07 January 2016

Snow in My Heart (From Singapore with Love)

BLOGKATAHATIKU/IST
Snow in My Heart (From Singapore with Love)
Oleh Effendy Wongso

“Good afternoon.”
“Good afternoon?”
“May I meet Hyung?”
“Excused me?”
“Hyung. Kim Yong Hyung!”
“Oh, Kim Yong Hyung. Korean best artist, the pop singer?”
“Yeah.”
“Excused me. What your interesting?”
“She’s my best friend. We made appointment yesterday.”
“Just a minute. She’s maybe busy but I can call her at five minute. Sit down, please. Exused me, what your name?”
“Ronny Panggabean. Hm, just call me Ron. Thank you.”
Dengan berbekal bahasa Inggris pasif, saya menyusuri Negeri Jiran ini. Salah satu kota terbersih dan teraman di dunia, Singapura. Dua malam saya menunggu gadis itu dengan takzim. Kesibukannya yang luar biasa sebagai selebritis kelas dunia, menyita nyaris semua waktunya tanpa sisa. Siapa dapat menyangka kalau Kim Yong Hyung yang pernah demikian dekat dengan saya bisa sepopuler begitu. Ini memang nasib baik dia!
Dari luar, melalui flat-speaker yang menempel di langit-langit ruang tamu studio, samar saya dengar ‘Sweet Dream’-nya Jang Na Ra mengalun dengan riang. Ada bohlam merah tepat di tengah atas bingkai pintu menyala. Hei, ada audisi ternyata di dalam studio. Saya termangu. Suara itu tidak asing.
Astaga!
Suara Jang Na Ra. Dia sedang membawakan lagu dari sountrack Korean TV Drama ‘My Love Pattzzi’, sinetron yang dibintanginya sendiri bersama aktor kawakan Kim Jae Won. Saya suka sinetron itu. Lucu. Jang Na Ra bermain cukup gemilang di sana. Melalui telepon hotel kemarin, Kim Yong Hyung bilang kalau dia bakal main dengan Jang Na Ra di sinetron jenis serupa. Entah kapan. Tapi untuk saat ini dia masih berkonsentrasi di nyanyi. Jadi untuk sementara ini pula banyak tawaran sinetron yang ditampiknya di Seoul. Kali ini kedatangannya beserta Jang Na Ra cs. ke Singapura merupakan konser tur keduanya setelah Jepang. Sayang mereka tidak singgah di Indonesia. Jadi saya menguber gadis itu, sekalian mewawancarainya untuk bahan artikel majalah tempat saya magang di Jakarta. Dan Tuhan masih menolong saya. Vakansi ebtanas sekolah tepat dengan jadwal konser mereka. Semalam-malaman saya berdoa syukur untuk itu!
“Hai, Ron? Sudah lama nunggu?”
Kim Yong Hyung menyapa saya. Dia berjalan dengan gerak gegas, menghampiri saya yang kontan berdiri dari sofa tunggu studio. Gadis itu agak kurusan. Tapi dia kelihatan lebih dewasa. Semakin cantik. Lebih cantik dari fotonya di sampul album lagunya yang terbaru, ‘Panggayo’.
Saya menggeleng, melebarkan bibir. “Tidak.”
“Sori. Kami sedang audisi suara untuk konser lusa.”
“Sori. Saya mengganggu!”
Kim Yong Hyung menyergah, sontak merangkul tangan saya seolah menggandeng. “Oh, no! Tidak!”
“Kamu yakin saya tidak mengganggu?”
“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin Si Dong Goek itu berbaik hati ngasih izin.”
“Dong Goek?”
“Dia manajer konser tur kami.”
“Oh.”
“Hei, kamu sendiri?”
“He-eh.”
“Where your girlfriend?”
“Not yet.”
“Not yet?! Hm, you must be lie! I don’t believe it.”
Saya tersenyum. Dia masih menggandeng tangan saya. Menarik separo menyeret duduk kembali di sofa tunggu studio setelah membungkuk berterima kasih pada gadis resepsionis di seberang meja.
“Ron, jangan bilang kalau stock gadis-gadis Jakarta habis diboyong orang!”
“Saya pikir kamu sudah berubah, Hyung!”
“Lho?”
“Ternyata, meski telah menjadi selebritis kondang, kamu tetap saja seperti dulu.”
“What you meant, heh?”
“Kamu masih saja sejutek dulu.”
“Hei, asal kamu ya?!”
Kim Yong Hyung masih saja tetap seperti yang dulu. Dia mencubit paha saya keras. Persis kebiasaannya pada saat kami masih bersama di SMP. Tiga tahun lalu dia mengikuti keluarganya ke Indonesia. Waktu itu ayahnya ditugaskan mengepalai sebuah perusahaan elektronik Samsung di Jakarta. Lalu dia pun menjalani kehidupannya sebagai siswa di sekolah regular. Saya tidak tahu alasan apa yang melatarbelakangi dia memilih sekolah biasa, bukannya sekolah khusus warga asing.
Tidak butuh waktu lama untuk menyelami dasar hatinya. Kebersahajaan seorang gadis yang mapan dalam kesederhanaan setiap tindaknya, telah membakar hati saya dalam gelora renjana. Sayang maksud tak sampai. Saya terlalu kerdil untuk mencetuskan tiga kata.
Hanya tiga kata!
Namun semuanya menjauh digebah keraguan yang babur. Yang pada akhirnya saya insyafi sebagai penyesalan ketika semuanya baur tak tergapai tangan. Dia kembali ke Seoul, dan menutup tirai manis persahabatan kami dalam lembar-lembar kenangan semata.
Seperti merpati yang kembali. Tiba-tiba dia hadir, mengepakkan sepasang sayapnya yang putih ke angkasa dengan sederet daftar keberhasilan. Saya nyaris pangling ketika gadis bermata sipit itu menghadirkan aurora. Sesuatu yang tidak pernah melintas terlebih menghuni memori dalam benak saya selama bersamanya di Jakarta dulu. Sampai sampul album lagu terbarunya itu menegaskan segalanya. Bahwa dia memang Kim Yong Hyung. Gadis yang pernah saya akrabi dengan seribu kenangan tak terlupa.
“Ronny Panggabean!”
“Eh, uh….”
Saya terkesiap. Entah berapa lama mematung dalam buaian alur kenangan silam. Dia memandangi saya lamat, mengurai simpul bibirnya membentuk senyum.
“Kamu bukan nyari saya untuk menemani kamu melamun, kan?”
“Sure. Eh, kamu ada waktu, kan?”
“Yap.”
“Aku traktir kamu makan.”
Saya tarik tangannya, keluar dari MTV Singapore Office di Temasek Tower, Shenton Way dengan langkah separo menyeret. Dia manut seperti pitik.

***

Wheelock Place masih menghadirkan kemegahan kosmopolitan ketika saya dan Kim Yong Hyung tiba di sana dengan ditangkup temaram lembayung yang menggantung di langit barat. Rimba manusia yang menyemut di Orchard Road seperti tidak ada habis-habisnya. Saya tarik tangan Kim Yong Hyung ke salah satu book store unik di sana, Borders.
Tidak leluasa sebenarnya. Untunglah Kim Yong Hyung pandai menyamarkan dirinya dengan sebuah pet sport dan jaket kerah gantung. Juga kacamata separo gelap yang menambah manis parasnya yang aristokrat. Jadi serbuan nyamuk pers dan kerubungan fans dapat dihindari. Kalau tidak begitu, seumur-umur dia tidak dapat menikmati waktu luangnya dengan santai dan rileks.
Borders ramai seperti biasa. Sejak menginjakkan kaki di Singapura, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi toko buku ini. Di sini saya dapat membaca lektur bagus dan langka yang tidak dijual di Indonesia karena kemahalan. Selain itu Borders juga merupakan kafe buku terbaik di sini selain Kinokuniya. Di ruang dalam ada tempat makan dan minum dengan nuansa perpustakaan. Kembali saya tarik tangan Kim Yong Hyung ke sana. Memesan makanan dalam daftar menu berupa booklet yang terpapar di atas meja.
“Kamu sering kemari?”
“He-eh.”
“Oh, I see. Kamu kan jurnalis. Jelas kamu suka buku.”
“Hyung, tahu tidak, saya tuh kaget begitu tahu kamu ternyata sudah menjadi penyanyi kondang. Tadinya saya pikir….”
Kalimat saya terpenggal. Seorang pelayan membawa nampan berisi pesanan makanan kami. Dihidangkannya dengan cukup hati-hati. Mengatur sendok-garpu di muka kami. Sukiyaki Kim Yong Hyung masih mengepulkan asap. Dia mendinginkan dengan meniup-niup. Lucu. Saya terkikik melihat tingkahnya, lalu menyeruput jus strawberry begitu pelayan meninggalkan meja kami.
“Kenapa?”
“Saya pikir kamu pasti berubah jadi sombong. Pasti tidak mau mengenal teman lama lagi.”
“Buktinya saya masih mengenal kamu, kan? Sekalipun hanya via telepon, tapi saya masih hapal beberapa suara teman di Jakarta, kok. Termasuk kamu.”
“Nah, di situlah kelebihan seorang Kim Yong Hyung. Makanya, waktu di Jakarta dulu semua cowok penghuni kelas naksir sama kamu.”
“Hah, saya tersanjung, nih!”
“Kenyataan, kok!”
“Trims deh atas sanjungannya.”
“Tapi sayang kita tidak bisa sering ketemu seperti dulu lagi, Hyung!”
“Lho, kenapa?”
“Bukan apa-apa. Posisi kamu sekarang sudah beda. Tentu saja saya tidak dapat menemui kamu di sembarang tempat. Harus membuat appointment terlebih dahulu. Harus melalui prosedur yang berbelit-belit. Huh, merepotkan sekali!”
“Yeah, I know. Itu merupakan konsekuensi saya sebagai publik figur. Tapi, kamu jangan kuatir. Kapan saja kamu dapat menemui saya.”
Saya menunduk. Menggigit pelepah bibir. Meski cetusan pertemanan itu masih kuat, tapi segalanya memang sudah jauh berbeda. Ada jarak yang terbentang luas mengantarai kami. Saya telah membuang waktu percuma nyaris tiga tahun saat bersamanya di Jakarta dulu. Menyembunyikan tiga patah kata yang sampai sekarang terbebat di otak saya. Bentuk kekerdilan yang merupakan mayor inharmoni dalam hati saya.

***

“Hei, what do you think about my new album?”
“Bagus. Lebih akustik. Saya suka lagu ‘Snow In My Heart’.”
“Bingo!” Hyung menjentikkan jarinya. “Saya juga suka lagu itu meski bukan lagu yang menjadi best cuts di album ‘Panggayo’.”
“Oya? Kok bisa sama, ya? Rupanya selera kita tidak jauh berbeda.”
“Right! Eh, lagu itu asyik sebetulnya. Syairnya menyentuh lho, Ron.”
“Hm, I think you have a special memory with that song. Lagu ciptaan kamu itu sangat menyentuh emosi hati. Seperti elegi! Apa sih maknanya, Hyung?”
Kim Yong Hyung mengusap wajah. Saya tangkap ada dua binar yang menggantung di sudut matanya. Sekilas. Secepat kilat digebahnya gambaran durja itu dengan menguraikan simpul di bibirnya membentuk senyum.
“Bukan kisah yang istimewa. Hanya bertema klasik. Biasa, cinta dua anak manusia yang terpenggal karena ironi. Makanya, lagu itu saya kasih judul ‘Snow In My Heart’. Suasana kisahnya sedingin salju.”
“Pengalaman hati?”
Kim Yong Hyung mengangguk. Sebuah jawaban yang jujur dituturkannya dalam bahasa gerak itu memang tidak memerlukan kalimat lagi. Saya menelan ludah dengan susah payah.
“Siapa?!”
“Namanya Takeshi Hinagata. Model asal Jepang.”
“Pasti dia orang paling istimewa dalam hatimu!”
“Boleh dibilang begitu, karena setahun lalu dia sudah bermaksud bertunangan dengan saya. Heh, itu merupakan momen prematur seandainya jadi, ya?”
“Trus, kenapa….”
“Orangtua saya tidak menyetujui hubungan kami tersebut!”
“Alasannya apa?!”
“Sepele. Kebanyakan orang tua Korea masih trauma dan dendam atas pendudukan serta kekejaman Jepang terhadap bangsa Korea pada Perang Dunia kedua, puluhan tahun yang lalu!”
“Bah!”
Saya terbahak. Lucu mendengar dalih atas lantaknya dua hati itu. Lebih parah ketimbang kisah mirisnya Siti Nurbaya!
“Saya tidak mengerti kenapa masih ada orangtua yang kolokan begitu, Ron. Makanya, daripada menyimpan kesedihan mendalam, saya kompensasikan semuanya itu dalam kegiatan positif saya yang seabrek. Saya ingin melupakan kenangan pahit itu, Ron.”
“Jadi, bagaimana dong dengan Takeshi?”
“Mungkin kami tidak sejodoh. Sudahlah, sekarang dia hanya menjadi stori masa lalu, Ron.”
“So, kamu belum dapat pengganti Takeshi?”
“Hei, kamu pikir gampang apa mendapat orang yang benar-benar dapat dicintai setulus hati?! Kalau sekadar just for fun sih banyak. Tinggal comot satu fans cowok saja, beres deh persoalan.”
“Iya, sih. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Kamu tidak menutup hati rapat-rapat, kan? Maksudku….”
“Kecewa dengan yang namanya cinta?”
Saya mengangguk.
“Tentu saja tidak. Memangnya kenapa?”
“Biasanya gadis yang sakit hati gara-gara cowok akan menyimpan trauma sampai seumur hidupnya.”
“Hei, memangnya aku picik begitu? Kalau aku begitu, yang namanya Ronny Panggabean pasti tidak bakal berada di seberang meja ini. Berhadapan dengan saya, duduk makan semeja di Borders!”
Saya terbahak. Tiba-tiba merasa memiliki kekuatan dan keberanian untuk menjalin benang merah lebih dari sekadar persahabatan. Saya memang mesti bersikap jujur dengan suara hati saya sendiri. Saya tidak ingin kehilangan momen yang datangnya mungkin sekali dalam seumur hidup ini. Saya tidak ingin melewatkan dan menyia-nyiakan waktu seperti dulu lagi. Sepertinya saya sudah lebih siap, mantap untuk memaparkan isi hati yang belum terungkap sekian tahun.
Malam menangkup di Orchard Road. Rasanya waktu berlalu secepat meteor. Saya ingin terus bersamanya. Membantu menyaput hari-harinya yang kelabu.