05 February 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 09

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 09
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Suatu Tempat dalam Kurungan Hening

Satu Tahun Kemudian

Aditya tertegun membaca puisi yang didapatinya dalam sebuah majalah. Dan nama penulis puisi itu makin membuat dadanya bergetar.

Suatu tempat dalam kurungan hening
jalan-jalan dengan lampu temaram
keriuhan menjelma dalam senyap
mengajarkan hati untuk bersikap sederhana

Kota telah lelap tertidur
kudengar suara mendengkur
kututup buku harianku
bisikkan merdu di telingaku

Bahwa tak akan kutemukan lagi
orang yang pernah kau tinggalkan
oh, cintaku yang sejati
tangisku pecah bersama bumi

Syanda!
Kurang lebih setahun. Ah, nama itu masih begitu lekat di hatinya. Bahkan, menjelang saat-saat terakhirnya di panti rehabilitasi ini. Beratus-ratus hari lewat sudah. Aditya membalik kalender yang penuh coretan merah. Begitu banyak coretan merah yang menandakan ketidakhadiran Syanda.
Dan hari ini, nama itu sekonyong-konyong kembali berdenyar. Sejak kapan Syanda menulis puisi? Aditya tahu bahwa Syanda telah pergi jauh. Entah ke mana. Semua diketahuinya dari Sonya. Namun, hingga detik ini tidak ada sebaris pun SMS terkirim di HP-nya. Tidak sepotong berita pun terbang ke telinganya sekadar memberitahu tujuan Syanda mengucilkan diri. Apakah untuk menghindariku? Apakah dia malu? Aditya membatin gundah.
Beratus hari di panti rehabilitasi ini membuatnya merasa selangkah lebih dewasa. Dari Romo Dirgo dia banyak belajar tentang Tuhan. Tentang kebatilan dan kebajikan. Dan semua itu membuatnya arif, mampu menahan segala rasa yang menghunjam tatkala Syanda perlahan-lahan mulai berpaling darinya.
Hampir setahun.
Aditya menghela napas. Agaknya Syanda tidak menganggap dirinya sebagai bagian hidupnya lagi. Agaknya Syanda tidak ingat lagi kepadanya. Agaknya semua memang harus terkubur.
“Selamat sore, Aditya,” sapa Romo Dirgo.
“Eh, Romo….”
“Tertarik pada puisi?”
“Eh, ti-tidak. Kebetulan penulisnya adalah….”
“Gadismu?” terka Romo Dirgo.
“Romo tahu? Ah, dia bukan lagi milik saya….” kilah Aditya dengan mata masih menyimpan harap.
Romo Dirgo mengangguk bijak. “Berapa kali Romo bilang, Aditya. Kita ini hanya anak wayang. Apapun yang terjadi merupakan kehendak Ki Dalang. Dan kamu tahu, siapa Dalang kita?”
Aditya mengangguk. Kepalanya menengadah ke atas. Dilihatnya matahari mulai terbenam di sisi barat. Tenggelam membawa impiannya selama ini. Dibacanya bait demi bait puisi Syanda sekali lagi, tapi tidak ditemukannya apa-apa. Dia memang tidak mengerti apapun tentang puisi. Bahkan, puisi yang ditulis Syanda sekalipun.
Baginya, sikap Syanda selama ini merupakan ultimatum putusnya hubungan mereka. Mengapa kamu tidak berterus terang kepadaku, Syanda? Sejak dulu masih kusimpan segalanya. Tapi hari ini, malam terakhir di panti rehabilitasi ini, malam kebebasanku, kamu tetap tidak datang. Tidak juga kabarmu. Kita telah begitu jauh, dan aku si tolol ini masih menyimpan segala kenangan yang kita rajut bersama dulu.
“Saya telah mengerti, Romo.”
“Bagus.”
“Saya telah mantap. Terima kasih untuk segalanya, Romo.”
“Bukan saya, tapi Dia yang di atas sana.” Romo Dirgo menunjuk ke langit.
Dan sekali lagi Aditya melihat matahari bergerak kemerahan, dan sosok Syanda sekilas melintas. Seperti melambai. Lantas ikut tenggelam bersama matahari. Ke ujung barat. Ujung tanpa batas. Ujung yang entah di mana. Ujung yang tidak pernah dapat terkejar.

***

“Suaramukah itu, Syan?!” seru Sonya seperti menemukan kembali sahabatnya yang hilang.
“Ya, ya….” Syanda tertawa tertahan.
“Ya Allah, kupikir kamu telah….”
“Kamu pikir aku bunuh diri, ya? Karena kebingungan, begitu?”
“Bukan itu saja. Aku pikir kamu lebih ketimbang itu….”
“Apa itu?”
“Aku pikir, kamu adalah hantu yang mengabariku via HP-ku. Hahaha….”
“Ah, ada-ada saja kamu ini, Son.”
“Hahaha. Tapi, aku cukup surprais juga waktu membaca namamu pada sebuah majalah.”
“Puisiku?”
“Ya. Bahkan majalah itu sempat kuberikan kepada… maaf, kamu jangan marah ya?” Suara Sonya Melemah.
Syanda merapatkan ponsel ke telinganya. “Aditya…?” terkanya yakin dengan suara pelan sebelum Sonya menuntaskan kalimatnya.
“Ya.”
Syanda menghela napas. Satu tahun memang bukan waktu yang sebentar. Tiga ratus enam puluh hari lebih telah ditinggalkannya semua yang pernah jadi bagian hidupnya hanya sekadar membuktikan, siapakah sebenarnya yang paling memaksanya untuk segera pulang serta siapa yang paling dirindukannya!
Dan sekarang semua telah terjawab. Untuk siapa dia pergi dan untuk siapa dia pulang kini….
“Kamu masih di sana, Syan?” tegur Sonya.
“Ya, ya. Apa kabarnya Aditya?”
“Baik.”
“Aku pun telah mengiriminya SMS. Barusan.”
“Bagus itu. Kamu tahu, belakangan ini Aditya mulai sering menulis dan juga ditulis….”
“Maksudmu? Menulis puisi seperti aku? Ah, sejak kapan Aditya mengerti soal seni?” seru Syanda tidak percaya.
“Bukan puisi, tapi… ah, aku pun tidak mengerti apa namanya. Tapi yang jelas, Aditya banyak membantu sebuah majalah rohani dalam rubrik tanya jawab. Semacam konsultasilah. Dia juga mengasuh sebuah kolom di majalah tersebut yang menyerukan antidrugs!”
“Oya?”
“Ya. Dan dia juga banyak ditulis di media massa. Semua mata mulai terbuka bahwa sebetulnya Aditya dulu tidak bersalah. Dia hanya korban drugs semata.”
Syanda tertegun. Inikah jawaban Tuhan atas doanya selama ini? Inikah jawaban dari segala penantian dan kesetiaannya? Rasa-rasanya ingin segera dikejarnya kereta api di Stasiun Solobalapan dan berangkat kembali ke Jakarta. Berkumpul kembali di tengah orang-orang yang ditinggalkannya. Mama, Papa, Santi, Sonya, Ivan, dan… Aditya! Semuanya terasa berakhir dengan begitu manis.
“Syanda, kapan kamu kembali?”
“Besok sore.”
“Beri kepastian, Syan. Aku akan menjemputmu.”
“Thank’s. Oya, sebelum lupa, bagaimana kabar Mama dan Santi?” tanya Syanda.
“Astaga! Jadi kamu bahkan belum pernah sekali pun mengabari mereka? Kamu keterlaluan, Syan! Putri durhaka!” Sonya tergelak. “Terkutuklah kamu!”
“Aku ingin kepulanganku menjadi sebuah kejutan. Untuk semuanya, kecuali kamu karena aku tahu kamu jantungan.” Syanda mengolok, lalu ikut tergelak.
“Mulai lagi, nih!”
“Oke, besok sore aku kembali. Jemput, ya? Salamku untuk Aditya… eh, jangan! Jangan bilang siapa-siapa, ya?”
“Ehem….” Di seberang sana Sonya sengaja berdeham.
“Janji, ya?”
“Iya, iya. Eh, hati-hati ya, Non. Besok kujemput kamu.”
“Thank’s ya, Son. Bye.”
Bip.
Syanda menutup HP-nya. Ditinggalkannya travel kecil samping pondokannya di daerah Makam Haji dengan dada lapang sembari mengipas-ngipaskan badannya dengan tiket kereta apinnya. Sesaat ditatapnya langit biru, lalu gugusan rumah sederhana dengan atap genteng khas penduduk Kota Solo. Kurang lebih setahun diakrabinya semuanya dalam masa permenungannya. Menyepi, menggali makna hidup ini. Dan keramahan kota kecil di belahan tengah Pulau Jawa itu telah membantu menjernihkan pikirannya. Menenteramkan hatinya yang dilanda kegalauan. Membantunya menentukan siapa yang pantas mendampingi hidupnya kelak.
Cerita Sonya telah membuncahkan kebahagiaan di hatinya. Inilah akhir cerita lara yang dirangkainya bersama Aditya. Dia akan minta maaf kepada Aditya atas keraguannya selama ini. Dan semua orang akan minta maaf kepada Aditya. Atas tuduhan mereka yang tidak benar sama sekali tentang Aditya yang terlibat dalam penggunaan narkoba.
Senyum Syanda mengembang. Semuanya bakal menjadi pelangi.