08 January 2016

Roti Daeng, Tawarkan Alternatif Sarapan yang Higienis

ROTI DAENG - Karyawan kedai roti “Roti Daeng” tengah memamerkan beberapa varian roti. Kedai roti yang buka 14 Oktober 2015 ini, memiliki ratusan varian roti yang selalu berganti pada waktu-waktu tertentu. Setiap hari memproduksi sekitar seribu pieces dengan 50-60 varian, di antaranya roti ulang tahun, roti Mexico, roti Jerman, pizza Daeng, dan masih banyak lagi. BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Kemajuan suatu kota selalu berbanding lurus terhadap kemajuan lainnya, sebut saja dalam kegiatan bisnis seperti usaha kuliner. Pasalnya, pertumbuhan kota dengan masyarakatnya yang sibuk, memaksa sebagian besar warga untuk mendapatkan pelayanan serba cepat namun tetap berkualitas.
Hal tersebut ditangkap Suardi Daeng Minro sebagai peluang bisnis, sehingga memantik ide untuk mendirikan kedai roti. Lantas, kenapa mesti roti? Saat ditemui belum lama ini di Jalan Hertasning (Aroepala), Makassar, pemilik kedai roti “Roti Daeng” ini mengungkapkan, roti merupakan sarapan yang paling layak menjadi pengganti nasi dibandingkan makanan lainnya.
“Selain instan, roti juga kaya gizi. Saat ini, hampir semua orang menyukai roti sebagai pengganti makan siang atau sarapan. Selain praktis, roti juga cukup mengenyangkan,” alasannya.
Terkait penggunaan kata “Daeng” dalam entitas merek usahanya, Suardi beralasan lantaran nama itu sudah sangat identik dengan Makassar. “Selain itu, saya juga ingin mengangkat nama lokal dengan kualitas internasional,” bebernya.
Kedai roti yang mengusung jargon “Rotinya Orang Sulawesi” tersebut, menawarkan tiga jenis roti, di antaranya roti Jepang, roti Taiwan, dan roti Eropa. Tidak hanya itu, untuk tetap menjaga kualitas rotinya, Suardi yang paham benar pentingnya unsur higienis dan kesehatan, mengklaim semua produknya tidak menggunakan bahan pengawet. 
“Keputusan tanpa memakai bahan pengawet ini, memang berisiko rugi. Hanya dalam tempo satu hari, semua roti bisa dipastikan rusak. Tetapi, Roti Daeng juga tidak tawar menawar terkait kesehatan. Oleh karena itu, kami memiliki cara mengantisipasinya. Jika pukul 20.00 Wita masih ada 600 pieces, maka produksi bakal dihentikan karena kedai tutup pukul 22.00 Wita,” imbuhnya.
Kedai yang buka 14 Oktober 2015 ini, memiliki ratusan varian roti yang selalu berganti pada waktu-waktu tertentu. Setiap hari memproduksi sekitar seribu pieces dengan 50-60 varian, di antaranya roti ulang tahun, roti Mexico, roti Jerman, pizza Daeng, dan masih banyak lagi. Selain roti modern, Roti Daeng juga menyajikan berbagai varian roti tradisional seperti bika.
Menyoal segmentasi, Suardi mengaku pihaknya menyasar masyarakat menengah atas. Kendati demikian, Roti Daeng bisa dinikmati semua kalangan. Adapun harga yang ditawarkan variatif, tergantung jenis yang dipesan. Untuk roti dibanderol Rp 5 ribu-Rp 10 ribu per pieces, sementara brownis Rp 39 ribu-Rp 50 ribu per pieces.
Guna memanjakan pengunjungnya, pihaknya menyiapkan sejumlah sofa, bahkan meja untuk makan. “Memang kami sengaja menyediakan sofa dan meja, ini agar pengunjung merasa nyaman layaknya di rumah sendiri, sehingga leluasa memilih roti,” ulas Suardi.
Selain itu, nuansa natural juga diterapkan dalam konsep interior kedai. Ini dapat dilihat dari atap maupun selasar yang dinaungi "dedaunan".
Untuk mengakomodir animo pelanggan terhadap kebutuhan roti maupun brownis pihaknya, Suardi mengaku saat ini tengah menggenjot kapasitas produksi Roti Daeng sekitar dua ribu dan 500 brownis dalam sehari.