10 January 2016

Season of The Fireworks (08)

BLOGKATAHATIKU/IST
Season of The Fireworks (08)
Oleh Effendy Wongso

Cintaku Nan Safa

Saat aku siuman di rumah sakit
Aku melihatmu terpulas di samping ranjangku
Aku sangat gembira
Rasanya ingin mengulurkan tangan
Membangunkanmu
Tapi yang muncul di depan mataku
Bukan wajahmu

Aku sudah ingat semua
Ada kau, ada Ye Sha
Aku tidak tahu harus bagaimana
Tapi setiap denyar kenangan itu menjelas
Aku sadar betapa besar cintaku kepadamu

Taoming Se
Dilema Rindu Rambun Nova

“Ase… tunggu!”
Suara lunak separo desis itu menghentikan jemari Taoming Se yang hendak menekan tuts nomor pada pesawat telepon kamar hotel.
“Ada apa?” tanyanya lembut.
Shancai menelungkup di atas tempat tidur. Mengarahkan tangan kanannya ke arah gagang telepon yang hendak diangkat oleh Taoming Se tadi. Dibukanya phone-address pada ponselnya, mencari nama Jing.
“Sekarang giliranku. Biar aku yang menelepon Jing dan Ye Sha,” urai Shancai sembari menggeser posisi tangan Taoming Se menjauh dari pesawat telepon. “Aku kangen sekali sama mereka.”
“Memang, kupikir sebaiknya kamu yang menghubungi Jing dan….”
“Ase…!”
“Ayo? Apalagi? Cepat hubungi mereka….”
Shancai menatap wajah aristokrat yang tengah menunduk itu. Ia tahu, Taoming Se masih menyimpan kenangan bersama Ye Sha. Meski ia tidak mencintai Ye Sha, tapi benang merah kebersamaan dan hari-hari panjang yang dijalaninya bersama gadis tomboi itu semasa ia menderita amnesia memang masih mengiang dalam ingatan. Tidak mudah memupus memori serangkaian hari yang telah mereka lalui bersama. Sebab Ye Sha adalah bagian dari takdirnya.
“Ya, ampun!” Taoming Se menepuk dahinya. “Sejak pulang dari Gereja St Pons petang tadi, ternyata kita belum mandi. Hm, sebaiknya aku mandi dulu sembari kamu menelepon Jing dan Ye Sha.”
Shancai mengangguk lalu mengurai simpul bibir, mengekori tawa separo paksa pemuda itu. Ia tahu Taoming Se sedang mengalihkan pembicaraan mereka tentang Ye Sha. Dan dua titik airmatanya nyaris membasahi pipinya ketika pemuda itu berbalik memunggunginya, berjalan gontai menuju toilet kamar hotel.
Mungkin pemuda itu masih terluka dengan dilema hatinya. Tapi pilihan itu telah diputuskannya tanpa penyesalan. Ketegasan untuk memilih cinta pertamanya sudah barang tentu merupakan hal tersulit untuk seseorang dengan dua kenangan pada dua masa.
Ya, Tuhan!
Shancai menggigit bibirnya. Tak sedikit pun berani membayangkan rasa perih yang dirasakan pemuda itu. Bilur-bilur luka masa lalunya adalah ironi. Taoming Feng dan Xiao Ze adalah salah satu dari sekian banyak lara itu. Apakah takdir terlalu kejam mempermainkan Taoming Se?!
Ia menggeleng. Ia sendiri tidak tahu. Hanya, ia yakin hati Ye Sha pasti hancur. Jemarinya membeku di atas tuts nomor pesawat telepon. Sama halnya dengan gadis itu, Hua Ce Lei pun menjadi korban takdir.
Dan ketika satu tuts nomor internasional telah ditekannya, kembali ada ragu menguak di benaknya. Dapatkah ia membendung airmata yang diyakininya bakal membanjiri dialognya dengan Ye Sha?
Tinggal dua hari lagi momen indah indahnya bersama Taoming Se akan terwujud. One moment in time. Hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Haruskah ia membiarkan Ye Sha tercenung dan hanya mengenang cinta masa lalunya berbahagia dengan gadis lainnya? Tidak! Semestinya gadis bangsawan itu menyaksikan pernikahan pemuda yang pernah dicintainya untuk terakhir kalinya. Suatu momen indah yang mungkin pernah diidam-idamkannya suatu saat dulu.
Seberapa besar pengorbanan gadis itu pada Taoming Se, sungguh ia tidak tahu. Ia tidak dapat menakar seberapa banyak pengorbanan gadis itu pada Taoming Se. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia dapat meraba keagungan cinta seorang Ye Sha. Bahwa, ia mampu mengorbankan perasaannya sendiri. Merelakan hatinya melepas pemuda yang dicintainya sepenuh jiwa pada gadis lain demi kebahagiaan pemuda itu kelak. Menyisakan waktunya yang tinggal tiga bulan  untuk mempertemukan Tong Shancai dan Taoming Se. Ia bahkan berani menerjang si Pencuri cincin meteor tanpa mempedulikan keselamatan nyawanya sendiri.  Menyimpan baik-baik cincin meteor itu agar Taoming Se terhindar dari marabahaya dan petaka seperti yang termaktub dalam legenda cincin meteor tersebut.
Apakah pertemuannya dengan Taoming Se di Barcelona ini merupakan suratan takdir? Ia sendiri pun tak tahu. Jalan-jalan kenangan di Barcelona memenuhi benaknya dengan beragam kisah. Tempat-tempat teduh. Gotik. Gereja Sagrada Familia. Air Mancur Guell. Pesta kembang api. Karnaval. Candle light dinner diiringi lagu ‘Te Quiero Te Quiero’  Kado gaun putih dari Taoming Se sesaat sebelum berangkat ke Gereja St Pons. Cincin meteor. Semua kenangan itu membabur dalam kenangannya.
Lalu muncullah gadis dari Buthan itu setahun lalu. Mengawal pemuda itu mencari jati dirinya yang hilang karena amnesia. Dirawatnya pemuda itu dengan segenap kasih. Mencintainya sepenuh hati. Menerima keinginan Taoming Feng untuk dipertunangkan dengan Taoming Se, sebagai bagian dari siasatnya agar dapat menyatukan seorang gadis bernama Tong Shancai dengan ahli waris tunggal Taoming Enterprise itu.
“Shancai!” Terdengar teriakan yang berbaur dengan guyuran air dari dalam toilet. “Apakah kamu sudah menghubungi mereka?”
Shancai terkesiap. “I-iya, iya. Aku lagi mencari nomor mereka di HP-ku.”
Kembali terdengar guyuran. Sertamerta jemarinya yang lampai menekan tuts nomor pesawat telepon. Dilekatkannya gagang telepon pada daun telinganya. Ada nada panggil beberapa kali sebelum dijawabi suara bernada alto. Suara khas Jing!
“Halo….”
“Halo, Kak Jing!”
“Siapa, ya?”
“Ini aku, Shancai!”
“Hei, Shancai! Apa kabar?”
“Baik, Kak Jing. Kak Jing sendiri bagaimana?”
“Hm, biasa. Sibuk.”
“Jangan terlalu lelah, Kak Jing. Rileks sedikit kenapa, sih?”
Suara alto tersebut terdengar menderaikan tawa. Shancai mengekori tawa itu dengan lantun lembut.
“Eh, Shancai… aku dengar dari F3, kamu berada di Barcelona ya?”
“Betul, Kak Jing. Sebenarnya aku mendapat tugas memandu wisata ke Barcelona ini dari Avianca Travel, perusahaan biro perjalanan umum tempatku bekerja. Tapi… saat ini aku bersama Ase.”
Terdengar suara dehaman yang disengaja. Shancai jadi risih. Wajahnya langsung memerah.
“Wah, wah. Mengulang romantika hujan meteor, ya?”
Wajah Shancai bertambah merah seperti habis terbakar. Ia tersenyum tanpa sadar. Semua sahabatnya sudah tahu kisah tentang hujan meteor tersebut. Mulanya kisah tentang hujan meteor itu hanyalah intermeso.
Saat itu ia dan Taoming Se masih menghadapi serangkaian kendala sehingga hubungan mereka senantiasa pasang-surut. Selain rintangan terberat dari Taoming Feng yang tidak ingin putra tunggalnya berpacaran dengan seorang gadis dari kaum marginal, ia dan Taoming Se juga menghadapi kendala besar saat terlibat cinta segitiga dengan Hua Ce Lei.
Akibat prahara cinta segitiga tersebut, ia dan Taoming Se dilingkupi kebimbangan. Dan ketika mereka memutuskan untuk menuntaskan masalah itu suatu hari di atas balkon rumah, maka diambillah suatu kesimpulan bahwa cinta mereka akan bersatu selama-lamanya jika pada saat itu ada meteor yang melintas. Pada kenyataanya, setelah ikrar mereka terucap, malam itu langit memang tengah mengucurkan hujan meteor.
“Shancai….”
“Eh, uh… Kak Jing….”
“Kamu melamun, ya?”
“Ti-tidak.”
“Mana Ase?”
“Lagi mandi. Kak Jing mau bicara?”
“Tidak usah. Sampaikan saja salamku.”
“Beres, Kak Jing.”
“Well, tumben kalian mau telepon aku jauh-jauh di Paris ini?”
“Sori, Kak Jing. Kami bermaksud mengundang Kak Jing ke Barcelona ini.”
“Oya? Hm, aku tahu. Mungkin kalian mau menikah, ya?”
“Hm, bagaimana ya?” Shancai menggantungkan kalimatnya, wajahnya menyumringah. “Ya, memang iya, Kak Jing!”
Suara di seberang sana terdengar seperti terlonjak kaget. “Ka-kamu tidak sedang membohongi aku, kan?!”
“Mana pernah kami membohongi Kak Jing, sih?”
“Oh, thank’s God! Akhirnya juga….”
“Kak Jing mesti datang, ya?”
“Pasti. Peristiwa paling bahagia buat kamu dan Ase mesti aku hadiri. Hei, Shancai… aku akan membawa sekaligus gaun-gaun keren hasil rancangan desainer top di sini. Kamu mesti memakainya pada saat acara pernikahanmu nanti. Wah, pokoknya dijamin kamu pasti jadi tambah cantik!”
“Kak Jing tidak usah terlalu berlebih-lebihan. Aku tidak perlu gaun-gaun secanggih itu, kok.”
“Tapi….”
“Aku akan mengenakan gaun putih yang diberikan Ase tempo hari saat janjian dan menunggunya di Gereja St Pons setahun lalu. Kak Jing masih ingat, kan?”
Suara Jing seperti terdengar mengangguk. “Well, kalau begitu terserah kamu. Yang penting aku sangat gembira mendengar berita aktual kalian. Hm, aku turut merasakan kebahagiaan kalian.”
“Acaranya besok lusa pagi. Di Gereja St Pons. Kak Jing datang, ya?”
“Oke. Mungkin aku langsung berangkat hari ini. Kebetulan acaraku tidak terlalu padat.”
“Terima kasih, Kak Jing. Bye.”
“Bye.”
Telepon ditutup. Shancai menghela napas. Ia masih tersenyum-senyum sendiri. Meski baru berkenalan dengan gadis berprinsip keras itu beberapa saat setelah menjalin tali persahabatan dengan F4, tapi Jing sangat bersahaja. Ia sebenarnya merasa sedih saat menyaksikan Hua Ce Lei memutuskan hubungannya dengan Jing. Entahlah. Hua Ce Lei yang kelewat posesif, ataukah Jing yang terlalu apatis dengan cinta mereka. Yang pasti hubungan mereka memang telah lantak.
Dan, Ye Sha!
Ia menepuk dahinya keras tanpa sadar. Ia mesti menghubungi gadis itu. Mengabarinya sesegera mungkin berita gembiranya bersama Taoming Se. Mumpung masih ada waktu. Sebelum detak-detak sang waktu yang bergerak cepat tak menyisakan kesempatan lagi untuk mereka bersua.