01 January 2016

Tingkatkan Layanan, Telkom Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

KOMITMEN - Kepala Telkom Regional 7 KTI, Mohammad Firdaus (tengah) di sela press conference terkait kiprah Telkom dalam “Kilas Balik 2015 dan Menyongsong 2016” di Gedung Telkom, Jalan AP Pettarani, Makassar, Kamis (31/12/2016). Menurutnya, komitmen ditunjukkan Telkom dengan mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan fiber optik hingga ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah terpencil. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Regional 7 Kawasan Timur Indonesia (KTI), berkomitmen untuk terus meningkatkan dan memperluas layanannya guna mendorong pertumpuhan ekonomi, khususnya di KTI.
Tingkat pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah. Hal inilah yang meneguhkan komitmen Telkom sebagai satu-satunya perusahaan milik bangsa Indonesia yang bergerak dalam TIK untuk terus berupaya meningkatkan dan memperluas layanan.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Telkom Regional 7 KTI, Mohammad Firdaus di sela press conference terkait kiprah Telkom dalam “Kilas Balik 2015 dan Menyongsong 2016” di Gedung Telkom, Jalan AP Pettarani, Makassar, Kamis (31/12/2016).
Menurutnya, komitmen ditunjukkan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan fiber optik hingga ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah terpencil. Untuk wilayah KTI, Telkom telah menyelesaikan proyek pembangunan infrastruktur kabel optik bawah laut Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS) yang diresmikan langsung Presiden RI, Joko Widodo di Manokwari, Papua Barat, 10 Mei 2015 lalu.
“SMPC adalah jalan tol digital bawah laut yang dapat membawa data kecepatan tinggi hingga 100 Mbps. Dengan adanya SMPCS, memudahkan semua kebutuhan komuniasi masyarakat, baik untuk segmen perumahan maupun bisnis, enterprise, serta goverment pada 10 provinsi yang masuk dalam wilayah Telkom Regional 7 KTI, hingga ke seluruh kabupaten dan daerah-daerah pelosok,” terang Firdaus.
Di 2016, Telkom juga memaksimalkan layanan ke pelanggan dengan melakukan migrasi pengguna jaringan kabel tembaga ke fiber optik.  “Dari total sekitar 500 ribu pelanggan KTI, kami telah memigrasikan 45 ribu pelanggan di 2015. Di 2016, akan dimigrasikan 200 ribu pelanggan,” bebernya.
Menurut Firdaus, upaya migrasi yang secara bertahap dilakukan pihaknya, juga merupakan implementasi hadirnya produk Indihome Triple Play yang mengusung tiga layanan sekaligus, telepon, internet, dan Usee TV.
“Dari 144 kabupaten dan kota di KTI, sudah sekitar 94 daerah yang telah dimigrasikan ke fiber optik. Tahun depan, kami proyeksikan 20 daerah lagi yang akan migrasi ke fiber optik. Ini fokus pada wilayah Papua-Maluku seperti Tidore, Halmahera, dan daerah sekitarnya,” urainya.
Selain itu, pengembangan infrastruktur dan layanan juga difokuskan di sektor poros maritim. Firdaus menyebut, pihaknya mempersembahkan pelayanan maksimal, terutama pada device, network, application, dan services pada delapan pelabuhan laut di KTI.
“Saat ini, Telkom juga melakukan upaya peningkatan penetrasi broadband di seluruh Indonesia. Ini mengacu pada imbauan pemerintah untuk mengurangi kesenjangan digital melalui penyediaan layanan internet menggunakan koneksi wifi. Untuk wilayah KTI, titik acces point wifi sudah 350 venue,” urainya.
Sementara itu, Deputy EVP Infrastruktur Telkom Regional 7, Syahrir Lubis, menambahkan, guna memaksimalkan infrastruktur jaringan optik, pihaknya telah menggelontorkan Rp 200 miliar.
“Di 2015, ada 500 ribu satuan sambungan fiber optik dibandingkan 2014 yang hanya 100 ribu sambungan. Ke depannya, kami akan terus meningkatkan layanan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui akses internet,” tuturnya.
Syahrir mengungkapkan alasan pihaknya menggenjot pembangunan infrastruktur jaringan fiber optik, mengingat keterbatasan daerah-daerah terpencil dalam mengakses layanan digital. “Sebelumnya, kami memang menggunakan layanan satelit (untuk daerah terpencil), tetapi jaringan melalui satelit sangat terbatas. Ini berbeda bila menggunakan fiber optik,” jelasnya.
Apalagi, dengan hadirnya jaringan digital yang cepat dan efisien, pelaku sektor ekonomi kreatif dapat merasakan manfaatnya. “Salah satunya warga Desa Rurukan di  Sulut, yang sudah dapat memasarkan produk pertanian, perkebunan, dan kerajinan mereka hingga ke seluruh dunia melalui jaringan internet,” cetusnya.
Selain sektor ekonomi, perkembangan yang luar biasa juga dapat dirasakan pelaku usaha yang bergerak di segmen pariwisata. “Beberapa tempat wisata juga semakin dikenal dengan adanya layanan komunikasi internet,” tandas Syahrir.