16 January 2016

Sepenggal Kenangan Edelweiss (02)

BLOGKATAHATIKU/IST
Sepenggal Kenangan Edelweiss (02)
Oleh Effendy Wongso

Lautan pasir menenggelamkan aku
dalam kata-kata tanpa suara
Ia hadir menghampar
mengeksistensi keberadaan Isvara

Bromo
sekuntum edelweiss
sepasang kuda hitam dan putih
jejak-jejak kaki para sakai
adalah embusan lafaz
yang ditiupkan dari Svargaloka
kita memang hanya setitik pasir

—Karya Isvara

Bromo. 09.07 AM.
Wanita yang kami sebut Mami itu sekarang sudah mulai melunakkan amarahnya. Sekarang dia tidak lagi ngambek diaman. Banyak hal bagus terlewatkan bila sepanjang perjalanan hanya membatu. Di gigir puncak Bromo dia malah mulai berkelakar. Pranata yang membentang tergebah jauh-jauh. Interaksinya sebagai seorang ibu yang bersahabat telah merajut ikatan dalam lembar keharmonisan. Sebagai tetua, pemimpin, sekaligus teman yang menyenangkan. Dan dengan cepat mengadaptasi terhadap peserta tur yang didominir kaum muda.
“Pemandangan di sini bagus dijadikan lokasi untuk cerpen-cerpenmu, Wong,” usul Mami begitu dia melihat saya mulai mencatat nama lokasi di buku catatan kecil saya.
Kami berjalan beriringan.
“Ya, Mami. Semua keindahan ini merupakan karya agung Isvara!”
“Isvara? Apa itu?”
“Oh, itu Tuhan, Mami. Dalam bahasa Sansekerta, Isvara itu berarti Tuhan atau Sang Penguasa Tertinggi.”
“Duh, pengarang. Apa-apa juga tahu.”
“Ah, tidak juga. Saya masih amatir kelas mading SMA kok, Mami. Tapi, bukankah penduduk asli Bromo memang penganut Hindu?”
“Ah, iya. Seperti di Bali ya?”
“Iya.”
“Nah, judul cerpen yang bakal kamu tulis apa?”
“Pastinya sih, belum Mami. Saya masih menulis draf-nya. Tapi mungkin, Sepenggal Kenangan Edelweiss.”
“Wah, judulnya indah sekali, Wong.”
“Ah, tidak juga, Mami. Saya hanya mereplikasi alam sekitar.”
“Ah, ya, ya. Itu tidak soal. Yang pasti kalau dimuat di majalah, honornya buat traktir makan Mami dan Nonon, ya?”
Saya tersenyum menanggapi. Nonon yang dia sebut tadi adalah nama panggilan kesayangan Viona. Saya kembali tersenyum. Mami sebenarnya kocak. Anak-anak peserta tur semuanya akrab dengannya. Hanya sayang, insiden miras semalam merecoki perjalanan tur kami yang ceria.
Kemarin Robby bikin ulah. Beserta Aditya, mereka menenggak miras di dalam bungalo. Sebenarnya tidak apa-apa, sih. Sebab saya yakin kedua anak itu minum miras bukan untuk mabuk, namun untuk menghangatkan badan. Tapi Mami tentu saja tidak dapat menerima dalih tersebut. Miras ya miras! Dan anak muda semacam kami memang belum pantas menenggak air api itu. Dengan alasan dan atas nama apa pun!
Tapi untung pagi ini amarahnya sudah padam. Saya lega. Anak-anak biang kerok sudah pula mengakrabi wanita empat puluhan itu.
Keceriaan datang kembali.

***

Perjalanan ke lautan pasir Bromo sudah dimulai fajar tadi. Asep Suparman, pemimpin tur, salah seorang karyawan biro travel yang menyertai rombongan tur sekolah kami, sudah menyiapkan keperluan perjalanan plus sedikit wejangan agar tidak tersesat di rimba pasir malam kemarin.
Dan begitu weker berisiknya berdering pukul tiga, peserta tur yang asyik meringkuk dalam buain mimpi terpaksa harus bangun. Bergegas masuk ke dalam bis sebelum ditinggal sendiri. Para bidadari sudah on time pukul setengah empat pagi. Telah membungkus diri dengan sweater dan jaket setebal kasur!
Tiba di tujuan, Viona mulai beraksi dengan kudanya, perjalanan ke tempat tujuan memang lebih aman dan cepat dengan menunggang kuda yang disewakan sekaligus dituntun sang kusir. Tanpa kesulitan, dia menapaki sanggurdi dan langsung duduk di pelana punggung kuda dengan entengnya. Dipacunya kuda berlari tanpa dituntun kusir penyewaan kuda. Agaknya gadis manis itu memang sudah terbiasa menunggang kuda. Dalam salah satu perannya di sinetron laga Brama Kumbara, Viona yang berperan sebagai Mantili memang diharuskan dapat menunggang kuda.
Nadya dan Yanthi masih seiring sejalan. Naik kuda juga beriringan. Tapi karena seumur-umur belum pernah naik kuda selain kuda troya, maka pagi itu juga mereka nyaris bikin stori. Kuda yang mereka tunggangi melompat karena kekangan yang kekencangan. Persis serupa kuda pacuan di arena lomba rintangan berkuda. Untung mereka dituntun kusir sehingga kuda tersebut menjinak. Manut oleh satu tepukan lembut sang kusir di kepala.

***

Bromo. 11.35 AM.
Vicky masih mengekor seperti pitik di belakang Viona. Berhenti di Horse’s Camp karena tidak berminat menunggang kuda ke gigir kawah. Viona sudah melaju di atas kuda seperti pendekar dalam sinetron. Selain mengekor, cowok jangkung itu hanya mengambil gambar lanskap alam Bromo yang indah sepanjang perjalanan ke gigir kawah. Jarang bicara apa-apa. Saya mendekatinya setelah berpisah dengan Noerdin, wartawan dari majalah Anita Cemerlang yang kami undang untuk meliput kegiatan tur perpisahan. Asep yang memilih tinggal di Horse’s Camp di perbatasan dusun Bromo. Tidak ikut menunggang kuda seperti peserta tur lainnya.
“Pemandangannya indah sekali ya, Vic.” Saya buka suara setelah dia sedari tadi terdiam. Hanya asyik dengan kameranya.
“Iya, Wong. Tapi katanya….”
“Apa?”
“Katanya, kawah Bromo ini suka memakan korban.”
“Masa iya, sih?”
“He-eh. Makanya, setiap tahun penduduk sini mengadakan upacara semacam selamatan begitu.”
“Namanya apa?”
“Tidak ngerti. Tapi, sesajiannya bisa berupa kepala kerbau segala macam. Ih, seram ya, Wong?”
“Masing-masing daerah memiliki upacara maupun ritual kepercayaan khas tersendiri, Vic. Ngaben di Bali, misalnya. Atau, upacara ritual pemakaman mayat yang khas di Toraja.  Nah, itu merupakan khazanah budaya bangsa kita yang majemuk ini. Jadi, hal tersebut jangan dianggap takhayul.”
“Tapi, sudah banyak kejadian lho, Wong. Setiap tahun ada saja yang meninggal di kawah Bromo.”
“Itu insiden, Vic. Kecelakaan. Human error. Siapa saja bisa menjadi korban kalau lengah dan tidak berhati-hati. Tebing curam, longsor, badai pasir, dan banyak faktor alam lain lagi yang bisa jadi penyebab jatuhnya korban.” 
“Tapi legenda itu….”
“Legenda bukan merupakan aktualita. Sementara, aktualita memerlukan pembenaran. Seperti halnya budaya, legenda merupakan khazanah. Banyak kearifan yang tersirat, yang memerlukan pencernaan nurani ketimbang logika di dalam legenda. Jadi, betapa piciknya kita kalau menerjemahkan legenda di dalam bahasa nalar.”
Namun Vicky tidak menggubris ulasan saya. Tetap menganggap legenda itu sebagai sesuatu yang hakiki. Kami berjalan kaki sejauh satu kilometer. Bertemu beberapa bidadari yang sudah sedari tadi tiba di gigir puncak Bromo. Mengabadikan gambar sebagai pemajang kenangan.

***

Denpasar. 01.22 AM.
Setelah dua malam di Bromo, trip dilanjutkan ke Bali. Tiba di Bali, rombongan tur langsung diboyong ke Sanur. Sudah pukul satu lebih dua puluh dua menit ketika rombongan tiba, dan menginap di salah satu hotel kecil tapi asri. Anak-anak sudah kelengar. Jadi, tidak ada yang berniat kelayapan di tengah malam kecuali untuk mengisi perut di warung-warung kecil yang berseliweran di sepanjang pantai Sanur.
Saya, Vicky, Robby, dan Aditya memilih makan di luar, warung Padang. Sementara para bidadari ada yang sudah tidak kuat jalan, lebih memilih tidur atau makan di hotel saja. Noerdin, Asep, dan Wayang masih mengurus administrasi hotel.
Sehabis mengisi perut, Vicky mengeluh sakit pada lehernya. Sampai besok pagi pun, ketika kami sudah asyik mengelilingi objek wisata di Pulau Dewata, cowok itu masih mengeluh kesakitan.
“Saya disambar benda halus, Wong.”
“Astaga, Vic!”
Saya sudah tidak tahan. Vicky kelewat terobsesi kisah-kisah legenda sehingga membutakan akal sehatnya. Sejak di Bromo, anak itu selalu ngomong yang ngawur-ngawur seputar dunia gaib.
“Mungkin hantu para cenayang,” tebaknya.
“Hus, sembarangan kamu!”
“Tapi….”
“Kamu cuma keseleo!”
“Ta-tapi….”
“Sekali lagi kamu ngomong ngawur, disambar Leak baru tahu rasa!”
Saya ngomong sekenanya. Jengkel dengan seliweran dunia klenik dalam benaknya. Dia meringis. Takut dengan ancaman itu.
“Sudahlah, Vic. Lebih baik kamu pergi urut leher di massage daripada ke dukun!”
“Tapi….”
Saya tidak menanggapi keluhannya lagi. Lebih memilih berkumpul dengan peserta tur lainnya. Mungkin ada bahan dan ide yang dapat dijadikan tema dalam cerpen.