09 January 2016

Season of The Fireworks (02)

BLOGKATAHATIKU/IST
Season of The Fireworks (02)
Oleh Effendy Wongso

Elegi Pendar Bintang

Aku masih berkutat melawan penyakitku ketika kenyataan getir itu mengentakku suatu hari. Sebetulnya harapan itu sudah punah sejak vonis repertum dokter sebulan lalu. Meningoenchepalitis  yang kuidap sudah melantakkan segalanya. Namun, aku masih menabur asa pada impian yang kerontang. Dan dengan naifnya mengharap pemuda itu dapat menemaniku sampai menjelang ajal menjemput. Mungkin aku terlalu picik menyikapi kenyataan yang baru kuperoleh, gadis itu merupakan kekasih dari pemuda yang paling aku cintai, justru pada saat-saat terakhir hidupku. Mungkin juga aku terlalu egois untuk dapat memiliki Taoming Se sepenuhnya, meskipun Tuhan hanya mengizinkan aku bernapas tidak berapa lama lagi.
Taipei Bowling Centre masih meniupkan atmosfer yang sama. Udara yang meliuk hangat terasa berat di paru-paru. Aku dan Shancai keluar bersama. Melabuhkan langkah kaki pada poros jenjang prominade yang melintang di atas kanal. Serangkaian birama sepat largisimo yang telah mengaduk benak tepat untuk dibasuh tempias partikel air yang dibawa semilir angin basah dari kanal.
Gadis itu mematung seperti biasa. Ketegarannya menghalau tangis yang hendak pecah dari pelupuk mata. Kupandangi lamat wajahnya yang menunduk. Air kanal yang hitam keperakan ditimpa temaram lampu merkuri di depan kami mengalir tenang. Seperti alur pikiran kami yang merambat getas di dalam benak masing-masing. Terdiam tanpa sepotong kata patah pun sehingga memubazirkan puluhan menit sua langka kami.
Ia menyender di gigir pagar besi kanal, mencoba menyikapi ambangan sunyi dengan paruh senyum paksanya. Tapi semuanya sia-sia. Untaian lara yang bersimfoni tetap memaksa menghadirkan telaga bening di sepasang pipiku. Layaknya seorang hawa, ia dapat meraba kedalaman isi hatiku meski telah kututupi dengan tirai dusta.
“Ye Sha,” tegurnya dengan suara lunak. “Kamu jangan membohongi hatimu sendiri!”
Aku mengangkat wajah setelah sedetik menghimpun napas. Disambutnya tatapan mataku yang binar dengan embusan udara yang keluar dari sepasang pelepah tipis bibirnya. Sesaat ia memejam, entah untuk apa. Tapi kutangkap kilau yang terpancar dari sepasang mata ekuatornya tadi. Bukti penderitaannya yang terpendam lama. Sebuah penantian yang rasanya berabad. Yang telah dipampas dari pelukannya saat pemuda itu sudah tergapai tangan.
“Aku tidak pernah mencintai, Ase!”
Gadis itu terkekeh. Cukup untuk menampik alasanku tanpa harus dijelaskan dengan serentetan kalimat. Ia mendongak. Seperti kebiasaannya. Mencoba membenturkan pandangannya pada langit kelam, jauh di atas sana. Mungkin saja ada pendar bintang yang turun dan melintas tepat di atas kepala kami. Tapi malam ini semuanya jauh dari harapan. Awan gemawan menutup layar langit yang senantiasa berhiaskan laksaan gemintangnya yang ajaib. Barangkali langit malah akan meniriskan rinai hujan. Mungkin Tuhan belum mengizinkan ia mendapat jawaban pasti tentang ikrar masa lalu lewat penampakan bintang jatuh, yang pernah diucapkannya bersama pemuda yang kini tengah mengalami derita trauma otak akut amnesia.
“Ase mencintaimu,” tegasnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. Tulus berharap. “Dia sangat mencintaimu, Ye Sha!”
“Anak bodoh,” uraiku, menderaikan tawa di ujung kalimat. “Anak itu memang bodoh, Shancai. Hei, dia pikir dengan perhatian lebih yang kuberikan selama ini….”
Shancai menyergah. Alisnya bertaut, penggambaran amarah yang meruap atas kekerasan hatiku. “Dia mengatakannya sendiri kepadaku!”
Aku mengurai simpul bibir, tersenyum dengan rona tawar. Namun, makna yang terpancar dari sumringah itu bukannya penegasan yang bijak. Dan bodohnya, aku selalu menyangka dapat mengibuli gadis itu dengan seperangkat dusta. Tapi ternyata aku salah. Gadis itu tak bergeming. Ia cermat mengamati. Bahwa aku tengah bersandiwara.
“Dia jatuh cinta kepadaku, memang iya,” dustaku untuk kesekian kalinya. “Tapi bukan berarti aku harus mencintainya juga. Kamu tahu kenapa aku baik kepadanya?”
Tubuh gadis mungil di sampingku menegak. “Kenapa?”
“Karena aku merasa berutang kepadanya. Aku merasa bertanggung jawab moral mengembalikan ingatannya. Dia amnesia karena aku. Kalau bukan karena aku, dia tidak mungkin melupakan kamu!”
“Itu insiden. Jangan mengurai dalih tentang kecelakaan mobil di Barcelona, Ye Sha. Lepas dari semua itu, Ase memang mencintai kamu.”
“Jangan memaksaku untuk menerima cintanya, Shancai. Aku tidak suka memaksakan diri mencintai orang yang tidak kusukai.”
“Tapi….”
“Ase milikmu. Aku minta maaf….”
“Maaf kenapa?”
“Aku secara tidak langsung sudah bikin hidup kamu menderita. Kecelakaan mobil itu, sudah menyebabkan dia amnesia sehingga melupakan kekasihnya yang bernama Tong Shancai di Taiwan. Sekarang, mau tidak mau aku harus mengawal dia menemukan kembali identitas dirinya yang sesungguhnya. Dia bukan Axing. Tapi dia adalah David Taoming. Taoming Se!”
“Tapi….”
“Shancai, seharusnya kamu bahagia. Orang yang kamu cintai telah kembali ke Taipei. Hei, bukankah itu yang kamu inginkan kan? Sama sepertimu, aku juga bahagia karena sudah dapat mewujudkan impianku yang tertunda gara-gara kecelakaan mobil di Barcelona itu.”
“Maksudmu?”
“Kini aku terbebas dari beban-beban yang menghantuiku siang dan malam. Mau tahu kenapa? Karena sekarang Ase sudah lepas dari tanggung jawabku. Dia telah menemukan orang yang tepat. Kamulah orang itu, Shancai. Kamulah orang yang dapat merawat Ase sampai pulih dari amnesia. Itu berarti aku dapat berkeliling dunia tanpa dibebani oleh pesakit Taoming Se.”
“Ta-tapi….”
“Percayahlah, Shancai. Sedari dulu aku memang tidak pernah mencintai Ase. Kalaupun selama ini aku sudah memberikan perhatian istimewa kepadanya, hal itu tidak lain disebabkan tanggung jawab moralku untuk memulihkan ingatannya. Saat Ase jatuh hati kepadaku, aku pun berpura-pura menerima cintanya. Shancai, aku tidak ingin melukai hatinya pada waktu itu. Makanya, aku berbohong mencintai dirinya. Setelah membaca coretan kamu di dinding pondokanku tempo hari, maka ketika itu juga aku merasa merdeka. Aku jadi bersemangat untuk mencari kamu, sang penulis kisah penantian  itu. Setelah bertemu dengan kamu, aku benar-benar merasa bahagia. Berarti aku dapat melanglang buana. Nah, besok aku akan terbang ke luar negeri. Doakan aku supaya selamat, ya?”
“Ye Sha….”
Aku memejam. Pelupuk mataku dibanjiri airmata. Sepoi angin malam yang malas merangkak membuai tengkuk. Tidak terlalu dingin. Tapi giris yang aku ra-sakan membekukan hati. Aku menggigit bibir. Tidak kuasa lagi menahan airmata.
“Ye Sha….”
Aku belum berani berpaling. Airmata ini harus kusembunyikan. Bukan untuk apa. Aku tidak ingin gadis itu sampai tahu kalau aku sebenarnya mencintai kekasihnya yang amnesia.
“Kami akan menunggumu pulang!”
Aku mengangguk tanpa mengangkat muka. Sebersit rasa mengaduk-aduk hati. Kenangan manis bersama Axing babur di benakku. Mendadak gamang dengan keputusanku yang pura-pura. Tapi aku harus berbohong. Shancai sudah sangat menderita. Ia sudah kehilangan kebahagiaannya saat tragedi di Barcelona itu. Aku telah merampas kebahagiaannya. Aku telah merampas kekasihnya. Maka aku tidak pantas memiliki hati Taoming Se meski pemuda itu tulus mencintaiku!
“Ye Sha….”
Tuhan tolong!
Jangan biarkan airmataku jatuh di hadapan Shancai. Biarkan aku belajar tegar seperti gadis itu.
“Aku sudah ikhlas, Ye Sha!”
Aku kembali memejam. Hatiku semakin berdarah. Inikah ketulusan cinta yang terpancar dari hati seorang Hawa?! Inikah karya purna dari langit yang dicetuskan pada diri seorang Shancai?! Sungguh. Aku kerdil dalam keagungan cintanya! Dan sama sekali tidak berminat untuk merebut hati kekasihnya meski hal itu semudah membalik telapak tangan!
“Tolong jangan usik keberangkatanku dengan nama Taoming Se lagi, Shancai!”
Airmatanya menitik. Keharuan merayapi dinding-dinding malam. Tong Shancai, gadis mungil dengan semangat gergasi itu meneteskan airmata! Aku tersenyum sinis. Cinta merapuhkan hati kami berdua. Taoming Se meluluhlantakkan tembok ketegaran kami. Cinta memang telah mengerdilkan kami. Romantisme membabur. Melukai hati kami berdua.
“Kamu akan melukai hati Ase, Ye Sha!”
“Aku tidak ingin kamu terluka!”
“Aku ikhlas, aku ikhlas!”
“Tapi aku tidak dapat menerima orang yang tidak aku cintai!”
Aku menggigit bibir. Mengelak ketika sorot mata beningnya itu hendak membaca isi hatiku yang sesungguhnya lewat kedua bola mataku. Sebuah kesia-siaan. Sebab gadis itu menggeleng, menolak uraian dalih yang kucetuskan dengan suara sember.
“Kamu telah menyiksa hatimu, Ye Sha!”
Aku menggeleng. Mengharap rinai hujan akan segera turun malam ini sehingga airmataku tersamar oleh tirai-tirainya yang basah. Tapi langit masih menggantungkan uapan air itu. Enggan mewujudkan permintaan hatiku. Malah mengarak gumpalan hitam itu menjauh dari hadapan. Dan menyibakkan gemintang yang sudah samar menoktah.
“Sudahlah, Shancai. Aku memang tidak mencintai Ase, kok.”
“Tapi….”
“Ciayo-bersemangatlah, Shancai. Aku yakin ingatan Ase akan pulih kalau kamu terus menyertainya. Aku harap kamu dapat bersamanya setiap hari. Mungkin dengan begitu kenangan kalian berdua akan menguak sedikit demi sedikit di serabut kelabu otaknya. Oke?”
“Tapi….”
“Aku mohon penuhi permintaan terakhirku itu, Shancai. Jagalah Ase. Sertai dia setiap hari. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau mendengar semua permintaanku itu.”
“Ye Sha….”
“Shancai, ciayo-bersemangatlah!”
“Tapi….”
“Sudahlah. Tidak ada tapi-tapian lagi. Sudah larut malam. Besok pagi aku sudah harus berangkat. Nah, sekarang janji. Di antara kita tidak boleh ada yang berpaling saat melangkah, terlebih-lebih menangis. Jadi, aku akan menghitung satu-dua-tiga. Setelah itu kita masing-masing berbalik. Aku ke kanan dan kamu ke kiri. Janji, tidak boleh ada yang menangis!”
Gadis itu mengangguk. Rambutnya yang mayang terkibas angin malam. Ia membalik badan dengan langkah berat. Aku menggigit bibir. Ragu dengan keputusan yang kubuat sendiri, untuk tidak saling mengingkari peraturan yang telah disepakati bersama tadi.
Dan ketika melangkah, airmataku semakin menderas.