10 January 2016

Menyeruput Manisnya Bisnis Coffee Shop

GELAEL COFFEE SHOP - Artis Kartika Waode, saat berada di Gelael Coffee Shop. Melihat tren pertumbuhan coffee shop di Kota Makassar yang semakin pesat, manajemen PT Gelael Indotim Makassar membuka Gelael Coffee Shop, berdampingan dengan gerai supermarket. Sajian kuliner dengan cita rasa premium bisa didapatkan. Jenisnya pun beragam, mulai makanan khas Makassar hingga luar negeri. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Coffee shop saat ini sudah menjadi alternatif masyarakat melaksanakan kegiatan, mulai rapat perusahaan, kumpul komunitas, hingga kegiatan terkait partai politik. Melihat potensi tersebut, banyak pelaku bisnis berlomba ikut ambil bagian mengembangkan bisnis itu.
Di perkotaan, budaya minum kopi bahkan tak ubahnya sebuah kebutuhan. Mulai sekadar hangout sembari berbincang santai, ataupun meeting membicarakan “deal” bisnis banyak dilakukan sambil menyeruput segelas kopi. Bagi sebagian orang, nongkrong di coffee shop bahkan menjadi semacam “pelarian” dari penatnya rutinitas sehari-hari.
Budaya minum kopi kini tak lagi didominasi segelintir orang, yang dulu hanya didominasi orang berusia lanjut. Kebiasaan meminum kopi kini telah bertransformasi menjadi sebuah tren dan gaya hidup. Tua atau muda, pria atau wanita, menggemari minuman berwarna hitam pekat itu.
Sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman setia di pagi hari sembari membaca koran. Ada pula yang menjadikan minuman kopi sebagai minuman wajib saat berbincang bersama teman-temannya.
Tren penikmat kopi yang semakin meluas ini tentu saja menjadi ladang bisnis basah bagi sebagian orang yang jeli melihat peluang. Tak heran, bisnis coffee shop pun mewabah di mana-mana. Baik yang mengusung brand franchise (waralaba) ternama ataupun coffee shop merek sendiri. Semua menawarkan konsep dan spesialisasi masing-masing.
Hal inilah yang memotivias Infocus Trading (IFT) Academy yang membuka sebuah coffee shop berlabel “Redhot Coffee” di Jalan Pengayoman, Makassar. Menurut Public Relation IFT, Seri Elronni, konsep yang diusung coffee shop-nya berbeda dengan yang lain. Selain nyaman buat “ngopi”, juga dijadikan sebagai tempat pelatihan trading. Ide awal untuk membuka coffee shop sebenarnya untuk menyediakan tempat bagi para klien, yang kadang ingin konsultasi tentang bagaimna konsep trading forex yang benar.
Ide untuk mengumpulkan para trader di Makassar kemudian diwujudkan dalam bentuk Redhot Coffee. Semua trader bisa saling sharing informasi sekaligus konsultasi dengan suasana lebih santai di coffee shop. Makanya, lokasinya sengaja dipilih yang bebas dari hiruk-pikuk suara kendaraan bermotor.
“Segmen pasar kami memang para trader. Meskipun demikian, pengunjungnya juga banyak dari kalangan marketing, komunitas, maupun entrepreneur,” papar Seri.
Di Redhot Coffee, setiap hari banyak trader yang berkumpul. Rata-rata dilakukan selepas waktu jam kerja, setelah pukul 17.00 Wita. Kapasitasnya bisa mencapai 80 orang, di depan 50 orang dan di bagian belakang berkonsep lesehan bisa hingga 30 orang. Terkadang, komunitas yang datang juga mengadakan kegiatan bazar di tempat tersebut. Apalagi, pengelolanya, Adi Syawal, merupakan founder IFT sekaligus profesional trader.
Namanya saja coffee shop-nya para trader, maka setiap Jumat malam disediakan waktu khusus untuk trader saling berbagi analisis. Pada saat itu akan dibuka layar lebar, untuk sama-sama menyaksikan kondisi pasar, utamanya apabila ada berita-berita  ekonomi penting dunia. Karena akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan mata uang, seperti saat Non Farm Payroll di Jumat pekan pertama setiap bulan.
Meskipun segmen utama para trader, tetapi banyak juga komunitas lain yang sering menyambangi Redhot Coffee. “Komunitas otomotif juga sering menyelenggarakan acara di tempat kami, seperti kegiatan kopi darat (kopdar),” tambahnya.
 Selain itu, Redhot Coffee juga sering disambangi pelaku usaha multilevel marketing (MLM) untuk sharing dan presentasi produk. Juga para pelaku partai politik maupun manajer dari berbagai perusahaan.
Namanya saja coffee shop, menu yang dijual sebagian besar makanan dan minuman ringan seperti kopi dan kebutuhan dasar para trader supaya bisa menahan kantuk, seperti hot coffee dan ragam minuman dingin, hingga makanan penahan lapar sementara seperti mi instan.
Namun ada beberapa makanan reguler juga dijual meskipun jumlahnya tidak banyak, seperti nasi goreng, ayam rica, dan ayam bakar. Range harga mulai dari Rp 12 ribu-Rp 20 ribu untuk minuman, dan Rp 13 ribu-Rp 28 ribu untuk makanan.
Sebagai praktisi di bidang bisnis coffee shop, Seri melihat potensi bisnis di bidang yang dijalaninya sekarang sangat besar. Itu lantaran jumlah komunitas di Kota Makassar cukup banyak. Makanya, pelaku bisnis coffee shop terus menjamur dan semakin meningkat seiring kebutuhan masyarakat akan tempat-tempat pengganti kantor, khususnya saat membahas bisnis.
Saat ini, umumnya orang-orang lebih suka membahas bisnis di coffee shop. Pelaku usaha semakin kreatif dalam mengembangkan potensi, untuk mendatangkan income, dan coffee shop adalah salah satu pilihan utama bagi mereka.
Selain coffee shop dengan merek sendiri, di Makassar  juga menjamur usaha berkonsep waralaba menggunakan merek yang sudah ternama. Salah satunya adalah The Coffee Bean and Tea Leaf. Ini merupakan waralaba kedai kopi yang bermarkas di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), dimiliki serta dikelola International Coffee and Tea, LLC. Pada 1963, Herbert B Hyman mulai merintis usaha The Coffee Bean and Tea Leaf di California.
The Coffee Bean and Tea Leaf masuk ke Indonesia sejak 2001, dan dikelola PT Trans Coffee, anak perusahaan dari Transcorp milik pengusaha ternama Chairul Tanjung. Salah satu outletnya berada di Mal Panakukang (MP) Makassar. Berlokasi di lantai dasar mal tersebut, The Coffee Bean and Tea Leaf menawarkan aneka menu minuman, di antaranya Espresso, Latte, Coffee, Non Coffee, Ice Blended, Ice Espresso and Coffee, Hot Tea, dan Tea Latte.
Yang menjadi menu utama untuk minuman The Coffee Bean and Tea Leaf tentu saja kop dan teh. Jenis minuman yang ditawarkan untuk kategori Hot Coffee adalah Coffee Mocha Rp 52 ribu (small), Rp 57 ribu (medium), Rp 61 ribu (large), Coffee Vanila Rp 52 ribu (small), Rp 57 ribu (medium), dan Rp 61 ribu (large). Bagi yang bukan penggemar kopi, ada Hot Chocolate dan teh bisa menjadi alternatif pilihan.

Mendukung Penjualan Supermaket

Menyebut kata Gelael, sebagian besar masyarakat Makassar mengenal sebagai salah satu supermarket yang sudah lama eksis di Kota Makassar. Hadir sejak 1985, aneka aneka produk kebutuhan rumah tangga bisa didapatkan di tempat tersebut.
Melihat tren pertumbuhan coffee shop di Kota Makassar yang semakin pesat, owner PT Gelael Indotim Makassar, Hengky Suharli, membuka Gelael Coffee Shop, berdampingan dengan gerai supermarket. Sajian kuliner dengan cita rasa premium, bisa didapatkan. Jenisnya pun beragam, mulai makanan khas Makassar hingga luar negeri.
Menu utama dari Gelael Coffee Shop adalah berbagai olahan kopi, mulai Hot Espresso, Hot Ginger, Cappucino, Mocha Latte, Caramel Latte, dan Hazelnut Coffee. Harganya beragam dan cukup terjangkau, mulai Rp 8 ribu-Rp 27 ribu. Selain itu, ada juga jenis teh, seperti Lemon Tea, Assortment of Tea, Strawberry Tea, Iced Lychee Tea, Thai Iced Tea, dan Thai Iced Green Tea. Harga ditawarkan Rp 10 ribu-Rp 25 ribu.
Menurut Hengky, hadirnya coffee shop seiring perubahan konsep supermaket menjadi Gelael Signature. Semua kebutuhan hidup masyarakat bisa diperoleh di gerai yang berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar.
Total produk yang dipasarkan berjumlah sekitar 15 ribu item. Kelebihan berbelanja di tempat ini, banyak produk yang dijual secara spesial, dan tidak akan bisa didapatkan di tempat lain. Gelael Coffee Shop terbukti dapat mendukung penjualan supermarket.