09 January 2016

Season of The Fireworks (05)

BLOGKATAHATIKU/IST
Season of The Fireworks (05)
Oleh Effendy Wongso

Legenda Gereja St Pons

Gereja St Pons
Suatu ketika dalam birama lawas
saat langit Barcelona melembayung
menyimpan legenda tentang kinasih
Takhta suci sang cinta
karya agung dari surga

Ketika sayapku mengepak
hendak menggapai impian
Merpatiku Jing  tak pernah datang
Menyepikan aku dalam diam
dan hanya menyisakan sebait lara di hati

Taoming Se
Mohon wujudkan impianku yang safa
Kebahagianmu dengan Shancai
adalah liuk lafazku
Sehingga bilangan hari yang membentang
Tak akan memaparkan kenangan berdebu

Hua Ce Lei
Legenda Gereja St Pons

Barcelona masih menghadirkan kenangan yang sama. Jalan-jalan kenangan, setahun yang lalu, tetap menyuguhkan keindahan natural tak berbanding. Di sini, setahun lalu, dua hati yang bertaut telah dipisahkan oleh takdir. Malapetaka legenda cincin meteor seolah menyaput kebahagiaan mereka berdua. Kecelakaan mobil di jalan protokol Gereja St Pons akhirnya menghadirkan serangkain kisah miris. Pemuda itu amnesia. Melupakan semua kenangan yang telah dirajut melalui serangkain kisah semanis madu dan segetir empedu.
Lalu lahirlah kisah baru. Ihwal pertemuannya dengan putri kerajaan dari Buthan yang hidup hippies melanglang buana dari satu negeri ke negeri lainnya, Ye Sha.
“Kamu belum menjawab ajakanku, Shancai!”
Gadis itu tersenyum. Pemuda itu belum berubah. Sifatnya yang keras kepala telah melelatukan ingatan dalam memori kepalanya. Universitas Ying De menyimpan banyak kenangan dalam sepenggal romantika hidupnya. Di sana ada F4 yang selalu ia antipati dan ia teriaki dengan kata: Chu Tou-Tolol. Ada pamflet peringatan You’ll Be Dead  bertanda F4. Ada Ching He yang kocak. Ada Li Zhen sahabat karibnya yang berkhianat. Ada dosen yang lembek. Ada Qian Hui yang sering pamer kekayaan. Dan seribu kenangan lainnya yang tak terlupa.
“Perlukah aku jawab?”
“Tentu saja!”
“Hei, kamu masih saja keras kepala.”
“Tentu saja. Kalau tidak keras kepala, bukan Taoming Se namanya.”
“Chu Tou-Tolol! Aku tidak suka Taoming Se. Tapi, aku suka Axing!”
Taoming Se menderaikan tawanya. Shancai mengiramai tawa pemuda berlesung pipi itu.
“Axing milik Ye Sha,” ujar Taoming Se setelah meredakan tawanya. “Kamu jangan tamak memiliki dua-duanya, Axing dan Taoming Se.”
Sontak senyum mungil itu menguncup. Uraian kalimat bernada gurau itu telah menohok hatinya. Ada rasa sakit bila mengingat semua itu. Kurang lebih setahun lamanya ia meniti jalan penantian itu. Menunggu sampai Sang Kekasih pulih dari amnesia. Sebuah prahara trauma otak yang menimpa pemuda itu telah merampas kebahagiaanya. Merebut orang terkasih dari sisinya.
“Dia….”
Seperti menyadari dirinya telah mewarnai pertemuan mereka dengan lara, Taoming Se secepat mungkin mengubah topik pembicaraan. Ia tahu ucapannya barusan telah menyakiti hati gadis berambut mayang yang sangat dicintainya itu.
“Dia sudah kembali ke Buthan. Hei, sekarang dia pasti sudah dipaksa berlaku menjadi Tuan Putri lagi….”
“Kasihan Ye Sha….” 
“Shancai….”
“Maaf….”
“Ka-kamu ti-tidak apa-apa….”
Gadis itu mengangguk, mencoba menyembulkan senyum menutupi galau hatinya. Namun yang dapat ia lakukan adalah menggigit bibir. Kepura-puraan menjadi hal naif. Selamanya ia tidak pernah dapat menutupi perasaannya.
“Maafkan aku, Ase. Mungkin….”
“Jangan berpikir macam-macam lagi, Shancai. Kamu terlalu lelah.”
Shancai mengangguk. Selayaknya ia memang tidak patut memaparkan kenangan lama di dalam ruang sakral Gereja St Pons ini. Toh semuanya telah berlalu. Seharusnya ia merenda harapan, menjelang hari-hari baru yang telah ditawarkan Taoming Se kepadanya. Bukannya kisah suram yang memenggal romantika cintanya dulu.
Semilir angin yang menelusup melalui tubir pintu utama Gereja St Pons sudah menusuk-nusuk kulit dengan dinginnya yang menggigit. Taoming Se kembali memeluk tubuh gadisnya. Atas nama cinta ia dan Shancai hadir di sini. Sebuah tempat legenda keabadian cinta. Entahlah. Ia tidak terlalu meyakini hal itu. Yang pasti ia telah berikrar untuk senantiasa mencintai gadisnya. Gadis yang telah dipampas dari hari-harinya melalui sebuah musibah kecelakaan yang menyebabkannya amnesia.
Api kecil pada lilin-lilin lampai di muka altar yang tertiup angin seolah melambai-lambai ke arah mereka ketika dua remaja itu melangkah keluar. Barangkali turut merasakan kebahagiaan pertemuan dan pertautan dua hati yang telah lama dipangkas oleh sang waktu.

***

Sudah nyaris dini hari. Tapi ketiga pemuda itu enggan beranjak dari kafe. Bukan hal yang gampang untuk dapat berkumpul bersama seperti sekarang. Reuni F4 minus Taoming Se namun plus Kak Sha, memang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Semua personel F4 memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Taoming Se masih berusaha mendapatkan cintanya yang hilang. Ximen saat ini terlalu disibuki dengan urusan kantor perusahaan ayahnya. Hua Ce Lei masih mencari nafkah dan identitas dirinya di Jepang. Sementara Mei Cuo masih berusaha membangun kehidupannya bersama Ing Sau Chiau sehingga nyaris tidak punya banyak waktu untuk berkumpul bersama teman-temannya lagi.
Namun untung Kak Sha membuka sebuah kafe kecil di Taipei. Jadi jika senggang, mereka akan bertemu di kafe Kak Sha yang baru, Sha’s Café. Sejak kepergian Ye Sha ke Buthan, Kak Sha tidak memiliki sahabat paling setia lagi. Ia merasa sangat kesepian. Untuk itulah ia berinisiatif untuk membuka sebuah kafe kecil agar dapat memiliki kegiatan di waktu-waktu luangnya yang basir. Di samping itu, ia juga hendak menyatukan F4 kembali dalam sebuah tempat berkumpul. Dengan berbekal modal selama bekerja sebagai petani kebun anggur di Barcelona, Kak Sha pun menyewa sebuah rumah dan ditata menjadi kafe yang menjual aneka hidangan serta minuman.
Dan seperti malam ini, Kak Sha kembali menemani personel F4. Minum seperti biasa sembari bersenda gurau mengusir kepenatan setelah bekerja sehari-harian.
“Ayo kita bersulang untuk kebahagian pertemuan Ase dan Shancai di Barcelona!” ujar Kak Sha, mengangkat gelas yang berisi Grand Sand tinggi-tinggi.
Sertamerta ketiga personel F4 mengakuri toast yang ditawarkan Kak Sha. “Ya, untuk kebahagiaan Ase dan Shancai!”
Terdengar gelas berdenting di udara. Keempat pemuda itu minum setelah bersulang. Tidak ada kecemasan dalam hari-hari mereka lagi. Taoming Se sudah sembuh dari amnesia. Shancai sudah pula mendapatkan kembali cintanya yang sempat hilang. Dan Ye Sha telah kembali ke Buthan setelah berhasil dengan selamat menjalani operasi transplantasi sumsum tulang.
Setahun mereka diliputi kecemasan. Solidaritas dan kesetiakawanan yang tinggi di antara personel F4 membuat mereka peduli, dan berusaha menyelesaikan semua kendala yang melanda salah satu personel F4. Siapa pun dan seberat apapun masalahnya. Sekarang mereka merasa lega, dan dapat berkumpul lagi tanpa dibebani oleh problema.
Ada dering ponsel terdengar. Lei meredakan tawanya. Dikeluarkannya ponsel model mini dari saku celananya. Dilihatnya layar biru ponselnya. Dan kontan tersenyum ketika identitas sang penelepon tercantum di sana.
“Hei, dari Ase!” jeritnya pelan sembari memperlihatkan ponselnya ke arah sahabat-sahabatnya. 
Ximen mengulum senyum, berlipat tangan seperti biasa setelah membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot dari pangkal hidung. Mei Cuo menggeraikan bilah-bilah rambutnya yang sebahu. Sementara itu, Kak Sha mengangguk-angguk dan membolakan matanya dengan gaya lugunya. Semuanya tampak gembira, seolah-olah dapat merasakan kebahagiaan Taoming Se dan Shancai di Barcelona.
“Hm, rupanya Ase memang sangat beruntung. Baru saja kita membicarakan dia, tahu-tahu dia menelepon. Dasar anak mujur!” tutur Mei Cuo, mengomentari deringan pada ponsel Hua Ce Lei.
“Halo, Ase. Apa kabar?”
“Baik. Eh, Lei, kamu di mana?”
“Saat ini aku bersama Ximen dan Mei Cuo di cafénya Kak Sha. Kak Sha juga sedang menemani kami, kok. Hei, kamu belum menceritakan sesuatu kepada kami. Bagaimana hubunganmu dengan Shancai di sana?”
“Everything is ok! Lei, aku harap kamu beserta Ximen dan Mei Cuo dapat berangkat ke Barcelona secepatnya. Kalau bisa besok pagi. Ajak pacar-pacar mereka sekalian kemari.”
“Wait, wait, Ase! Untuk apa kami ke Barcelona? Hei, kami tidak mau mengganggu acara happy ending-mu dengan Shancai!”
“Tapi, kali ini ada hal penting yang harus kalian saksikan. Lei, aku tidak mau dianggap tidak setia kawan, dan melupakan kalian begitu saja ketika sudah senang.”
“Ada apa, sih?”
Suara Taoming Se di seberang sana terdengar menjerit girang sampai-sampai kedua sahabat sejatinya, Mei Cuo dan Ximen dapat mendengarkan dari jarak cukup jauh.
“I WILL MARRY SHANCAI THE DAY AFTER TOMORROW!”
Hua Ce Lei terlongong. Ximen dan Mei Cuo seperti tersentak dari kursi. Suara yang terdengar dari horn ponsel Hua Ce Lei seperti menghipnotis mereka. Tidak sedikit pun pernah terlintas dalam benak kalau pertemuan dua hati tersebut akan ditutup dengan ikatan sakral perkawinan.
“Lei, kamu masih mendengarkan aku tidak?!”
Hua Ce Lei mematung. Ponselnya masih menempel di daun telinga kanannya. Tapi tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya. Hatinya giris. Gadis mungil berambut mayang itu pernah menjadi bagian dari hidupnya. Banyak kenangan yang tertoreh saat bersamanya. Tapi ia telah mengikhlaskan segalanya saat mengetahui hanya Taoming Se-lah yang dapat membahagiakan hati gadis itu. Dan atas nama cinta, ia mengorbankan diri untuk mengalah. Mundur dari kompetisi merebut hati Shancai. Membiarkan Taoming Se, salah satu sahabat terbaiknya, memasuki kehidupan Shancai.
‘Ada apa lagi?! Pertandingan itu sudah usai, Lei. Kamulah pemenangnya!’
‘Tidak, tidak! Pertandingan itu belum usai! Kamu harus berani dan fair melanjutkan pertandingan itu, Ase!’
Denyar kenangan lama menguak di memori benaknya. Ia memang sengaja mengalah. Mengalah demi kebahagiaan Shancai. Gadis yang sesungguhnya paling dicintainya!
Dan selalu saja menutupi kekecewaan hatinya dengan tersenyum.