24 January 2016

Menikmati Wisata Alun-alun Yogyakarta

ALUN-ALUN YOGYAKARTA - Salah satu ciri yang juga menjadi identitas bagi kota lama di Pulau Jawa adalah adanya alun-alun pada pusat kotanya. Alun-alun di Pulau Jawa ini berupa sebuah lapangan luas yang dikelilingi pohon-pohon. Salah satunya yang cukup populer menjadi tujuan wisata adalah “Alun-alun” Yogyakarta. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Selain terkenal akan candi, Yogyakarta juga sangat populer dengan wisata alun-alun. Setiap hari ratusan orang datang, baik sekadar nongkrong maupun menikmati banyak permainan dan kuliner khas. 
Salah satu ciri yang juga menjadi identitas bagi kota lama di Pulau Jawa adalah adanya alun-alun pada pusat kotanya. Alun-alun di Pulau Jawa ini berupa sebuah lapangan luas yang dikelilingi pohon-pohon. Salah satunya yang cukup populer menjadi tujuan wisata adalah “Alun-alun” Yogyakarta. Pada Juni 2015, Public Relation Manager Hotel Sahid Jaya Makassar, Leonora J Matulessy,menikmati liburan di kota tersebut.
Ia menjelaskan, tujuan utama ke Jawa adalah bertemu keluarganya di Klaten, salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Setelah bersilaturahmi, mumpung lagi di Jawa, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat wisata terdekat, dan pilihannya jatuh di Yogyakarta. “Meskipun hanya dua hari, tetapi sangat berkesan bisa liburan bersama keluarga besar,” ungkapnya.
Kasultanan Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan Islam di Jawa yang memiliki “Alun-alun” luas. Pada bagian depan Keraton Yogyakarta terdapat alun-alun utara, dan alun-alun selatan pada bagian belakang. Kedua alun-alun tersebut mempunyai fungsi masing-masing. Alun-alun utara dikenal dengan sebutan Alun-alun Lor. Sementara, alun-alun selatan lebih populer dengan sebutan Alun-alun Kidul.
Alun-alun Lor merupakan salah satu landmark Yogyakarta. Alun-alun Lor berbentuk persegi dengan luas 150 meter persegi, dengan dua pohon beringin besar berpagar yang berada di tengah alun-alun. Dua pohon beringin Besar itu masing-masing diberi nama Kyai Dewandaru dan Kyai Wijayandaru. Pada masa lalu, di sekeliling Alun-alun Lor ditanam 63 pohon beringin yang melambangkan umur Nabi Muhammad SAW.
Beberapa sumber menyebutkan, dulu permukaan alun-alun adalah pasir halus, digunakan untuk tempat latihan para prajurit unjuk kehebatan di hadapan Sultan. Sultan dan para pembesar kerajaan duduk di Siti Hinggil, beranda keraton yang memiliki permukaan lebih tinggi untuk melihat atraksi para prajuritnya. Alun-alun Lor juga digunakan untuk Tapa Pepe, suatu bentuk unjuk diri dari rakyat agar didengar dan mendapat perhatian dari sultan.
Berdasarkan keterangan yang didapatkan Leonora dari masyarakat sekitar, Alun-alun Lor adalah dulu dikenal sebagai wilayah sakral, tidak sembarang orang diperkenankan masuk. Ada aturan-aturan yang wajib dipatuhi jika ingin masuk. Misalnya, tidak boleh menggunakan kendaraan, sepatu, sandal, bertongkat, dan mengembangkan payung. Hal ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Berbeda dengan saat ini, Alun-alun Lor menjadi sebuah ruang publik yang bisa dimanfaatkan setiap orang. Di sini, dapat dijumpai berbagai pedagang kaki lima yang mengelilingi alun-alun dari pagi hingga malam. Pada waktu-waktu tertentu, digelar beberapa acara, seperti Pekan Raya Sekaten, Perayaan Grebeg Maulud Nabi, serta upacara terkait keraton lainnya.
Alun-alun Lor akan menjelma sebagai sebuah tempat yang ramai dan dipadati banyak orang, karena acara-acara tersebut selalu digelar di alun-alun ini. Acara lain yang biasa diadakan di sini ini adalah pertunjukan seni budaya, konser musik, pasar malam, sepeda santai, dan aktivitas lainnya.
Pada bagian belakang Kesultanan Yogyakarta, terdapat Alun-alun kidul, yang menjadi ikon Yogyakarta. Alun Alun Kidul biasa disingkat “Alkid”. Alun alun ini dikelilingi tembok yang memiliki luas persegi, dengan lima gapura. Di alun-alun ini juga terdapat sebuah kandang besar yang bernama “Nggajahan”. Tempat tersebut dulunya dijadikan sebagai tempat memelihara gajah sang Raja, yang saat ini sudah tidak ada lagi.
Alun-alun selatan, dulunya merupakan tempat latihan baris prajurit keraton, sehari sebelum upacara grebeg. Tempat itu juga sebagai ajang sowan abdi dalem wedana prajurit berserta anak buahnya, di malam bulan Puasa tanggal 23, 25, 27 dan 29. Namun sejak Sri Sultan HB VIII bertahta, pisowanan ini dihentikan.

Permainan Mistis “Masangin”

Yang menarik pada objek wisata Alun-alun Kidul di Yogyakarta ini adalah adanya permainan “mistis” yang bernama “Masangin”. Ini merupakan permainan turun temurun. Dalam permainan, pengunjung berjalan dengan mata tertutup dan lewat di antara dua pohon beringin besar yang berada di sana. Kelihatannya memang mudah, tetapi banyak juga orang yang berbelok atau bahkan berbalik. Jika pengunjung tidak membawa penutup mata sendiri, bisa menyewa Rp 4 ribu, dan bisa dipakai selama yang diinginkan.
Permainan itu menurut kisah masyarakat setempat, sebut Leonora, berawal dari sebuah mitos. Pada masa kerajaan Sultan Hamengkubuwono I, ada seorang putri yang cantik rupawan. Kecantikannya begitu terkenal, banyak pemuda yang jatuh hati dan ingin melamarnya. Namun, tidak mudah untuk menaklukkan hati sang putri. Pasalnya, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu pemuda yang melamarnya harus dapat melewati celah pohon beringin kembar dengan mata tertutup.
Konon, orang yang dapat melewati celah beringin tersebut adalah seseorang yang mempunyai hati bersih dan tulus. Banyak yang mencoba, tetapi tidak ada yang berhasil, kecuali anak Prabu Siliwangi yang akhirnya menjadi suami sang putri. Selain itu, tempat ini pernah dijadikan sebagai pertahanan gaib untuk mengecoh pasukan Belanda yang ingin menyerang keraton agar mereka kehilangan arah.
Dengan adanya mitos itu, menambah daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya. Peristiwa terbakarnya salah satu pohon beringin kembar Alun-alun Kidul di Keraton Yogyakarta pada Agustus 2014, sempat  menjadi perhatian masyarakat. Itu lantaran muncul lagi mitos terhadap bakal pertanda buruk yang akan terjadi setelah terbakarnya pohon beringin, yang kerap disebut “Ringin Kurung” itu.
Selain permainan Masangin, pengunjung juga bisa mencoba naik sepeda atau becak yang sudah dihiasi lampu LED warna-warni. Setelah lelah, bisa menikmati makanan yang banyak dijual pedagang di sekeliling alun-alun.

Pusat Belanja Murah di Malioboro

Nama Jalan Malioboro di Yogyakarta identik dengan wisata belanja murah untuk oleh-oleh. Selain itu, kawasan ini juga dikenal sebagai tempat kuliner lesehan. Sebelum pulang ke Makassar, Leonora menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh di tempat ini.
Di sepanjang jalan, baik sisi kiri maupun kanan, mulai dari Stasiun Tugu hingga Kantor Pos, tersedia ratusan penjual barang-barang murah. Kebanyakan menjual pakaian maupun pernak-pernik unik. Berbelanja di Maliobo memerlukan keahlian untuk tawar menawar harga.