15 January 2016

Sepenggal Kenangan Edelweiss (01)

BLOGKATAHATIKU/IST
Sepenggal Kenangan Edelweiss (01)
Oleh Effendy Wongso

Ini memori biru
rangkuman kebersamaan
dalam hari-hari yang singkat
kesederhanaan alur kisah,
dan saling mengasihi merupakan euforia

Semuanya tumbuh seiring kenangan
sehingga sang waktu pun
tak mampu memupusnya

—Catatan Kecil Perjalanan

Bromo. 10:15 PM.
Saya baru saja mengedipkan mata ke arah Aditya ketika Mami sudah berdiri di belakang kami dengan muka butek. Terlambat. Anak itu memang lamban selambat kura-kura. Slow motion-nya bikin celaka. Dia lebih gemulai ketimbang balerina.
“A-Adit! Apa-apaan sih kalian ini?!” Wanita gemuk itu menjerit dengan suara semirip lengkingan knalpot bajaj.
“Sa-saya mau ke toilet!”
Robby sudah mengambil jurus langkah seribu begitu Mami melototkan mata sebesar ikan maskoki. Dia terbang segesit walet. Aditya nyaris kelengar. Gagal menyembunyikan botol miras. Prahara tidak dapat dielakkan!
Saya menepuk dahi. Dan mengaduh dalam hati. Kesal. Anak itu selalu bikin ulah. Kali ini Mami pasti akan mengeluarkan petuah-petuah bijaknya yang sepanjang tujuh halaman folio ketik dua spasi. Seperti syarat penulisan cerpen pada sebuah majalah remaja. Tentu saja. Sebagai orang yang dituakan, dalam rombongan tur, Mami merupakan peserta dengan usia terlanjut, dia ingin menunjukkan eksistensi sebagai pemimpin yang baik. (Mami adalah ibu dari Viona. Satu-satunya siswi yang memboyong ibunya ke acara tur perpisahan kelas kami. Hah, cengeng banget memang. Tapi kalau tidak begitu, katanya sih doi tidak diperbolehkan ikut. So, jadilah sang idola itu membawa bodyguard!).
“Apa itu?!” Mami merampas botol yang disembunyikan Aditya di belakang punggungnya.
“Itu wiski, Mami,” saya menjawab menyergah amarahnya yang sudah mengubun.
“Astaga!” Mami mendesis, menolehkan kepalanya ke arah saya.
“Udara dingin sekali, anak-anak cuma ingin menghangatkan badan dengan wiski itu, Mami.”
“Tapi itu bukan alasan untuk bermabuk-mabukan?!”
“Maaf, Mami. Tentu saja bukan untuk bermabuk-mabukan….”
“Adit!” Wanita berwajah bundar itu kembali mengarahkan pandangannya yang tajam ke arah Aditya yang masih kemekmek seperti patung orang setengah kelar. “Kamu yang beli, ya?”
“Maaf. Saya yang membelinya, Mami.”
Mami mengibaskan tangannya. Diputarnya tumit dengan pelepah bibir separuh mencibir. Bersungut-sungut seperti kebiasaannya. Dia masuk ke kamar loteng tanpa bilang apa-apa lagi. Memarahi kami dengan diam sampai dua kali dua puluh empat jam seperti biasa!
Mami tidak melanjutkan amarah konservatifnya. Setelah saya berkorban mengambil alih tanggung jawab, sontak dia memafhumi keadaan yang tidak mengenakkan itu.
Dia tahu saya pasti melindungi anak-anak!

***

Bromo. 10:31 PM.
Dalam perjalanan ke Bromo pagi tadi, bis yang kami tumpangi singgah untuk mengisi bahan bakar di Mojokerto. Robby iseng membeli wiski di sebuah swalayan. Katanya, bekal untuk penghangat badan di daerah dingin itu nantinya. Tanpa sepengetahuan Mami, beserta Aditya dia memboyong sebotol air api itu secara gerilya. Sembunyi-sembunyi.
Sayang nasib tak berpihak. Malang tak dapat dielakkan. Aditya dan Robby kedapatan sedang meneggak miras. Kontan saja Mami mencak-mencak. Saya segera mengambil langkah darurat untuk menyelamatkan situasi. Dan mengaku sebagai pemilik miras itu.
“Terima kasih, Wong.”
“Untuk apa?”
“Kalau bukan karena kamu, kami pasti sudah kena gampar.”
“Mami tidak segalak itu.”
“Tapi….”
“Pengalaman kena gampar dari Mami, ya?”
“Belum pernah, sih. Tapi….”
“Jangan berasumsi kalau belum terbukti.”
Aditya menundukkan kepalanya. Dipandanginya botol minuman berakohol yang menjadi biang kemarahan Mami. Robby sudah melarikan diri entah kemana. Anak itu memang reseh. Sudah lempar batu malah sembunyi tangan. Asam!
“Hai, guys!”
Saya mengedarkan mata ke arah asal suara. Viona dan Vicky. Hm, mereka baru saja jadian, cinlok! Tengah berdiri di bawah bingkai pintu seperti sepasang Ninja. Pakaian hangat yang mereka kenakan sampai menutupi wajah. Hanya menampakkan sepasang mata. Saya tahu mereka berdua baru pulang dari warung sebelah bungalo kami. Minum wedang jahe sekaligus ‘ehem’.
“Lho, kok pada diaman sih?” Herlina nyeletuk dari belakang sepasang ‘Ninja’ itu.
“Sariawan, ya?” Naroh dan Yanthi kompakan, seperti melafalkan dialog skenario. Mereka muncul serempak, seperti anak kembar.
Aditya duduk tepekur, masih menatapi botol bening berisi cairan berwarna teh di atas meja. Saya berdiri. Mengambil botol itu. Lalu mengangsurkan botol itu ke arah mereka.
“Gara-gara ini!”
“Hei, ini kan parfum dari Paris?” Naroh berteriak girang.
“Ini bukan parfum, Goblok!” Yanthi menjitak kepala ‘kembaran’-nya itu. “Ini miras! Baca baik-baik! Wiski Cap Topi Miring!”
Naroh nyengir. Mengelus-elus kepalanya yang kena jitak. “Habis, warnanya mirip….”
Yanthi mencibir. “Huh, dasar mata rabun!”
Anak-anak peserta tur tertawa terbahak.
“Mami marah.” Saya menjawabi penyebab biang masalah sehingga suasana bungalo mendadak sepi seperti kuburan.
Viona cemas, spontan duduk merapat di samping saya. Vicky mengikutinya dari belakang seperti pitik.
“Kenapa?” tanyanya.
“Mami tidak suka lihat anak-anak minum-miras.”
“Astaga! Jadi kalian…?” Viona menutup mulut dengan telapak tangan kanannya. “Ya iyalah, Wong. Orang tua mana sih yang suka melihat kalian, anak-anaknya minum miras?!”
“Bukan kami. Tapi, dua orang yang bernama Aditya dan Robby.”
“Lalu, Mami…?”
“Yah, seperti biasa. Diaman.”
“Hei, Robby ke mana?” Herlina bertanya dengan mata celingak-celinguk. Cewek bermata bola merapatkan jaketnya. Duduk merangkul lutut di atas sofa.
“Sudah terbang bersama UFO!” Saya jawab sekenanya karena jengkel.
Herlina terkekeh.
“Dasar anak itu!” gusar Viona.
“Nanti kalau membeku jadi es, dia juga akan pulang sendiri!”
Saya menyegarkan suasana kebekuan dengan mengurai kalimat guyon tadi. Nadya sontak cekikikan. Yanthi ikut-ikutan tertawa. Viona cuma tersenyum, tidak ikut tertawa karena masih jengkel. Saya yakin senyumnya cuma pura-pura, sama sekali tidak terpengaruh kalimat penyegar suasana tadi. Buktinya, tidak lama kemudian dia malah memberengut, dan sesekali mengembuskan napas kesal.
“Anak itu selalu bikin gara-gara ya, Wong!”
“Iya, tuh. Reseh banget!” timpal Herlina ringan.
“Ngapain coba dia beli miras segala macam. Nyari penyakit saja kan, Wong?!”
Viona menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mengumpat barusan. Apa-apa juga dia selalu mengarahkan topiknya ke arah saya. Selama dalam perjalanan, mulai dari Jakarta, Viona memang paling dekat dengan saya. Anak-anak malah menyangka kami pacaran, soalnya di dalam bis, doi selalu duduk di samping saya.
Namun saya hanya menganggapnya teman biasa, dan memberi kesempatan pada Vicky untuk mendekatinya. Sedari dulu saya sudah tahu kalau Vicky memang naksir anak itu, jauh sebelum dia dilirik sebuah production house (PH) untuk memerankan Mantili dalam sinetron Brama Kumbara.
Selama dalam perjalanan pula, kami banyak bertukar pengalaman. Tentang segala hal. Khususnya dunia yang kami geluti masing-masing. Dia menanyai tentang dunia kepenulisan yang tengah saya geluti. Sementara, saya lebih banyak bertanya soal akting dan status yang disandangnya kini, yang lebih lazim disebut selebritis.
“Ya, sudalah. Mau ributin apa lagi?! Mami toh telah marah!” ujar Viona, lalu bangkit berdiri, dan mengibas-ibaskan tangannya seperti menggebah domba. “Sudah, sudah! Bubar sana! Besok subuh kita mesti berangkat ke puncak  Bromo.”
Anak-anak manut. Berlarian ke kamar mereka masing-masing. Robby baru kembali tepat ketika jarum pendek jam dinding menunjuk angka sebelas. Untung Viona sudah meringkuk di kamarnya beserta Mami. Kalau tidak, anak itu pasti kena damprat!
Jam sebelas lewat dua puluh menit, kami memutuskan untuk rehat. Sama halnya dengan kami yang cowok, bidadari-bidadari peserta tur berbagi dalam beberapa kelompok untuk satu kamar. Berjejal dalam satu ranjang seperti ikan dalam panggangan.
Suhu lima derajat celsius seperti membekukan kami di dalam kamar. Saya lihat Aditya belum berbaring, masih menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah di atas ranjang ketika saya hendak mematikan lampu.
“Kok belum tidur sih, Dit?!”
“Belum ngantuk.”
Saya urung mematikan lampu.
“Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi. Ayo, tidur sana! Besok subuh kita mesti ke Bromo.”
Dia mengangguk. Menelentang, lalu menarik selimut perca tebal sampai menutupi kepala. Saya matikan lampu dengan sentuhan sekali pada saklar meja.
Tidur menikmati dinginnya dingin.