24 January 2016

Tagar Kami Tidak Takut, Selamatkan Ekonomi Indonesia

RENTAN TEROR - Sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta harus ditutup untuk mengantisipasi kejadian ledakan bom yang terjadi. Bahkan, pusat perbelanjaan di daerah sekitarnya pun harus dijaga ketat. Di Makassar, pusat-pusat perbelanjaan sedikit khawatir, dan mengambil langkah cepat untuk mencegah aksi teror berlanjut pada kota lain Indonesia.BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Peristiwa bom Sarinah cukup menyita perhatian masyarakat, termasuk para pelaku ekonomi dan bisnis di Indonesia. Meskipun nilai rupiah sempat tertekan, tetapi langkah sigap dari pemerintah, serta adanya kampanye tagar Kami Tidak Takut (#kamitidaktakut) di media sosial, berhasil menyelamatkan kondisi dari keterpurukan.
Di tengah pelaku pasar keuangan di seluruh Indonesia menantikan pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate pada Kamis, 14 Januari 2016 lalu, masyarakat Jakarta dikejutkan dengan ledakan yang terjadi di Sarinah, Jakarta Pusat. Ada enam ledakan yang terjadi di depan Starbucks, dekat pusat perbelanjaan Sarinah. Berdasarkan surat edaran dari Polda Metro Jaya, kejadian ledakan tersebut terjadi pada pukul 10.00 Wib yang berasal dari bom rakitan.
Akibat ledakan itu membuat kondisi Jakarta dinyatakan berstatus siaga I. Status tersebut diberlakukan sejak pukul 11.00 Wib tadi. Kondisi tersebut berlangsung hingga waktu yang belum ditentukan. Hal ini tentu berdampak terhadap kegiatan ekonomi dan pasar keuangan. Bukan hanya di ibu kota, beberapa pelaku ekonomi di daerah lain cukup khawatir dengan kejadian itu.
Sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta harus ditutup untuk mengantisipasi kejadian ledakan bom yang terjadi. Bahkan, pusat perbelanjaan di daerah sekitarnya pun harus dijaga ketat. Di Makassar, pusat-pusat perbelanjaan sedikit resah, dan mengambil langkah cepat untuk mencegah aksi teror berlanjut pada kota lain Indonesia.
Salah satu pusat perbelanjaan ternama di Kota Makassar, Mal Ratu Indah (MaRI), pasca teror bom di Sarinah, memilih melakukan sistem pengamanan berlapis. Menurut Creative Design and Communication MaRI, Jesse Rezky, sebagai mal yang berada pada lokasi yang sangat strategis di tengah kota, sesuai standar operational system (SOP) melakukan peningkatan keamanan.
Pasca teror bom Sarinah, MaRI menambah personel keamanan. Hanya ada tiga pintu utama yang bisa diakses pengunjung, sisanya ditutup demi alasan keamanan mal. Masing-masing pintu ditambah petugas keamanan menjadi dua orang. “Secara umum, tidak terjadi penurunan signifikan pengunjung akibat adanya isu teror bom. Dengan langkah antisipasi yang cepat dilakukan manajemen, pengunjung tetap merasa nyaman,” ujar Jesse.
Saat weekdays, ungkap mantan finalis VJ MTV Hunt ini, jumlah pengunjung MaRI rata-rata 15 ribu-18 ribu orang. Jumlah itu meningkat mencapai 22 ribu-25 ribu orang saat weekend. “Untuk event, hingga kini belum ada pembatalan dari penyelenggara acara pasca kejadian bom Sarinah,” bebernya.
Secara pribadi, Jesse beranggapan, aksi teror bom yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab itu merupakan salah satu cara melemahkan negara, khususnya ekonomi. Aksi itu dilakukan pihak luar negeri, dengan memanfaatkan warga negara Indonesia sendiri. Bukan secara kebetulan bom itu meledak di pos Polisi, karena itu merupakan simbol negara dalam hal keamanan.
Sebagai pelaku usaha, MaRI sangat terbantu opini masyarakat di media yang mengampanyekan #KamiTidakTakut. Kata itu sangat besar artinya bagi pusat perbelanjaan. Dengan adanya kampanye tersebut, masyarakat semakin optimis, pemerintah pasti bisa mengatasi aksi para peneror, sehingga tidak perlu takut untuk berkunjung dan berbelanja di pusat perbelanjaan.
Apalagi, pasca bom Sarinah, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, berkonsolidasi dengan para pemuka agama di MaRI. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi munculnya paham-paham radikal yang berujung pada aksi teror bom.
Kebetulan, tempat yang dipilih adalah Starbuck, yang juga menjadi perhatian masyarakat saat kejadian bom Sarinah. Pesan yang disampaikan kepada masyarakat Sulsel adalah jangan takut jalan-jalan ke mal, karena pemerintah telah memberikan kepastian keamanan.

Pengaruh Terhadap Pariwisata Tidak Signifikan

Salah satu unit bisnis yang sering terkena dampak negatif jika ada aksi teror bom adalah industri pariwisata. Kendati demikian, pelaku usaha di bidang pariwisata di Sulsel tidak terlalu merasakan dampaknya.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Sulsel, Didi Leonardo Manaba, mengungkapkan, peristiwa mengejutkan yang terjadi di Jakarta tidak berdampak signifikan mengganggu industri pariwisata Sulsel. Isu tersebut cepat hilang dengan adanya sosialisasi #KamiTidakTakut yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat.
Menurut Didi, aksi teror bom saat ini sudah terjadi hampir di seluruh kota besar dunia. Di Indonesia sendiri, hal tersebut bukan sesuatu yang baru. Makanya, aksi teror di Sarinah tidak terlalu dirasakan dampaknya bagi tingkat kunjungan wisatawan ke Indonesia. Semua negara di dunia sudah mengetahui, kejadian itu bisa saja terjadi di negara manapun.
“Pelaku usaha pariwisata di Sulsel sama sekali tidak merasa khawatir akan ada dampak negatif dari peristiwa teror bom Sarinah. Pemerintah cukup responsif terhadap kejadian. Salah satu langkah yang dilakukan Presiden Jokowi adalah memanggil Ketua Umum Asita ke istana negara, untuk membicarakan promosi dan strategi untuk memajukan wisata Tanah Air,” bebernya.
Didi menyarankan, perlu deteksi awal untuk antisipasi keamanan, khususnya sektor pariwisata agar dapat terhindar dari teror bom. Asita tidak ingin lagi ada kejadian seperti peristiwa bom Bali pada 1990-an, yang sempat melumpuhkan industri pariwisata Indonesia. “Pemerintah harus tetap waspada tumbuhnya paham-paham radikal yang berbahaya dan menghambat upaya pemerintah memajukan pariwisata di Sulsel,” pesannya.
Salah satu sektor yang berperan memajukan Kota Makassar adalah meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) perhotelan. Sebagai salah satu pelaku usaha perhotelan, Marketing Communication Manager Horison Ultima Makassar, Suro Budi Arto, melihat kejadian bom Sarinah merupakan sesuatu yang cukup mengejutkan di awal 2016. Biasanya kejadian seperti itu memberi dampak secara ekonomi, khususnya perhotelan, dengan turunnya tingkat hunian.
   Bagi manajemen Horison Ultima Makassar, pengaruh dan dampak terom Bom tidak terlalu terasa. Itu karena saat awal tahun, tingkat hunian semua hotel di Makassar rata-rata memang rendah. Nanti saat memasuki Maret, baru mulai terlihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Sehingga dapat disimpulkan, peristiwa bom Sarinah pengaruhnya tidak terlalu besar di Makassar.
“Tingkat okupansi Hotel Horison Ultima di 2015, khususnya pertengahan tahun, bisa mencapai seratus persen dari jumlah kamar yang ada. Maraknya pembangunan hotel di Makassar, menjadi tolok-ukur utama kami menyikapi persaingan,” paparnya.
Budi menambahkan, pada akhir 2015, target hunian yang ditargetkan manajemen bisa mencapai 80 persen. “Total kamar yang kami dimiliki ada 129, di antaranya superior, deluxe, junior suite, executive suite, dan Horison suite,” imbuhnya.
    
IHSG dan Rupiah Sempat Tertekan

Kejadian ledakan di Sarinah sempat berimbas terhadap pasar modal dan keuangan Indonesia. Nilai tukar rupiah dibuka melemah 22 poin ke level Rp 13.857 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi, dari penutupan perdagangan Rabu, 13 Januari 2016 di level Rp 13.835 per dolar AS.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, mengatakan, pada saat itu akan berupaya menjaga pasar tetap tenang usai ledakan bom di Sarinah. Pelemahan rupiah dan IHSG yang terjadi, dinilai pemerintah hanya sementara. Yang paling penting adalah negara ini memiliki fundamental makro yang kuat, untuk dapat mengembalikan kondisi ini ke kondisi yang normal.
Hal senada disampaikan pengamat keuangan dan pasar modal Kota Makassar, Adi Syawal. Ia menilai, tidak ada alasan untuk pasar keuangan Indonesia terus tertekan karena ledakan bom. Indonesia masih menarik bagi investor. Untuk itu, ia mengimbau aparat keamanan harus sigap mengambil langkah pengamanan apabila terjadi hal yang tidak terduga.