12 January 2016

Need Food Container, Sajikan Menu Street Food Berkelas

PERAN PROMOSI - Pemilik Need Food Container (NFC), Edward saat diabadikan di NFC, Kawasan Taman Segitiga (Kedai Pramuka), Jalan Lamadukelleng, Makassar, Senin (11/7). Edward tak menafikan peran promosi, baik di media sosial (medsos) sebagai salah satu strategi mendongkrak jumlah pelanggannya. Tetapi dari semua bentuk promosi itu, ia menganggap kerja sama dengan Telkomsel melalui Telkomsel Poin yang paling berkontribusi meningkatkan omset jualan NFC. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Sajian kuliner, betapapun lezatnya jika tidak ditunjang “kemasan” yang menarik, maka rasanya sulit untuk dipasarkan. Kemasan secara artifisial mengandung makna parsial terkait kreasi menu, wadah, maupun tempat berjualan.
Di Makassar, ada satu penyedia street food atau jajanan yang terbilang unik, Need Food Container (NFC). Kedai street food yang mengusung jargon “I Love Eat” tersebut, dapat dikatakan unik lantaran menggunakan kontainer atau peti kemas bekas sebagai tempat jualannya.
Kontainer yang sesungguhnya merupakan seperangkat wadah untuk mengangkut barang pada berbagai moda angkutan, baik truk, kapal, maupun kereta api, disulap sedemikian rupa sehingga menjadi tempat menarik yang menawarkan aneka kuliner.
“Kenapa memilih kontainer sebagai tempat jualan, karena saya menganggap merupakan hal yang baru. Selain itu, ide ini lahir karena saya ingin membangun konsep kaki lima semi permanen, tetapi izin untuk usaha kaki lima agak sulit diperoleh, sementara biaya sewa ruko di Kota Makassar cukup mahal. Dengan kontainer, konsepnya seperti food truck namun semi mobile dan kelihatan unik,” terang pemilik NFC, Edward saat ditemui di Kawasan Taman Segitiga (Kedai Peramuka), Jalan Lamadukelleng, Makassar, Senin (11/2).
Modifikasi tidak hanya terlihat dari kontainer bekas yang menjadi media jualan kulinernya yang dicat warna jingga cerah, tetapi juga dari menu racikannya. “Semua menu merupakan olahan saya sendiri. Saya sengaja menawarkan menu unik seperti Loklok dan Riprips karena ingin menyajikan sesuatu yang beda bagi konsumen dengan harga terjangkau,” bebernya.
Loklok yang dimaksud Edward adalah suki bakar yang terdiri dari berbagai varian seafood, dibanderol Rp 6 ribu per porsi. Sementara, Riprips adalah sajian dari bahan daging iga pendek bakar Rp 25 ribu per porsi.
“Untuk menu Loklok, seluruhnya ada 43 varian seafood yang bisa dipilih konsumen, seperti kepiting, udang, ikan, cumi, dan lain-lain. Sementara, Ripsrips dapat dinikmati pelanggan dengan bumbu dan kentang yang sudah sepaket,” papar pria yang akrab disapa Edo.
Kelahiran Makassar, 9 September 1982 ini beralasan, dengan harga terjangkau ingin menyuguhkan menu yang dianggap “mahal” di resto kelas atas kepada konsumen street food. “Bayangkan saja, jika makan di resto berkelas, untuk menikmati menu suki atau rips, mereka harus membayar ratusan ribu rupiah per porsi,” contohnya.
Kendati demikian, Edward tak menafikan peran promosi, baik di media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, Path, maupun Instagram, sebagai salah satu strategi mendongkrak jumlah pelanggannya. “Tetapi dari semua bentuk promosi itu, saya menganggap kerja sama dengan Telkomsel melalui Telkomsel Poin yang paling berkontribusi meningkatkan omset jualan NFC,” akunya.
Komitmen bentuk kerja sama yang sudah terjalin sekitar September 2015 itu,  antara lain diskon 50 persen setiap transaksi Rp 50 ribu untuk pelanggan Telkomsel yang menukarkan 20 poinnya. Sementara, Telkomsel mempromosikan NFC dengan SMS blast maupun promo-promo lainnya.
“Setiap hari, ada sekitar 20-30 konsumen yang menukarkan poinnya. Ini sangat meningkatkan omset NFC, yang setiap hari dapat memperoleh sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta,” urai Edward.
Ke depannya, mantan sales otomotif ini berharap dapat mengembangkan usahanya lebih jauh. “Tahun ini, saya berencana untuk ekspansi dengan membuka satu cabang lagi di Makassar,” tutupnya.