supaya kalau pingsan tidak merepotkan,” gurau Santi.
“Oh, aku sudah kangen banget sama Mamaku, Son. Eh, apakah kamu sudah memberitahu Aditya?”
Sesaat hening. Tiba-tiba saja terasa kebekuan di antara tawa hangat mereka. Ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang sumbang tatkala Sonya mencoba tersenyum dan bergurau.
“Aditya sudah tidak di panti rehabilitasi ‘Nusa Bangsa’ lagi, Syan…,” ujar Sonya ragu.
“Oya? Di mana dia sekarang?” Syanda nyaris melonjak kegirangan.
“Kamu tidak tahu?”
“Dari mana aku tahu? Kami tidak pernah SMS-an lagi….”
“Dan mungkin juga sudah ganti nomor,” sela Santi menimbrung.
“Ada apa sebenarnya?” Syanda mengernyitkan dahinya.
“Tidak ada apa-apa.” Sonya menggeleng. “Harusnya kamu gembira Aditya sudah tidak lagi berada di panti rehabilitasi itu. Juga karena nama dan reputasi Aditya kini telah bersih. Tidak seorang pun lagi yang dapat menuding dan menuduhnya sebagai berandalan.”
Syanda tercenung. Ya, semestinya dia gembira. Tapi dalam suasana haru seperti ini, perasaannya berkata lain. Ada sesuatu yang disembunyikan Sonya. Dan sesuatu itu agaknya tidak menyenangkan. Tentang Aditya. Ya, Aditya-nya….

***

Dengan hati berbunga-bunga Syanda menapaki anak tangga serba putih yang mengantarkannya ke gerbang gereja. Dia tahu, sejak dulu, Aditya yang suka begadang itu adalah juga Aditya yang rajin ke gereja lengkap dengan alkitab dan madah baktinya. Kemarin dia surprais menerima SMS dari Aditya. Mengundangnya bertemu di gereja Katolik tua ini.
Setengah enam sore. Misa tengah berlangsung. Syanda mengambil tempat agak di belakang. Ditundukkannya kepalanya dan mulai berdoa. Menunggu penuh harap, akan datang seseorang menegurnya, duduk di sebelahnya seperti janji yang tertulis dalam layar ponselnya malam tadi. Aditya mengajaknya bertemu di gereja ini.
Sementara itu frater di atas mimbar terus membacakan firman Tuhan, dan menginterpretasikannya sehingga manusia lebih mudah mengamalkannya di dunia ini. Namun, pikiran Syanda tidak terpusat pada kotbah di atas mimbar.
“Aditya…!” desisnya sewaktu dilihatnya bahu bidang berkemeja kotak-kotak, berambut klimis. Agak kurusan memang, tapi dia kenal betul. Dicondongkannya tubuhnya agak ke muka untuk menyentuh bahu berkemeja kotak-kotak itu.
“Dit…!” panggilnya pelan.
Perlahan pemuda itu menoleh. Gadis di sebelahnya pun ikut menoleh. Sesaat Syanda terkesiap. Ditutupnya bibirnya dengan jemarinya.
“Anda memanggil saya?”
“Eh, ma-maaf. Saya pikir Anda Aditya, teman lama saya. Dari belakang tadi Anda tampak mirip dengan teman saya itu.” Syanda gelagapan malu. Apalagi gadis di sebelah cowok itu barusan memandangnya dengan tatapan tidak senang.
“Maaf, ya?” ujar Syanda sekali lagi. Kali ini maksudnya kepada cewek bermata gundu itu. “Saya mengganggu konsentrasi Anda.” Syanda mundur, dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
“Tidak apa,” balas cowok itu, lalu mengurai senyum tipis.
Bukan Aditya. Lantas, di mana Aditya-nya? Bukankah pesan SMS kemarin Aditya menulis akan menemuinya di gereja ini? Syanda menatap sekelilingnya sekali lagi, dan dia yakin Aditya tidak pernah berbohong. Karena itu dia berusaha bersabar beberapa saat lagi sambil mendengar kotbah frater.
“… sebab itu hendaklah kita memperlakukan sesama kita seperti orang yang paling kita kasihi, seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Sebab segala yang kita miliki saat ini; harta, harkat, martabat; datangnya dari Yang Di Atas Sana, dan suatu saat akan kembali juga ke asalnya. Hidup adalah ujian sebelum masuk dalam kerajaan-Nya yang kekal. Amin.”
Umat menyambut usainya kotbah frater dengan koor panjang. “Sekarang dan selamanya….”
Bibir Syanda ikut bergerak mengucapkan kalimat itu, namun dalam benaknya hadir sejuta tanya. Tentang suara si Pengkotbah tadi. Ah, seperti begitu diakrabinya pada suatu masa dulu. Syanda menatap tanpa berkedip ke arah mimbar.
“Aditya…!” desisnya.
Tidak dipedulikannya beberapa pasang mata yang menatap heran waktu dia melangkah. Pindah ke deretan kursi terdepan. Sekadar memastikan, pemuda yang dilihatnya memang Aditya!
“A-Aditya… kamukah itu?” tanyanya perlahan sewaktu frater melintas di hadapannya.
Pemuda berjubah panjang serba putih itu menghentikan langkahnya. Menatap  Syanda dengan tatapan setenang air telaga. Ah, mata itu bukan lagi mata yang penuh dengan ambisi. Mata itu telah berubah, namun tidak bisa membohongi Syanda bahwa inilah pemuda yang dicarinya. Inilah pemuda yang memaksa hatinya kembali dari tempat pengasingannya.
“Syanda?” Kening frater berkerut.
“A-Aditya… ka-kamu benar, Aditya?!”
“Ikut saya seusai misa,” ujar frater.