09 January 2016

Season of The Fireworks (03)

BLOGKATAHATIKU/IST
Season of The Fireworks (03)
Oleh Effendy Wongso

Rinai Rambun Nova

Thimphu, Kerajaan Buthan
12 September 2002

Kak Sha,
Musim dingin di Praha menggigilkan aku dalam sepi. Keindahan kota tua itu nyaris hilang ditelan rambun salju. Sangat menyedihkan. Padahal aku ingin menyaput lara dalam hatiku dengan genangan indah kenangan. Untuk itulah aku pergi dari kota ini. Ritual melanglang buana aku cukupkan sampai di sini. Aku harus pergi. Dan kembali ke kediamanku yang damai di sini, Buthan.
Jangan menertawai tulisanku yang jelek ini. Karena di balik tulisan cakar ayamku ini ada hal penting yang ingin aku ungkapkan pada Kak Sha. Dalam suratku kali ini, ada impian dan kenangan yang selama ini tanpa kusadari telah membentuk seorang Ye Sha sehingga mampu berdiri dengan kepala tegak menghadapi getir kenyataan. Ketika semuanya babur dalam benakku, sekali lagi hanya Kak Sha-lah tempatku melabuhkan keresahan. Aku minta maaf. Dan jangan menganggap Jong Gang Ye Sha-Ye Sha Si Pemberani ini merupakan gadis pengganggu. Bukannya bintang Timur yang senantiasa menerangi mereka yang tersesat. Sungguh, aku tidak pernah menganggap Kak Sha sebagai talang yang menampung sempelah unek-unekku. Kenapa? Karena Kak Sha adalah saudara sekaligus sahabatku yang terbaik di dunia.
Lewat surat sepanjang cerita pendek ini aku ingin menitipkan salam untuk orang-orang yang pernah demikian dekat di hatiku. Setiap mengingat mereka, hatiku serasa berdarah. Diam-diam aku selalu menangis untuk itu. Tapi aku tidak pernah menyesali, kenapa Tuhan menggariskan pertemuan seorang gadis pelarian Kerajaan Buthan dengan seorang cowok amnesia konglomerat, Taoming Se.
Kak Sha,
Sebenarnya sejak dulu aku tahu ingatan Ase sudah pulih. Dia sudah pula menemukan cintanya yang sejati terhadap Shancai  saat aku menghadapi kenyataan yang memilukan ini. Mulanya aku benar-benar tidak dapat menerima kenyataan ini. Karena itulah aku dengan tamak menerima kebaikan Ase untuk menemaniku berkeliling dunia terakhir kali.
Aku hanya berpura-pura berani, bersikap tegar menghadapi sang kematian.
Sebenarnya aku sama sekali tidak berani menghadapi kehilangan dan perpisahan. Karena itulah aku melukis semua punggung manusia.  Membuat apa yang aku cintai seolah tidak lekang dari mataku. Hei, mungkin aku terlalu egois. Mungkin aku terlalu picik menyikapi semua kenyataan ini!
Naif, ya?!
Tapi akhirnya aku sadar, apa yang telah kita miliki tidak selamanya abadi. Suatu saat semua akan lepas. Seperti saat vonis repertum dokter beberapa waktu lalu bahwa usiaku yang mungkin memendek oleh penyakit meningoenchepalitis. Hah, lalu apa artinya semua yang kita miliki sementara jiwa kita pun tidak dapat melekat pada raga selamanya?!
Apa artinya semua ini?
Ase mendampingiku menjelajahi satu kota ke kota yang lain. Saat melihat dunia yang indah ini, akhirnya aku sadar dan mengerti kenapa Tuhan melibatkan aku ke dalam kisah Ase dan Shancai?
Tuhan ingin aku belajar sesuatu!
Tuhan ingin memaparkan sebuah ketegaran dan keberanian yang ditunjukkanNya lewat seorang Shancai.
Aku belajar dari gadis itu. Belajar atas kegigihannya mendapatkan cintanya yang hilang! Belajar atas kesabarannya menunggu seseorang yang seolah dipampas dari kehidupannya! Belajar dari perjuangannya menempuh kerasnya penentangan dirinya oleh Taoming Feng, ibunda Taoming Se!
Aku belajar sedikit demi sedikit dari Rumput Liar  itu. Bangun dari kekalahan. Bangkit dari kenyataan pahit tentang kematian yang akan memendekkan perjalanan hidupku. Aku belajar untuk tabah menghadapi penyakit yang akan memangkas usiaku yang kini cuma sejengkal tangan.
Aku jadi lebih tegar seperti karang. Karena sesungguhnya hidup itu tidak serumit yang dibayangkan banyak orang. Hidup untuk saling mengasihi tanpa pamrih merupakan anugerah indah. Aku merasa bahagia telah menyatukan dua hati itu.
Aku tidak terluka!
Sungguh. Meskipun sesaat rasanya sakit, tapi kebahagiaan mereka telah menumbuhkan rasa lain di hatiku. Jauh mengalahkan rasa sakit itu. Bahkan sama sekali menyaputnya dengan sukacita. Aku telah membahagiakan orang yang paling aku cintai seumur hidupku, Taoming Se!
Kak Sha,
Mungkin Kak Sha akan sinis menertawai romantisme ini. Terlalu cengeng barangkali? Tapi sungguh, aku tidak terluka. Aku baik-baik saja. Jauh merasa lebih bahagia ketimbang tetap memaksakan diri memiliki Ase seutuhnya. Kenapa? Karena dengan begitu, cintaku akan tetap abadi di hati. Aku jadi bersemangat untuk bertahan di dunia ini. Dengan ketulusan cintaku pada Ase, aku mendadak mengerti dan paham bahwa aku harus hidup.
Ya, aku harus hidup!
Aku ingin tetap hidup. Tapi tentu saja semua itu tidak cukup hanya sebatas kata-kata. Aku harus memperjuangkannya. Aku tidak boleh menerima nasib ini begitu saja. Aku akan memperjuangkan kesembuhan diriku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kobaran semangat yang telah kalian berikan untuk kesembuhanku agar tetap dapat bertahan hidup. Kalau ingat ayah dan rakyat bangsaku yang setiap hari mendoakan aku dalam ritual-ritual mereka, juga motivasi dan dorongan moril Kak Sha, Ase dan Shancai, mana boleh aku begitu lemah dipermainkan penyakit?!
Mana boleh aku begitu?!
Kak Sha,
Oleh karena itu aku terus mengusahakan kesembuhan diriku. Menjalani serangkaian terapi dan pengobatan. Dan pada akhirnya, lewat bantuan Ayah, aku menemukan donatur sumsum tulang yang tepat. Ini mukjizat dari langit untukku, Kak Sha!
Ini mukjizat!
Kak Sha,
Saat membaca suratku, mohon jangan menangis. Jangan mengkhawatirkan aku lagi. Karena aku sudah kembali dengan selamat di Buthan. Karena akhirnya keyakinanku membuat Tuhan tersentuh. Tuhan mendengar doa-doa kita semua. Tuhan memberikan mukjizat melalui kesembuhan diriku. Operasi transplantasi sumsum tulang telah berhasil aku jalani. Aku selamat. Aku bahagia. Sangat bahagia.
Kak Sha,
Tolong titip salam untuk mereka. Tolong sampaikan kebahagiaanku ini pada Ase dan Shancai. Aku tahu Kak Sha tidak akan mengecewakan aku, bukan?
Well,
Aku janji tahun depan akan berada di pabrik anggur kita di Barcelona. Aku akan menantang Kak Sha minum anggur merah. Tapi sabar sampai tahun depan ya, Kak Sha? Sebab masih banyak urusan di sini yang harus aku selesaikan. Aku masih harus bersitegang dengan Ayah yang selalu mengharuskan aku ikut protokoler Kerajaan Buthan. Harus berlaku layaknya Yang Mulia Tuan Putri Kerajaan. Manis duduk di Istana untuk dipingit Pangeran, entah, dari Kerajaan mana! Bukannya kucing liar yang kerjanya keluyuran dengan jins belel dan seperangkat alat lukisnya!
Kak Sha,
Jangan tertawa membaca suratku. Jangan tertawa membayangkan Yang Mulia Tuan Putri Ye Sha memakai gaun sepanjang kereta api, dengan sepasang sepatu berhak tinggi semeter yang bakal bikin tersandung setiap menaiki undakan di tangga Istana. Hahaha….
Kak Sha,
Di sini aku merasa jauh lebih baik ketimbang tiga tahun lalu saat kabur ke Barcelona. Aku merasa lebih sedikit dewasa. Mungkin waktu telah mengajari aku banyak hal. Sehingga beban pranata yang senantiasa dipikulkan ke pundakku oleh pihak Istana, khususnya Ayahku, jauh terasa lebih enteng dan ringan. Mungkin juga semua hal itu diandili besarnya pengorbanan cintaku terhadap Ase, yang membuat aku jadi lebih dewasa dan mandiri. Entahlah. Yang pasti, aku merasa Tuhan telah mengutus seorang Ase atau Axing ke dalam hidupku. Agar aku dapat mengerti hakiki cinta yang sesungguhnya!
Kak Sha,   
Mungkin sudah saatnyalah aku menghentikan hanya melukis punggung orang-orang lagi. Aku ingin melukis wujud orang sesungguhnya. Karena dari keutuhan wujud lukisan itulah aku dapat melihat keberanian seorang Ye Sha. Yang berani dan jujur melihat sisik-melik kehidupan, dan menerima apa pun yang telah digariskan Tuhan untuknya!
Terima kasih untuk segalanya. Semoga Tuhan selalu melindungi Kak Sha, sahabat terbaikku di dunia.

My Luv 4 U
Ye Sha Si Pemberani