04 February 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 07

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 07
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Sepenggal Cinta Lain
  
Hari terus bergulir bagai roda pedati yang terus berputar. Dan Syanda semakin larut dalam memori indah hari-harinya yang hilang dulu. Segalanya. Hampir segalanya ditemukannya dalam diri Ivan. Semua sifat Aditya, tercermin dari sikap dan tingkah Ivan. Di sana, ada kebahagiaan yang pernah menjadi bagian termanis dalam hidupnya. Tanpa dia sadari, semua itu semakin melarutkannya. Menyeretnya lebih jauh ke alam yang sebetulnya semu. Yang sebetulnya sama sekali tidak diinginkannya.
Senja itu, seusai menghabiskan seharian waktu JJS di Grand Indonesia, Sarinah Thamrin, mereka beristirahat di Starbucks.
“Minum apa?” tanya Ivan pada Syanda sewaktu pelayan datang.
“Cappuccino.”
“Makan?” 
Syanda menggeleng.
“Cappuccino satu, espresso satu, dan roti cruissant-nya,” ujar Ivan kepada pelayan.
“Kenapa kamu baik banget sama aku, Van?” tanya Syanda, lebih untuk dirinya sendiri.
“Aku? Baik sama kamu? Kamu ini lucu.” Ivan tersenyum.
“Ak-aku… ah maksudku, sebelumnya belum pernah ada orang setulus kamu selain….”
Mereka bertatapan. Tanpa sadar, sesaat jemari mereka saling menggenggam, namun Syanda sadar dan cepat menarik-nya.
“Maafkan aku,” tukas Ivan, seperti tahu apa yang ada di benak gadis di hadapannya. Seolah tahu bahwa Aditya masih menjadi bayang-bayang baginya.
“Mungkin aku adalah orang terbodoh di dunia,” keluh Syanda. “Seorang calon psikolog yang tidak mampu menolong dirinya sendiri.”
“Aditya….”
“Dia….”
“Aku tidak pernah memaksamu untuk bertindak apapun, Syan.”
“Aku tahu, karena itu kukatakan kamu adalah satu-satunya orang yang tulus yang pernah kukenal selain Aditya.”
Ivan terdiam dengan pandangan menerawang. Ludahnya tiba-tiba memahit.
“Ak-aku takut dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Tapi, ah… lupakanlah. Bicaraku memang tidak karuan.” Syanda mengibaskan tangannya seolah ingin mengusir pikiran yang sempat melintas barusan.
“Kamu masih mempertahankan kesetiaan bagi Aditya?” tanya Ivan perlahan. Di matanya tersimpan berjuta harap cemas.
Syanda mengangguk. Tapi sesaat kemudian menggeleng. Mengangkat bahunya seperti orang bingung yang tidak memiliki pegangan sama sekali.
“Aku tidak tahu,” desisnya.
“Kamu sedang gundah, Syan. Dan aku tidak pernah memaksamu untuk memutuskan apapun. Biarlah waktu yang mengatur segalanya….”
“Yang aku tahu, aku harus menyelesaikan semuanya,” putus Syanda sambil menatap lurus ke dinding kaca berlogo Starbucks.
“Maksudmu, kamu akan…?”
“Aku akan mengosongkan hati dan pikiranku sementara waktu tanpa seorang pun yang mengganggu.”
“Ja-jadi…?”
“Aku harus memberi tahu Aditya. Kurasa… ah, bagaimana pendapatmu?”
Percakapan terhenti sesaat ketika pesanan mereka datang. Syanda mengaduk-aduk cappuccino-nya tanpa semangat. Sementara Ivan menatap roti cruissant-nya dengan perasaan hambar.”
“Itu keputusan yang baik. Tapi, apakah tidak terlalu terburu-buru?”
“Tidak. Orang-orang benar, aku harus mulai memikirkan diriku sendiri. Masa depanku.”
“Kamu mencintainya, Syan?” Ivan seolah menuntut jawaban yang pasti.
Syanda mengangkat bahunya seraya menghela napas berat. “Sejak dulu aku tidak pernah tahu jawabannya.”
“Kamu harus membuktikannya.”
“Caranya?”
“Mungkin dengan tidak menemuinya untuk sementara waktu. Atau… ah, aku bingung!”
Syanda tertawa dengan mimik paksa. Entah apa yang ditertawakan. Mungkin jalinan kehidupannya yang terasa kian rumit dari hari ke hari.
Mereka menghabiskan minuman dan makanan tanpa banyak bicara. Ketika mendung memayungi bumi, mereka beranjak meninggalkan Starbucks. Di luar, senja mulai basah oleh gerimis.
Syanda menerawang.
Dibiarkannya Ivan memakaikan jaketnya dan menggandengnya menuju mobil. Perhatian dan kesabaran Ivan semakin membuatnya terjerat. Semakin mendilematisasikannya terhadap dua pilihan yang sama-sama sulit.
Aditya adalah bagian dari hari-harinya yang dulu. Dan Ivan….
“Ke mana sekarang?” tegur Ivan ketika mobil mulai melaju meninggalkan pelataran parkir.
“Ke mana lagi? Sudah seharian kita jalan-jalan, atau apa kamu mau bawa aku ke bulan?” canda Syanda.
“Mungkin. Ke mana saja, asal kamu tidak bermuram durja begitu.”
Sekilas dirasakannya tangan Ivan membelai pelipisnya. Ah.
“Hentikan segala kebaikanmu ini, Van,” desahnya perlahan.
Sungguh. Dia tidak ingin mengkhianati Aditya.

***

“Aku mendapat SMS dari Aditya,” lapor Syanda kepada Sonya melalui horn di HP-nya.
“Oya?”
“Ya. Dan aku butuh pertimbanganmu.”
“Apa yang ditulisnya?”
“Antara lain, dia kangen. Dia bingung karena aku tidak membesuknya lagi. Dia bertanya tentang banyak hal.”
“Jadi, kamu benar-benar sudah tidak pernah mengunjunginya lagi?” pekik Sonya tertahan. “Gila kamu! Sebuah revolusi yang tidak pernah kuduga sebelumnya.”
“Kini aku harus memutuskan sesuatu, sebelum melangkah lebih jauh.”
“Dengan Ivan?”
“Ah, Sonya. Antara aku dan Ivan tidak pernah ada apa-apa. Bagiku, dia adalah dewa penyelamat. Aku tidak pernah berani membayangkan lebih dari itu.”
“Lalu, apa rencanamu?”
“Aku akan membalas SMS-nya, atau mungkin mendatangi Aditya dan menceritakan semuanya. Kurasa, keterusterangan lebih baik sekalipun kelihatannya menyakitkan. Aku tidak mau membohongi Aditya.”
“Kamu masih mencintainya, Syan? Soalnya, aku merasakan hal itu dari ucapanmu.”
“Cinta? Ak-aku….”
“Sudahlah….” Sonya tidak mau peduli. Dia sadar benar kalau Syanda masih menyimpan perasaan cintanya untuk Aditya.
“Jadi, menurutmu, apakah aku harus juga memberitahu Ivan?”
“Ya, kalau prinsipmu adalah keterbukaan. Tapi, hei… kamu kan tidak mengatakan bahwa kamu mencintai Ivan?”
“Son, please. Berhentilah mengucapkan kata ‘cinta’,” pinta Syanda.
“Oke.” Sonya tertawa.
“Tapi, Son, aku ragu. Aku takut perbuatanku hanya akan menambah luka hati Aditya. Kamu kan tahu, selama ini semua orang telah meremehkannya. Meninggalkannya. Apa jadinya kalau aku pun, orang yang paling dipercayainya, ikut berpaling dari dia?”
“Syan, kamu kan tetap temannya. Hanya, ikatan yang ada di antara kalian kini agak renggang. Tidak serapat dulu. Jelaskanlah kepadanya. Kamu kan, calon psikolog….”
Syanda menghela napas panjang.
“Masih ada lagi?” tanya Sonya.
“Tidak. Thank’s.”
Syanda mematikan HP-nya. Hatinya berdebar. Dia harus membenahi kehidupannya sendiri. Dia tidak selamanya harus bergantung pada kesetiaannya menanti Aditya. Dan membiarkan hidupnya sendiri porak-poranda. Selama ini orang-orang ternyata benar, hanya dia yang kelewat sentimentil. Menutup mata dan telinganya rapat-rapat sehingga dibutakan cinta.
Pikirannya melayang kepada Ivan. Ataukah, keputusan ini datang karena ada Ivan? Karena ada yang menjanjikan hari baru? Mungkin dia akan membiarkan waktu mengatur segalanya. Seperti kata Ivan, believe in time.
Maafkan aku, Dit. Tapi kurasa ini yang terbaik untuk kita. Syanda membatin. Setelah itu dia lalu mengacungkan cangkirnya tinggi-tinggi seolah menyalami Aditya sebagai tanda perpisahan. Lalu meneguk cappuccino-nya sampai tandas.
Dibacanya kembali penggalan SMS Aditya yang diterimanya siang tadi.

Syanda,
Maafkan aku kalau sikap dan kata-kataku tempo hari menyakiti hatimu, membuatmu tersinggung. Aku tahu, prahara inilah yang menyebabkan keretakan di antara kita. Kerenggangan, ketidakdekatan kita, memang membuat kita masing-masing asing dan berubah.
Dan, aku yang seolah terpenjara kini hanya dapat merenda impian indah bersamamu. Bertemu denganmu, adalah anugerah yang terindah dalam hidupku kini. Namun aku sadar, sadar sepenuhnya untuk tidak terlalu menuntut banyak darimu. Sebab, aku tahu banyak hal yang dapat membahagiakanmu di luar sana ketimbang mengharap pemuda ringkih tanpa daya yang mendekam di panti ini.
Aku mafhum kalau kamu sekarang lebih memilih renjana indah. Bukannya renjana tak berujung dalam sarat beban penantian yang panjang. Lupakanlah aku, Syanda! Lupakanlah masa lalu kita berdua. Aku ikhlas melihatmu berbahagia dengan siapa pun yang dapat membahagiakanmu. Jangan tunggu aku lagi, sungguh pun aku rindu kabarmu, wajahmu, suaramu. Segalanya. Segalanya tentang kamu!
Tuhan beserta kita.

Salam sayang,
Aditya

Syanda kembali menghela napas panjang. Dia harus sesegera mungkin menemukan jawaban hatinya. Dia untuk siapa. Lalu, diputuskannya hengkang dari Jakarta. Mungkin pada sebuah tempat nun jauh di sana, dari setiap permenungan yang dijalaninya, dia dapat menemukan jawaban.
Ada butiran hangat sebesar bulir padi yang masih mengalir di pipinya. Kepalanya memberat. Dia merasa pening tiba-tiba.