10 January 2016

Season of The Fireworks (06)

BLOGKATAHATIKU/IST
Season of The Fireworks (06)
Oleh Effendy Wongso

Janji Sang Bintang Jatuh

Apakah aku mencintai Hua Ce Lei?
Aku sendiri tak tahu
Dia pernah menjadi mimpiku
Tapi mimpi beda dengan cinta
Mimpi selalu indah
Tapi cinta adalah nyata

Shancai
Taoming Se, Cintaku yang Nyata

“Halo, Lei….”
Hua Ce Lei menyadari dirinya tengah termangu. Entah berapa lama ia terdiam tanpa menjawabi panggilan Taoming Se di seberang sana. Ditanggapinya sesegera mungkin panggilan personel F4 yang paling berpengaruh itu.
“Eh, ha-halo, Ase….”
“Kamu kenapa sih, Lei?” Suara di seberang sana bertanya dengan nada prihatin. “Kok diam sampai lama begitu, sih? Apa kamu sakit?”
“Ti-tidak….”
“Lei, kalian harus datang. Awas kalau tidak!”
Hua Ce Lei menormalkan suaranya. Disikapinya dengan wajar berita gembira yang didengarnya barusan dari Taoming Se. Ia memang harus ikhlas. Demi kebahagiaan Shancai meskipun hatinya kecewa. Jangan sampai gugup tingkahnya menggambarkan ketidakrelaan. Bukankah ia sendiri juga yang mendesak Taoming Se untuk mengejar Shancai ke Barcelona?! Bahkan ia menyerahkan tiket pesawatnya sendiri kepada cowok itu setelah memukul dagunya karena ngotot tidak ingin mengejar Shancai lagi!
“Beres. Kamu tidak usah khawatir. Momen bahagiamu dengan Shancai hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Mana mungkin kami melewatkannya? Pasti akan kami rayakan dengan pesta besar! Eh, kalau perlu akan kami borong semua kembang api yang ada di Barcelona. Pestamu pasti bakal lebih meriah ketimbang ‘Season of The Firework’  di Barcelona.”
Suara di seberang sana tertawa. Hua Ce Lei turut menderaikan tawa. Personel F4 lainnya, juga Kak Sha turut tertawa. Mei Cuo mengangkat gelasnya ke muka ponsel Hua Ce Lei. Seolah-olah hendak mengajak suara di seberang sana untuk bersulang. Tingkahnya yang kocak diikuti oleh Ximen dan Kak Sha. Tiga detik terdengar bahakan yang menggema.
“Hei, kalian sedang apaan sih?” tanya Taoming Se di seberang sana. “Berisik sekali!”
“Kamu pikir sedang apaan lagi sih, Ase? Ya tentu saja sedang merayakan kebahagiaan kamu dan Shancai.”
“Oh….”
“So, apakah kamu sudah menyiapkan segalanya?”
“Maksudmu?”
“Maksudku, apakah kamu sudah minta restu dari orangtuamu?”
Suara di seberang sana terdengar tercekat. Terdiam untuk beberapa lama. Sedetik kesadaran berdenyar di kepala pemuda introver itu. Hua Ce Lei menyadari ketololannya. Tentu saja seumur hidup Taoming Feng tidak akan pernah menyetujui hubungan putra tunggalnya dengan Tong Shancai, gadis yang berasal dari keluarga miskin. Yang sangat tidak sepadan dengan Taoming Se. Taoming Se yang merupakan satu-satunya pewaris tunggal perusahaan konglomerat Taoming Enterprise!
Taoming Feng merupakan duri dan kendala utama dalam kisah kasih antara Taoming Se dan Shancai. Hati wanita separo baya itu seolah-olah terbuat dari pualam. Tidak pernah tersentuh oleh ketulusan cinta Shancai pada putra tunggalnya. Dan ketika Taoming Se memberontak, dan lebih memilih melarikan diri dari kungkungan ibunya, prahara cinta lainnya pun datang susul-menyusul seperti badai. Memporak-porandakan dua hati remaja itu.
Takdir seperti mempermainkan mereka. Di saat cinta Taoming Se dan Shancai menyubur, malapetaka malah datang menghancurkan segalanya. Taoming Se mengalami kecelakaan parah di Barcelona, menyebabkannya geger otak akut sehingga amnesia. Peristiwa tragis itu membuatnya melupakan semua identitas dan jati dirinya sendiri, tidak terkecuali kenangan indah yang pernah dijalaninya bersama Shancai dahulu.
Setahun sudah peristiwa malang itu terjadi. Kini dua hati itu telah terpaut. Hua Ce Lei tersenyum seperti biasa. Masakah aku tega menghancurkan kembali momen indah mereka di Barcelona dengan ketidakrelaanku?! Desisnya dalam hati.
“Lei….”
“What?”
“Awas lho, kalau kalian sampai tidak datang!”
“Don’t worry. Besok pagi kami akan langsung terbang ke sana. Hm, doakan semoga kami tiba dengan selamat besok petang di sana, ya?”
“Oke. Tapi, janji ya untuk datang?”
“Jangan khawatir.”
“Lei….”
“Ada apa lagi?”
“Tolong jangan beritahu siapa-siapa kalau aku dan Shancai akan married. Tidak terkecuali orangtua Shancai. Juga Ching He. Kami berdua sangat merahasiakan hal ini. Hm, aku tidak mau orangtuaku tahu kabar ini. So, tolong jaga baik-baik rahasia yang kupesankan kepada kalian ini.”
“Oke, oke. Pasti kami rahasiakan, kok! Kamu pikir aku mau melihat ibumu mengamuk dan datang mencak-mencak ke Barcelona seperti dulu lagi?”
“Thank you, Lei.”
“Wait, Ase! Bagaimana soal pekerjaan Shancai?”
“Hm, aku pikir Shancai akan memberitahu dan mengatakan pada atasannya di Avianca Travel  bahwa dia akan mengundurkan diri, dan mungkin bekerja di sini.”
“Oh, baguslah kalau begitu.”
“Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?”
“Tidak ada. Hm, kalau begitu sampai besok ya? Jaga diri baik-baik, Ase. Sampaikan salamku kepada Shancai.”
“Oke. Akan kusampaikan.”
“Thank’s. Bye.”
“Bye.”
Hua Ce Lei mematikan ponselnya. Memandang ke arah ketiga sahabatnya yang masih menyembulkan senyum separo girang. Tanpa diperintah, Mei Cuo langsung mengaktifkan ponselnya. Menghubungi biro perjalanan kenalannya. Memesan tiket yang akan menerbangkan mereka ke Barcelona besok pagi.
Kak Sha kembali mengangkat gelasnya yang sudah nyaris tandas itu tinggi-tinggi ke udara. Dengan suara keras khasnya, ia kembali mengajak sahabat-sahabatnya untuk bersulang.
“Untuk kebahagiaan Ase dan Shancai!”
“Ya, untuk kebahagiaan Ase dan Shancai,” ujar ketiga personel F4, mengekori kalimat Kak Sha yang sember.
Sedetik setelah terdengar suara keras dentingan gelas di udara, maka membahanalah gelak tawa keempat pemuda itu. Membelah keheningan dinihari di Taipei. Menembusi langit kelam yang ditaburi gemintang.

***

Setelah menghubungi sahabat-sahabatnya di Taipei, Taoming Se memandang Shancai yang masih berdiri di ambang jendela, melayangkan pandangannya ke jalan protokol depan hotel tempat mereka menginap. Wajahnya yang tirus terpantul cahaya dari lampu penerangan kamar. Ada sosok mungilnya membayang di tubir jendela kamar hotel. Riuh aktivitas malam di Barcelona seperti tidak pernah mati. Lalu-lalang kendaraan, kelap-kelip temaram lampu penerangan kota, dan denyar samar irama Flamenco dari kejauhan merupakan harmonisasi indah cinta mereka. Setahun lalu, di hotel yang sama, ia dan Taoming Se merajut kebersamaan itu.
“Shancai….”
Gadis berambut mayang itu mengalihkan perhatiannya dari noktah-noktah cahaya jauh di bawah sana. Dipandanginya wajah sedikit tegang dan lelah kekasihnya. Ia melangkah mendekat. Lalu duduk di gigir ranjang. Taoming Se menyambut sepasang mata telaga gadisnya dengan menyembulkan senyum sisa euforia.
“Boleh aku minta izinmu?” tanya Taoming Se, merapatkan duduknya di sisi Shancai.
“Apa itu?” Shancai balik bertanya.
“Bagaimana kalau pernikahan kita ini disampaikan kepada Kak Zhuang di New York?”
Shancai terkekeh. “Chu Tou-Tolol. Kupikir ada hal penting apa? Siapa takut memangnya kalau kabar gembira kita ini disampaikan pada Kak Zhuang? Ase, kupikir Kak Zhuang pasti mendukung kita. Bukankah selama ini hanya dialah yang merestui hubungan kita?”
“Iya, sih. Tapi….”
“Apa kamu takut Kak Zhuang bakal membocorkan dan memberitahukan pernikahan kita kepada orangtuamu? Atau, kamu takut pernikahan kita ini akan sampai di telinga orangtuaku di Taipei?”
“Bukan begitu. Aku yakin kok kalau Kak Zhuang tidak akan membocorkan rahasia kita ini kepada kedua orangtuaku. Justru, dia pasti merasa sangat gembira dengan keputusan kita ini. Cuma yang bikin aku tidak enak hati adalah, bahwa pernikahan kita ini masih dirahasiakan kepada orangtuamu, Shancai.”
“Kalau demi kebaikan kita, apa salahnya? Anggap saja surprais buat mereka nantinya. Yang pasti, demi rahasia kita berdua memang selayaknya tidak ada yang tahu kecuali saudara-saudaramu di F4.”
“Aku minta maaf sebesar-besarnya atas kelancangan kita ini, tidak meminta izin dan restu dari kedua orangtuamu. Sebenarnya bukan maksudku begitu, Shancai….”
“Sudahlah, Ase. Nantinya mereka juga bakal maklum, kok.”
“Tapi aku merasa bersalah. Cuma, aku sudah mempertimbangkan matang-matang untuk tidak memberitahu kedua orangtuamu itu. Pernikahan kita ini sakral, Shancai. Aku tidak ingin pertemuan kita ini dipisahkan oleh orang-orang yang berhati egois seperti Ibuku, Shancai. Makanya, aku bertindak agak ekstrim dan hati-hati. Lagipula, pernikahan kita tidak dirayakan secara besar-besaran, kok. Aku ingin pernikahan kita berjalan mulus di Gereja St Pons besok lusa.”
Shancai mengangguk mafhum. Tak sadar airmatanya menitik. Pemuda di hadapannya kini bukan lagi pemuda yang dikenalnya pertama kali di Universitas Ying De. Pemuda itu sudah jauh berubah. Ia tampak lebih dewasa dan matang. Bukannya lagi Taoming Se yang pongah. Yang terlahir dari keluarga konglomerat sehingga menjadi jumawa!
Dan ia semakin jatuh hati kepadanya.