04 February 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 08

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 08
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Miss You Like Crazy

Syanda mengemasi barang-barang yang akan dibawanya ke dalam koper. Pakaian, iPod Apple, kamera, dan beberapa perlengkapan yang diperlukannya untuk mengusir sepi di tempat pengasingannya nanti.
“Semua ini tidak bakal menyelesaikan masalah,” ujar Mama, berusaha menahan kepergian putri sulungnya itu.
“Tidak, Ma.”
“Apanya yang tidak? Bagaimana dengan kuliahmu?” Mama membelai rambut Syanda. “Tidak seharusnya kamu lari di saat seperti ini, Syan! Ini bukan jalan keluar!”
“Tapi, Syanda harus pergi, Ma. Syanda sudah izin cuti semester. Syanda perlu istirahat.”
“Kenapa? Bukankah kamu di sini telah….”
“Maksud Mama… Ivan?!” desis Syanda getir.
“Yah, siapa pun….”
“Sudahlah, Ma….” Syanda menutup kopernya sambil berusaha menghentikan ocehan Mamanya.
“Jangan pergi, Syan….” bujuk Mama dengan tatapan kecewa.
Syanda menggeleng. Dialihkannya matanya keluar jendela. Pikirannya menerawang. Sesuatu yang sejak dulu tak mampu dijawabnya. Itulah yang memaksa dan membulatkan tekadnya untuk pergi sesaat. Menguji diri dan mencari jawaban yang pasti. Mencari cintanya yang sejati!
“Syan…!” Wanita separo baya itu menghela napas panjang. “Ivan baik….”
Syanda menatap Mamanya. Wanita yang dikasihinya itu memang tidak menyukai Aditya. Dan rasanya semua orang pun akan bersikap sama. Ivan dibandingkan Aditya memang ibarat bumi dan langit. Syanda heran, mengapa dia merasakan kebahagiaan yang sama. Padahal, dalam soal karakter, kedua pemuda itu sangat berbeda. Amat berbeda!
“Saat ini Syanda memang dekat dengan Ivan, Ma. Sementara Aditya berada jauh dari Syanda. Kalau Mama menyukai Ivan, Mama tidak salah. Tapi tolong, biarkan Syanda mengambil keputusan sendiri, Ma. Syanda akan mencari jawabannya,” pinta Syanda. Matanya terasa hangat.
“Ivan tahu rencana keberangkatanmu?” tanya Mama akhir-nya dengan nada suara pasrah.
“Tidak seorang pun tahu. Tidak Ivan, tidak Aditya. Tidak siapa pun tahu ke mana Syanda akan pergi, dan berapa lama!”
“Tidak juga Mama?! Syan, kamu akan memberitahu tempat tinggalmu kepada Mama, kan?” tanya Mama penuh harap.
Syanda mengusap wajah. Bukan tidak mungkin Mamalah yang akan menjadi orang pertama yang paling bersemangat mengacaukan acara pengasingannya. (Meski jauh-jauh hari Papa sudah mengusulkan agar Syanda kuliah di luar negeri dan belajar hidup mandiri di sana, tapi baru kali inilah terpikir olehnya). Dia juga yakin kalau Mama tidak akan berhenti menghalangi niatnya sebelum mendapat jawaban yang pasti tentang perpisahannya dengan Aditya. Karena itu digelengkannya kepalanya.
“Ya, tidak juga Mama. Papa. Santi. Maafkan Syanda, Ma. Untuk kali ini saja biarkanlah Syanda melakukan sesuatu atas dasar keinginan Syanda sendiri. Bila tiba saatnya, Syanda pasti akan mengabari Mama, Papa, dan Santi.”
Dipeluknya Mamanya. Direbahkannya kepalanya di bahu bidang Mama. Dijatuhkannya airmatanya di sana. Perpisahan memang terasa berat. Namun, keputusan telah bulat. Mungkin dalam kesendiriannya nanti akan ditemukannya jawaban yang dicarinya selama ini. Sebuah jawaban untuk menjawabi kebimbangan dan dilematisasi yang selama ini melingkupi hidupnya.

***

Lagu lawas ‘Miss You Like Crazy’ dari The Moffatts yang menemaninya selama perjalanan dalam kereta api masih mengalun di telinganya lewat dua kabel iPod Apple. Ah, sebetulnya haruskah kuteruskan rencana kepergianku ini? Apakah yang kucari di sana? Hanya sebentuk keputusan, dan untuk itu harus juga kutinggalkan Ivan dengan segebung cinta yang tulus diberikannya untukku? Apakah kepergianku ini bukan sekadar pelarian diri belaka? Syanda membatin galau.
Dipijitnya keningnya yang terasa pening. Dimatikannya iPod Apple dan dicopotnya kabel earphone yang menyambung di telinganya. Terdengar gerus deru kereta api. Dibukanya jendela. Angin dingin menerpa wajahnya yang masai.
“Maaf, apakah tidak lebih baik jendelanya ditutup saja?” Selantun suara tiba-tiba menegurnya dari arah belakang. Dari deretan kursi di belakangnya.
Syanda tercekat. Suara itu memaksanya untuk menoleh ke belakang. Untuk memastikan bahwa….
“Astaga…!”
“Yap. Aku ikut. Kamu marah?”
“Ka-kamu….”
“Kursi sebelahmu kosong?”
Syanda mengangguk, masih setengah tercengang.
Ivan bergerak, berpindah tempat duduk. Tubuhnya sedikit limbung karena getaran di kereta api.
“Lebih sulit berjalan di kereta api ketimbang di pesawat udara,” keluh Ivan dengan mimik jenaka.
“Ivan, sebelum aku marah, katakan dari mana kamu tahu tentang kepergianku ini?” tanya Syanda dengan hati tidak menentu. Apakah dia harus jengkel karena Ivan mengacaukan rencananya, ataukah dia harus gembira karena ternyata….
“Baiklah, sebelum kamu marah, sebelum aku bercerita, aku minta jaminan bahwa kamu tidak bakal memusuhi ‘si Mata-mata’ itu?”
“Oke. Aku janji.”
“Sonya….”
“A-anak itu…?!”
“Hei, kamu sudah janji….”
“Oke, oke. Aku tidak marah, kok.”
“Suer?”
Syanda mengangguk dan tertawa geli menyaksikan mimik bersalah Ivan. Amarahnya yang sempat mengubun tadi perlahan mereda.
Ivan menghela napas. Ditatapnya seraut wajah mungil dengan rambut tergerai di hadapannya. Wajah yang belakangan ini membuat hari-harinya menjadi bergairah setelah berpisah dengan Mita. Wajah yang membuatnya lebih mengenal arti hidup ini. Wajah yang selalu ingin disimpannya dalam hati. Selalu….
“Mengapa kamu tidak memberitahuku keberangkatanmu ini?” tuntut Ivan serius. Dahinya mengerut.
Syanda tergagap. “Ak-aku… aku bahkan tidak memberitahu Mama.”
“Aku mengerti. Tapi untuk apa semua ini, Syan?!”
“Untuk masa depanku. Mungkin kamu tidak mengerti, Van. Tapi bagiku, ke mana kaki akan melangkah harus diputuskan dengan sungguh-sungguh. Karena aku takut kecewa. Takut salah langkah.”
“Maksudmu?”
Syanda tertunduk. Haruskah dijelaskannya bahwa hatinya masih terpaut utuh kepada Aditya?! Haruskah Ivan tahu bahwa bayang Aditya pun masih sering menghiasi mimpinya?!
“Kenapa kamu pergi, Syan?!”
“Aku pergi untuk mencari jawaban demi diriku sendiri, Van. Karena itu, biarlah kucari jawaban itu sendiri tanpa dipengaruhi siapapun. Tidak terkecuali kamu yang baik kepadaku!” Airmata Syanda menggenang. Di luar, deru kereta semakin menderas.
“Seandainya saja aku dapat menolongmu mencari jawaban itu,” desah Ivan seraya menghela napasnya.
“Kamu bisa menolongku!”
“Caranya?”
“Turun di peron terdekat. Tinggalkan aku!” ujar Syanda, tidak berani menatap mata elang Ivan. Dia tahu, hatinya tidak akan kuat bila memandang tatapan tulus dan penuh harap dari Ivan. Tatapan yang begitu menjanjikan namun harus segera dienyahkannya.
“Ja-jadi… kamu sungguh-sungguh… ah, Syan! Ak-aku mencintaimu! Aku tidak ingin ada nama lain dalam hatimu. Sumpah, aku cinta kamu!” Ivan menggenggam erat lengan Syanda dan berbisik dengan suara parau ke telinga Syanda.
 Hening sesaat. Kereta terus melaju sampai pluit terdengar tanda kereta memasuki peron perhentian sesaat. Tangan mereka masih saling menggenggam erat. Erat sekali.
Syanda menatap Ivan dengan hati tidak menentu. Betapa ingin kepala ini mengangguk, betapa ingin kusambut mata yang menjanjikan itu, betapa ingin kutumpahkan tangis di dada bidang itu. Betapa….
Ah, betapa sulit untuk memutuskan itu semua, karena jauh di sana, ada sepotong hati di mana terlanjur kutorehkan janji. Sepotong hati di mana telah terajut banyak kenangan. Kepala Syanda menggeleng kecil, perlahan dan ragu.
“Syan… ka-kamu…!” Ivan mendesah serak.
“Van, aku harus mencari jawaban itu dari diriku sendiri. Jawaban itu tidak datang dari kamu. Tidak dari siapapun. Kamu mau mengerti, kan?”
Ivan menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan airmata yang menggantung di sudut matanya. Belum pernah Ivan secengeng ini, batin Syanda getir. Aku telah melukai hatinya, tapi itu lebih baik ketimbang nanti kulukai dia dengan pilihanku yang keliru.
“Aku harus jujur kepada diriku sendiri, Van. Saat ini aku ragu. Cobalah untuk mengerti. Aku tidak ingin mengecewakan siapapun. Tidak kamu, tidak Aditya!”
“Ja-jadi… kamu masih menyimpan Aditya dalam hatimu?!”
Syanda tertegun. Jadi dia masih menyimpan Aditya dalam hatinya? Perlahan kepalanya mengangguk.
“Ya!”
“Ja-jadi….”
“Aku mencintainya!”
“Sadarilah, Syan. Selama ini, apa yang diberikan Aditya untukmu? Tidak ada selain penantian, penderitaan, kesepian dan kemarahan Mamamu belaka. Tapi ternyata, kamu masih tetap menyimpan namanya dalam hatimu. Bahkan dengan kehadiranku, dengan segala kebahagiaan yang berusaha kuberikan untukmu agar melupakan Aditya, kamu masih tetap bertahan. Kamu ragu, itu wajar. Tapi bagiku, segalanya telah terjawab!” Ivan mengangkat dirinya dari bangku kereta.
“Ivan…!”
“Aku harus bergegas, kalau tidak kereta ini akan terlanjur berangkat lagi dan membawaku ikut ke tempat pengasinganmu di Solo. Aku akan turun di sini!” Ivan mengulurkan tangannya seperti hendak memberi selamat.
“Ma-maafkan aku, Van….”
“Selamat, Syan. Belum pernah kutemukan gadis setegar dan sesetia dirimu. Seandainya aku adalah Aditya, betapa bahagianya aku.”
Syanda ternganga. Pluit panjang berbunyi lagi tanda kereta api akan segera meninggalkan peron persinggahan. Ivan bergegas menjinjing travelling bag-nya. Rupanya keputusannya telah bulat. Sesaat Syanda tercenung bimbang.
Betapa inginnya dia menarik tangan Ivan dan mengajaknya ikut ke tempat pengasingannya. Betapa rindunya dia mendengar tawa dan canda yang selama ini mengakrabinya! Dan, semuanya itu dari Ivan. Ketulusan yang ditampiknya atas nama cinta pertama.
Perlahan dirasakannya airmata mengalir di pipinya. Sebilah jari hangat menyusutnya. Membelainya. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
“Selamat tinggal, Syan. Keraguanmu adalah jawaban bagiku!”
“I-Ivan… ak-aku sayang kamu,” desah Syanda terisak.
“Tidak, Syan. Airmatamu adalah airmata untuk Aditya. Aku merasakan itu sejak lama. Sesaat masih kucoba untuk mengajakmu melangkah bersamaku, hanya bersamaku. Belakangan ini, aku tahu kamu tidak mungkin melupakan Aditya!”
Pluit panjang berbunyi lagi.
“Aku harus pergi!” Ivan mengecup kening Syanda sekilas.
Mata Syanda memejam. Dia tidak berani membuka matanya dan menatap hilangnya Ivan dari gerbong. Dia takut kakinya akan bergerak mengejar Ivan. Deru kereta api terdengar lagi. Makin lama makin cepat. Berlomba dengan deras airmata yang mengalir membasahi pipi Syanda. Makin lama makin deras.
Sebenarnya apa yang kucari selama ini? Sekeping cinta atau hanya seonggok kebahagiaan semu belaka? Lewat jendela kereta api, Syanda menatap jauh ke langit luas. Berdoa agar di sana ada jawaban untuknya.
Namun semua tetap membisu.