16 January 2016

Sepenggal Kenangan Edelweiss (03)

BLOGKATAHATIKU/IST
Sepenggal Kenangan Edelweiss (03)
Oleh Effendy Wongso

Kuta di senja itu
menjingga dalam kenangan
sayang indah urung mengurai senyum sang jelita

Aku terempas
adakah pendar horizon serupa lentera
sebagai penerang temaram hati?

Tak tahu!
begitu katanya
lalu kutengok edelweiss dalam bisu
ia telah berdialog dengannya
tentang dua hati nan terkoyak
aku terlentang mati karenanya

—Nita pada Suatu Senja


Malam di Denpasar sudah mengembuskan atmosfer sedingin es ketika Asep datang membisiki saya. Katanya, gadis itu kelewat introver. Gadis berkulit putih itu merupakan salah satu bidadari. Namanya Nita, Nita Vega Pramana. Dan setelah tujuh hari bersama menyusuri trip asyik Jawa-Bali bersama anak-anak satu kelas, saya baru menyadari kalau gadis teman sekelas saya itu memang sering menyendiri dengan wajah murung.
Dalam rombongan tur perpisahan kelas kami, memang ada dua puluh tiga bidadari. Bidadari di sini tentu merupakan artifisial. Bukan para dayang dari istana langit seperti yang termaktub dalam serangkaian dongeng kanak-kanak. Yang memiliki kecantikan paras seindah berlian dan permata berkilau dari nirwana. Sama sekali bukan. Tapi yang dimaksud adalah dua puluh tiga siswi biasa SMA Regina Pacis yang masing-masing, memiliki kepribadian, karakter, dan watak sendiri-sendiri.
Sepasang mata indah itu tampak menekuri lantai hotel. Seperti mengamati alur-alur lantai, menghitung partikel garis akibat gesekan sepatu pada ubin porselen bermotif kembang keramik.
Asep, sang Koordinator tur juga sempat bilang, kalau dia kasihan melihat anak itu. Ekstrim dia bilang, takut terjadi apa-apa dengan gadis berwajah pucat itu. Pembawaannya diam melulu. Bicaranya hemat energi. Hanya, ya dan tidak. Plus gelengan atau anggukan!
Dan tentu Asep punya alasan untuk mengkhawatirkan kondisi yang tidak mengenakkan itu. Tentu saja. Bukan apa-apa sebenarnya. Tapi, seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap salah satu rombongan peserta tur, maka dialah yang pertama-tama digorok oleh pimpinan pihak travel di Jakarta!
Makanya, dia mendekati dan menceritakan perihal kelakuan ganjil Nita kepada saya. Saya langsung mengangguk paham. Untuk menyelami dasar hati gadis serupa arca itu, Asep tentu angkat tangan. Dan dia menyerahkan tugas moral itu kepada saya. Katanya, masalah gadis itu adalah level kawula muda. Sebab dia yang nyaris berkepala empat itu sudah tidak sinkron lagi kalau masuk ke dalam dunianya remaja.
“Saya serahkan Nita sama kamu, Wong. Kamu kan ketua kelas. Ya paling tidak kamu bisa mimpin anak-anak!”
Setelah menyerahkan tugas itu kepada saya, dia tampak sumringah dan dapat tertawa lagi seperti biasa. Bercanda dengan peserta tur cowok lainnya, yang saat itu sedang asyik bermain gitar dan gaple.

***

Saya dekati gadis pendiam itu. Duduk di sampingnya. Berdeham untuk menarik perhatian. Dia hanya mengangkat muka sekilas. Lalu mulai menundukkan kepalanya lagi.
“Tidak gabung sama teman-teman?”
Saya bertanya, lebih sekadar berbasa-basi. Entah harus ngomong apa dengan gadis serupa arca ini. Tentu sulit mencari kalimat yang tepat untuk mengajaknya berdialog. Jadi, saya hanya melantunkan kalimat klise tadi.
Dia menggeleng.
Saya lihat sekuntum edelweiss berpot wadah bekas sabun colek di atas meja tamu kamarnya. Pasti miliknya. Bunga yang tumbuh di daerah dingin itu sebenarnya tidak terlalu indah di mata saya. Lain halnya kalau mawar atau anggrek. Tapi meski tidak seindah bunga-bunga hias, edelweiss merupakan bunga langka yang banyak diminati orang. Selain karena jarang, bunga tersebut juga memiliki nilai histori sendiri di kalangan pecinta bunga.
“Punya kamu?”
“He-eh.”
“Dapat dari mana?”
“Beli sewaktu di Bromo.”
“Kamu suka edelweiss, ya?”
Dia mengangguk.
“Padahal, gadis-gadis sih biasanya senang sama mawar.”
Dia membisu. Masih duduk di sofa hotel dengan wajah menekuk. Saya sedikit rikuh dengan kelakuannya yang laten serupa arca. Saya menggaruk kepala tanpa sadar. Mencari kalimat tepat untuk tetap mengajaknya buka suara. Saya tidak ingin dia berkubang sendiri seperti muno.
Padahal, kedua puluh dua bidadari lainnya sudah berkumpul seperti biasa. Menebar jala gosip khas nona-nona metropolis. Apalagi kalau bukan soal dunia lawan jenis pemikat sukma alias cowok-cowok keren, yang bisa dijadikan tongkrongan kebanggaan suatu waktu.
“Ada stori dengan edelweiss, mungkin?”
“Tidak juga. Tapi….”
“Apa?”
“Kata orang, edelweiss merupakan lambang kelanggengan cinta ya, Wong?”
Saya tersenyum. Gadis ‘bisu’ itu sudah mulai buka suara. Saya cepat-cepat mengangguk, mengiyakan kalimatnya barusan. Tentu saja. Sebelum dia kembali mengikat mati simpul bibirnya. Diam dan membisu sejuta bahasa.
“Kata orang pula, kalau seseorang menyimpan beberapa helai bunga edelweiss di dompet, maka biasanya mereka akan enteng jodoh. Juga awet dengan pasangannya sampai tua.”
“Mungkin.”
“Kok mungkin sih, Wong?”
“Memangnya kenapa?”
Saya pancing dia untuk melontarkan kalimat.
“Maksud saya, edelweiss ini kan….”
Kena!
Saya sudah berhasil menggetarkan pita suaranya untuk melantunkan dialog. Dia menatap saya dengan rupa heran. Sepasang alisnya bertaut, menggambarkan keingintahuan.
Memang itulah yang saya harapkan!

***

“Saya kira hal itu hanya sugesti.”
“Sugesti?!”
“Ya.”
“Maksud Wong, sugesti….”
“Sugesti adalah metafora, di mana sesuatu hal atau benda dianggap dapat memberikan nilai makna atau tujuan kepada seseorang. Misalnya jimat, bebatuan bertuah, mantra-mantra, dan lain sebagainya. Nah, termasuk edelweiss ini juga!”
“Oya?”
“Ya. Penggambaran edelweiss sebagai bunga keabadian kisah asmara, tidak terlepas dari persepsi yang melegenda. Soalnya, bunga edelweiss tidak mudah ditemukan di sembarang tempat. Edelweiss tumbuh di tempat yang paling terpencil. Biasanya di lereng-lereng bukit yang terjal. Tidak mudah digapai tangan-tangan jahil. Nah, kalau kita bicara soal kata terpencil, di mana sih daerah terpencil pada manusia selain hati?”
“Hm, maksud Wong….”
“Edelweiss itu hanya simbol penggambaran cinta sejati. Cinta abadi seseorang kan berasal dari lubuk hati, mirip dengan tempat tumbuhnya edelweiss di lereng-lereng terpencil.”
“Oo, jadi hanya sugesti ya, Wong?”
“Tentu saja. Kalau bukan sugesti, setiap orang yang menyimpan edelweiss di dompetnya pasti memiliki pacar yang tidak bakal selingkuh. Bapak-bapak tidak ada yang berpoligami. Hahaha….”
Saya terbahak.
Gadis itu tersenyum.
“Eh, Nita kok pendiam sekali sih? Apa yang dipikirkan, sih?”
“Ti-tidak.” Dia menggeleng dengan leher getas. “Tapi, sayang dong kalau edelweiss itu hanya sugesti!”
“Maksudmu?”
“Sebetulnya, dengan edelweiss ini saya berharap Papa dan Mama saya bisa rujuk kembali di Jakarta!”
“Ya ampun, Nit! Jadi….”
“Orang tua saya baru saja bercerai, Wong!”
“Pantasan kamu….”
Saya terkesiap. Sedikit merasa menyesal telah secara tidak langsung menguakkan kembali kisah suram keluarganya yang lantak. Tapi saya memang tidak sengaja. Saya prihatin. Sangat prihatin. Pantas gadis itu seperti tidak memiliki semangat hidup.
“Saya memang bodoh ya, Wong! Mau percaya….”
“Tidak, Nit!”
“Tapi….”
“Kamu jangan bilang begitu.”
“Sa-saya….”
“Kamu tidak salah berbuat begitu demi kebaikan orang tua kamu. Tapi alangkah baiknya kalau setiap hari kamu berdoa, supaya orang tua kamu dapat rujuk kembali. Itu lebih bagus ketimbang bersugesti dengan legenda edelweiss.”
“Saya….”
“Saya turut prihatin atas prahara yang menimpa keluargamu. Tapi, saya harap kamu jangan terlalu sedih. Saya kira semua itu hanya cobaan hidup buat kamu!”
Saya lihat mata gadis itu berkaca-kaca. Sepasang tangannya yang lampai menyentuh bunga-bunga edelweiss di atas meja. Seperti mengusap helai-helai berwarna putih gading edelweissnya.
“Ta-tapi bunga-bunga ini….”
“Simpan di kamarmu sekembali ke Jakarta. Saya yakin, edelweiss itu pasti akan membuat ruang kamar kamu jadi lebih cantik.”

***

Denpasar tujuh pagi. Masih terlalu pagi sebenarnya untuk memulai perjalanan. Saya lunglai. Berdiri di hadapan taksi dengan sikap gugu. Perjalanan ini merupakan pertemuan terakhir saya dengan teman-teman sekelas lainnya. Tiga tahun kami bersama dalam suka dan duka. Ada saatnya memang kami harus berpisah. Memilih jalan hidup kami masing-masing setelah menamatkan pendidikan di SMA Regina Pacis.
“Wong, mampir-mampir ke rumah ya?” Yanthi menjabat tangan saya.
“Jangan lupakan Lina ya, Wong kalau sudah di negeri orang!” Herlina berteriak dari dalam bis.
“Awas lho Wong, kalau tidak mampir ke rumah saat pulang ke Jakarta!” teriak Viona menongolkan kepalanya keluar jendela, lalu melambai antusias. “Sering-sering SMS, ya?”
Saya mengangguk. Langkah saya memberat ketika Asep sudah mendesak agar segera berangkat ke Bandara Ngurah Rai. Telat satu jam berarti saya harus ketinggalan pesawat.
Pagi itu semuanya seperti membisu. Saya melambai, masih berdiri mematung di samping taksi yang akan mengantar saya ke bandara. Di halaman hotel, bis pun sudah siap mengantar rombongan tur kembali ke Jakarta. Saya tidak ikut pulang ke Jakarta, karena via udara langsung ke Singapura untuk mengikuti tes masuk ke Katong Convention High School, salah satu perguruan tinggi jurnalistik di sana.
Saya lihat Nita masih menundukkan kepalanya seperti biasa. Dia tidak berkata apa-apa tanda pamit. Saya hanya lihat matanya yang membasah. Saya tahu dia sedih. Sedih sekali. Sayang saya tidak punya cukup waktu untuk menghiburnya. Saya hanya bisa berdoa, semoga prahara keluarganya lekas berlalu.
“Wong, jaga diri baik-baik!” teriaknya akhirnya dengan suara parau.
Saya mengangguk. Nyaris meneteskan airmata haru. Tapi saya cepat-cepat berbalik, lalu masuk dan duduk ke dalam taksi.
Perjalanan dan singkat hari-hari kebersamaan memang membawa kenangan yang dalam. Di dalam taksi yang melaju kencang menuju bandara, saya sudah tidak kuasa menahan airmata yang menyeruak. Barangkali saya terlalu cengeng dengan akhir euforia ini. Barangkali juga saya telah jatuh hati kepada Nita.
Ah, entah kapan saya dapat bertemu, dan merangkai cerita indah bersama gadis itu lagi.

SELESAI