10 January 2016

Season of The Fireworks (07)

BLOGKATAHATIKU/IST
Season of The Fireworks (07)
Oleh Effendy Wongso

Barcelona… I’m in Love

Tuhan tolong!
Jangan biarkan airmataku
jatuh di hadapan Shancai
Biarkan aku belajar tegar seperti gadis itu

Ye Sha
Meteor Garden

Dini hari di Barcelona mulai mengembuskan kabut. Kaca-kaca jendela mulai dibasahi embun. Dingin yang menusuk-nusuk tulang memaksa Shancai meringkukkan diri pada selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada. Getar pertemuan masih terasa. Sesuatu yang dianggapnya litani. Dan memaparkan sebuah aurora serupa mimpi.
Namun kali ini semuanya memang bukan mimpi. Taoming Se telah hadir dalam hidupnya. Ia hadir nyata. Merengkuhnya dalam jarak tak seberapa. Mengembuskan napas yang senantiasa menghangatkan giris hatinya. Tapi setiap sebentar ia merasa gentar dengan pertemuan mereka. Akankah sang waktu mempermainkan cinta mereka kembali? Mungkinkah sesuatu yang bernama takdir akan hadir dan melerai cinta mereka?
“Aku akan coba menghubungi Kak Zhuang,” gugah Taoming Se, melonjakkan Shancai dari lamunannya.
“Tentu. Kamu harus segera menghubungi Kak Zhuang. Aku pikir banyak hal yang perlu disampaikannya pada kita nantinya. Bagaimanapun, Kak Zhuang adalah wali kita, mewakili orangtuamu yang sama sekali menentang hubungan kita ini.”
Shancai masih meringkuk duduk berselubung selimut. Dibacanya lektur wajah sumringah Taoming Se lewat satu lirikan mata. Pemuda itu sungguh-sungguh mencintainya. Lewat satu ikatan sakral yang akan mereka ikrarkan besok lusa di Gereja St Pons, ia yakin hari-harinya yang kelabu akan tersaput juga. Merenda impian mereka yang selama ini lantak oleh prahara. Legenda cincin meteor itu memang telah berakhir!
“Halo, Kak Zhuang?” Sertamerta Taoming Se menyapa setelah satu sentuhan pada tombol ponselnya aktif.
“Ase?!” Suara seorang wanita muda terdengar seperti terlonjak di seberang sana. “Kamu sekarang berada di mana sih, Ase?! Ibu bilang, kamu kabur lagi dari rumah di Taipei?!”
“Kak Zhuang, tolong jangan katakan apa-apa kepada Ibu!”
“Tentu saja aku tidak akan bilang apa-apa kepada Ibu. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan kamu. Aku cemas terjadi apa-apa sama kamu. Kamu kan baru sembuh dari amnesia? Pokoknya, aku sangat takut kamu kenapa-kenapa! Tadinya kupikir kamu malah kambuh, amnesia lagi. Soalnya Ibu bilang, dia tidak dapat menemukan kamu di seluruh Taiwan. Mungkin kamu hilang ingatan dan entah pergi ke mana.”
“Sekarang Kak Zhuang sendiri berada di mana?”
“Sekarang aku berada di Paris. Mungkin minggu depan aku balik ke New York. Sebenarnya keberangkatanku ke Paris ini bukan dalam rangka apa-apa. Hanya ingin mencari kamu. Ya, siapa tahu saja kamu berada di sini. Jing kan tinggal di sini. Mungkin kamu bersembunyi di apartemennya. Beberapa hari lalu aku ke apartemennya, ternyata kamu memang tidak ada di sana. Ibu sendiri sudah mencarimu ke seluruh Spanyol. Tapi Ibu tidak menemukan kamu. Hei, kamu berada di mana sih, Ase?!”
“Aku di Barcelona.”
“Barcelona?! Ya, ampun!”
“Kak Zhuang, tolong jangan bilang pada siapa-siapa, ya?!”
“He-eh.”
“Terima kasih, Kak Zhuang.”
“Ya, sudah. Yang penting kamu baik-baik saja.”
“Kak Zhuang….”
“Apa?”
“Bisakah Kak Zhuang berangkat segera ke Barcelona?”
“Ada apa memangnya?”
“Pokoknya Kak Zhuang harus datang tanpa Ibu ke Barcelona meskipun hanya untuk beberapa jam saja. Kak Zhuang harus sudah berada di Barcelona ini minimal besok lusa pagi.”
“Detik ini aku dapat berangkat ke sana. Tapi, ada apa sebenarnya?!”
“Tapi Kak Zhuang mesti janji untuk tidak mengatakan hal ini kepada Ibu dan Ayah, ya?!”
“Iya, iya! Ada apa, sih?!”
Lima detik lamanya Taoming Se membisu. Entah bagaimana ia harus mengekspresikan momen bahagia yang bakal dilaluinya bersama Shancai besok lusa. Ponselnya masih menempel di telinga, tapi tak sepatah kata pun kalimat yang terlontar untuk menjawabi pertanyaan penasaran kakak perempuannya itu.
“Halo, Ase….” Suara di seberang sana terdengar seperti menjerit tidak sabaran. “Ase, kamu masih mendengarkan aku atau tidak sih?!”
“Ya, ya, Kak Zhuang,” jawab Taoming Se secepat meteor. “Aku masih mendengar, kok.”
 “Lalu apa alasanmu menyuruhku segera berangkat ke Barcelona?”
“Karena…”
“Karena apa?!”
“Because, I WILL MARRY SHANCAI THE DAY AFTER TOMORROW!”
Suara di seberang sana terdengar terlonjak. Seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri, ia terkekeh sebagai tanggapan. Tidak mungkin adik tunggalnya itu dapat mengambil keputusan secepat itu. Apalagi ia baru saja mengalami trauma otak akut, amnesia.
“Apa?!” tanyanya tidak yakin. “Kamu ingin….”
“Aku ingin menikah dengan Shancai. Besok lusa di Gereja St Pons!”
“Ta-tapi….”
“Tidak ada yang dapat memisahkan kami lagi, Kak Zhuang!”
“Bu-bukan itu maksudku. Tapi apakah kalian sudah siap….”
“Kak Zhuang merestui kami, kan?!”
“Tentu saja. Tapi….”
“Tapi apa sih, Kak Zhuang?!”
“It’s okay. Aku sangat gembira dengan keputusan kalian itu. Yah, kalau sudah menjadi keputusan bulat, aku harus bilang apa selain mengakuri dan merestui kalian.”
“Terima kasih, Kak Zhuang!” Suara Taoming Se kini yang terdengar seperti sedang terlonjak. “Entah bagaimana aku harus membalas budi baik Kak Zhuang.”
“Sudahlah, Ase. Aku ini kan kakak kandungmu. Kalau kamu bahagia, aku juga turut bahagia. Dan mana mungkin aku tidak hadir pada seremonial pernikahanmu dengan Shancai di Barcelona.”
“Oke. Kalau begitu, aku tunggu lho kedatangan Kak Zhuang di Barcelona,” ujar Taoming Se dengan nada terharu. “Aku tidak dapat memaafkan Kak Zhuang lho kalau sampai tidak datang! Sampai jumpa, Kak Zhuang.”
“Bye”.
“Eh, tunggu, Kak Zhuang!”
“Ada apa lagi?”
Taoming Se menderaikan tawanya. “Kak Zhuang, apakah kali ini bila bertemu nanti, akan memukulku lagi?”
“Ase, apa-apaan sih kamu ini?” Taoming Zhuang di Paris terdengar menderaikan tawanya di horn ponsel. “Rupanya kamu masih ingat kebiasaanku bila bertemu denganmu. Kupikir setelah amnesia, kamu sudah melupakan kebiasaanku itu. Tapi secara keseluruhan kamu sudah banyak berubah, kok. Kamu jauh lebih dewasa, bukannya Taoming Se yang suka bikin masalah. Makanya, mungkin ritual pertemuan kita itu aku akhiri saja. Soalnya, Shancai banyak mengandili perubahan dalam dirimu. Hm, aku harus berterima kasih banyak kepada gadismu itu. Dia menyulapmu menjadi orang baik.”
Baterai ponsel Taoming Se melemah tepat ketika tawanya menyeruak. Terdengar sinyal ‘bip’ beberapa kali sebelum ia menyudahi pembicaraan.
“Sori. Ponselku low-bat. Sampai jumpa, Kak Zhuang.”
Shancai tersenyum, dan sesekali memejamkan matanya karena bahagia. Setelah dilihatnya Taoming Se menyudahi pembicaraannya dengan sahabat-sahabat dan kakaknya lewat ponsel, maka ia memberanikan diri mendekat kembali ke sisi pemuda itu. Menyandarkan kepala ke pundaknya yang bidang. Serasa masih tidak percaya dan mimpi, dua hari lagi ia akan menikah dengan pemuda yang paling dicintainya!
Seperti dapat meraba alam pikirannya, Taoming Se mendadak bertanya dengan lembut sembari sesekali jemarinya mempermainkan bilah rambut Shancai yang jatuh di pelipis.
“Shancai, apa yang sedang kamu pikirkan sih?”
Shancai tergeragap. “Oh, ti-tidak ada apa-apa kok! Aku cuma berpikir, apakah tidak sebaiknya memberitahu juga kabar gembira kita ini kepada Jing? Soalnya, Jing kan banyak membantuku mencarimu saat kamu amnesia dan menghilang di Barcelona.”
Taoming Se melonjak girang. “Hei, kenapa tidak? Mungkin saja Jing dapat merias kamu? Bukankah Jing gape merias? Dia kan model? Uh, pasti dia bakal menyulap Tong Shancai menjadi pengantin tercantik di dunia!”
“Ase, kamu ini kenapa sih? Aku menyuruhmu mengundangnya bukan karena ingin dia menjadi periasku?” tanggap Shancai dengan wajah memerah. “Lagian, siapa juga yang mau menjadi pengantin tercantik di dunia?”
Taoming Se terbahak.
“Aku kan menyuruhmu mengundangnya supaya Jing turut merasakan kebahagiaan kita,” tutur Shancai manyun. “Eh, hampir lupa. Kita juga harus mengundang Ye Sha! Undang, ya?”
“Untuk apa kamu ingin menghubungi Ye Sha?”
Taoming Se bertanya dengan rupa baur. Sama sekali tidak ingin mengingat kenangan silam bersama gadis yang pernah dicintainya pada suatu masa itu. Ia ingin melupakan semua kenangan manis yang pernah dirajutnya bersama gadis hippies dari Buthan tersebut. Ia ingin meyudahi segalanya. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari baru bersama Shancai. Bukan Ye Sha.
Ia tidak ingin menyakiti hati Shancai untuk kedua kalinya lagi. Ia tidak ingin Shancai cemburu, dan menyimpan rasa sakit itu di hatinya bila ia menghubungi Ye Sha, memberitahu dan mengundangnya ke Barcelona.
“Tentu saja kita harus mengundangnya, Ase. Dia kan teman baik kita juga. Lagian, seumur hidup aku tidak akan dapat melupakan jasa-jasa dan pengorbanannya sehingga kita dapat bersatu kembali. Jadi, mana bisa kita tidak mengabari pernikahan ini kepadanya di Buthan?”
“Ta-tapi….”
“Ase, jangan picik! Jangan pernah menyangka aku bakal cemburu bila Ye Sha hadir di antara kita. Kenapa? Karena aku tahu cintamu hanya kepada diriku seorang. Aku tahu betapa besar cintamu kepadaku.”
“Baiklah. Aku akan mengundangnya ke Barcelona,” akur Taoming Se, wajahnya sudah menyumringah.
“Terima kasih, Ase,” ujar Shancai, mempererat gayutan tangannya di lengan Taoming Se.
“Kita telepon Ye Sha memakai telepon hotel saja. Soalnya, ponselku lagi low-bat.”
Shancai mengangguk. Secuil senyum kembali mengembang di bibir tipisnya. Dipejamkannya mata sesaat. Kenangan bersama Ye Sha dan hari-hari biru persahabatan merupakan memori indah masa lalu. Diam-diam ia bersyukur atas segala rahmat yang diberikan Tuhan kepadanya.
Dan Ye Sha adalah anugerah itu.