31 January 2016

Transformasi Gadget, Dari Digital Hingga 4G LTE

MOBILITAS TINGGI - Model tengah memamerkan gadget jenis phablet dalam suatu pameran teknologi. Saat ini, menelepon adalah hal paling akhir yang dilakukan dengan smartphone, setelah browsing internet, mengecek jaringan media sosial, mendengarkan musik, dan main game. Dengan konektivitas dan mobilitas yang supercepat, ini mendorong lebih banyak aktivitas online untuk setiap kebutuhan. BLOGKATAHATKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Kapan terakhir seseorang menggunakan ponsel untuk menelepon, memegang dan menempelkannya ke telinga? Sulit mengingatnya lantaran sudah jarang dilakukan saat ini, meskipun secara umum belum ditinggalkan.
Dibanding dulu yang notabene konvensional, kini sudah ada beragam cara yang lebih cepat dan mudah untuk mengatur jadwal bertemu, menghubungi kolega, menegur teman, bahkan mengatur kencan.
Ditemui di toko ponselnya di Makassar, Kamis (28/1), Winsen mengungkapkan tren gadget yang berkembang, khususnya terhadap fungsi komunikasi yang telah berubah.
Menurutnya, menelepon adalah hal paling akhir yang dilakukan dengan smartphone, setelah browsing internet, mengecek jaringan media sosial, mendengarkan musik, dan main game. “Dengan konektivitas dan mobilitas yang supercepat, ini mendorong lebih banyak aktivitas online untuk setiap kebutuhan,” papar ayah dua anak ini.
Ditambahkan, sebagian besar dari tugas sehari-hari masyarakat, kini bisa dipermudah secara digital. “Tidak ada lagi kebutuhan seperti secara fisik pergi ke bank, mengeposkan surat di kantor pos, atau main game di arcade. Perkembangan fungsi dan skenario penggunaan smartphone ikut mendorong evolusi gadget mobile. Meski smartphone sudah cukup lama menawarkan kemampuan-kemampuan di atas, layarnya yang relatif kecil seringkali membuat pengguna jadi canggung, sementara membawa tablet dengan layar besar membuat orang jadi frustasi,” bebernya.
Dijelaskan, hal ini seringkali membuat konsumen sulit memilih antara perangkat yang dibutuhkan dengan perangkat yang diinginkan. “Ini kemudian memicu munculnya perangkat yang menggabungkan konektivitas smartphone dan bentuk mirip tablet, yakni phablet yang antara lain dibuat pabrikan gadget Lenovo,” cetusnya.
Dari awal kemunculan ponsel hingga lahirnya phablet, sebut Winsen, fungsi komunikasi sudah pindah dari telinga ke mata. “Menurut riset dari Pew Research Center di 2010, generasi muda saat ini lebih banyak menggunakan ponsel mereka sekitar 130 kali dalam sehari untuk apapun selain menelepon,” urainya.
Diterangkan, ponsel sudah pindah dari telinga ke mata, dan semua telah terpaku pada rangkaian chat yang berlangsung cepat dengan cara yang lebih sederhana. Ini adalah era di mana saat menelpon teman atau anggota keluarga semakin lama semakin jarang dilakukan, apalagi menulis surat.
“Walaupun cara komunikasi masa kini lebih cepat dibandingkan 25 tahun lalu, bukan berarti jadi kurang bermakna karena pada akhirnya, hasilnya akan sama,” imbuh Winsen.
Mengingat kecepatan komunikasi saat ini, seseorang membutuhkan alat baru untuk mengikutinya. “Kemampuan dual SIM dan konektivitas 4G/LTE kini harus ada di semua perangkat yang saling terhubungkan guna membantu teman dan keluarga berkomunikasi dengan cepat dan mudah, baik di rumah maupun di luar rumah,” ujarnya.
Diungkapkan, lantaran gaya hidup masyarakat modern yang semakin mobile, ada peningkatan kebutuhan untuk mengoperasikan perangkat hanya dengan satu tangan, aktivasi dengan suara yang bisa diandalkan, dan pengaturan conference call yang fleksibel,” tandas Winsen.