10 January 2016

Season of The Fireworks (09)

britaloka.com/Ist
Season of The Fireworks (09)
Oleh Effendy Wongso

Ximen
Walau aku bukan gadis istimewa
yang bahkan namanya pun tak pernah kau tahu
tapi aku berharap bisa meninggalkan
sesuatu yang berarti dalam kenanganmu
sebab aku cinta kamu

Xiao Yu
Sesuatu yang Istimewa

Shancai menghela napas panjang. Dadanya berdebar. Setiap mengingat gadis dari Buthan itu, ada rasa bersalah yang mengaduk-aduk hatinya. Kenapa harus Ye Sha yang berkorban, dan membiarkan Taoming Se memilih gadis yang bernama Tong Shancai? Kenapa ia begitu tolol mau melepas Taoming Se, dan membiarkan hatinya dirundung sunyi. Padahal saat itu ia tengah bergulat dengan penyakitnya. Apakah ini yang dinamakan takdir?
Shancai menggigit bibir.
Semuanya seperti mimpi. Sekarang ia berada di hotel ini. Menempuh kembali jalan-jalan kenangan yang pernah dilaluinya bersama Taoming Se. Barcelona yang mempesona memang telah menggamangkan hatinya. Ia sendiri tidak tahu mengapa dapat berada kembali di tempat ini. Barangkali takdir mengharuskan dua hati bersatu. Seperti ikrarnya dengan Taoming Se di bawah hujan meteor dahulu.
Tapi setiap mengingat betapa sakitnya dua hati di pihak lain, maka rasa-rasanya ia rela tidak dipertemukan dan dipersatukan kembali dengan Taoming Se untuk selama-lamanya. Ye Sha dan Hua Ce Lei, dua hati anak manusia yang dirapuhkan cinta!
Sejenak ia kembali ragu menekan tuts nomor telepon yang akan menghubungkannya dengan telepon kabel di Istana Buthan. Ia tidak yakin dapat membendung emosinya saat berbincang dengan salah satu keluarga Kerajaan Buthan di Thimpu  tersebut. Namun ia harus fair menerima kenyataan. Kalau ia menangis karena ketegaran Ye Sha, itu berarti Ye Sha memang lebih pantas menerima cinta Taoming Se. Kalaupun akhirnya ia yang memiliki Taoming Se, hal itu semata karena takdir.
Ya, takdir yang telah ditentukan dari langit!
“May I speak with Ye Sha.”
Sebuah prosedur yang ia mafhumi sebagai protokoler sesaat setelah jemarinya dengan gesit menekan tombol nomor pada pesawat telepon. Digebahnya romantika yang bakal mengharu-biru.
Suara seorang wanita di seberang sana menjawabi, membalas beberapa saat sebelum terdengar nada tunggu. Lima belas detik sebelum akhirnya gagang telepon terdengar diangkat.
“Halo….”
“Halo, Ye Sha?!”
“Hai, Shancai!”
“Ye Sha….”
“Apa kabar, Shancai?”
“Ak-aku… ba-baik! Ka-kamu bagaimana?”
“Hm, baik. Cuma sedikit masalah pada kesehatan. Biasa.”
“Ye Sha, aku kangen sekali sama kamu!”
“Sama. Aku juga rindu sama kalian semua. Eh, kamu di mana?”
“Aku di Barcelona.”
“Hah?! Kamu di Barcelona?!”
“He-eh. Ceritanya panjang….”
Ye Sha menyimak takzim suara separo tangis di horn gagang telepon. Mendengar kata Barcelona, seolah-olah ia tengah dibangunkan dari mimpinya yang panjang.
“Ye Sha….”
“Shancai, kok kamu menangis sih?”
“Aku bahagia dapat ngobrol dengan kamu, Ye Sha.”
Ye Sha tertawa. “Tolol. Hei, aku tidak mau pertemuan kita, meski hanya via kabel telepon ini, dibanjiri dengan airmata!”
Shancai turut menderaikan tawa di antara sesenggukannya. “Tapi, aku bahagia sekali….”
“Aku juga. Hm, eh kamu belum menceritakan untuk apa ke Barcelona?”
“Pokoknya, ceritanya panjang. Ye Sha, kamu sekarang sudah sembuh benaran, kan?”
“Tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin kamu dapat mendengar suaraku saat ini.”
“Syukurlah. Kami semua mengkhawatirkan kamu, Ye Sha.”
“Trims. Berkat doa-doa kalian semua, aku berhasil menjalani operasi transplantasi sumsum tulang dengan lancar.”
“Ya, ya, memang. Kak Sha sudah menceritakan pada kami semua di Taipei tempo hari.”
“Kak Sha masih sering mengontak aku via email ke sini, kok. Kadang-kadang salah satu anggota F3 bergantian mengontakku.”
“Maksudku meneleponmu….”
“Ya, iyalah. Masa lewat telepati. Hahaha….”
Terdengar derai tawa di seberang.
Shancai masih tertawa. Namun hatinya menangis. Sungguh, Ye Sha telah berkorban segalanya. Ia menggigit bibir. Besok lusa ia akan menikah dengan Taoming Se. Oh, pantaskah pemuda itu bersanding dengannya? Bukankah lebih baik jika ia saja yang berkorban, lalu membiarkan seorang Ye Sha bersama Taoming Se?
Sejenak ia menggeleng.
Sungguh, ia tidak tahu!

SELESAI