17 January 2016

Menabung Saham, Investasi Gaya Baru

MENABUNG SAHAM - Kepala Unit Edukasi dan Informasi Area 2 PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Nur Harjantie, saat membawa materi terkait menabung saham di Gedung BEI Makassar. Dijelaskan, pada prinsipnya menabung saham sama saja dengan menabung di bank. Akan tetapi, menabung saham nasabah tidak menabung dalam bentuk uang, melainkan tabungan uang yang dapat dikonversikan menjadi saham tertentu. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Banyak keuntungan yang bisa didapatkan melalui program menabung saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini merupakan investasi gaya baru yang diperkenalkan BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meresmikan Kampanye Peluncuran Industri Pasar Modal “Yuk Nabung Saham” dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo di Jakarta November 2015 lalu. Ajakan menabung gaya baru tersebut diprakarsai BEI bersama OJK.
Pada kesempatan itu, JK mengatakan, investasi merupakan salah satu cara untuk memajukan perekonomian suatu negara. Makanya, apa yang diupayakan BEI dan OJK patut mendapat apresiasi, supaya investasi di pasar modal dapat terus meningkat. Gerakan menabung saham merupakan sebuah langkah maju, dan dilakukan dengan cara yang baik.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengetahui banyak keuntungan bisa didapatkan dengan bermain saham di pasar modal. Itu apabila dibandingkan dengan instrumen investasi berupa tabungan. Bermain saham di pasar modal sama saja menggabungkan dua hal, menabung dan berinvestasi sekaligus.
JK menjelaskan, seseorang yang menabung di bank, maka uang yang disimpan di bank itu akan dipinjamkan, baik kepada individu maupun kepada korporasi. Sementara, melalui investasi saham di pasar modal, masyarakat langsung bersentuhan dengan naik atau turunnya imbal hasil dari investasi yang dipilih. Pemerintah terus berharap agar perekonomian bisa berjalan dengan baik, sehingga harga saham bisa lebih baik dari suku bunga tabungan yang diberikan bank.
“Jika ingin meningkatkan minat masyarakat untuk masuk ke pasar modal, suku bunga tabungan perbankan yang diterima masyarakat harus diturunkan. Jika suku bunga tabungan perbankan terus naik, kecil kemungkinan masyarakat akan beralih ke pasar modal. Suku bunga tabungan di Singapura hanya satu persen. Itu tidak menarik bagi masyarakat. Di Tiongkok juga demikian, bunga hanya dua-tiga persen. Saat bunga saham naik 10 persen, banyak yang beralih,” beber JK.
Salah satu masalah yang dihadapi adalah terkait pengetahuan masyarakat Indonesia soal saham. Ini menjadi “pekerjaan rumah” bagi otoritas terkait, untuk terus mengedukasi masyarakat manfaat menabung saham. Agar peran pasar modal dapat terus meningkat, orang nomor dua di Indonesia ini menegaskan, sosialisasi bukan hanya dilakukan kepada masyarakat, namun juga harus pada industri keuangan lainnya.
Senada JK, Kepala Unit Edukasi dan Informasi Area II, PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Nur Harjantie, mengungkapkan, menabung saham pada prinsipnya sama saja dengan menabung di bank. “Nasabah bebas menabung di bank dengan nominal yang telah ditentukan sendiri. Sementara menabung saham, nasabah tidak menabung dalam bentuk uang, melainkan tabungan uang dapat dikonversikan menjadi saham tertentu. Terdapat begitu banyak bank untuk menabung uang, dan setiap bank memiliki promosi serta keunggulan masing-masing,” jelasnya dalam workshop wartawan di Gedung BEI Makassar, Jalan Ratulangi, Selasa (12/1).
BEI menargetkan jumlah investor bakal mencapai 700 ribu orang di 2016. Saat ini, jumlah investor pasar saham Indonesia tercatat 435 ribu investor. “Secara prinsip, konsep menabung saham sama seperti perilaku investor sekarang. Namun, dengan program tersebut maka broker nantinya memiliki fasilitas bagi investor,” imbuh Harjantie.
Menurutnya, calon investor banyak yang kesulitan untuk membeli saham karena tidak mengetahui caranya. Dengan fasilitas tersebut, investor akan lebih mudah membeli saham karena saham yang ingin dibeli dapat secara otomatis dimiliki dengan mendebet dananya dari rekening saham. Salah satu cara untuk mencapai target tersebut adalah menyelenggarakan program menabung saham.
Melalui workshop wartawan yang diselenggarakan pihaknya, Harjantie berharap para investor, asing maupun lokal, dapat menabung saham di BEI. Inti dari program “Yuk Menabung Saham” sebenarnya adalah gaungnya. Dengan begitu, wacana bagi investor untuk membeli saham secara rutin dapat terjadi.
“Konsep tersebut sebenarnya sama dengan menabung di bank, tetapi bedanya adalah yang dibeli saham,” tekannya.
Modal awal untuk mengikuti menabung saham tidak besar. Karena sudah banyak juga broker yang modal awal pembuatan rekening sahamnya tidak besar. “Investor tidak perlu bicara jutaan rupiah. Dengan Rp 100 ribu, sudah bisa mengikuti program menabung saham. Nanti investor menyisihkan uangnya Rp 100 ribu per bulan untuk dibelikan saham,” jelas Harjantie.
Diharapkan, program menabung saham mampu memperkuat investor domestik. Saat ini, jumlah investor domestik meningkat dibandingkan sebelumnya. Porsi kepemilikan asing di pasar saham Indonesia sekarang sebesar 63,37 persen, lebih kecil dari sebelumnya sebesar 64 persen.

Investor Saham Sulsel Terbesar Ketiga

BEI Makassar mencatat jumlah investor saham di Sulsel mencapai 5.526 investor. Jumlah ini terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Jumlah tersebut bertambah sekitar 20 persen dari total keseluruhan di 2014, yakni 911 investor saham baru. Hal tersebut diungkapkan Kepala Kantor BEI Perwakilan Makassar, Fahmin Amirullah.
Tahun ini, BEI Makassar berupaya mengejar pertumbuhan hingga lima kali lipat dari jumlah investor tahun lalu. Target pertumbuhan bisa lima kali lipat dari jumlah tahun 2015, atau mencapai 5.180 investor saham baru. “Yuk Menabung Saham”, sama saja dengan menabung di bank tetapi tabungan mereka dibelikan saham atau reksadana,” terangnya.
Beleidnya, investor memberikan instruksi kepada sekuritas untuk dibelikan saham tiap bulan dengan harga tertentu, minimal Rp100 ribu. “Dengan progam ini, ke depannya kami berharap masyarakat tidak hanya sadar pentingnya menabung, tetapi juga paham keuntungan berinvestasi untuk masa depan,” ujar Fahmin.
Adapun cara menabung saham, misalnya seseorang yang sepakat untuk menabung saham sebanyak satu lot bernilai 500 lembar, maka setiap bulan akan membeli sebuah saham satu lot. Di sini, satu lot dianggap sama dengan 500 lembar meskipun saat ini sati lot 100 lembar karena 10 tahun yang lalu pecahan saham di BEI adalah 500 lembar per lot.
Dalam 10 tahun terakhir, bila seseorang berinvestasi (menabung saham) dengan membeli satu lot setiap awal bulan, maka akan mendapatkan pertumbuhan dana dari tabungan saham.