01 February 2016

Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 05

BLOGKATAHATIKU/IST
Atas Nama Cinta Pertama (Rindupuccino) 05
Oleh Zara Zettira ZR dan Effendy Wongso

Masih Ada Damba yang Tersimpan

Halo.” Syanda menyambut gagang telepon yang diberikan Santi kepadanya.
“Halo juga, Non. Masih ingat saya?”
“Maaf. Tidak. Ini dengan siapa, ya?”
“Nimo. Geronimo Panggabean. Masih lupa? Atau, perlu keterangan lainnya? Hahaha... apa kabar, Syan?”
Cowok bersuara bariton di seberang sana terdengar tertawa. Dan saat itu baru Syanda teringat. Tawa Nimo mengingat-kannya pada masa-masa silam. Masa SMA-nya.
“Astaga! Apa kabar, Nimo?”
“Baik. Kamu sendiri?”
“Baik.”
“Masuk psikologi, ya?”
“Kok, tahu?”
“Santi yang cerita.”
“Oh. Kamu sendiri?”
“Aku ambil komputer di San Fransisco. Sedang liburan, kembali ke Jakarta.”
“Welcome back, kalau begitu.”
“Thank’s. Hei, Kamu sekarang sombong, Syanda. Tidak pernah menelepon. Tidak pernah mengabari aku lagi. Sampai-sampai aku harus mencari tahu kabarmu lewat teman-teman SMA dulu,” ujar Nimo dengan nada suaranya yang khas. Keras.
“Ah….”
“Bagaimana kabarnya, Aditya?”
“Ba-baik!” Syanda terbata.
“Aku turut... turut apa, ya? Mendengar kabar Aditya masuk panti rehabilitasi, aku ikut prihatin. Sungguh Syan, aku tidak nyangka Aditya seburuk itu. Aku....”
“Sudahlah!” penggal Syanda jengkel. “Kalau kamu hanya menelepon untuk membicarakan kejelekan Aditya, lain kali saja!”
“Oh, maaf. Tunggu dulu, Syan. Aku hanya....”
“Semua selalu menuduh Aditya yang bukan-bukan. Aditya yang salah, Aditya yang buruk, Aditya yang junkies. Lalu buntut-buntutnya aku yang bodoh, yang mau saja menanti cowok bengal tukang teler yang sudah tidak punya masa depan lagi!” seru Syanda dengan isak tertahan.
“Syanda....”
“Beratus kali sudah kukatakan kepada semua orang. Aditya tidak bersalah. Dan aku juga tidak salah menanti dia. Kesetiaanku selama ini bukanlah sesuatu yang tolol dan sia-sia. Kamu dengar itu?!”
Klik.
“Hallo! Hallo! Syan, Syanda...!”
Tapi Syanda telah membanting gagang teleponnya. Menuntaskan setiap percakapan tentang Aditya. Tentang kebodohan dirinya. Tentang penantiannya yang terasa sia-sia. Penantian yang tak berujung.
Benarkah tindakanku ini? Syanda bertanya kepada dirinya sendiri. Ditatapnya bayangan dirinya dalam cermin besar bufet di muka pesawat telepon. Ada seraut wajah tirus dengan sepasang mata sayu di sana.
Aditya telah pergi membawa hari-hariku. Akankah dia kembali? Haruskah kutunggu dia dan kubiarkan diriku sendiri hancur oleh penantian dan kerinduan yang sarat? Tidak bolehkah aku sedikit memikirkan diriku sendiri? Membenahi hatiku yang porak-poranda dan menata kembali hari-hariku? Mencari secuil keceriaan, tawa, dan semangat dari orang lain?
Sekilas seraut wajah melintas di benaknya. Ah, Aditya! Akankah semua usai dan berganti dengan hari-hari yang indah seperti dulu lagi?

***

Ruang tunggu di panti rehabilitasi ‘Nusa Bangsa’ masih sama seperti minggu-minggu lalu. Dua minggu sudah Syanda alpa menjenguk Aditya.
“Apa kabar?” sapa Aditya agak kering.
“Baik.”
“Lama tidak kemari....”
“Kamu marah?” tanya Syanda hati-hati.
Aditya menggeleng. “Tidak ada yang salah. Kamu berhak merasa jenuh....”
“Aku tidak jenuh, Dit. Hanya... hanya saja kuliahku menuntut waktu yang agak banyak. Kamu tahu sendiri, beberapa waktu lalu nilaiku jeblok semua. Kini aku tengah memperbaiki segalanya. Memulai lagi dari awal, sendiri tanpa kamu. Kamu mengerti, kan?”
Aditya mengangguk. “Aku sudah banyak menyusahkanmu, ya?” bisiknya lembut, menepuk punggung tangan Syanda dengan lembut. Ada getar rindu yang tercetus di sana.
Syanda menggeleng.
“Aku tidak memaksamu datang setiap minggu. Sungguh. Kalau kamu mau, kamu boleh tidak datang. Kalau kamu sibuk... ah, siapalah aku ini! Aku mulai terbiasa berkawan dengan sepi, kok!”
“Jangan ngomong begitu, Dit! Siapa bilang aku enggan datang? Aku sasama sekali....”
“Tidak ada pemaksaan....”
“Siapa bilang aku merasa terpaksa?”
“Lho? Kenapa kamu jadi mudah tersinggung seperti ini, Syan?” tanya Aditya agak terkejut.
“Aku menyempatkan diri datang dengan maksud mendengar ceritamu. Untuk menceritakan apa yang terjadi kepada diriku selama ini. Untuk melepas rindu, tapi kamu malah menuduh yang bukan-bukan. Kamu bilang, aku bosan. Aku jenuh. Aku enggan. Apa-apaan sih, ini?” pekik Syanda kecewa. Padahal, dia merasa sudah cukup banyak berkorban untuk Aditya. Airmatanya mulai menitik.
“Syanda...!”
“Aku tidak mengerti, Dit! Kamu seperti tidak peduli, betapa sulitnya aku menghadapi situasi di luaran. Aku sendiri dikecam banyak orang. Bahkan, Mama dan Santi pun ikut-ikutan mengecamku. Mengatakan aku bodoh, menanti sesuatu yang tidak pasti.”
“Jadi, kamu mulai bimbang?”
“Ak-aku tidak bimbang. Kekenapa kamu menuduhku yang bukan-bukan. Kamu bilang aku bosan. Aku jenuh. Aku....”
“Sudah, Syan. Cukup!” potong Adit tandas. “Kalau kamu datang ke sini hanya untuk memaki-makiku, kamu boleh pulang sekarang!”
“Aditya! Ka-kamu...!”
Aditya melepaskan genggamannya. Dibuangnya pandangannya jauh ke taman panti. Cepat atau lambat, dia telah menduga hal ini akan terjadi. Sebenarnya dia telah mempersiapkan diri sejak awal dia direhab di panti ini. Dia sudah menyiapkan dirinya untuk kemungkinan ini. Kemungkinan yang paling buruk. Dia sudah siap untuk ditinggalkan. Karena selama ini memang semua telah meninggalkannya. Ayahnya, Ibunya, bahkan Syanda pun kini mulai bimbang. Mulai ragu. Mulai menjauhinya.
“Dit, aku....”
“Sudahlah, Syan. Maafkan kata-kataku yang kasar tadi....” Aditya mengusap wajahnya seolah mengusir galau yang berkecamuk di benaknya.
“Aku maklum. Kamu kesepian di sini, Dit. Tapi, kamu juga harus mengerti keadaan dan penderitaanku di luar....”
Aditya mengangguk-angguk. “Aku mengerti semuanya. Aku juga mengerti kalau kamu mulai merasa penat dengan penantianmu....”
Syanda tercenung. Penatkah dia? Sejauh ini dia masih berusaha untuk bertahan terhadap janji-janjinya. Bahwa menanti Aditya bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Bahwa kesetiaannya selama ini tidaklah percuma.
Tapi kini....
Sesaat mereka bertatapan. Berpelukan. Tapi rindu tak juga turut. Masih ada damba yang tersimpan. Entah sampai kapan....