03 February 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 06

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 06
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Bukan Aku Tak Sayang
  
“Nah, ketemu lagi!”
Syanda tersentak. Dan puluhan mahasiswa lain yang berada di perpustakaan itu pun ikut tersentak.
Ivan agak risih juga. “Maaf, aku mengejutkan kamu, ya?” bisiknya.
Syanda menggeleng, menunjuk pada sebilah papan bertuliskan: HARAP TENANG, RUANG BACA. Ivan tersipu. Diambilnya tempat duduk tepat di hadapan Syanda.
“Apa kabar?” bisiknya. “Long time no see, yeah?”
Syanda tersenyum. “Apa kabar juga pacarmu? Siapa namanya?”
“Mita.”
“Ah, iya. Mita. Bagaimana?”
“Justru aku yang mau tanya sama kamu. Bagaimana?”
“Oo, maksudmu bagaimana penyelesaiannya?” tukas Syanda sambil mengerling.
“Iya, tapi jangan pakai mengerling begitu, dong. Demi lirikanmu, rasanya aku rela meninggalkan Mita,” goda Ivan.
“Ah. Caramu bicara, caramu bercanda, mengingatkan aku kepada….”
“Aditya?” potong Ivan.
“Ka-kamu tahu?!” Syanda terbelalak. “Dari mana….”
Ivan mengangguk. “Aku tahu segalanya. Tentang kamu. Tentang Aditya-mu. Tapi, saat ini aku tidak ingin membicarakan siapa kamu dulu. Atau, siapa Aditya-mu. Aku tidak mau tahu semua itu. Aku hanya ingin berkawan denganmu. Dengan Syanda yang sekarang. Oke?” ujarnya, lugas namun tegas.
“Belum pernah ada orang seperti kamu sebelumnya,” desah Syanda antara kagum dan terharu.
“Ah, sudahlah.”
“Kamu mirip banget Aditya, Van,” ujar Syanda sambil menatap lekat wajah di hadapannya.
Sesaat mereka saling memandang. Saling menelusuri apa yang ada dalam bayang binar mata masing-masing. Sampai akhirnya Syanda tertunduk jengah.
“Ma-maaf… aku teringat Aditya.” Syanda menyadari telah kelepasan omong.
“Aku mengerti.” Ivan tersenyum bijak.
“Jadi, apa yang bisa aku bantu sekarang?” Syanda menghela napas dan membelokkan arah pembicaraan.
“Tidak ada.”
“Lho?”
“Aku sudah tahu jawabnya. Aku harus mengambil sikap tegas. Aku akan meninggalkan Mita. Di antara kami sudah tidak ada kecocokan lagi.”
“Secepat itukah kamu mengambil keputusan? Padahal, tadi ketika baru masuk kamu masih meminta saran dariku. Aneh!”
“Setelah aku menatap matamu, aku tahu, aku harus berpisah dari Mita. Banyak yang tidak kutemukan dalam dirinya, tapi kutemukan dalam dirimu.”
“Maksudmu….”
“Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya… selama ini aku seperti merindukan suasana ceria. Santai. Tidak bertengkar melulu.”
Syanda tercenung. Agaknya setiap orang memang memerlukan saat-saat seperti itu. Saat yang pernah jadi miliknya dulu. Bersama Aditya. Ya, aku pun kehilangan saat-saat yang terindah dalam hidupku, Van! desis Syanda dalam hati.
Dan betapa inginnya aku merengkuh kembali hari-hari yang indah itu lagi. Untuk itulah aku menanti. Masih beratus-ratus hari lagi… dan aku mulai bimbang. Haruskah kujalani ratusan hari itu dengan penantian, sementara di sekelilingku banyak yang menjanjikan kebahagiaan itu sendiri?
Di satu pihak, Syanda merasa bersalah mengkhianati Aditya. Tapi di pihak lain, dia merasa berhak memperoleh jalan hidupnya sendiri. Berhak melepaskan lingkar derita yang membelenggunya karena kesetiaan yang dipertahankannya.
“Kamu sudah makan siang?”
“Belum,” geleng Syanda.
“Kalau begitu, aku yang meneraktirmu.”
“Untuk apa kamu meneraktirku? Alasan apa yang membuatku harus menerima tawaranmu?”
“Ayolah….” Ivan menarik tangan Syanda. “Untuk jasamu memberiku jalan keluar dari masalahku.”
Syanda tersenyum. Lalu, sembari tertawa-tawa kecil mereka beriringan meninggalkan perpustakaan yang senyap. Sebuah cerita baru yang menjanjikan babak baru mulai terbit.
Agaknya….

***

Dengan langkah ringan Syanda melangkah menapaki jalan setapak menuju serambi rumahnya. Acara makan malam bersama Ivan lumayan menyenangkan kalau tidak mau dibilang istimewa.
“Dengan siapa kamu pulang?” tegur Mama halus begitu Syanda menongolkan batang hidungnya di dalam rumah.
“Ivan, teman sekampus,” sahut Syanda ringan.
“Cowok bersedan merah itu lagi, ya? Sudah tiga kali kalau tidak salah kamu pulang dengan… siapa namanya?” sambung Santi sambil mengunyah popcorn.
“Ivan. Namanya Ivan Prasetyo. Mahasiswa tingkat dua fakultas ekonomi.” Syanda melepas sepatunya dan mencuci tangannya lalu beranjak ke dapur. Membuka kulkas dan menuang sebotol sirup jeruk dingin ke dalam gelasnya.
“Rasanya aku kenal Ivan,” Santi menyusul ke dapur. “Dia kan, seniorku ya?”
“Mungkin. Ya ampun, kenapa aku bisa sampai lupa kalau kamu juga di fakultas ekonomi? Aku selalu mengingat kamu anak teknik sebab waktu SMA dulu kamu kan, jurusan IPA.”
“Yoi.” Santi mengangguk-angguk. “Ivan. Hm, boleh juga. Lumayan dijadikan gandengan buat JJS.”
“Dasar!” Syanda pura-pura sewot.
“Maksudku, kamu tidak salah memilih.” Santi terkekeh.
“Siapa memilih siapa?” tanya Syanda, mencibir kemudian.
“Kupikir kalian….”
“Jangan macam-macam kamu. Kita cuma teman biasa. Tidak lebih dari itu. Kalau kamu mau tahu yang lebih dari sekadar teman, tidak ada nama lain selain Aditya. Tahu?”
“Teman atau teman?” goda Santi lagi.
Syanda melotot.
“Tidak usah ngotot begitu, dong,” sungut Santi sambil membuntuti Syanda keluar dari dapur.
“Habis, kamu picik betul, sih. Baru jalan bersama saja dibilang pacaran. Tidak semudah itu aku melupakan Aditya! Memangnya aku gadis ABG seumur kamu yang tahunya cuma cinta monyet.”
“Iya deh, yang cinta gorila!” Santi mencibir.
“Eh, ada apa ini?!” lerai Mama. “Pulang-pulang kok, malah ribut sama adiknya.”
Santi membanting dirinya di atas sofa di sebelah Mama. “Biasa, Ma….”
“Biasa apa?!” Syanda melotot.
“Lagi kangen sama Aditya, ditanya sedikit sudah marah-marah,” jawab Santi dengan entengnya.
“Eh eh, ngaco kamu!” tukas Syanda marah.
“Huss… Syanda, sudahlah. Maksud Santi kan, baik. Lagipula, apa untungnya tetap memikirkan Aditya? Lupakanlah dia. Bina hari esokmu sendiri. Kamu akan lebih baik tanpa Aditya. Dengarlah kata-kata Mama, Syan.” Mama memijit-mijit pelipisnya. Dahinya mengerut membentuk lipatan tujuh.
Syanda terdiam.
“Kapan-kapan, kenalkan Mama sama Ivan. Boleh, kan?” ujar Mama lagi.
Syanda menggigit bibirnya. Mengapa semua orang seolah ingin memisahkannya dari Aditya?! Mengapa tidak seorang pun mendukungnya untuk tetap setia terhadap Aditya?! Apakah mereka tidak tahu, dalam hatinya pun tengah berkecamuk perang antara tetap setia dan menggapai masa depan sendiri? Antara tetap setia atau berpisah? Mengapa tidak seorang pun meyakinkannya untuk tetap setia? Mengapa?!
“Syanda…,” panggil Mama.
Tapi Syanda tak peduli. Dilangkahkannya kakinya berlari memasuki kamarnya. Mengunci diri di sana. Membiarkan keheningan melarutkannya dalam lamunan. Dalam angan-angan kebimbangan, dia harus memilih. Tapi saat ini dia enggan memilih siapa pun.
Dit, doakan agar aku tetap berpegang pada janji-janji yang pernah kita ucapkan bersama. Aku sayang kamu, Dit. Aku rindu kamu. Tapi rindu yang seolah tak berujung ini malah menyeretku pada kebimbangan demi kebimbangan.
Syanda membatin galau. Setiap hari dia berdoa untuk Aditya. Melakukan segalanya untuk Aditya. Namun, akhirnya dia sadar. Dia hanya manusia biasa. Dia bukan bidadari yang memiliki kesetiaan tanpa batas.