22 January 2016

Target Okupansi 80 Persen di 2016, Manajemen Hotel La’riz Ambil Alih Hotel Banua

HOTEL LA’RIZ CITY BEACH -  President Director La’riz Hotel and Resort Management, Asep Supardi (tengah), saat menggelar konferensi pers terkait peluncuran Hotel La’riz City Beach di D’District Lounge, Lt 8 Hotel Serela Lagaligo, Jalan Lagaligo, Kamis (21/1). Hotel La’riz yang beralamat di Jalan Haji Bau sebelumnya adalah Hotel Banua. Setelah diakuisisi manajemen Hotel La’riz di pengujung 2015 lalu, fisik hotel tersebut direnovasi (soft renovation) dengan mengusung konsep yang dibawa Hotel La’riz. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
BLOGKATAHATIKU - Salah satu struktur penopang kemajuan suatu usaha, tidak terlepas dari pengelolaan manajemen yang baik. Sistem akan beroperasi dengan lancar jika didukung pengelola yang perofesional. Dalam bisnis perhotelan, hal ini tidak dapat dinafikan.
“Kami akan lebih menekankan pelayanan yang baik sebagai kultur dalam bisnis kami di Hotel La’riz. Ini unsur penting yang belum banyak diimplementasikan hotel-hotel di Makassar,” ungkap President Director La’riz Hotel and Resort Management, Asep Supardi, saat menggelar konferensi pers terkait peluncuran Hotel La’riz di D’District Lounge, Lt 8 Hotel Serela Lagaligo, Jalan Lagaligo, Kamis (21/1).
Sekadar diketahui, Hotel La’riz City Beach yang beralamat di Jalan Haji Bau sebelumnya adalah Hotel Banua. Setelah diakuisisi manajemen Hotel La’riz di pengujung 2015 lalu, fisik hotel tersebut direnovasi (soft renovation) dengan mengusung konsep yang dibawa Hotel La’riz.
“Secara spesifik, perubahan fisik (bangunan) tidak terlalu banyak kami ubah, karena hotel sebelumnya (Banua), sudah memiliki 96 kamar. Dari kamar-kamar ini, kami akan membagi beberapa tipe kamar, di antaranya superior 84 kamar, deluxe enam kamar, dan suite enam kamar. Selain itu, ada beberapa fasilitas lain seperti meeting room, fitness center, kolam renang, dan restoran,” papar Asep.
Saat ditanyakan mengapa memilih mengakuisisi Hotel Banua, pria kelahiran Bandung, 15 Mei 1970 ini mengungkapkan, pihaknya menganggap lokasi hotel tersebut sangat strategis yang dekat dengan objek wisata Pantai Losari.
“Itu salah satu alasan kami. Tetapi, jika menilik lebih dalam, maka kami memadukan dua target okupansi. Pertama, segmen leisure dan kedua segmen business. Di Makassar, potensi ini masih besar. Jadi, kami memilih membidik dua segmen tadi,” bebernya.
Suami Tati Sumiati yang juga merupakan founder operator hotel asal Jawa Barat ini, mengaku tidak gentar menghadapi masifnya persangan dalam bisnis perhotelan. “Kami tidak khawatir dengan bertumbuhnya banyak hotel di kota ini. Dengan banyaknya pesaing, itu berarti kompetisi mengharuskan kami untuk selalu inovatif, dan memberikan yang terbaik kepada pelanggan,” imbuhnya.
Optimisme untuk dapat menjadi hotel pilihan masyarakat di Kota Daeng, dapat dilihat dari target okupansi yang dipatok Asep. “Kami tidak muluk-muluk, tiga bulan awal tahun ini, kami targetkan dapat meraup okupansi sekitar 62 persen hingga 63 persen. Sementara, target tahun ini sekitar 80 persen,” imbuh ayah dari Amalia Agustina dan Fernanda Dewi.
Saat ini, manajemen La’riz yang membawahi 10 properti di Indonesia, berupaya membenahi dan merenovasi beberapa item pada bekas Hotel Banua. “Biaya renovasi yang kami keluarkan belum dapat dikalkulasi secara rinci, tetapi sekitar Rp 80 juta-Rp 100 juta per kamar,” jelas Asep.
Mengawali peresmian Hotel La’riz City Beach pada 2 Februari, manajemen hotel memberikan promo harga menarik kepada tamu. “Kami mulai Rp 300 ribu. Harga ini kami anggap dapat bersaing dan mewujudkan target okupansi kamar Hotel La’riz nantinya,” optimistisnya.
Sementara itu, Human Resource Manager La’riz Hotel and Resort Management, Tince Yustina, menambahkan, pihaknya optimis dapat bersaing dengan hotel-hotel lain di Makassar. “Sebelumnya, kami sudah membangun vila dan resort di Cisarua Bogor, dan ke depannya, kami akan memperluas jaringan dengan ekspansi ke Jakarta, Medan, Surabaya, Pekanbaru, dan Raja Ampat, Papua,” tutupnya.